Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 17 "Cemburu"


__ADS_3

Rio yang baru saja tiba di meja makan terlihat mengerutkan dahi saat melihat Ibunya kembali tanpa Nathan. "Ma, di mana paman Nathan?"


"Dia baru saja pergi dan terlihat terburu-buru." Jawab Senna kemudian duduk ditempatnya. Tidak ada lagi yang merasa heran karna hal itu sudah sering terjadi. Nathan memang sering sekali pergi sebelum menyantap sarapan paginya atau waktu makan malam tiba


"Rio, dimana kedua pamanmu? Kenapa Mama tidak melihat Satya dan Frans sejak kemarin? Bahkan dipelabuhan pun Mama juga tidak melihat mereka, apa mereka sedang pergi dan melanjutkan liburannya?" heran Senna karna tidak melihat dua adik angkatnya itu berkeliaran dirumah sejak kemarin. Sepertinya Senna menyadari satu hal, jika Satya dan Frans sedang mengurung diri di kamarnya.


Rio tidak menjawab, dan sebagai gantinya pemuda itu menunjuk dua orang yang datang malu-malu sambil menundukkan wajahnya. Sontak saja Henry dan Senna mengikuti arah tunjuk Rio sampai akhirnya... "OMO!!" nyaris saja Henry terkena serangan jantung dadakan saking kagetnya. "Hei, ini kalian? Ya Tuhan, apa yang terjadi pada kalian berdua? Kenapa kalian bisa menjelma menjadi bidadari secantik ini? Kemarilah, Hyung ingin berfoto bersama kalian." Seru Henry


Henry menarik Satya dan Frans untuk berfoto bersama, dari raut wajah yang ditunjukkan sangat jelas jika mereka tidak dalam keadaan bahagia.


"Rio, jelaskan pada Mama? Kenapa kedua Pamanmu bisa sampai seperti ini? Jangan bilang jika kalian melakukan taruhan konyol lagi?" tebak Senna 100% benar.


Wanita itu mendengus kasar, dia tidak habis fikir dengan putra dan kedua adiknya itu... bagaimana bisa mereka selalu melakukan kekonyolan padahal usia mereka bukan anak-anak lagi "Kakak tidak mau tau, apa pun alasannya. Sudahi kegilaan kalian, hapus make up itu dan buang atribut-atribut mengerikan itu dari tubuh kalian. Kalian itu laki-laki bukan wanita , jadi tidak seharusnya berdandan seperti ini. Dan kau, Rio.." tunjuk Senna pada putranya. "Mama tidak akan segan-segan untuk menghukummu jika masih saja melakukan taruhan konyol seperti ini dan itu juga berlaku untuk kalian. Kita sarapan sekarang."


"Baik Ma//Kak"


Henry mati-matian menahan tawanya melihat ketiga pemuda itu tidak berkutik setelah diomeli habis-habisan oleh Senna. Selain Nathan, Senna juga masuk kategori yang paling ditakuti dalam keluarga karna sikap tegasnya.


-


Nathan menghentikan langkahnya saat iris matanya menangkap sebuah pemandangan yang lebih dari cukup untuk membakar hatinya. Kedua tangannya terkepal kuat melihat gadisnya di sentuh oleh pria lain. Rasanya Nathan ingin sekali mematahkan tangan orang itu dan merajamnya menjadi potongan-potongan kecil.


Dari jarak 7 meter Nathan melihat Viona dan Leo yang sedang menyantap sarapannya. Mereka saling mengobrol, tapi sayangnya Nathan tidak tau apa yang mereka bicarakan karna jaraknya lumayan jauh. Tak jarang Viona tersenyum pada Leo dan itu membuatnya semakin terbakar cemburu.


Tiba-tiba seorang pria lengkap dengan setelan jasnya menghampiri Nathan. "Tuan Lu, ruangan yang Anda minta telah kami siapkan,"


"Segera beri tau dia jika seseorang sedang menunggunya di ruang VVIP"


"Baik, Tuan."


-


Perbincangan ringan mewarnai kebersamaan sepasang kekasih yang tengah menikmati sarapannya dengan tenang di sebuah restauran mewah di kawasan Hongdae.

__ADS_1


Keberadaan mereka di sana cukup sekali menyita perhatian para pengunjung lain. Banyak yang berbisik jika mereka itu pasangan yang serasi, cantik dan tampan. Dan tak sedikit pula yang mengatakan jika mereka tidak cocok sama sekali. Bukannya merasa senang, si perempuan justru merasa risih dan tidak nyaman karna terus di tatap seperti itu... berbeda dengan si pria yang terlihat menikmati ucapan orang-orang disekitarnya.


Tampak si pria tiba-tiba bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan gadis didepannya karna dering pada ponselnya. Dan tidak berselang lama setelah kepergian pria itu. Seorang pria dalam balutan pakaian formal menghampiri gadis tersebut dan berhenti tepat disamping dia duduk. Gadis itu mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan bertanya pada si lelaki.


"Maaf Nona Viona. Seseorang ingin bertemu dengan Anda dan beliau menunggu Anda diruang VVIP." ucap laki-laki itu ramah.


Gadis itu 'Viona' memicingkan matanya. "Ingin bertemu denganku? Siapa?" Tampak dia menaikkan sebelah alisnya, penasaran pada sosok itu dan apakah begitu penting sampai-sampai orang itu menunggunya di ruang VVIP.


"Anda akan segera mengetahuinya,"


Viona yang merasa penasaran terlihat bangkit dari duduknya dan meninggalkan mejanya. "Tunjukkan ruangannya padaku." laki-laki itu mengangguk kemudian mengantarkan Viona menuju ruangan VVIP


Sementara itu... laki-laki yang datang bersama Viona langsung ditahan oleh dua laki-laki bertubuh kekar saat hendak menyusul calon istrinya. "Maaf Tuan, Anda tidak diijinkan untuk ikut. Boss kami tidak mengijinkan Anda untuk kesana."


"Tapi dia calon istriku dan aku tidak bisa membiarkannya bertemu orang asing." bentak Leo pada dua pria didepannya.


"Maaf Tuan, kami hanya menjalankan perintah."


"Aaarrkkhhh!! Sial!!"


-


Nathan tidak ingin mengibarkan bendera perang secara terang-terangan, karna dia memiliki cara lain untuk menghancurkan laki-laki itu dan merebut Viona dari pelukannya.


Wajah datarnya tampak sangat sempurna untuk menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini. Nathan semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan Viona setelah membaca pesan yang dikrim ke ponselnya.


CKLEKKK!!


Decitan pintu yang di buka dari luar sedikit mengalihkan perhatiannya. Nathan meletakkan gelas wine-nya kemudian menoleh, laki-laki muda itu bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan gadis yang kini berada dalam pelukannya. "Apa sebesar itu rindumu padaku?" goda Nathan kemudian membalas pelukan Viona.


Nathan menyandarkan dagunya diatas kepala coklat Viona. "Karna aku juga sangat merindukanmu, Sayang." lanjutnya berbisik.


Viona melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Nathan yang juga menatap padanya. Dia melihar mata kiri Nathan yang tiga hari lalu mengalami iritasi masih tertutup, bukan lagi kasa putih melainkan benda hitam bertali yang membuat sosoknya menjadi semakin misterius namun tidak mengurangi sedikit pun ketampanannya.. bahkan Nathan jauh lebih tampan dan cool dengan benda hitam itu ditambah dengan pakaian serba hitam yang melekat ditubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mata krimu, Oppa?" tanya Viona penuh kecemasan.


Nathan menarik turun benda bertali itu kemudian beralih pada kasa dan plaster yang menjadi lapisan dalamnya. Mata itu terlihat jauh lebih baik dari terakhir mereka bertemu meskipun masih sedikit memerah dan berair. "Oppa, apa kau merawatnya dengan baik?" tanya Viona tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Hm! Kakak sulungku adalah seorang dokter. Jadi dia yang mengeceknya setiap pagi dan sore hari.. menurut dia dua hari kedepan mata ini akan baik-baik saja." jawabnya.


"Ya, yang aku lihat juga begitu." Ucap Viona tersenyum.


Nathan menarik pinggang Viona untuk lebih mendekat padanya dan tangan satunya lagi berada dibelakang leher gadis itu. Menekannya lembut agar bibir mereka lebih merapat. Nathan terus melum** bibir Viona hingga gadis berparas barbie itu mengerang meminta pasokan udara yang semakin menipis dan Nathan mengabulkannya, ia tidak ingin membuat Viona sampai kehabisan nafas karna keserakahannya dalam menikmati manisnya bibir milik gadis itu.


Nathan tersenyum melihat pipi Viona yang memerah seperti kepiting rebus. Terlihat lucu dan sangat menggemaskanl "Tunggu, Oppa!! Bagaimana kau bisa tau jika aku berada di restoran ini ? Oh astaga jangan bilang jika kau memata-mataiku?" tebak Viona sambil menatap Nathan tidak percaya.


Tukk!!


Dengan gemas Nathan mengetuk dahi Viona. "Ralat, tapi mengawasi. Aku tidak merasa tenang jika kau bersama laki-laki itu, Vi. Jujur saja aku merasa cemburu." Nathan bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kaca besar yang berada diruangan itu. Mata kanannya menatap keseluruhan kota Seoul dari tempatnya berada


"Aku cemburu melihat dia memelukmu, menggenggam tanganmu, merangkul bahumu dan membelai wajahmu apalagi saat dia menciummu. Aku tidak rela dan tidak bisa menerima melihatmu disentuh oleh laki-laki lain meskipun orang itu adalah tunanganmu sendiri.. aku sadar jika aku hanyalah kekasih gelapmu. Tapi jika diaduh, aku berani bertaruh jika cintaku padamu lebih besar dibandingkan cintanya." Nathan mengepalkan tangannya yang menempel pada kaca didepannya.


Viona beranjak dan menghampiri Nathan. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Nathan kemudian menyandarkan wajahnya pada punggung tegap laki-laki itu. Nathan menoleh, melirik Viona dari sudut matanya.. salah satu tangannya menggenggam tangan Viona yang memeluknya dengan erat


"Maaf. Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu cemburu padaku, kau taukan posisiku? Semua ini membuatku serba salah, aku benar-benar dihadapkan pada situasi yang sangat sulit." ujar Viona panjang lebar.


Nathan melepaskan pelukan Viona lalu memutar tubuhnya dan posisi mereka saling berhadapan. "Maaf jika aku harus mengawasimu dan hal itu aku lakukan demi kebaikkanmu, aku benar-benar merasa tidak tenang saat kau berada disisinya. Viona, aku melakukan penyelidikan padanya dan tunanganmu itu adalah putra dari bajing** yang sudah menghancurkan keluargaku.


Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku, tapi calon suamimu bukanlah pria baik-baik... untuk itu aku meminta dua anak buahku untuk mengawasimu dan memastikanmu baik-baik saja. Aku tidak ingin jika hal buruk sampai menimpamu, aku sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan dan aku tidak ingin jika hal itu harus kembali terulang."


"Aku memahinya. Aku bisa mengerti karna jika berada diposisimu, akupun akan melakukan tindakan yang sama. Kau tidak perlu meminta maaf apalagi merasa tidak enak padaku."


"Terimakasih sayang." Nathan menarik bahu Viona dan merengkuh tubuh mungilnya, mendekapnya dengan erat.


Terkadang Viona terus bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya pria yang dia cintai ini, apakah dia pria baik-baik atau bukan? Sosoknya begitu misterius dan jalan pikirannya sulit di tebak. Tatapan matanya, auranya, entah kenapa Viona merasa jika Nathan adalah pria yang sangat berbahaya. Sosok dan kepribadian Nathan penuh dengan misteri dan teka-teki.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2