
Dua orang perempuan yang memiliki wajah bak pinang di belah dua terlihat berjalan beriringan memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Mereka mengobrol dan saling bertukar cerita.
Memang sudah cukup lama Viona dan Luna tidak pergi berbelanja bersama karena kesibukkan masing-masing. Viona yang sibuk dengan si kembar, sedangkan Luna sibuk mengembangkan sayapnya di dunia fashion.
Bukan lagi rahasia bila seorang Leonil Luna sangat mencintai dunia fashion. Dan sudah sejak lama Luna bercita-cita menjadi desainer ternama. Dan cita-citanya itu sudah dia miliki sejak Luna masih kecil.
"Oya. Eonni, jujur saja aku sangat penasaran bagaimana awal ceritanya kau dan Nathan oppa bisa bertemu kemudian saling jatuh cinta, dan akhirnya memutuskan untuk menikah?" tanya Luna begitu penasaran.
"Ceritanya sangat panjang, jika aku menceritakannya padamu sekarang, sampai tengah juga tidak akan selesai." Terang Viona.
"Benar juga, karena kalian berdua pasti memiliki kisah yang sangat panjang dan penuh makna apalagi aku pernah dengar dari trio ajaib itu jika kau dan Nathan oppa pernah pergi berlayar bersama," ujar Luna.
"Ya, itu memang benar. Dan pertemuan kami pada saat itu pun secara tidak sengaja. Dan di sanalah benih-benih cinta itu diantara aku dan Nathan oppa mulai tumbuh dan mekar."
"Huaaa..!! Pasti sangat romantis. Eonni, jujur saja aku iri padamu. Kau begitu beruntung karena bisa menikah dan hidup bersama dengan pria yang kau cintai. Sementara aku... bahkan tak sekalipun dia mau melihatku sebagai seorang wanita. Dan rasa sayang yang dia miliki untukku tak lebih dari rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, bukankah itu sangat menyedihkan," ujar Luna seraya tersenyum perih.
Viona menatap saudari kembarnya itu dengan sendu. Dia memahami betul apa yang di rasakan oleh Luna saat ini, pasti sangat berat baginya, apalagi Luna dan Dean tinggal di bawah satu atap yang sama.
"Tidak perlu merasa sedih, lagipula bukankah cinta itu tidak harus selalu memiliki? Mungkin saja Tuhan sedang menyiapkan sebuah rencana yang indah untukmu?" ujar Viona.
"Dan Eonni lihat, Jacksoon adalah laki-laki yang baik. Sepertinya dia satu-satunya kandidat terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu, dan Eonni akan menjadi orang pertama yang mendukung hubungan kalian," Imbuhnya.
Luna mendecih kesal. "Eonni, kenapa harus bawa-bawa nama mahluk menyebalkan itu segala sih? Bikin mood down saja," gerutu Luna sambil mencerutkan bibirnya.
Entah kenapa Luna begitu sensitive jika sudah berhubungan dengan Jacksoon. Bukan lagi rahasia bila Luna sangat-sangat tidak menyukai Jacksoon, Luna memiliki dendam kesumat pada laki-laki itu karena dia selalu saja membuat buruk harinya.
Dan jika boleh jujur, Luna sangat menyesali pertemuan mereka pada saat itu, Luna sering kali mengalami hari yang buruk karena nya. Dan Jacksoon adalah manusia paling menyebalkan yang pernah Luna temui di dunia ini.
"Hahaha. Lalu kenapa wajahmu memerah setelah Eonni membahas tentangnya? Atau jangan-jangan sudah tumbuh rasa di dalam hatimu yang sama sekali tidak pernah kau sadari sebelumnya?
Ingatlah, Lun. Jika benci dan rindu itu sangat tipis perbedaannya. Dan tidak baik membenci seseorang terlalu dalam, karena bisa jadi rasa benci yang kau miliki itu malah menjadi boomerang untukmu sendiri. Karena sesungguhnya cinta itu penuh dengan misteri," ujar Viona panjang lebar.
"Aku-"
Dorrr...
Dorrr...
Dorrr...
Luna tidak melanjutkan ucapannya setelah mendengar suara tembakkan yang dilepaskan secara beruntun. Orang-orang yang berada di pusat perbelanjaan berhamburan, dan suara jeritan-jeritan kepanikkan mewarnai suasana di sana yang begitu kacau.
Tanpa banyak berfikir, Viona menarik lengan Luna dan membawanya bersembunyi di tempat yang aman. Dan di saat bersamaan, sejumlah pria berpakaian serba hitam memasuki pusat perbelanjaan dan mereka semua bersenjata.
Mereka melepaskan tembakkannya secara acak dan membuat orang-orang bergelimpangan dengan lubang pada kening dan dada kirinya.
"Hahaha...! Lari kalian semua, lari!! Hahaha... Serahkan harta benda kalian jika kalian ingin selamat," teriak salah seorang dari kesepuluh pria tersebut.
Viona mengintip dari sebuah lubang kecil di balik meja yang menjadi tempat persembunyiannya dengan Luna. Viona menghitung jumlah orang-orang itu dan melihat senjata apa saja yang mereka bawa.
"Eonni, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib?" tanya Luna setengah berbisik.
"Itu hanya akan membuang terlalu banyak waktu, dan jumlah korban bisa saja bertambah. Kita tidak memiliki pilihan lain lagi, aku akan maju untuk menghadapi mereka. Sebaiknya hubungi Nathan oppa dan katakan jika jika membutuhkan bantuan!!"
Kedua mata Luna membelalak. "Kau gila! Eonni, ini sangat berbahaya. Tapi baiklah, karena diam saja juga tidak ada gunanya. Ayo kita keluar dan kita habisi para sampah masyarakat itu,"
"Kau yakin?"
Luna mengangguk. "Sangat yakin malah, begini-begini aku adalah pemegang sabuk hitam dalam ilmu bela diri. Jika hanya sepuluh orang saja, tentu tidaklah sulit," ujarnya.
"Baiklah kalau begitu, kita maju sekarang,"
Jleb...
__ADS_1
"Aaahhh,"
Viona keluar dari persembunyiannya seraya melemparkan sebuah belati yang kemudian menancap.lnpada leher salah seorang dari ke sepulah pria itu. Luna manfaatkan situasi itu untuk mengambil senjata miliknya.
Tanpa ampun Luna dan Viona menghajar kesembilan orang yang tersisa.
Meskipun mereka memakai dress dan heels yang sedikit membatasi ruang geraknya. Tapi siapa yang menyangka jika di balik wajah cantik dan penampilannya yang feminim nan anggun, mereka berdua begitu tangguh dan mahir dalam ilmu bela diri.
Tendangan, pukulan bahkan tembakkan tak jarang Viona lepaskan pada pihak lawan. Mereka bersembilan di buat kwalahan oleh kedua wanita itu, tak jarang Luna menendang bagian pisang berurat milik mereka sebelum akhirnya menghabisinya dengan brutal.
"Arrkkhh," pria itu menjerit saat ujung belati Viona yang tajam menyentuh dan menyayat lehernya.
Viona menendang dada pria itu hingga terhuyung kebelakang sebelum akhirnya nyawanya berakhir di tangan Luna. Aksi kedua wanita itu tak kalah brutalnya dari Nathan dan anak buahnya.
Dan kurang dari tiga puluh menit. Viona dan Luna berhasil mengatasi para perampok tersebut dan menumbangkannya. Dan karena keberaniannya itu, kedua perempuan cantik itu mendapatkan banyak sekali pujian dari orang-orang yang ada di sana.
-
"APA?" Nathan memekik keras setelah mendapatkan kabar jika Viona baru saja terlibat perkelahian sengit dengan para perampok ketika berbelanja di mall. "Lalu bagaimana keadaannya?"
"Nyonya baik-baik saja, Tuan. Dan hanya mengalami luka ringan." Jawab Theo.
Nathan mendesah berat. "Batalkan semua jadwalku hari ini. Aku akan pulang untuk memastikan keadaannya. Dan satu hal lagi, di mana Jane? Kenapa dia belum juga tiba sampai detik ini?"
"Maaf Tuan, saya dan Park Yoong meringkus wanita itu dua hari yang lalu. Ternyata Jane adalah mata-mata musuh yang sengaja masuk dalam organisasi kita guna mendapatkan semua informasi mengenai Anda." Tutur Theo
"Apa? Jadi selama ini kita sudah di kelabuhi olehnya, dan sebenarnya dia adalah seorang mata-mata?" Theo mengangguk.
"Brengsek. Habisi wanita itu. Memang hanya Tao dan Kai yang bisa aku percayai dalam hal ini. Tapi sayangnya kondisi mereka berdua sangat tidak memungkinkan untuk menerima tugas dariku, Kai terutama,"
Sungguh betapa Nathan sangat menyesal dengan apa yang menimpa Kai dan Tao. Kai mengalami kelumpuhan dan kebutaan permanen pasca semua siksaan yang pernah dia alami ketika menjadi tawanan Doris Lu.
Sedangkan Tao, dia mengalami gangguan kejiwaan setelah mengalami depresi berat pasca apa yang dialaminya. Dan semua itu membuat Tao mengalami trauma.
.
.
Laurent dan Lucas yang menyadari kedatangan sang ayah terlihat begitu gembira. "Papa.. Papa," seru si kembar sambil menghampiri Nathan dengan langkah sedikit tertatih-tatih.
Viona bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Nathan. "Oppa, kau sudah pulang,"
"Kenapa tidak menghubungiku dan malah menghadapi mereka sendiri? Lihatlah, kau terluka seperti ini,"
"Keadaan di sana benar-benar darurat Oppa, jika aku dan Luna tidak bertindak, mungkin korbannya malah semakin banyak,"
Nathan menakup wajah Viona dan menatapnya dengan sendu. Sepanjang dia mengenal Viona dan hidup bersamanya. Ini pertama kalinya Nathan melihat wajah cantik Viona tergores luka apalagi sampai di perban seperti ini. Hati Nathan perih melihatnya.
"Pasti luka-luka ini sangat sakit?" ucap Nathan sambil mengusap perban yang menutup luka di tulang pipi Viona.
Wanita itu menggeleng. "Tidak sama sekali, lagi pula hanya luka ringan saja. Tapi dari mana Oppa tau jika aku baru saja terlibat perkelahian sengit dengan para perampok?" tanya Viona penasaran.
"Orang ku di mana-mana, Nona. Seseorang melaporkan apa yang kau alami pada Theo kemudian dia melaporkannya padaku,"
"Lalu kenapa orang itu tidak membantu kami?" Nathan mengangkat bahunya.
"Karena dia juga terluka, dia tertembak di bagian kakinya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa," jawabnya. "Aku akan mandi dulu," Viona mengangguk.
Tiba-tiba Laurent memeluk kaki Nathan sehingga membuatnya mau tidak mau harus mengurungkan niatnya untuk pergi. Nathan membungkukkan tubuhnya. "Ada apa, Nak?"
"Papa.. Gen..dong," pinta Laurent sambil merentangkan kedua tangannya dan menatap Nathan penuh harap.
Nathan mendengus geli melihat ekspresi menggemaskan putri kecilnya."Gen..dong," pintanya sekali lagi.
__ADS_1
"Baiklah, Papa akan menggendong mu,"
"Lucas juga mau di gen..dong," Lucas pun tidak mau kalah. Bocah itu berbicara dengan aksennya yang menggemaskan.
"Baiklah-baiklah, Papa akan menggendong kalian berdua," ucap Nathan dan kemudian menggendong Lucas juga.
Viona tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Hatinya menghangat melihat interaksi antara ayah dan anak tersebut.
-
"YAKK!! BRENGSEK!! SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN MENAHAN KU DI SINI?"
Sebuah teriakkan nyaring yang berasal dari sebuah ruangan tak lantas membuat beberapa pria yang sedang bermain kartu itu terusik sedikit pun. Pasalnya ini bukan pertama kalinya wanita itu berteriak seperti orang gila, dan mereka sudah terlalu terbiasa mendengarnya.
"Yakkk!! Apa kalian tuli!! Lepaskan aku!!"
BRAKK...
Wanita itu terlonjak kaget karena suara dobrakan pada pintu. Seorang pria masuk ke dalam dengan tatapan membunuhnya. Tidak hanya menyumpal mulut wanita itu dengan kain, tapi juga menampar wajahnya hingga beberapa kali.
"Diam lah, Nona Tiffany!! Kau terlalu berisik. Bahkan sampai kuda beranak gajah sekali pun, kami tidak akan melepaskan mu. Jadi berhentilah berteriak seperti orang gila."
Mata Tiffany melotot. Dan mulutnya terus mengeluarkan gumaman tak jelas. Berkali-kali dia menggerakkan tubuhnya yang terikat kuat. Dan ini sudah satu tahun lebih dia menjadi tawanan Nathan.
-
"Tidak usah pegang-pegang,"
Luna menepis kasar tangan Dean ketika pria itu hendak menyentuh perban yang membalut luka di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, Luna beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Dean hanya bisa menatap sendu pada punggung Luna yang semakin menjauh. Dean tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Luna sampai-sampai dia menjauhinya.
"Ada apa, Dean?" tanya tuan Leonil melihat wajah muram putranya.
"Luna, Pa. Sepertinya dia sangat membenciku sekarang. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya sampai-sampai dia menjauhiku. Dan hal itu membuatku merasa sangat sedih dan kehilangan," ujar Dean menuturkan.
"Apa kau pernah berbuat salah pada nyn atau menyinggung perasaannya?" tanya tuan Leonil memastikan. Dean menggeleng. "Kalau begitu cobalah bicara baik-baik dengannya. Mungkin dia mau terbuka dan mau mengatakan apa alasannya dia tiba-tiba saja menjauhi mu,"
"Baiklah Pa, aku akan mencobanya. Tapi tidak sekarang, sepertinya suasana hatinya tidak baik,"
"Baiklah, terserah kau saja. Papa pergi dulu," tuan Leonil menepuk bahu Dean dan pergi begitu saja.
-
Bukan Rio, Satya dan Frans namanya jika tidak membuat orang lain terkena serangan darah tinggi. Hari ini mereka bertiga mendatangi kediaman mainan lamanya dan membuat rusuh di sana, dan siapa lagi jika bukan Sandora Lim.
Sandora tidak tau mimpi buruk apa yang dia alami sekarang sampai-sampai harus berurusan dengan bocah-bocah setan seperti mereka bertiga.
"Bibi, sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu? Kenapa rumahmu jadi legang seperti ini? Jangan bilang jika semua perabotan rumahmu kena sita pihak bank ya? Pasti karena kau memiliki banyak sekali hutang?" seru Satya dengan nada mengejek.
"Tau apa kau bocah? Lagi pula aku ini orang kaya. Kehilangan satu dua barang saja tidak masalah untukku, karena aku bisa membelinya dua kali lipat dari yang aku miliki sebelumnya!!" Dora menyombongkan diri.
"Kebetulan sekali, Bibi. Kami baru saja memesan banyak perabotan untukmu dan mungkin sebentar lagi akan segera sampai," sahut Rio.
Sontak saja Dora menoleh dan menatap Rio penasaran. "Maksudmu apa?" tanya Dora meminta penjelasan.
"Begini Bibi. Kami ini kan para pemuda baik hati dan tidak sombong, tampan dan rajin menabung. Karena kami sangat peduli padamu. Jadi kami memesankan beberapa perabotan rumah tangga untukmu. Perabotan lamamu kan lada hilang semua, jadi kami rasa kau membutuhkannya. Lagipula tidak ribet kok prosesnya, kau tinggal membayarnya saja ketika perabotan itu tiba." Tutur Frans.
Sontak kedua mata Dora membelalak mendengar apa yang baru saja Frans sampaikan. "Kalian sudah tidak waras ya? Memangnya siapa yang menyuruh kalian untuk memesannya? Kalian bertiga!! Enyah sekarang juga dari rumahku!!"
"Kami tidak mau!!"
"Kalian semua bocah setan!!"
__ADS_1
-
Bersambung.