
Viona mengangkat kepalanya saat mendengar deruh suara mobil memasuki halaman rumahnya. Wanita itu langsung berdiri ketika melihat siapa yang berjalan memasuki rumah. Sudut bibirnya tertarik keatas menyambut kepulangan suami tercintanya. "Kau belum tidur?" tegur Nathan melihat Viona yang masih tetap terjaga padahal waktu sudah menunjuk angka 11 malam.
Viona menggeleng. "Aku menunggumu,"
"Kenapa harus menungguku, bukankah aku sudah bilang jika aku akan pulang sedikit terlambat," Nathan meletakkan jas dan kerjanya di sofa kemudian mencium singkat bibir Viona.
"Tapi aku tidak bisa tidur, Baby Lu terus saja merenggek supaya aku tidak tidur dulu dan menunggu Papanya pulang," jawabnya.
Nathan mendengus geli. "Jelas-jelas itu keinginanmu sendiri, dan berhenti menggunakan dia sebagai alasan," omel Nathan sambil menyentil gemas kening Viona.
Viona terkekeh. "Oya Oppa, apa kau sudah dengar tentang pembunuhan brutal yang terjadi kemarin malam. Kau tau, ada pembantai yang menggunakan pistol dan pedang secara bersamaan. Dan korbannya adalah salah satu dari empat pemimpin besar organisasi Black Devil. Dan aku dengar orang itu membantai semua orang yang ada di sana tanpa menyisahkan satu pun. Dan mansion mewah itu menjadi lautan darah dalam waktu kurang dari 1 jam," ujar Viona panjang lebar.
Nathan memicingkan matanya. "Kau tau dari mana?"
"Semua orang sedang membicarakannya dan insiden beradah itu sedang menjadi topik paling panas saat ini. Aku dengar jika tiga saudaranya sedang mencari dan berusaha menemukan pria misterius itu lalu membunuhnya untuk membalaskan dendam saudaranya." Ujar Viona panjang lebar.
"Lalu?"
"Menurut berita, tidak ada seorangpun yang tahu tentang siapa orang itu sebenarnya dan apa motifnya. Dia begitu misterius. Cara dia membunuh korbannya juga beragam. Ada yang mati karena tertembus peluru, ada juga yang terkena sabetan atau tusukan pedang. Dan banyak orang di luar sana yang menyebutnya sebagai malaikat penyelamat, karna dia menghabisi salah satu Iblis yang paling mereka takuti."
Nathan bukannya memperhatikan keterangan Viona, dia malah memperhatikan mimik wajah Viona yang menunjukkan berbagai ekspresi ketika bercerita. Wanita itu terlihat begitu polos dan menggemaskan.
"Oppa!" protes Viona karena Nathan tak mendengarkan, wanita itu mencerutkan bibirnya.
Nathan mendengus. "Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya?"
Viona mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Sudahlah aku malas untuk bercerita lagi, lagi pula percuma juga aku bercerita panjang lebar jika ujung-ujungnya kau tidak mendengarkannya." Tukas Viona seraya membuang muka.
"Aku mendengarkanmu. Semua yang kau katakan aku dengarkan," tegas Nathan melihat wajah murung Viona.
"Tapi Oppa, apa orang itu tidak berfikir dua kali sebelum melakukannya? Dia adalah salah satu dari 4 boss besar dalam organisasi hitam. Apakah dia tidak memikirkan konsekuensi yang akan dia hadapi nantinya. Karna sudah pasti saudaranya tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan membalas dendam. Bukankah dendam itu tak pernah berakhir, semakin dilampiaskan akan semakin banyak dendam yang baru muncul"
Nathan mengunci manik Hazel Viona yang menatapnya dengan serius. "Dengarkan aku Sayang. Pada dasarnya, manusia itu baik, setiap orang ingin hidup dengan cara yang benar. Mungkin di satu sisi, mereka sedih karena kehilangan orang penting, tapi disatu sisi mereka musti maklum kalau itu adalah yang terbaik. Dari pada tetap berlarut-larut dalam kejahatannya."
"Tapi, kalau memang manusia pada dasarnya baik, tidak akan ada ribuan nyawa yang melayang sia-sia pada setiap tahunnya?" Sela Viona.
"Ada banyak cara untuk memaksa sesuatu agar menjadi lebih baik. Dan salah satu pilihan yang dipakai si pembunuh pengguna pistol dan pedang yang biasa di panggil Sang Pembantai atau The Devil, adalah menghentikan mereka dengan menghabisi nyawa mereka."
Mendengar penuturan Nathan, akhirnya Viona memilih diam. Viona sepertinya tidak ingin menambah argumennya lagi atau ia malah kehabisan kata-kata mengingat jika Nathan adalah seorang ahli debat yang hebat.
Viona menaruh telunjuknya di bawah bibir tipisnya, tampak sedang berfikir. "Kenapa aku malah memikirkan sesuatu ya, aku merasa curiga,"
__ADS_1
Viona melirik Nathan dengan sudut matanya. "Ada apa dengan tatapanmu yang seperti itu Viona?" sinis Nathan dingin.
"Oppa, kau 'kan ahli dalam menggunakan pistol dan pedang. Oppa bukan kau kan pelakunya? Kenapa instingku mengatakan jika orang itu adalah dirimu," Viona menunjuk Nathan tepat di depan wajahnya.
"Tidak sopan menunjuk suamimu seperti itu Nyonya!!" Nathan menyingkirkan jangan Viona dari wajahnya. "Lagi pula aku bukan orang bodoh yang mau melakukan tindakan konyol seperti itu, lagi pula kemampuan seperti itu juga banyak yang memiliki, bukan cuma aku saja!" tegasnya.
"Kenapa aku malah jadi penasaran setengah mati ya, seperti apa dan siapa orang itu sebenarnya," memang hanya mendengar beritanya, tapi tidak tahu ciri-cirinya.
"Aku tidak tahu," jawab Nathan sedikir datar. "Dan untuk apa juga kau membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu?"
Viona mencerutkan bibirnya. "Oppa, kenapa tiba-tiba kau jadi galak begitu? Aku 'kan hanya bertanya saja! Oppa menyebalkan, aku mau ngambek dulu," Viona membuang muka ke arah lain sambil bersidekap dada, bibirnya dipoutkan dan wajahnya merenggut kesal.
'Mulai lagi'. Batin Nathan. "Ck, berhentilah memasang wajah jelek seperti itu Nyonya Lu, sebaiknya kita kekamar dan tidur,"
Viona mendongak dan menatap.Nathan dengan wajah polosnya."Tapi gendong," renggek Viona sambil merentangkan kedua tangannya.
Nathan mendengus berat. Tak memiliki pilihan lain, Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style lalu membawanya ke kamar mereka dilantai dua. Dan Viona sudah pasti bersorak kegirangan, Nathan memang selalu memahami dirinya.
.
.
.
Tiba-tiba Nathan beranjak dari tempatnya berdiri. Langkahnya terhenti sejenak ketika melihat wajah damai Viona yang sedang terlelap. Pria itu mendesah berat. "Mungkin memang tidak malam ini," gumamnya kemudian melenggang keluar.
Nathan membawa sebotol wine, gelas kristal serta beberapa potong es batu yang kemudian dia letakkan di atas meja ruang keluarga. Nathan menuang wine itu ke dalam gelas yang sebelumnya telah diisi dengan potongan es batu kemudian meneguknya.
Helaan nafas berat berkali-kali lolos dari sela-sela bibir kissablenya. Saat ini fikirannya benar-benar kacau, begitu banyak beban yang dia pikul dibahunya. Masalah datang dengan silih berganti di dalam hidupnya yang Nathan sendiri tidak tau kapan masalah-masalah itu akan berakhir. Baru selesai satu masalah malah muncul masalah baru. Dan semua seperti tidak ada habisnya.
BLAMM...
Nathan terkesiap mendengar suara dentuman yang berasal dari halaman depan mansion mewahnya. Pria itu beranjak untuk melihat apa yang terjadi di sana. "Ada apa ini?" tegur Nathan pada beberapa penjaga di sana. Mereka tampak panik dan bersiaga.
"Seseorang meletakkan bingkisan di depan pagar, dan ketika kami mencoba membukanya benda itu malah meledak," jelas salah satu anak buah Nathan.
Nathan mendesah berat. "Lalu di mana orang itu?" tanyanya data
"Tuan Tao dan Zain sedang mengejarnya, dan kami menemukan kertas ini tergeletak di samping bingkisan itu, Tuan,"
Nathan menerima kertas itu lalu meremasnya. "Perketat penjagaan dan tangkap semua orang yang terlihat mencurigakan kamudian habisi," titah Nathan mutlak.
__ADS_1
"Baik Tuan,"
Nathan meninggalkan teras mansionnya dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Dia bersumpah tidak akan melepaskan orang itu apalagi membiarkan dia hidup dengan tenang, Sandora dia akan mendapatkan balasan yang setimpal darinya. "Sandora, kau sudah bermain-main dan mencari masalah dengan orang yang salah." Gumam Nathan di tengah langkahnya.
-
"Yakk!! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku,"
Sandora berteriak dan meronta meminta supaya dua pria yang menangkapnya melepaskan dirinya. Rio yang melihat hal itu langsung menghampiri Sandora.
"Paman, siapa kalian dan kenapa kalian menangkap Ibuku? Huaaa... Paman, lepaskan Ibuku," renggek Rio sambil berpura-pura menangis.
Dan tanpa bertanya pun tentu Rio sudah tau siapa orang-orang itu. Hampir saja mereka memarahi Rio jika pemuda itu tidak melepaskan kaca mata kudanya. Mereka terkesiap setelah tau jika itu adalah tuan mudanya. "Paman, jangan bawa pergi ibuku. Jika dia di bawa pergi lalu siapa yang akan memasakkan makanan untukku. Siapa yang akan mencuci baju dan mengganti sprei saat aku ngompol!!"
"Yakkk!! Bocah Iblis, kau menagis bukan karna sedih aku ditangkap mereka tapi kau sedih karna tidak ada yang memasakkan makanan untukmu, lagi pula aku bukanlah babumu," amuk Dora.
"Ibu kau galak, aku takut. Paman, tolong aku. Ibu ingin menelanku hidup-hidup. Dia selalu jahat dan selalu memarahiku. Huaaa, lihatlah tatapannya. Dia seperti ingin menelanku hidup-hidup. Hiks, Paman tolong aku,"
"Yakk! Bocah apa yang kau katakan, kapan aku pernah menindasmu? Justru kaulah yang selalu membuat buruk hidupku. Sebaiknya jangan memfitnaku bagus aku mau menampungnu di sini!" Dora terus berteriak. Dia tidak terima karna Rio terus-terusan memfitna dirinya.
Tangis Rio pecah seketika. "Huaaa.. Paman lihat kan, dia selalu begini padaku. Dia begitu mengerikan. Padahal aku ini anaknya tapi dia selalu menindasku. Paman boleh kok membawanya, aku tidak keberatan. Tapi setidaknya biarkan dia memasakkan sesuatu untukku. Aku lapar," renggek Rio.
"BOCAH SETAN, SEBAIKNYA KAU MATI SAJA!!!"
Sedangkan anak buah Nathan hanya bisa mendengus geli. Dia tidak tau ketika hamil dulu Senna ngidam apa sampai-sampai melahirkan anak seperti Rio yang memiliki tingkat kenakalan dan kejahilan di aras rata-rata. Dia adalah ahlinya dalam membuat orang lain menderita dan gila diusia muda.
"Sebaiknya kau masak sesuatu untuk bocah ini dulu, aku tidak tahan mendengarnya terus merenggek. Telingaku sakit mendengarnya."
"AKU TIDAK MAU, BIARKAN BOCAH SETAN ITU MATI KELAPARAN!!!" teriak Dora.
"Huaaa... Ibu jahat. Aku akan berdoa pada Tuhan semoga Ibu kutilan dan panuan,"
"YAKKK!! DOA MACAM APA ITU? BOCAH SEBAIKNYA KAU MATI SAJA!!! AARRRKKHHH... LAMA-LAMA BOCAH INI MEMBUATKU GILA!!!"
"Hahahaha...! Kau memang gila,"
"DIAM KAU BOCAH!!
"Hahahah!!"
-
__ADS_1
Bersambung.