Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 140 "Moment Senja"


__ADS_3

"Huaa...!! Nunna, akhirnya kau datang juga!!"


Rio, Satya dan Frans merasa lega setelah kedatangan Cherly. Mereka bingung harus meminta bantuan pada siapa, dan hanya nama Cherly yang terlintas di benak mereka.


Cherly meletakkan tasnya kemudian menghampiri si kembar yang terus menangis dan tidak mau diam. "Dimana Viona?" tanya Cherly.


"Vio nunna pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan telfon dari Kirana nunna, terjadi keadaan darurat di rumah sakit katanya. Dan rumah sakit kekurangan tim medis," jelas Satya.


"Nunna, bagaimana ini? Mereka tidak mau diam dan terus menangis, kami harus bagaimana? Kami sudah memberinya susu tapi mereka menolaknya," jelas Frans.


"Apa kalian sudah mengecek popoknya?" ketiganya menggeleng. "Pantas saja mereka menangis dan tidak mau diam. Mereka ngompol dan pup, dan itu yang membuat mereka merasa tidak nyaman kemudian menangis. Aku akan mengganti popoknya dan membersikan pupnya. Tolong bawakan aku air hangat dan handuk kecil, airnya setengah hangat dan tidak boleh terlalu panas,"


"Baik Nunna,"


Rio dan Satya memperhatikan bagaimana cara Cherly ketika mengganti popok dan membersihkan pupnya. Dan ajaib, mereka langsung diam setelah popoknya di ganti. Si kembar kembali tertidur pulas. "Huaa, Bibi.. kau benar-benar hebat. Tidak sia-sia kami meminta bantuanmu," seru Rio kegirangan.


"Aku banyak belajar dari Ibu mertuaku, jika saja aku tidak mengalami keguguran pasti sekarang aku sudah hampir melahirkan. Jadi sedikit banyak aku tau bagaimana caranya mengurus bayi," ujar Cherly.


Trio kadal melihat kesedihan dan duka tersirat dari sorot matanya. Rio menghampiri Cherly kemudian memeluknya. "Tidak perlu merasa sedih, Bibi. Pasti Tuhan memiliki rencana indah untukmu, bibi Viona dan paman Nathan contohnya. Setelah semua musibah yang mereka alami, akhirnya Tuhan memberikan anugerah terindahnya pada mereka." Ujar Rio panjang lebar.


Cherly tersenyum lebar. "Kau benar, tidak seharusnya aku merasa sedih dan terlalu lama larut dalam duka. Viona dan Nathan saja bisa melewati semuanya, sama aku enggak," Cherly tersenyum.


Satya dan Frans menggampiri mereka berdua kemudian ikut berpelukkan bersama mereka. Kedua pemuda itu mencoba menguatkan Cherly yang tampak rapuh.


-


Viona menyeka peluh dari keningnya. Letih terlihat jelas pada raut wajahnya. Wanita itu mendaratkan tubuhnya yang terasa lelah pada kursi di depan ruang inap pasien sambil sesekali memukul-mukul ringan kakinya.


"Kau terlihat sangat lelah, Vi. Minum dulu,"


Viona tersenyum tipis. "Gomawo sunbae," ucap Viona pada pria yang duduk disampingnya. Dia adalah senior Viona.


"Hari ini kau sudah bekerja keras. Bagus Kirana dan Sunny mengusulkan supaya kami meminta bantuanmu, tanpa bantuan darimu, mungkin kami akan sangat kwalahan,"


Viona menggeleng. "Tidak perlu berterimakasih, senior. Lagipula itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang dokter, kau tidak perlu merasa tidak enak,"


Viona terkejut saat pria itu tiba-tiba memeluknya. Dan Viona yang merasa terancam langsung mendorong tubuh pria itu hingga terhuyung. "Jangan sembarangan memeluk istri orang, senior!! Kau terlalu berlebihan. Maaf, aku harus pergi sekarang," Viona membungkuk sekilas dan pergi begitu saja. Viona sangat tidak suka jika orang lain memeluknya dengan seenaknya.


"Dokter, Viona," langkah Viona kembali terhenti oleh seruan seseorang dari belakang. Sontak ia menoleh. "Dokter, seseorang terluka parah dan sekarang di ruang gawat darurat. Sebaiknya Anda ikut saya sekarang juga," pinta seorang suster pada Viona.


"Baiklah,"


.


.


Dari jarak lima meter. Viona melihat keberadaan Nathan di depan ruang UGD. Kemeja putih yang dia pakai tampak kotor oleh darah. Viona yang merasa penasaran segera menghampiri suami tampannya itu.


"Oppa, bagaimana kau bisa ada di sini? Lalu yang ada di dalam sana siapa?" tanya Viona penasaran.


Nathan sedikit terkejut melihat keberadaan Viona di rumah sakit, bukankah seharusnya dia berada di rumah merawat si kembar. "Viona, sedang apa kau di sini? Lalu si kembar bersama siapa?" alih-alih menjawab, Nathan malah balik bertanya.


"Rio, Satya dan Frans yang menjaga mereka. Terjadi keracunan masal dan rumah sakit kekurangan terjadi tim medis, makanya aku di panggil kemari," jelas Viona. "Lalu siapa yang masuk rumah sakit?"

__ADS_1


"Salah satu karyawanku. Dia melakukan percobaan bunuh diri setelah di tinggal nikah oleh tunangannya. Dia mencoba loncat dari lantai empat puluh, beruntung dia jatuh ke atas tumpukkan sampah. Hanya mengalami patah tulang dan pendarahan pada bahu kanannya." Tutur Nathan panjang lebar.


Viona mendesah berat. "Cinta benar-benar bisa membuat orang hilang akal. Oppa, sebaiknya kau pergi ke ruanganku. Aku menyimpan beberapa kemejamu, dan sebaiknya kau tunggu saja aku di sana."


Nathan mengangguk. "Baiklah," pria itu mengacak rambut panjang Viona dan pergi begitu saja.


.


.


Setelah dua jam. Akhirnya pekerjaan Viona pun selesai. Operasi berjalan lancar dan nyawa pria itu bisa di selamatkan. Setelah mengganti kembali pakaiannya, Viona langsung pergi ke ruangannya dan mendapati Nathan tengah berdiri di ambang jendela sambil menimati sebatang rokok mintnya.


Nathan menoleh saat merasakan sepasang tangan melingkari perutnya dari belakang dan seseorang menyandarkan kepalanya pada punggung lebarnya. Tanpa melihat sekali pun, tentu Nathan sudah tau siapa yang sedang memeluknya ini.


"Kau sudah selesai?"


"Baru saja,"


Nathan melepaskan pelukkan Viona kemudian berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. Kedua tangan Nathan menakup wajah Viona kemudian mengecup singkat bibir ranumnya. "Kau terlihat lelah," ucap Nathan memperhatikan wajah sang istri. "Kenapa kau tadi tidak bilang dulu padaku?"


"Karna sangat mendesak, jadi aku tidak memiliki waktu untuk menghubungimu," jawabnya. "Pekerjaanku sudah selesai, bagaimana kalau kita pulang bersama? Oppa, kau tidak kembli ke kantor lagi bukan?"


Nathan menggeleng. "Tidak," dan menjawab singkat. Viona tersenyum kemudian memeluk lengan terbuka Nathan.


"Kalau begitu kita pulang sekarang. Kebetulan sekali aku juga sangar lapar, bagaimana kalau kita makan dulu sebentar?"


"Apa itu tidak akan terlalu lama? Bagaimana jika si kembar sampai rewel dan menyusahkan mereka bertiga?" ucap Nathan.


"Baiklah,"


-


Luna menghentikan langkahnya saat iris coklatnya tanpa sengaja melihat sebuah pemandangan yang begitu mengiris-iris batinnya. Rasanya Luna ingin mengutuk Dean yang sedang mengumbar kemesraan dengan Miranda di ruang tamu.


Luna yang merasa tidak tahan melihat pemandangan menyakitkan itu, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam dan memilih pergi lagi.


Luna tidak dapat lagi membendung air matanya untuk tidak tumpah. Menyakitkan saat cinta kita bertepuk sebelah tangan. Luna sungguh tidak pernah menyangka bila cintanya akan berakhir seperti ini.


Kenapa cinta itu harus ada jika berujung menyakitkan, kenapa cinta itu harus ada jika berujung dengan duka dan air mata? Luna membenamkan wajahnya yang penuh dengan air mata diantara kedua kakinya. Bahunya naik-turun dan isakan terdengar jelas keluar dari sela-sela bibirnya.


"Apa yang terjadi padamu?" seseorang tiba-tiba datang dan menghanpiri Luna.


"Jacksoon,"


Tubuh Jacksoon terhuyung kebelakang karna pelukkan Luna yang begitu tiba-tiba dan menangis sejadi-jadinya. Luna memeluk laki-laki itu dengan erat.


"Lu...Lu..Luma.. Se..seeshakk.." Ucap Jacksoon susah payah karena Luna memeluknya terlalu erat hingga nembuatnya kesulitan untuk bernafas.


"Ma..Maaf," Luna segera melepaskan pelukannya dan masih menangis.


"Ada apa?" Tanya Jacksoon mengiba. Pasalnya ini pertama kalinya ia melihat gadis barbar ini menangis sampai seperti itu.


"Katakan dengan jujur, apakah aku jelek?"

__ADS_1


Jacksoon menggeleng. "Tidak, kau sangat cantik,"


"Lalu, apakah aku kurang menarik?"


"Tidak, kau sangat menarik,"


"Apalah aku tidak baik?"


"Tidak, kau sangat-sangat baik,"


"Jika yang kau katakan itu benar. Lalu kenapa dia tidak bisa mencintaiku? Kenapa harus orang lain yang ada dihatinya? Kenapa bukan aku?" Luna menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan kembali terisak. "Ini sangat menyakitkan. Hiks, perasaan ini begitu menyiksa. Aku.. Aku...-"


Kalimat Luna terpotong. Gadis itu tak melanjutkan ucapannya saat Jacksoon tiba-tiba menarik bahunya lalu meneluknya. Luna merasakan sebuah dagu bersandar pada kepalanya.


"Dengarkan aku, Leonil Luna!! Cinta itu bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Karna cinta itu datang dan mengalir dengan sendirinya. Karna kau tidak mungkin bisa menghadang ketika cinta itu datang, dan kau tidak mungkin bisa menahan ketika cinta pergi. Intinya, mencintai seseorang itu tidak harus selalu memilikinya."


-


Langit biru telah turun. Senja yang menenangkan menyelimuti pandangan Viona. Pandangannya yang lurus ke atas langit menatap kosong pada semburat oranye dan biru tua. Berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati keindahan langit bukanlah hal asing baginya. Karna hampir setiap hari ia berdiri di sana hanya untuk menyaksikan datangnya senja.


Senja atau rembang petang adalah pembatas siang dan malam. Senja di awali dengan matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.


Momen senja memang kerap menjadi panorama yang paling indah untuk di saksikan oleh mata. Banyak orang berupaya mendapatkan senja. Karna senja menang sangatlah istimewa.


Senja menjadi momen di mana banyak menyimpan arti mendalam bagi sebagian orang. Karna Senja kerap melahirkan kenangan, senyum, rindu, bahkan air mata. Banyak yang bilang, ketika senja datang, maka hati kita dipenuhi dengan romantisme. Mungkin karena hal tersebut yang menjadikan senja saat yang paling istimewa.


Banyak orang yang menunggu momen tersebut dengan hanya duduk santai sambil menatap ke cakrawala dan menikmati secangkir teh atau kopi. Seolah semua orang tidak ingin melewatkan datangnya senja di sore hari.


Grepp...


Viona terlonjak kaget saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Yang kemudian rasa hangat yang begitu menenangkan langsung menjalari perasaannya.


Viona menutup matanya. "Aku tidak tau apa yang membuatmu begitu menyukai senja,"


"Karna senja begitu isrimewa,"


"Begitukah?" Viona mengangguk. Kemudian Viona melepaskan pelukkan Nathan dan berbalik badan. "Apa yang membuat senja sangat istimewa?"


"Karna senja kerap melahirkan kenangan, senyuman, rindu, bahkan air mata. Bahakan banyak yang bilang ketika senja datang, hati kita selalu dipenuhi dengan kebahagiaan,"


Nathan menakup wajah Viona kemudian mencium singkat bibir ranumnya. "Dan aku ingin melahirkan banyak kenangan indah bersamamu ketika senja datang," Dan selanjutnya yang Viona rasakan adalah sapuan lembut pada bibirnya, di susul dengan pagutan-pagutan lembut yang mendebarkan.


Kedua mata Viona tertutup dengan perlahan. Ketika dia merasakan ciuman Nathan yang semakin lama semakin dalam. Sebelah tangan Nathan menekan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya, sedangkan kedua tangan Viona bergelayut manja pada leher Nathan.


Namun ciuman itu tidak berlangsung lama. Nathan segera mengakhirinya ketika merasakan pukulan ringan pada dadanya. Nathan terkekeh melihat wajah merona Viona yang membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya.


"Saranghae, Xi Viona," bisik Nathan seraya menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukkannya.


"Nado saranghae, Oppa,"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2