
Nathan menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah bangunan yang memiki dua lantai. Tempat itu bukanlah kediaman Nathan melainkan markas besarnya, keadaan di sana benar-benar sangat kacau. Banyak mayat bergelimpangan dan orang-orangnya pada terluka.
GLUKK!!'
Susah paya Viona menelan salivanya. Bulu kuduknya sampai berdiri saking takutnya. Dan melihat pemandangan yang begitu mengerikan di depan matanya membuat kepala Viona menjadi pusing dan pandangannya terasa berkunang-kunang, di tambah lagi banyaknya darah yang menggenangi tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah.
Viona tidak tau apa maksudnya Nathan membawanya mendatangi tempat seperti ini, dan Viona juga tidak tau apa keterlibatan Nathan dengan kejadian ini. Dia hampir saja mati dan hampir gila karna berada di tempat yang tidak seharusnya.
DOOORRR!!!
"Aaaahh!!"
Gadis itu berteriak histeris dan langsung menutup telinganya mendengar suara tembakkan yang begitu memekatkan telinganya dan membuatnya terkejut setengah mati. Sekujur tubuhnya gemetar karna ketakutan. "Kau baik-baik saja?" Tanya Nathan memastikan, gadis itu menggeleng. Seharusnya dia tau bila Viona tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Lantas Nathan menarik bahu Viona dan memeluknya dengan erat. Meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja. "Jangan takut karna aku bersamamu," bisik Nathan sambil mengusap punggung Viona dengan gerakkan naik turun.
Di rasa Viona mulai tenang, Nathan melepaskan pelukkannya. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam dashboard.
"O-Oppa, Ka-kau mau kemana?" Viona menahan lengan Nathan ketika melihat laki-laki itu hendak keluar.
"Aku tidak mungkin diam saja melihat nyawa orang-orangku dalam bahaya. Aku harus kelar dan menyelesaikan masalah ini dengan segera sebelum jatuh korban lagi." Balasnya.
Viona menggeleng kuat. "Ja-jangan pergi, aku takut." Lirihnya memohon.
Nathan menghela nafas. "Tetaplah di dalam mobil dan jangan coba-coba untuk keluar kalau kau tidak ingin nyawamu melayang sia-sia. Dan sebaiknya kau bersembunyi karna hal semacam ini tidak patut untuk di saksikan." Tuturnya.
Nathan sedikit menyesal karna harus membawa Viona menyaksikan peristiwa berdarah yang tidak seharusnya di saksikan olehnya. Nathan menatap gadis itu sejenak kemudian membawanya ke dalam pelukkannyal "Jangan takut, semua akan baik-baik saja. Aku pasti akan melindungimu. Tetaplah di sini aku akan menyelesaikan hal ini dengan segera." Bisiknya, Nathan meletakkan dagunya di atas kepala coklat Viona.
"Percayalah padaku, aku mohon." Nathan melepaskan pelukkannya dan bergegas keluar. Sebenarnya dia merasa berat meninggalkan gadis itu sendiri di sana tanpa perlindungan apapun, tapi akan jauh lebh berbahaya jika dia ikut keluar.
Brakk!!
Nathan menendang tangan pria yang hendak memukulnya lalu menarik dasinya dan melilitkan pada lehernya sebelum akhirya membatingnya ke tanah. "Aaarrrkkkhhh." Injakkan kaki Nathan pada tangannya membuatnya menggeram, terdengar retakkan mirip tulang pada ketika kaki berbalut sepatu hitam mengkilap itu menginjak tangan tersebut semakin kuat. Tidak cukup sampai di situ penyiksaan yang Nathan berikan. Nathan menarik kepala laki-laki itu dan menyudukkan wajahnya pada lututnya sambil memutar lehernya.
Doorr!!
Doorr!!
Tembakkan demi tembakkan Nathan lepaskan pada setiap orang yang berjalan ke arahnya. Tanpa kenal ampun, Nathan menembaki mereka dengan sangat brutal. Ia tidak mungkin mengampuni mereka yang berani membuat masalah dan menimbulkan kekacauan dimarkasnya. Tidak hanya pihak lawan saja yang terluka dan mati, orang-orang Nathan sendiri pun banyak yang mejadi korban.
Dan tidak butuh waktu lama untuk Nathan menyelesaikan kekacauan itu, dan dua orang yang tersisa dia biarkan tetap hidup. Mungkin mereka akan berguna untuk mengungkap siapa pelaku dan dalang di balik kekacauan yang terjadi.
"Kalian urus mereka berdua. Paksa mereka untuk membuka mulut, aku ingin tau siapa dalang di balik penyerangan ini." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh dua pria dihadapannya.
Sementara itu, Viona yang sedari tadi berada di dalam mobil Nathan dan menyaksikan semuanya tidak mampu berkata-kata, tubuhnya terpaku melihat bagaimana sadisnya Luhan saat menghabisi mereka. Tanpa hati dan belas kasih. Dan tidak pernah terfikir olehnya jika dia akan menyaksikan peristiwa mengerikan seperti ini dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Ya Tuhan, bagaimana bisa dia melakukannya dengan begitu mudahnya. Siapa pria ini sebenarnya, Tuhan? Sebenarnya pria seperti apa yang aku cintai ini? Dia manusia atau Iblis?"
Sebuah tanda tanya besar di benak Viona mengenai siapa Nathan sebenarnya. Apakah dia seorang penjahat? Mafia atau gangster? Viona menjadi ragu jika Nathan adalah orang baik mengingat bagaimana sadis dan kejamnya dia saat membunuh orang-orang itu. Otaknya buntu hingga dia tidak bisa berfikir apapun sekarang.
Glukk!!
Susah payah gadis itu menelan salivanya saat melihat Nathan menghampirinya sambil menggenggam sebuah senjata api disalah satu tangannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak detik itu juga membayangkan jika Nathan akan membunuhnya juga seperti dia membunuh para penyusup itu karna dirinya telah menyaksikan semua. Seperti di film-film, seorang saksi pasti akan di leyapkan. Peluh membahasi hampir di sekujur tubuhnya melihat langkah Nathan yang semakin dekat.
Cklekk!!
Dan gadis itu tersentak melihat pintu di sampingnya terbuka, Viona harus menahan nafas melihat Nathan masuk ke dalam mobil dengan mimik dingin dan datar. "Pasti kau sangat syok melihat yang terjadi?" Nathan menoleh, iris matanya bersiborok dengan manik hazel milik Viona yang menunjukkan ketakutan.
Gadis itu tidak memberikan respon apapun, Viona diam seribu bahasa.
Laki-laki itu mengerutkan dahinya melihat ekspresi wajah Viona dan menyeringai tipis. Nathan melepaskan semua amunisi yang tersisa di revolvernya dan membuangnya lalu menyimpan pistol itu di sampingnya. Ia tau betul apa yang membuat gadisnya itu sampai ketakutan seperti itu, gadis itu berfikir bila dirinya akan membunuhnya juga.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, aku tidak mungkin membunuhmu seperti aku membunuh mereka." Ucapnya seolah mengerti apa yang Viona fikirkan
Viona mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap iris coklat jernih milik Nathan. "Oppa, aku tidak tau kau ini orang baik atau orang jahat. Tapi aku ingin memohon padamu, jangan membunuhku meskipun aku sudah melihat semuanya. Aku berjanji aku tidak akan melaporkan apalagi mengatakan pada siapa pun mengenai hal ini. Tapi kasihani aku, aku ini masih muda, aku belum menikah apalagi merasakan malam pertama. Jadi biarkan aku hidup lebih lama lagi, aku mohom." Vipna menggosokkan kedua tangannya di depan Nathan, memohon padanya agar pemuda itu mengampuninya.
Nathan terkekeh dan mengacak rambut coklat Viona saking gemasnya "Dasar bodoh!! Mana mungkin aku membunuhmu hanya karja kau melihat semuanya. Aku membunuh mereka bukan tanpa alasan, mereka penyusup dan membuat kekacauan di markasku. Mereka membunuh banyak anak buahku, jadi tidak mungkin aku diam saja melihat mereka meraja rela. Dan kau tidak perlu cemas, aku bukan orang jahat. Sebaiknya pakai kembali sabuk pengamanmu. Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit," tegas Nathan lalu melepaskan pelukkannya.
Viona tak memberikan respon apapun, bahkan bicara pun tidak. Dia masih tidak mempercayai apa yang baru saja disaksikan oleh mata kepalanya. "Apa lagi yang kau cemaskan, hm?" tanya Nathan melihat kebungkaman Viona.
Nathan merih bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Aku tidak pernah marah padamu, aku hanya merasa kesal dan cemburu karna bajing** itu menyentuhmu dengan seenak jidatnya. Aku sadar jika dia adalah tunanganmu, tapi tetap saja aku benci melihat itu." Nathan membuang muka ke arah lain, hatinya kembali di selimuti amarah ketika membahas tunangan Viona.
"Kalau begitu mari berjuang bersama. Kita sama-sama berjuang untuk memperjuangkan cinta kita. Aku tidak peduli meskipun kau seorang psycho tak berhati sekali pun, aku tetap memilihmu karna kau adalah satu-satunya pria yang menjadi pilihan hatiku,"
Dan selanjutnya bibir Viona sudah berada dalam pagutan bibir Nathan. Nathan memagut bibir Viona dengan penuh kelembutan. Dalam hatinya Viona bersorak kembira karna Nathan sudah tidak lagi mengacuhkan dirinya.
-
"Dokter Viona, Anda datang di waktu yang tepat. Sebaiknya Anda segera bergegas. Seorang wanita nyawanya berada diambang bahaya, dan keadaannya kritis. Dan dia sedang hamil. Senior Lu sedang tidak ada, dan hanya Anda satu-satunya harapan yang kami miliki,"
"Lalu di mana dokter Kirana dan dokter Sunny?"
"Mereka sedang melakukan operasi juga. Pagi ini terjadi kecelakaan beruntun dan salah seorang korban mengalami luka yang sangat berat, dia kehilangan banyak darah dan dalam keadaan kritis," jelas suster tersebut.
Viona membekap mulutnya. "Astaga, kalau begitu segera siapkan ruang operasinya. Aku akan segera bersiap-siap juga,"
"Baik, Dokter!!"
-
Di sebuah ruangan bernuansa warna putih dan biru laut yang mendominasi, aroma khas yang menyengat serta berbagai alat medis, cahaya terang dengan lampu besar yang fokus ke satu sisi, tampak seorang dokter yang serius melakukan operasi. Seorang wanita tertidur dengan posisi miring. Semua orang yang ada disana nampak sibuk. Dan berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa Ibu dan janinnya.
__ADS_1
"Siapkan kantong darah sebanyak yang di butuhkan. Terus pantai dan pastikan suhu tubuhnya dan detak jantuntnya normal." ujar Viona pada beberapa asistentnya. Kali ini operasi Viona ambil alih sepenuhnya. Dia bekerja sendiri karna para dokter bedah yang lain tengah sibuk dan tidak bisa membantu.
"Baik, Dokter!"
"Nyonya, aku mohon bertehanlah. Kau harus bertahan demi anak dan keluargamu," ujar Viona dalam hati, seorang perawat mengelap keringat di dahi Vional
"Pisau." ucap Viona sambil mengulurkan tangannya.
Dengan sigap salah satu perawat disamping dokter cantik memberikan pisau bedah padanya.
Seorang suster mengangguk dan Viona mulai melakukan tugasnya. Nyawa wanita itu dan janinya ini berada di tangan Viona. Dan Viona berharap semoga Devi Fortuna kembali berpihak padanya.
Dan tidak terasa Operasi itu berjalan lebih dari dua jam. Semua keluarga pasien menunggu dengan cemas. Mereka harap-harap cemas karna belum ada tanda-tanda dokter maupun perawat keluar dari ruangan tersebut. Dan dalam hatinya mereka tak henti-hentinya berdoa supaya Ibu dan janinnya bisa sama-sama diselamatkan.
Viona kemudian menyodorkan pisau bedah tadi ke salah satu perawat, diganti dengan gunting. "Detak jantung janinnya normal." gumam salah seorang suster yang menjadi asisten Viona. Dan Viona hanya menanggapi dengan satu kali anggukan.
-
Tiba-tiba pintu ruang operasi di buka dari dalam, terlihat Viona keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya dan juga seulas senyum tipis yang samar. Masker yang sebelumnya menutup sebagian wajah cantiknya perlahan dia tarik turun, dan ia segera menghampiri beberapa orang yang sejak tadi telah menunggunya untuk menangani salah satu kerabat mereka di ruang operasi.
“Operasinya berjalan lancar. Kami telah berhasil menghentikan pendarahannya dan juga telah mengeluarkan janinya. Tapi, saat ini kondisi Ibu masih cukup kritis. Tubuhnya perlu sedikit waktu untuk memulihkan kondisinya yang sebelumnya telah kehilangan banyak darah. Dan kalian bisa menemuinya setelah dipindahkan keruang inap." Ujar Viona.
“Terimakasih Dokter," Viona tersenyum dan mengangguk samar. Gadis itu beranjak dan pergi meninggalkan ruang operasi dan kembali keruangannya.
Viona menghidupkan kembali ponselnya yang semula dia matikan. Sedikitnya ada 10 pesan masuk dan semua dari Leo. Dalam pesan tersebut Leo marah besar karna Viona terus mengabaikan dirinya dan mematikan ponselnya. Viona mendesah lelah. Menjalin hubungan dengan Leo hanya membuatnya terus-terusan makan hati. Dia begitu egois dan tidak pernah memikirkan perasaannya. Dan hanya Nathan yang bisa mengerti dirinya.
-
"Sayang,"
Viona menghentikan langkahnya karna seruan seseorang. Terlihat Leo keluar dari mobilnya dan menghampiri dirinya. Leo memeluk pinggang Viona dan mencium singkat bibirnya dengan di saksikan sepasang mata yang menatap marah mereka dari kejauhan.
Viona mengusap bibirnya yang baru saja di cium oleh Leo. "Oppa, sebaiknya jangan sembarangan menciumku apalagi ini tempat umum,"
"Oh, maaf Sayang. Habisnya aku tidak tahan saat melihat bibir ranummu yang menggoda ini." kata Leo sambil menyapukan jempolnya pada bibir Viona, tapi segera ditepis olehnya. "Oya, aku menjemputmu untuk fitting gaun pengantin. Aku sudah memutskan jika pernikahan kita akan dilakukan akhir bulan ini dan setelah itu kau tidak perlu bekerja lagi. Aku ingin kau berhenti dari pekerjaanmu ini!!"
"Apa, berhenti? Tidak Oppa, bukankah aku sudah memberitaumu sebelumnya jika aku tidak akan berhenti dari pekerjaanku ini. Karna menjadi seorang dokter adalah Impianku sejak kecil dan aku tidak mungkin melepaskannya sebelah berhasil meraihnya!!"
"VIONA ANGGELLA!!"
"Kau hanya memiliki dua pilihan. Membiarkanku tetap bekerja atau pernikahan ini batal!!" ucap Viona dan pergi begitu saja. Viona tidak akan membiarian siapa pun merenggut impian masa kecilnya dan mengendalikan dirinya, termasuk Leo. Karna sebenarnya Viona bukanlah gadis lemah yang mudah untuk di atur dan ditindas.
-
Bersambung
__ADS_1