
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG PANGERAN IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗
-
Ciuman itu masih berlangsung meskipun 4 menit telah berlalu, penampilan mereka pun sudah tidak serapi sebelumnya. Dress hitam yang membalut tubuh Luna tersingkap keatas, resleting yang ada dibalik punggungnya turun hingga mencapai pinggangnya. Begitu pula dengan Zian, tiga kancing teratas pada kemeja putihnya terbuka dan bagian bahunya tersingkap hingga terlihat singlet hitam yang menjadi lapisan dalam kemejanya.
Lama kelamaan ciuman itu menjadi pagutan, Zian berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulut Luna. Luna yang menyadari keinginan ll suami tampannya itu dengan senang hati mempersilahkan lidah Zian untuk menjelajahi isi di dalam mulutnya.
Zian semakin ganas, lidahnya melilit lidah luna. Mengajak lidah wanira untuk ikut menari bersama.
Beberapa menit telah berlalu namun mereka masih sama-sama enggan untuk mengakhiri ciuman panasnya meskipun sama-sama menyadari jika paru-paru mereka telah sama-sama kosong dan membutuhkan asupan oksigen.
"Sayang, bagaimana jika kita bersenang-senang sebentar!" Zian melepas tautan bibirnya dan menatap Luna dengan gerlingan nakalnya.
Sontak saja kedua mata Luna membelalak saking kagetnya. "Kau gila, ini dikantor? Lagi pula ini masih siang, Oppa!" ujar Luna sedikit cemas.
"Apa kau tidak ingin bersenang-senang denganku, hm?" Zian menurunkan Luna dari pangkuannya kemudian bangkit dari duduknya, Ia mendudukkan Luna diatas meja.
"Apa kau tidak takut jika siberisik itu tiba-tiba saja nyelonong masuk dan memergoki kita sedang bermain kuda-kudaan?"
"Siapa yang peduli!" ujarnya dan segera memagut bibir Luna untuk yang kesekian kalinya.
Tidak ada penolakan, Luna malah membalas ciuman panas Zian dengan senang hati.
Zian melahap habis bibir ranum itu tanpa ampun, bukan hanya bibir saja. Ciuman Zian semaki turun dan turun, setelah puas menjelajahi leher putih Luna, kemudian ciuman itu beralih pada dadanya. Kain brokat berharga mahal yang membungkus tubuh Luna sudah tidak terbentuk, bagian dadanya juga sudah tereksposh hingga tampak dua gundukan yang tersembunyi dibalik pengaman hitam berendanya.
Tak mau kalah dari suaminya, Luna juga membuka kemeja putih itu dari tubuh kekar Zian, hanya tersisa singlet hitam yang memperlihatkan sebagian dada kekar suaminya yang menggoda "Kali ini aku akan mendominasimu!" Luna mendorong tubuh Zian dan mendudukkan laki-laki itu dikursi.
Zian mendongakkan kepalanya . Kedua matanya terpejam menikmati setiap sentuhan jari lentik Luna yang bermain-main dengan sosisnya. Wanita itu menyeringai melihat Zian yang begitu menikmati permainannya. Seperti yang disampaikan, Luna benar-benar ingin menguasai permainan dan tidak membiarkan Zian memenangkan permainan itu.
Luna dengan cepat menyatukan bibirnya dengan bibir Zian saat melihat bibir itu terbuka, mendesah kenikmatan. Tanpa ragu Luna memagut bibir Zian dan tidak memberi kesempatan untuk laki-laki itu mengambil alih ciumannya. Lidah Luna sudah berada di dalam mulut Zian, entah sejak kapan. Lidah itu menabsen deretan gigi putih sang adonia dan sesekali mengajak lidah laki-laki itu untuk menari bersama.
__ADS_1
Luna mengangkat bagian bawah dressnya dan mendudukkan dirinya di atas pangkuan Zian. Kebanggaan milik Zian telah menegang dan siap untuk memanjakan Luna hingga beberapa menit kedepan.
Luna mendesah penuh kenikmatan saat sosis milik Zian berhasil masuk ke dalam Miss-nya. Zian membantu Luna dengan menggerakan pinggul wanita itu dengan gerakan naik turun dalam tempo cepat. Zian meraup bibir Luna dan memagut habis bibir wanitanya, kedua tangannya memeluk pinggang ramping Luna hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.
"Aku benci didominasi, dan permainan kali ini aku yang menganbil alih!" ujar Zian sebelum meraup bibir menggoda Luna yang agak bengkak untuk yang kesekian kalinya.
Meskipun tidak menyetujui keputusan Zian. Toh akhirnya Luna mengalah dan membiarkan suaminya itu mendominasi dirinya.
Tokk .. Tokk .. Tokkk ...
Disaat permainan mereka sedang panas-panasnya, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar ruangan dan hal itu membuat mereka berdua kelabakan. Buru-buru Luna turun dari atas meja.
"Rapikan pakaian dan penampilanmu!" Zian meraih kemejanya yang tergeletak dilantai dan kembali memakainya.
Luna sedikit panik, buru-buru wanita itu merapikan penampilannya. Setelah memastikan Luna telah rapi dan seperti semula, Zia berseru dan mempersilahkan orang yang ada di luar untuk masuk.
"Masuk!"
Sebelum orang itu masuk. Luna buru-buru bersembunyi dikolong meja kerja Zian. Entah ide gila apa yang wanita itu miliki untuk suaminya. Dan Zian yang bingung dengan rencana Luna hanya bisa mengerutkan dahinya.
'Luna, apa yang kau lakukan??' Kaget Zian saat merasakan ada jari-jari yang memainkan sosisnya. Namun pandangan Zian terarah pada sosok wanita yang tengah berjalan menghampirinya.
"Hn, a-ada apa??" Zian menahan dirinya untuk tidak mendesah. .
Wanita itu merasa heran dengan sikap atasannya yang terlihat aneh itu namun dia abaikan. "Presdir, apakah Anda baik-baik saja?" wanita itu menatap Zian cemas ketika melihat laki-laki itu berkeringat. "Apa Anda sakit?" tanyanya sekali lagi.
Buru-buru Zian menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja!" wanita itu mengangguk.
"U..untuk apa kau datang menemuiku?" Zian menutup matanya sejenak, nyaris saja desahan meluncur dari bibirnya. Di bawah sana, Luna tengah memanjakan dirinya.
Wanita itu mengangkat map yang Ia bawah dan menyerahkan pada Zian "Ini adalah beberapa dokumen yang harus Anda tandatangani, dan Anda ada pertemuan penting setelah makan siang. Tuan Himura akan tiba di sini pada pukul satu siang!" ujar wanita itu menuturkan.
'Sial, Luna hentikan!' Jerit Zian membatin, wajahnya semakin memerah membuat wanita jtu menjadi semakin cemas.
__ADS_1
"Tuan, wajah Anda memerah? Apa Anda sedang demam? Perlu saya ambilkan obat." wanita berdiri dan hendak memeriksa keadaan Zian namun pergerakan tangan wanita itu terhenti saat Zian mengangkat tangannya dan meyakinkan jika Ia baik-baik saja.
Wanita itu mengangguk mengerti. Wanita itu yang selama ini diam-diam menyimpan rasa pada Zian, semakin terpesona saat melihat wajah laki-laki itu yang merona dengan peluh dipelipisnya yang membuatnya semakin terlihat tampan dan err.. Sexy.
Sementara itu, Luna masih gencar memainkan sosis Zian hingga cairan kental berwarna putih menyembur dari lubangnya dan melumuri jari-jari Luna.
"Mi-Mira, jika kau sudah tidak memiliki kepentingan. Bisakah kau keluar sekarang!" Zian meminta wanita itu untuk keluar saat Ia sudah mencapai puncaknya, dan Zian tidak bisa menahannya lebih lama lagi 'Kau benar-benar gila, Luna Qin!' ujarnya membatin.
Mirra pun meninggalkan ruangan itu. Namun Ia tidak benar-benar pergi, Ia sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi pada atasannya tersebut hingga laki-laki itu bersikap aneh. Mirra memutuskan untuk mengintip melalui cela kecil pada pintu.
Sementara itu, di dalam ruangan. Zian tengah berperang dengan kenikmatan yang Luna berikan padanya, dan untuk yang kedua kalinya laki-laki itu melakukan pelepasan. Dapat dengan jelas Mirra lihat saat Zian mengangkat wajahnya kemudian menghela nafas panjang, seperti sedang kelelahan. Mirra mengerutkan alisnya saat melihat warna coklat terang menyembul dari kolong meja kerja Zian.
Diluar dugaan Mirra, sosok Luna muncul dari bawah kolong meja dengan keadaan jari-jarinya yang tampak basah dan berkilaian, wanita itu melesat menuju wastafel untuk membersihkan cairan itu dari tangannya. Dan saat Luna kembali, bibirnya telah disambut oleh Zian yang langsung memagutnya.
Mirra sedikit tersentak ketika Luna menolehkan kepalanya kearah pintu seolah-olah wanita itu mengetahui jika ada seseorang yang berdiri dibalik pintu yang tertutup tersebut.
Mirra pun beranjak dari sana. Sekilas melirik kearah rok hitamnya yang tampak basah. Ia juga merasa tidak nyaman ketika berjalan, Miss-nya basah dan sedikit terasa gatal. Bukan karna Mirea berpenyakitan, tapi karna horn*.
Mirra bergegas mencari tempat yang aman untuk bermasturbas* sambil menghayalkan jika sosis milik Zian yang ada di dalam dirinya.
Selepas kepergian Mirra, Reno datang sambil menenteng cemilan. Laki-laki jangkung itu bersenandung kecil, tanpa berfikir dua kali. Reno membuka pintu bercat coklat itu, cemilan ditangan pria jangkung itu jatuh dari genggamannya dan mulutnya sedikit mengangga dengan kedua mata terbelalak, tubuh jangkungnya membeku ditempat dan tak mampu bergerak seinci pun saat melihat sesuatu yang lebih gila lagi dari yang dia lihat sebelumnya,
Glukkk!!!
Susah payah Reno menelan salivanya ketika melihat dan mendengar desahan-desahan yang keluar dari bibir sepasang suami-istri yang tengah bermain gila di dalam sana. "Ohh shit!" Reno menggeram, tangannya memegangi miliknya yang berkedut dibawah sana. Dan live Luna-Zian sungguh membuat Reno tersiksa,
"Dasar pasangan gila itu,"
Reno mendesah sambil memejamkan matanya, menggigit bibirnya sendiri, membayangkan jika saat ini dia sedang di manjakan oleh 5 wanita sekaligus. Sungguh, Rebo ingin memiliki 5 istri agar Ia bisa menyaingi sahabat kutubnya itu. Dan Reno sedikit panik ketika mendenar derap langkah kaki yang bergerak kearahnya, buru-buru dia menarik keluar tangannya dan menutup pintu yang terbuka lebar itu agar tidak ada korban lagi selain dirinya.
Dan selain itu, Reno tidak ingin jika kegiatan panas kedua sahabatnya itu disaksikan oleh orang lain juga. Cukup matanya saja yang ternoda, dan hebatnya Luna maupun Zian tidak menyadari akan keberadaan Reno karna terlalu asik dengan dunianya sendiri.
-
__ADS_1
Bersambung.