Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 10) "Luna Diculik"


__ADS_3

Dean memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya merah padam, dan amarah sedang menguasai dirinya. Dean diliputi emosi setelah mengetahui apa yang dialami oleh Miranda.


Dan saat ini, Dean sedang dalam perjalanan untuk mencari Luna, Dean ingin memberi pelajaran pada gadis itu karna sudah membuat Miranda celaka. Dean benar-benar sangat marah saat mengetahui jika Luna telah memperlakukan Miranda dan janin di dalam perutnya dengan sangat buruk.


Dean mencoba menghubungi seseorang melalui sambungan telfon. "Aku mengirimkan foto seorang gadis, cari dan temukan gadis itu kemudian bawa dia ke gedung tua di belakang Lotte World. Jangan lakukan apapun padanya, bawa gadis itu dalam keadaan hidup-hidup, mengerti!!"


"Baik, boss,"


Dean memutuskan sambungan telfonnya dan kembali fokus pada jalanan beraspal di depan sana. Kali ini dia tidak akan bersikap lembut lagi pada Luna. Gadis itu sudah membuatnya sangat marah. Perbuatannya pada Miranda sudah sangat keterlaluan. Dean tidak peduli, toh Luna sendiri yang sudah memutuskan ikatan saudara diantara mereka.


-


Sebuah Van hitam yang nomor platnya di samarkan terparkir di sekitar taman kota yang berada di Jantung kota Seoul. Beberapa orang berlalu lalang di sekitar mobil tersebut namun tidak ada 1 pun dari mereka yang menaruh curiga dengan keberadaan mobil tersebut di sana.


Salah satu dari ke lima penumpang di dalam mobil itu mengangkat teropong di tangannya dan mengarahkan pada tempat di mana targetnya berada.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan gadis itu?" tanya seorang pria berkebangsaan asing pada pria pribumi yang duduk di samping kirinya.


Pria itu mengangguk. "Ya, aku sudah menemukannya. Dia bersama temannya. Sepertinya dia akan pergi, sebaiknya kita bersiap-siap, kita tidak boleh gagal atau boss akan marah besar!!"


"Kau benar Mike, kita bergerak sekarang,"


Tiga dari lima orang di dalam Van hitam itu segera turun dan menghampiri Luna yang terlihat sibuk bertelfonan dengan seseorang. "Hallo, Nona cantik," Sapa pria itu sesaat setelah sudah ada di hadapan Luna, kehadiran ketiga pria misterius itu membuat Luna tersentak kaget.


"Siapa kalian?" tanya Luna sambil menatap ketiganya bergantian.


"Kau tidak perlu tau siapa kami, yang jelas kami di sini untuk membawamu pergi," ujar Mike. Dia memberi kode pada kedua temannya. Keduanya mengangguk paham.


"Jangan macam-macam kalian," ancam Luna sambil memasang kuda-kuda. Mike menyeringai dan mulai menghitung tanpa suara.


Brugg...!


Dan Luna pun jatuh tak sadarkan diri sebelum sempat melakukan perlawanan, karna seseorang lebih dulu membiusnya. Tubuh Luna di angkat dan di masukkan kedalam Van itu.


Dan Reno yang secara kebetulan melintas di sana, tanpa sengaja melihat seseorang membawa Luna yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Reno pun langsung melaporkan hal tersebut pada Zian, karna dia sangat yakin jika gadis itu sedang berada dalam bahaya.


-


Luna membuka matanya perlahan dan Ia sedikit terkejut ketika mendapati dirinya telah terikat di atas sebuah papan yang di bawahnya terdapat sebuah akuarium berukuran raksasa yang penuh dengan air


Gadis itu menadahkan pandangannya kesegala penjuru arah namun tidak mendapati siapa pun ada di sana, ruangan itu kosong dan sedikit gelap.


Sampai Ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang bergerak kearahnya.


Krieett...


Dan tak lama berselang, terdengar decitan suara pintu di buka dari luar, beberapa saat kemudian derap langkah kaki itu kembali terdengar namun sayangnya Luna tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang mengingat bila keadaan di dalam ruangan itu yang sangat minim dengan penerangan.


Tapi satu hal pasti yang Luna ketahui, yakni orang itu adalah seorang pria.


Samar-samar wajahnya mulai terlihat, dan kedua mata Luna membulat sempurna setelah melihat siapa orang tersebut.


"Dean," Luna terkejut bukan main setelah mengetahui jika otak dibalik penculikannya adalah Dean, yang tak lain dan tak bukan adalah kakak angkatnya sendiri. "Katakan, apa maumu dan kenapa menculikku?" tanya Luna meminta penjelasan.


Dean menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan Luna, namun lebih tepatnya sebuah seringai meremehkan. "Kenapa adikku tersayang? Apa kau sangat terkejut sekarang? Lagipula bukan aku yang memulainya, tapi kau sendiri yang memaksaku untuk melakukan hal ini padamu,"


"Apa maksudmu?" tanya Luna meminta penjelasan.

__ADS_1


Dean tersenyum meremehkan. "Bahkan kau masih bisa bersandiwara setelah apa yang kau lakukan pada, Miranda dan janin di dalam rahimnya!!"


Luna mendengus berat. Dia sudah menduganya, jika penculikannya ini memang ada hubungannya dengan ular betina itu.


"Oh, jadi karna Miranda? Aku sudah menduganya. Memangnya apa lagi yang dia katakan padamu, Dean? Sampai kapan kau akan membiarkan otakmu di racuni olehnya? Dan asal kau tau saja, Miranda bukanlah wanita baik-baik dan janin yang ada di dalam rahimnya bukanlah anakmu! Sadar Oppa, sadar!! Jika selama ini kau hanya di manfaatkan olehnya!"


"DIAM KAU!!" bentak Dean menyela ucapan Luna.


Dean beranjak dari tempatnya kemudian Ia berjalan mendekati akuarium besar yang hanya berjarak sekitar 6 meter saja dari tempatnya berada. "Jadi kau ingin membunuhku, Dean?"


"Ya, dan aku akan membuatmu tenggelam di bawah sana. Dan itu adalah harga mahal yang harus kau bayar karna sudah berani memfitna dan mencelakai, Miranda!!! Kau, memang layak mati!!"


"Pengecut, jika kau memang berani. Lepaskan ikatanku dan hadapi aku secara jantan, Dean. Jangan menggunakan cara pengecut seperti ini!" Ucap Luna menantang.


"Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk melakukannya." Balas Dean.


Dan jelas saja Dean menolak tantangan Luna, karna Ia tidak mungkin menang bila beradu fisik dengan Luna. Luna sangat hebat dalam beladiri, sedangkan Ia tidak. Karna melepaskan Luna sama artinya dengan menggali kuburnya sendiri.


"Pengecut, katakan saja bila kau takut, Leonil Dean!!" teriak Luna meremehkan.


Dean mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Luna. Ia tidak terima di sebut pengecut oleh gadis itu. Sedangkan Luna tampak menyeringai tajam melihat ekspresi wajah Dean.


"Sudah cukup, Leonil Luna. Kau akan mati di dalam akuarium ini." Desis Dean tajam


Dengan emosi yang berapi-api, Dean memotong tali yang mengikat tangan Luna dan...


BYURRRR ... !!! ...


Tubuh Luna jatuh kedalam akuarium raksasa tersebut dengan kedua tangan dan kakinya masih terikat, tak ada yang bisa Luna lakukan sekarang selain pasrah dan berharap seseorang akan datang untuk menyelamatkannya meskipun mustahil namun Ia yakin bila keajaiban itu benar-benar ada dan berharap keajaiban itu akan datang padanya.


Perlahan-lahan Luna memejamkan matanya dan mulai kehilangan kesadarannya.


Dan di dalam hatinya Ia terus berharap supaya Zian akan segera datang untuk menyelamatkan dirinya. Meskipun kemungkinannya itu sangatlah kecil.


-


Merasa tidak tahan dengan cara Reno mengendarai mobilnya yang sangat lambat, akhirnya Zian mengambil alih dan mobil itu kini di kendarai olehnya.


Kecepatan mobil itu hampir mencapai kecepatan maksimal, bahkan Zian tidak peduli bila nantinya Ia akan berurusan polisi lalu lintas karna cara mengendarai mobilnya yang secara ugal-ugalan, karna yang saat ini ada di dalam benaknya adalah bagaimana caranya agar Ia bisa menyelamatkan dan menemukan tempat di mana Luna di sekap.


Kakinya sama sekali tak melepaskan pedal gas. Membuat suara laju mobil itu terdengar lebih keras saat Zian menambah kecepatannya. Membuat tubuh Rsno yang berada di sampingnya menegang karna ketakutan.


"KKYYYAAA!! PELANKAN SEDIKIT MOBILNYA, AKU MASIH MUDA DAN BELUM INGIN MATI!!" jerit Reno histeris.


"Diamlah, bodoh!! Aku tidak mungkin membuat kita mati karna saat ini Luna sangat membutuhkan bantuan kita," sinis Zian seraya menatap Reno dengan sebal.


Manik abi-abunya terkunci pada jalanan yang sepi, meskipun fikirannya kini terbelah antara keselamatan Luna dan jalanan di depannya. Meskipun panik, namun Zian berusaha untuk tetap tenang.


Sesekali Ia melihat ponsel yang ada di hadapannya, seringai tajam terkukis di wajah serius Zian.


"Akhirnya aku menemukannya." Melalui chip yang Zian selipkan pada liontin yang di kenakan oleh Luna, tak sulit baginya untuk menemukan di mana gadis itu berada. Bukan tanpa alasan, Zian melakukan hal itu hanya untuk mengantisipasi bila ada hal buruk yang menimpa gadis itu setelah apanyang terjadi di klub malam tempo hari dan ternyata dugaan Zian benar.


Setelah hampir 15 menit, akhirnya Zian menemukan tempat di mana Luna di sekap. Dan keyakinan Zian semakin di perkuat dengan keluarnya seorang pria yang wajahnya tak asing baginya, meskipun hanya 1 kali melihatnya dalam ponsel Luna. Tapi Zian ingat betul bila laki-laki itu adalah saudara angkat Luna.


Suara decitan ban dan aspal yang saling bergesekan terasa begitu menyakitkan telinga saat Mobil itu membelok di tikungan jalan utama dan masuk ke dalam bangunan tersebut.


Meskipun telah sampai di lokasi, namun bukan berarti Zian telah sampai di tempat di mana Dean menyekap Luna. Dan saat ini fikiran Zian hanya di penuhi Luna dan Luna. Kedua tangannya mencengkram kuat kemudi mobil dengan sorot mata tajam namun penuh kecemasan.

__ADS_1


"Bertahanlah Lun, aku pasti akan menyelmatkanmu."


.


.


Zian terus berlari menyusuri bangunan tersebut, Ia mengikuti sinyal yang terhubung dengan ponselnya dan Zian menemukan tempat di mana Dean menyekap Jessica.


BRAKKK ... !!! ...


Suara dobrakan pada pintu menggema di ruangan itu. Zian membuka pintu dengan kasar tanpa bersusah payah menggunakan kunci. Ruangan itu terbuka sepenuhnya dan betapa terkejutnya Zian saat mendapati tubuh Luna mulai tenggelam di dalam akuarium raksasa yang penuh dengan air.


Zian segera berlari kearah akuarium itu berada, berusaha mencari cara agar Ia bisa masuk dan menceburkan diri kedalam sana untuk bisa menyelamatkan nyawa Luna yang kini berada dalam bahaya.


Fikirannya benar-benar kacau hingga Ia tidak bisa berfikir dengan jernih, satu-satunya yang ada di dalam fikirannya adalah menyelamatkan gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali Ia menatap matanya.


BYURRRR ... !!! ...


Tanpa rasa ragu sedikit pun, Zian menceburkan diri ke dalam akuarium tersebut. Ia tertegun, tepat di bawah sana gadis itu tenggelam. Rambutnya yang panjang berayun di dalam air, kedua tangannya yang masih terikat melambai seakan-akan menunggu seseorang untuk segera menyelamatkannya. Kedua matanya terpejam.


Dengan segera Zian melepaskan ikatan tali pada lengan dan kakinya kemudian melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dengan segera Ia membawa Luna naik ke atas permukaan. Di atas sana sudah ada Reno yang siap membantunya.


Zian melirik gadis yang berada dalam pelukannya. Memandang wajah pucat yang sangat familiar untuknya, gadis itu terbatuk. Menekan semua udara yang mungkin masih tersisa di dalam kerongkongannya. Luna terdiam, meringkuk lemah dalam pelukan Zian.


Mata Zian terbelak, berkali-kali dka menepuk pipi tirus Luna dan sedikit mengguncang bahunya. Namun Luna tetap tidak me berikan respon apa-apa. Gadis itu tetap diam, tubuhnya bergerak lemah mengikuti guncangan tangan Zian pada bahunya.


"Luna, aku mohon bangunlah dan buka matamu. Luna, aku mohon. Jangan membuatku takut,"


Keadaannya begitu lemah, dan hal itu membuat Zian menjadi sangat cemas. Ia takut hal buruk sampai menimpa gadis itu. "Zian, sebaiknya segera beri dia nafas buatan, mungkin itu akan membuatnya lembali sadar," saran Reno.


Zian mengangguk. Tanpa banyak berfikir, Zian langsung menempelkan bibirnya pada bibir Luna. Meniupkan semua pasokan udara yang Ia punya dan berhasil, ada pergerakan dari gadis itu. Luna terbatuk dan menggeluarkan semua air yang tertelan selama dia berada di dalam air.


Perlahan-lahan matanya terbuka. Zian dan Reno pun bisa menahan nafas lega karna Luna baik-baik saja. "Zian," Panggil Luna dengan suara lemahnya.


Zian meraih tangan Luna yang terasa dingin dan menggenggamnya. Sepasang mutiara abu-abunya menatap iris coklat itu dalam. "Aku ada di sini, Lun." Balas Zian sambil menunjukkan raut cemasnya.


"Zian, kau datang menyelamatkanku?" Tanya Luna tak percaya, tanpa melepaskan kontak matanya.


"Mana mungkin aku diam saja saat aku tau jika kau berada dalam bahaya. Aku tidak mungkin membiarkanmu berada dalam bahaya. Dan maaf, jimlka saja aku tidak datang terlambat pasti-"


Zian menggantungkan kalimatnya saat tiba-tiba Luna menempelkan jarinya pada bibirnya, gadis itu menggeleng lemah di iringi senyum tipis tersungging di wajah pucatnya. "Aku tidak ingin mendengar kau mengatakan apa-pun lagi, lagi pula aku seperti ini juga bukan karna kau terlambat datang. Tapi karna-"


CHUU ... !!!...


Luna membelalakan matanya dan tak melanjutkan kalimatnya karna Zian lebih dulu membekap bibirnya sebelum ia semakin banyak bicara. Rasanya Luna tidak percaya Zian menciumnya, tepat dibibirnya. Parahnya lagi Zian menciumnya di depan Reno. Namun ciuman itu tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja, dan Zian telah mengakhirinya.


"Zi-zian ci-ciuman itu... I-itu.."


"Sudah larut malam, kita pulang sekarang." Ucap Zian menyela ucapan Luna.


Gadis itu mengangguk pelan. "Baiklah." Zian mengangkat tubuh Luna bridal style dan segera membawanya meninggalkan gedung tua tersebut. Dan Reno mengekor di belakang mereka berdua.


Dalam hatinya Luna tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Zian, karna sudah datang di saat yang tepat sehingga dirinya loloa dari maut yang nyaris saja merenggut nyawanyam


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2