Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 26) "Rasa Penasaran Luna"


__ADS_3

Malam semakin larut. Namun Luna masih tetap terjaga. Berkali-kali ia mencoba untuk menutup matanya tapi usahanya selalu gagal.


Kata-kata Zian masih terus terngiang -ngiang di telinganya. Luna sungguh tidak tau apa yang terjadi pada pemuda itu dan kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai-sampai Zian memutuskan untuk menjauh darinya.


Luna terus memikirkannya dan mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dia perbuat pada pemuda itu. Tapi lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. Karna Luna merasa jika dirinya memang tidak pernah melakukan kesalahan apun pada Zian, apalagi sampai menyinggung perasaannya. Tapi Zian malah pergi menjauhinya.


Luna menggeleng. Ia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Ia harus segera menyelesaikannya, dan satu-satunya cara adalah dengan menemui Zian. Dia harus bicara dengannya.


"Ya, aku harus bicara dengannya sekali lagi. Dan aku harus tau apa alasan Zian menjauhiku!!" gumam Luna pada dirinya sendiri.


Luna menyambar mantel hangat dan kunci mobilnya dan bergegas pergi. Dia tidak peduli meskipun ini sudah hanpir tengah malam. Luna tidak ingin semakin di buat tidak tenang oleh sikap dan keputusan Zian.


Luna telah memantapkan hatinya untuk menemui Zian dan mencoba berbicara dengannya sekali lagi. Ia harustau apa alasan Zian yang sebenarnya kenapa dia sampai menjauhinya, dan apa pun reaksi Zian nantinya, Ia tidak peduli. Karna yang terpenting bagi Luna saat ini adalah penjelasan yang masuk akal dari Zian.


Saat ini Luna berada di tempat biasanya Zian dan teman-temannya berkumpul.


Namun setibanya di sana, orang yang sedang dia cari sedang tidak ada di tempat. Rumahnya kosong, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Luna menyapukan pandangannya, dia sedikit merinding sedian di sana. Jika manusia saja dia masih bisa mengatasinya, tapi jika yang muncul adalah hantu mungkin Luna akan langsung pingsan dan tak sadarkan diri.


Enam puluh menit sudah gadis itu berada di tempat tersebut, karna orang yang di tunggu tidak kunjung datang. Akhirnya Luna pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Sampai akhirnya...


"Sedang apa yang kau di sini?"


Langkah kaki Luna pun harus terhenti karna suara dingin seorang pemuda masuk kedalam pendengarannya.


Derap langkah kaki seorang terdengar semakin mendekat membuat Luna mau tak mau membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pemuda dengan style serampangannya berjalan menghampirinya.


"Zian," Senyum Luna pun terkembang lebar saat mengetahui siapa orang itu.


Namun senyum manis itu justru tidak di sambut baik oleh Zian, pemuda itu justru menunjukkan sikap yang kurang bersahabat pada Luna.


Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya jika suhu udara diselitarnya tiba-tiba menurun drastis, sekujur tubuhnya terasa beku setelah menatap mata tajam Zian.


"Katakan, untuk apa kau ada di sini?" Tanya Zian sekali lagi.


"Zian, sebenarnya ada apa sih denganmu? Kenapa kau harus bersikap seperti ini padaku? Apa salahku? Sebenarnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan padamu hingga mungkin melukai perasaanmu? Kenapa kau jadi semarah ini padaku?"


"Sayangnya aku tidak memiliki alasan untuk marah padamu, jika kau berfikir seperti itu kau salah besar Nona. Jika kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengatakan itu, itu tidak ada gunannya sama sekali."


"Sebaiknya kau pulang, tempat seperti ini tidak layak untuk gadis terhormat sepertimu. Bahkan kau tidak pantas berteman dengan brandalan seperti aku, sebaiknya mulai hari ini kita tidak usah saling bertemu lagi, dan jika kita tidak sengaja bertemu di jalan. Sebaiknya kita bersikap tidak saling mengenal." Pinta Zian dengan kalimat yang begitu menykitkan.


Hati Luna rasanya seperti tertusuk ribuan belati dan jarut tajam karna ucapan Zian, rasanya teramat sangat-sangat sakit.


"Kenapa, Zian? Kenapa kau harus melakukan hal ini padaku? Kenapa aku tidak layak berteman denganmu? Memangnya kenapa jika kau buruk dan seorang brandalan, apakah ada undang-undang yang melarangku untuk berteman dengan seorang brandalan?" Tanya Luna dengan mata berkaca-kaca. Binnernya mengunci iris abu-abu Zian.


"Jangan berlebihan Nona!! Jelas kita berdua sangatlah berbeda. Kau berasal dari kekuarga baik-baik dan selama ini kau menjalani kehiduapan yang normal. Jangan jatuhkan dirimu dalam lubang kegelapan karna berteman dengan orang seperti diriku, aku hanya tidak ingin melibatkanmu dalam masalah apa-pun."

__ADS_1


"Aku selalu terlibat masalah dan memiliki musuh di mana-mana, jadi mengertilah. Kau akan aman jika tidak berhubungan denganku. Sebaiknya kita kembali pada saat sebelum kita kembali bertemum. " Ujar Zian panjang.


Sebenarnya bukan itu alasan Zian menjauhi Luna. Itu hanyalah sebuah alasan supaya Luna tidak lagi banyak bertanya. Karna jika mereka tetap dekat, hal itu hanya akan membuat Zian semakin di lemah.


"Zian," gumam Luna seraya menatap Zian yang sedang menatap ke arah lain.


"Pergilah dari sini, teman-temanku akan segera datang dan lagi pula aku sudah ada janji dengan seseorang. Aku tidak ingin dia salah paham jika melihat kau di sini." Tutur Zian.


"Seharusnya dari awal kau tidak pernah datang dalam kehidupanku dan memberikan harapan padaku, di saat aku mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan kehadiranmu. Tiba-tiba kau memintaku menjauh, berkat dirimu aku bisa bangkit dari keterpurukan karna kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Kepergian papa membuatku hancur dan kau yang selalu menguatkanku,"


"Namun hari ini kau jatuhkan aku dalam lubang yang sama, aku tidak tau harus mengatakan apa. Berterimakasih atau justru kecewa, tapi jika ini yang kau inginkan. Baiklah aku akan pergi seperti yang kau mau, terimakasih sudah pernah hadir di dalam hidupku dan memberikan warna yang baru untukku. Aku menghargai itu, aku pergi."


Setelah mengatakan semuanya pada Zian, Luna pun segera pergi dari tempat itu dengan membawa kesedihan dan air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk-nya.


Luna sungguh-sungguh tidak pernah menyangka bila Zian akan mengatakan kalimat yang sangat melukai perasaannya.


Sementara itu, Zian yang masih bergeming dari tempatnya berdiri hanya bisa terpaku menatap punggung Luna yang semakin menjauh. Salah satu tangannya meremas bagian dadanya yang berdenyut nyeri. Ia tau jika keputusannya itu hanya akan membuat Luna sakit hati dan kecewa padanya. Tapi itulah yang terbaik bagi mereka.


Bisa saja Zian membawa Luna kehadapan Kalina dan memperkenalkan gadis itu sebagai putri yang pernah dia campakkan. Tapi hal tersebut justru akan melukai perasaan Luna karna dia hanya dimanfaatkan saja demi kepentingan pribadi. Namun dengan menjauhinya itu lebih baik meskipun pada akhirnya, mereka berdua sama-sama terluka.


-


-Satu Bulan Kemudian-


Luna diam termangu di balkon kamarnya dengan di temani angin malam yang berhembus perlahan, berpayungkan langit malam yang di taburi oleh ribuan bintang dan cahaya bulan yang sangat terang.


Semua keputusan Zian mengganjal di hatinya dan sangat mengganggu fikirannya.


"Sedang apa kau, Lun? Kenapa belum tidur?" Datang James dengan tatapan tertuju pada Luna. Kemudian pria itu berdiri di samping gadis itu dan menatapnya penuh keheranan.


"Aku tidak bisa tidur, Paman, ada sesuatu yang mengganjal hatiku." Luna menghela nafas seraya memejamkan matanya.


"Kau memiliki masalah?" Tanya James penuh selidik. Luna menggeleng cepat."Lantas.??"


"Paman, apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Luna menatap James penuh harap.


"Tentu saja, memangnya apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya James penasaran.


"Bagaimana jika seorang pria tiba-tiba saja meminta pada teman wanitanya untuk menjauhi dia karna dia bukan pemuda baik-baik misalnya seorang gangster atau brandalan? Apa pemuda itu memiliki alasan yang kuat sampai-sampai dia hal itu hal itu?"


"Kenapa kau menanyakan hal semacam ini pada, Paman? Memangnya kisah siapa yang kau ceritakan?" James mengerutkan dahinya dan menatap Luna penuh selidik.


"Kisah dari sebuah novel yang aku baca, beberapa halaman terakhirnya hilang sehingga aku tidak tau sebab dan alasannya pemuda itu menjauhi si gadis. Itulah yang membuatku sangat penasaran." Tutur Luna oanjang lebar.


"Ada dua kemungkinan, pertama. Pemuda itu tidak ingin teman gadisnya itu terlibat masalah apa pun jika berteman dengannya, karna bisa saja bahaya akan menghampiri gadis itu jika dia berteman dengannya. Kedua, karna pemuda itu mencintai gadis itu dan tidak ingin dia sampai terluka."

__ADS_1


"Jawabanmu maknanya sama, lalu mana yang benar?" Tanya Luna dengan nada sedikit kesal.


"Molla, mungkin saja keduanya. Aiss kau ini itu kan hanya cerita di novel tapi kenapa kau begitu penasaran eo?" Sunggut James seraya menjitak kepala Luna.


"Paman, Appo!!" Pekik Luna sambil mengusap kepalanya yang di jitak oleh James.


"Salah sendiri kenapa kau begitu serius padahal itu hanya karangan seorang penulis. Sudah larut malam dan sebaiknya kau masuk, udaranya sangat dingin." pinta James, Luna mengangguk pelan.


"Sebentar lagi aku masuk."


Selepas kepergian James, Luna kembali pada fikirannya. Gadis itu menghela nafas dan mendongak menatap langit malam bertabur bintang, keputusan Zian benar-benar seperti misteri yang sulit di pecahkan, dan itu sangat mengganggu fikiran Luna. Sampai-sampai membuat gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak.


Hufffttt .. !! ..


Luna kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Matanya masih menatap lurus langit yang gelap seakan-akan mencari jawaban di sana.


"Ada apa sebenarnya dengan diriku ini? Kenapa aku menjadi seperti ini??l Aku merasa kosong semenjak dia menjauh, ya Tuhan perasaan apa ini sebenarnya?" Gumam Luna pelan.


Drettt .. Drettt .. Drettt ..


Perhatian Luna teralihkan saat ponsel yang berada dalam genggamannya tiba-yiba saja berdering, yang mendandakan ada 1 panggilan masuk.


Dahinya berkerut melihat nomor tanpa nama tertera di layar ponselnya. Dengan perasaan tak yakin, Luna menekan tombol hijauh dan mengangkat panggilan itu.


"Hallo,"


°° Na ajikdo noreul jiul su obso. Jakkujakku nega senggangna. Nega nomu bogo sipo. Bamse hansumdo jal su obso. Ne mam changmuneul dudeurineun bissori. Niga ttona borin geujari. Namunado geuriwoso. Bamse hansumdo jal su obso nan.°°


Luna mengerutkan dahinya mendengar seseorang melantunkan lagu 0330 milik U-Kiss melalui sambungan telfon. Luna seperti mengenal suara itu, suara itu terdengar begitu familiar namun ia tidak ingat di mana pernah mendengarnya. Perlahan gadis itu pun menutup matanya menikmati setiap alunan musik dan tiap bait yang di nyanyikan oleh seseorang dari seberang sana. Lagu itu begitu mendalam dan seakan menusuk kedalam hatinya.


^Hyung, sebenarnya ada apa dengamu? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu menyanyikan lagu-lagu galau?^


^Mungkin saja Zian sedang mengalami patah hati!!^


Deggg .. !! ..


Luna tersentak kaget setelah mendengar seseorang menyebutkan nama Zian dan itu artinya pemuda yang sedang bernyanyi itu adalah dia. Luna segera memutuskam sambungan telponnya dan menggenggam erat ponsel miliknya.


"Zian? Tapi apa maksudnya dia menghubungiku dan memainkan lagu itu?" Sejuta pertanyaan memenuhi kepala Luna, satu pertanyaan belum terjawab dan sekarang malah muncul satu pertanyaan lagi yang membuat gadis itu semakin gelisah.


Luna menggeleng kuat dan meyakinkan dirinya jika semua hanya sebuah kebetulan. "Tidak Luna, tidak!! Kau tidak boleh berfikir macam-macam." Ucap Luna pada dirinya sendiri.


Gadis itu berbalik dan segera masuk kedalam kamarnya, Ia harus segera tidur karna besok Ia ada janji untuk bertemu dengan teman-temannya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2