Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 29) "Kau Membuatku Gila"


__ADS_3

Zian memarkirkan mobil mewahnya di lantai basement sebuah club malam yang terkenal di Seoul. Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk, Zian merasa membutuhkan sebuah hiburan. Dan begitu semua pekerjaannya selesai, dia langsung tancap gas menuju GOLDEN BAR - Club malam milik salah satu relasinya di Seoul.


Zian agak menyerngit saat suara musik mengalun keras seperti berusaha mendobrak gendang telinganya. Bau asap rokok dan nampak serta aroma minuman beralkohol pun tak luput dari indra penciumannya. Manik abu-abunya menelusuri segala penjuru club malam yang nampak sangat ramai di waktu orang tidur seperti ini. Dan tanpa sengaja manik matanya melihat siluet seorang gadis yang langsung menarik semua atensinya.


"Luna," gumanya berbisik.


Zian segera menghampiri gadis itu yang dia yakini sebagai Luna. "Sedang apa kau di sini?"


Luna sedikit tersentak saat dia merasa bahu tegapnya ditepuk seseorang dari belakang. Saat dia menoleh, dia mendapati seorang pria bersurai blonde dengan balutan kemeja hitam yang di lengannya di gulung sampai sikunya di padukan dengan vest v-neck abu-abu, dan celana bahan yang senada dengan warna vestnya berdiri di belakangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Luna terpaku melihat pria itu yang pastinya adalah Zian. Dia begitu menawan meskipun wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. "Zian!!" Luna memekik seraya bangkit dari duduknya.


"Sedang apa kau di sini?" Zian bertanya sekali lagi.


"Aku sedang menghadiri pesta ulang tahun temanku. Lalu kau sendiri sedang apa di sini?" Luna balik bertanya.


"Ikut aku," Zian meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya pergi dari teman-temannya.


Salah seorang pria yang duduk satu meja dengan Luna hendak mengejar merek Tapi segera dihentikan oleh temannya."Sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan mereka. Kita di sini untuk berpesta, bukan untuk mencari keributan dengan pengunjung lain."


"Tapi, Luna-"


"Sudahlah, biarkan saja. Luna saja tidak melayangkan protesnya pada pemuda itu, kenapa malah jadi kau yang terlihat kesal?"


Pria itu menepis tangan temannya dan pergi begitu saja. "Ada apa dengan, Dengki? Dia terlihat aneh,"


"Sudahlah, biarkan saja dia. Sebaiknya kita kembali berpesta,"


"Setuju!!"


.


.


.


"Kemarilah dan lihat di sana,"


Zian menarik Luna dan menempatkan gadis itu didepannya. Sehingga punggung Luna yang terbuka karena backless dress yang dia gunakan menempel di dada bidang Zian.


Dari tempatnya berdiri. Luna dapat melihat dengan jelas lautan manusia yang berkumpul di satu titik. Pria dan wanita semua membaur menjadi satu. Baik itu remaja, dewasa bahkan setengah baya pun ada.


Zian meletakan telapak tangan kirinya pada kaca sedangkan tangan kanannya masih memegang pergelangan tangan Luna. Dan dari tempatnya berdiri Luna bisa melihat seluruh kegiatan yang dilakukan dilantai bawah.


"Kau lihat dibawah sana Luna?"


Zian berbisik di telinga kiri Luna, dan itu membuat buku kuduknya meremang seketika. Luna berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa kering dengan cara menelan ludah, dan kemudian mengangguk kecil.


Luna tidak tahu pasti apa maksud dari perkataan pria yang ada dibelakangnya ini, ia hanya mengikuti nalurinya untuk mengangguk dalam menanggapi pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Zian.


"Dibawah sana banyak pria yang kelaparan akan wanita sepertimu, dan malam ini kau datang kesini mengenakan pakaian ini? Kemana cardigan yang biasa kau kenakan itu? Kemana dress berlengan yang selalu membalut tubuhmu?"


Dia marah. Luna dapat mendengar nada tajam dalam suaranya. Luna merasakan tangan kanan Zian yang tadi mencengkeram pergelangan tangannya kini sudah beralih kepinggangnya.


"Malam ini aku tidak membawa cardigan melainkan mantel." Luna berbicara nyaris seperti sebuah bisikan.


"Well, dan dimana mantelmu itu?" tanya Zian dengan nada yang sama, tajam dan menusuk.


Zian berbicara disekitar perpotongan lehernya, dan beberapa detik kemudian Zian membalikkan tubuh Luna untuk menghadap padanya, kedua tangannya posesif mencengkram pinggangku dan matanya kembali mengunci mataku.


"Aku meninggalkannya di meja tadi."


Zian menghela nafasnya berat dan menutup kedua matanya sejenak. "Kau membuatku gila, Leonil Luna." Kini matanya telah kembali terbuka dan menampilkan kedua iris abu-abunya yang tajam.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Luna keheranan. Sepasang binnernya mengunci sepasang iris abu-abu milik Zian. "Kau terlihat aneh, Zian Qin. Kenapa kau jadi seposesive ini padaku, huh?"


"Kenapa kau semakin banyak bicara saja, eo? Sebaiknya kita pulang sekarang. Tempat seperti ini sangat tidak cocok denganmu." Luna mencerutkan bibirnya. Lagi-lagi Zian bersikap dengan seenak jidatnya. Dan Luna hanya bisa mendesah pasrah.


.


.

__ADS_1


Dengki langsung berdiri dari duduknya saar melihat kedatangan Luna dan Zian. Tanpa mengatakan apapun, Dengki langsung melayangkan tinjunya ke wajah Zian dan bersarang tepat di pelipis kanannya. Akibatnya pelipis Zian robek dan mengeluarkan darah.


Brugg...


"Zian!!" Luna berteriak histeris.


Gadis itu menghampiri Zian dan membantunya berdiri. Karna terlalu tiba-tiba, Zian tidak sempat menghindari pukulan tersebut. Dia tersungkur di lantai dalam posisi duduk. "Dengki, apa-apaan kau ini?" Luna mendongakkan wajahnya dan menatap marah pada Dengki.


"Luna, kenapa kau malah membelanya? Dia memiliki niat buruk padamu, dan aku hanya berusaha untuk menyelamatkanmu dari pria seperti dia. Dan aku-!!"


"Diam kau!!" bentak Luna seraya menatap pria itu dengan tajam. "Zian, kita kerumah sakit. Lukamu perlu di jahit," bujuk Luna sambil menatap Zian dengan mata berkaca-kaca.


"Luna, ini mantelmu," Dio menghampiri Luna lalu memberikan mantel hangatnya.


"Terimakasih, Dio," kemudian Luna membantu Zian berdiri. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan club malam.


Sementara itu. Dengki terlihat menggepalkan tangannya. Kemarahan terpancar jelas dari sorot matanya yang tajam. "Tidak akan aku biarkan kau memiliki Luna, karna hanya aku yang layak untuknya!!"


.


.


.


Zian merebahkan tubuhnya pada sofa di ruang keluarga kediaman Luna. Gadis itu membujuk dan memaksa supaya Zian mau ikut pulang ke rumahnya.


Awalnya Zian menolaknya, tapi Luna menangis dan meraung seperti bayi, parahnya lagi gadis itu melakukannya ketika di rumah sakit yang kemudian membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian. Sehingga Zian tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan gadis cantik itu.


"Zian, minum dulu tehnya. Setelah ini pergilah istirahat. Kau terlihat sangat buruk,"


"Hn,"


"Dan berhentilah menggunakan bahasa alienmu itu. Itu sangat menyebalkan!!"


Zian hanya memutar jengah matanya. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya jika Luna semakin bawel dari hari kehari. "Berisik," Luna mencerutkan bibirnya.


Dengan gemas Luna menekan luka di pelipis kanan Zian yang tertutup perban."Yakk!! Apa yang kau lakukan? Sakit bodoh!!" geram Zian marah.


Kedua mata Luna membelalak saat tiba-tiba tubuhnya tertarik ke depan dan detik berikutnya ia merasakan punggungnya msnghantam empuknya sofa. "Mau coba-coba kabur eh?" Zian menyeringai. Pemuda itu menempatkan Luna di bawah kungkungan tubuhnya.


"Ma-mau apa kau?" tanya Luna terbata-bata.


"Menghukum gadis nakal yang berani mengejekku," ucap Zian dengan seringai yang sama.


"A-apa?" mata Luna membelalak.


Dan detik berikutnya Luna merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya, di susul pagutan-pagutan ringan yang memabukkan. Kedua mata Zian tertutup rapat, kedua tangannya membingkai wajah Luna.


Meskipun awalnya terkejut, tapi pada akhirnya Luna bisa menerima ciuman Zian. Kedua tangannya mengalung pada leher pemuda itu. Kedua matanya juga tertutup rapat. Luna tidak bisa menolaknya, dia tidak bisa menolak ciuman Zian yang begitu memabukkan.


Namun ciuman mereka harus berakhir karna dering pada ponsel Zian. Zian beranjak dari atas tubuh Luna dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.


"Hallo, ma. Ada apa?" tanya Zian to the poin.


"Zian di mana kau sekarang? Kenapa kau tidak langsung pulang setelah pekerjaanmu selesai? Amanda ada di rumah dan sedang menunggumu, jadi cepatlah pulang!!"


"Suruh saja gadis manja itu pulang, karna aku tidak akan pulang malam ini. Dan berhentilah memaksakan kehendakmu, ma. Kau akan kehilangan putramu jika kau masih memaksaku untuk menerima, Amanda!" Zian memutuskan sambungan telfonnya begitu saja dan meletakkan ponselnya begitu saja.


"Ada apa, Zian?" tanya Luna. "Kau baik-baik saja bukan?"


"Buruk!!"


"Memangnya apa yang membuatmu merasa buruk, hm?" Luna menakup.wajah Zian dan mengunci manik abu-abunya.


Zian mendesah berat. Pemuda itu menurunkan tangan Luna dari wajahnya."Besok aku akan membawamu menemui mama, dan aku akan memperkenalkanmu sebagai calon istriku!!"


"APA!!"


-


Amanda terus berguling di atas tempat Zian. Berlali-kali dia mencoba menutup matanya namun selalu gagal. Amanda tidak bisa tidur karna memikirkan Zian.

__ADS_1


Berkali-kali Amanda sudah mencoba menghibunginya, tapi tak satupun panggilan darinya yang Zian angkat. Dan entah sudah berapa puluh pesan yang Amanda kirimkan, tapi tak satu pesan pun pesannya ada yang Zian baca apalagi membalasnya.


Amanda bangkit dari berbaringnya kemudian melenggang keluar meninggalkan kamar Zian. Gadis itu menghampiri ibu Zian di kamarnya.


"Ibu, boleh aku masuk?" tanya Amanda setelah mengetuk pintu kamar Dahlia. Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk.


"Masuklah, Sayang," pintanya mempersilahkan. "Kepana? Apa kau tidak bisa tidur?" Amanda mengangguk.


"Aku merasa sedih karna Zian selalu menolakku. Apalagi yang harus aku lakukan supaya Zian mau menerimaku dan membiarkanku berada disisinya. Apalagi kemarin dia meninggalkanku demi gadis lain,"


"Apa? Jadi itu alasan dia tidak mau menghadiri pesta ulang tahun papamu?" Amanda mengangguk. "Jangan cemas, Sayang. Ibu akan bicara padanya, karna tidak ada wanita yang layak menjadi menantu dalam keluarga ini selain dirimu!!"


Amanda berhambur ke dalam pelukkan Dahlia. "Terimakasih, Ibu. Kau memang yang terbaik. Oya, bolehkah aku tidur di sini bersamamu?"


"Tentu, Sayang,"


-


"Aku tidak mau!!" Luna menolak tegas keinginan gila Zian. "Apa kau bercanda? Jika kau membawaku kehadapan ibumu sebagai calon istrimu itu artinya kita harus menikah. Lalu bagaimana jika ibumu tidak menyukaiku dan menolak diriku?"


"Memangnya kenapa jika kita harus menikah? Apakah ada masalah? Dan masalah mama, biar aku yang mengurusnya. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengatakan 'Ya' dan aku yang akan mengurus sisanya,".


Luna bangkit dari duduknya, gadis itu berjalan mondar-mandi di depan Zian seperti setrikaan. Gadis itu menggigit ujung kukunya, kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika sedang panik dan gugup.


"Ck, hentikan Luna!! Melihatmu mondar-mandir hanya membuat kepalaku semakib pusing saja,"


"Diamlah, Zian Qin!! Aku sedang dilemah besar, dan itu karn Dirimu!! Jika kita harus menikah itu artinya aku harus melepaskan masa lajangku. Sebagai seorang istri, aku harus melakukan berbagai hal untukmu. Seperti melayanimu, membuatkan sarapan untukmu, mencuci pakaianmu dan,, dan,, dan,,, Emmpphh." Zian menyela ucapan Luna dengan memagut singkat bibirnya. Dan berhasil, gadis itu diam seketika.


"Kau sudah terlalu banyak bicara, Nona. Ini sudah malam. Sebaiknya kau segera tidur. Tentang rencanaku tadi, kita bisa membicarakannya lagi nanti."


"Selalu saja mencuri ciuman dariku, dasar Zian Qin menyebalkan!!" Luna terus menggerutu tidak jelas di tengah langkahnya.


Meskipun sebal dengan Zian yang suka bertingkah dengan seenak jidatnya, tapi entah kenapa Luna menyukai setiap kali mereka berciuman.


.


.


"PAPA!!!"


Jeritan Jia membuat mata Zian kembali terbuka. Zian bangkit dari berbaringnya dan bergegas menghampiri Luna di kamarnya. "Luna, ada apa?" tanya Zian sesaat setelah berada di depan Luna.


"Zian," Luna bangkit dari posisinya dan berhambur memeluk Zian. "Hiks, aku memimpikan papa. Dalam mimpiku, papa mengatakan jika dia tidak bisa pergi dengan tenang karna dia masih memiliki hutang janji padaku. Hiks, katakan Zian. Katakan aku harus bagaimana, aku tidak ingin membuat papa terbebani lagi di sana,"


Zian mengusap rambut panjang Luna dengan gerakkan naik-turun. "Tenanglah, Lun. Papamu sudah tenang di sana. Itu hanyalah mimpi, dan mimpi adalah bunga tidur."


"Hiks, tapi mimpi itu terasa nyata Zian. Aku sangat mencemaskan papa. Bagaimana kalau papa tidak tenang di sana karna janjinya padaku?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap iris abu-abu milik Zian.


"Aku akan menemanimu mengunjunginya besok. Sebaiknya sekarang kau tidur lagi. Aku akan menemanimu di sini," Luna mengangguk.


Luna kembali berbaring dan Zian ikut berbaring di sampingnya. Dekapan hangat Zian pada tubuhnya membuat Luna merasakan ketenangan kembali. Katakan saja mereka berdua gila karna tidur di satu ranjang yang sama.


Tapi Zian tidak akan melakukannya jika saja Luna dalam keadaan baik-baik saja. Dan Luna tidak menolaknya karna saat ini dirinya sedang membutuhkan sandaran.


-


"Zian, apa yang terjadi pelipismu?" keget Amanda melihat perban membalut pelipis kanan Zian.


Zian menepis tangan Amanda dari wajahnya."Singkirkan tanganmu, Amanda Roberto!!" pinta Zian dengan nada sinis dan pergi begitu saja. Zian melewati Amanda dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Shea menghampiri Amanda dengan senyum meremehkan. "Sebaiknya kau menyerah saja. Adikku sudah sangat jelas tidak menyukaimu. Mungkin kau memang mendapatkan dukungan penuh dari mama. Tapi kau tidak akan mendapatkan dukungan dariku dan Jordan. Dua lawan satu, tentu saja pihak kami yang akan menang,"


"Diam kau!! Kau fikir aku akan menyerah dan mengaku kalah darimu? Tidak akan pernah Shea Qin. Aku pasti akan mendapatkan Zian, dan akan kupastikan jika adikmu itu akan menjadi milikku!!"


"Kita lihat saja, dan biarkan waktu saja yang menjawabnya." Ucap Shea dengan seringai yang sama.


Shea menepuk bahu Amanda dan pergi begitu saja. Sampai kapanpun, Shea tidak akan membiarkan adiknya bersama gadis licik seperti Amanda.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2