
Buat para riders tersayang. Jangan lupa baca juga novel Author yang judulnya CEO & ISTRI CANTIKNYA juga ya. Bantu novel itu berkembang dengan meninggalkan like dan koment ya ππ. Dan jangan pernah bosen-bosen untuk memberikan dukungan kalian di novel IKMA ini, like dan komennya selalu ditunggu ya πππ€π€
-
"Nunna, bagaimana keadaannya? Apa Viona baik-baik saja?" tanya Nathan memastikan.
Senna menoleh dan menatap tajam pada adik bungsunya tersebut. "Kau berhutang penjelasan pada Nunna, Nathan Lu," ucap Senna dengan nada dingin dan sedikit menusuk.
Nathan membalas tatapan Senna tak kalah dingin. Dan tatapan Nathan sukses membuat bulu kuduk Senna langsung berdiri. Dia merinding. "Apa penting kita membahas masalah itu sekarang? Aku cuma ingin tau bagaimana kondisi istriku saat ini,"
Senna mendesah berat. "Viona dalam keadaan buruk. Kondisinya saat ini sangat tidak stabil. Dia terlihat begitu tertekan dan sepertinya mengalami guncangan batin yang hebat. Nathan, apa yang sebenarnya terjadi? Jika Viona masih hidup, lalu siapa yang kita makamkan hari itu?"
"Biar aku yang menjawabnya," sahut seseorang dari arah belakang. Sontak. Nathan dan Senna sama-sama menoleh dan mendapati Tania berjalan menghampiri kakak beradik tersebut.
Senna menatap wanita dihadapannya dengan pandangan bertanya. "Siapa Anda? Dan apa hubungan Anda dengan Viona?" tanya Senna meminta penjelasan.
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Aku adalah Tania Kim, orang yang menyelamatkannya juga orang yang menciptakan skenario kematian untuknya."
"Apa maksud Anda?"
"Aku hanya berusaha membantunya membalas dendam. Dia layak mendapatkan keadilan dan orang-orang yang berdosa padanya harus dihukum. Akan sangat tidak adil baginya jika para pembunuh itu tetap bebas berkeliaran tanpa mendapatkan pelajaran.
Tapi aku rasa semua itu sudah tidak ada artinya lagi, balas dendamnya sudah tidak ada gunanya karna dalang utama dalam tragedi yang Viona alami telah mendekam dipenjara, sementara satu orang lainnya mulai mengalami gangguanjiwa. Dan memang sudah waktunya dia kembali pada keluarganya, bagaimana pun wanita malang ini layak untuk bahagia," ujar Tania panjang lebar. Tatapannya berubah sendu ketika menatap wajah pucat Viona.
Tania mengangkat kembali wajahnya lalu beralih menatap Nathan. "Ada berita bagus untukmu. Kita sudah mendapatkan donor mata untuk Viona. Seorang wanita bernama Danila ditemukan bunuh diri dikamarnya dan dalam pesan terakhirnya dia berpesan supaya matanya diberikan pada Viona." Tutur Tania.
Nathan memicingkan mata kanannya. "Danila?" ucap Nathan mengulang ucapan Tania.
Tania mengangguk. "Cangkok mata bisa dilakukan malam ini juga. Karna lebih cepat lebih baik," ujarnya.
"Tapi dia masih belum sadarkan diri,"
"Kita hanya perlu menunggunya sadar saja. Aku mendatangkan dokter terbaik langsung dari America untuk operasi Viona, dan dia tidak bisa menunggu terlalu lama," jelas Tania.
"Kalau begitu, lakukan saja apa yang menurutmu baik. Karna yang terpenting sekarang adalah Viona mendapatkan kembali penglihatannya dan bisa melihat dunia ini dengan normal," tutur Nathan.
"Dan itu juga yang aku harapkan, karna bagaimana pun Viona sudah seperti adikku sendiri. Dan apapun akan aku lakukan untuknya!!"
-
Waktu berlalu begitu cepat dari saat itu. Kalender bulan Maret saat itu, kini telah berganti menjadi bulan Juni. Musim semi mulai berakhir. Berganti musim panas yang disambut gembira oleh semua warga Korea, tidak terkecuali sosok cantik dalam balutan jas putihnya.
Senyum sehangat mentari pagi itu tersungging dibibir merah cerry-nya mana kala dia berpapasan dengan beberapa orang, baik itu perawat maupun keluarga pasien.
Satu bulan telah berlalu. Pasca mendapatkan donor mata, kini Viona bisa menjalani hidupnya dengan normal. Matanya tidak lagi bermasalah dan wanita itu telah kembali keprofesinya sebagai seorang dokter yang bekerja di rumah sakit milik kakak iparnya.
Viona menahan nafasnya, sebelum dia mengembuskannya secara perlahan. Desir angin sore yang membelai kulit lengannya dibiarkan begitu saja. Semilir angin memainkan anak-anak rambut panjangnya yang terurai. Viona sangat menikmati saat-saat di waktu seperti ini. Senja yang sebentar lagi padam digantikan malam yang panjang. Kemeja berenda yang dikenakannya jatuh pas membalut tubuh rampingnya. Sore hari begini dia akan menikmati kesendiriannya sambil meminum secangkir kopi di taman rumah sakit tempatnya bekerja.
Suasana yang tenang, paling-paling hanya beberapa pasien yang ingin mencari udara segar. Viona tersenyum lebar.
Sebuah tepukan yang mendarat di bahunya mengalihkan perhatiannya. "Apa yang sedang kau lihat?Serius sekali," ucap orang itu kemudian mendaratkan pantatnya disamping Viona.
__ADS_1
Viona tersenyum kemudian menunjuk beberapa anak-anak yang sedang bermain disekitaran air mancur. "Oppa, kau lihat anak-anak itu? Mereka masih bisa tersenyum bahagia tanpa mereka sadari jika kematian selalu mengintai mereka setiap detik dan menitnya. Terkadang aku merasa malu pada mereka. Mereka bisa tertawa dengan begitu lepasnya ditengah kondisi tubuhnya yang rapuh, sedangkan aku yang sehat dan dalam keadaan baik-baik saja seringkali harus mengeluh hanya karna belum bisa hamil lagi sampai detik ini. Bukankah mereka sangat luar biasa?" Viona menoleh dan membuat netranya dan Nathan saling bersiborok.
Tapi tidak ada tanggapan dari Nathan. Nathan memilih diam karna dia sendiri bingung harus menjawab apa.
Viona tersenyum, sesekali dia mengerjapkan matanya, memandang sejenak ke arah suaminya. "Apa aku terlihat begitu menyedihkan?" Nathan menggeleng, kemudian menakup wajah Viona dengan kedua tangannya.
"Kau terlalu banyak berfikir, Sayang. Dan aku disini bukan untuk melihat wajah murungmu itu. Lagipula belum bukan berarti tidak bisa, mungkin Tuhan masih menunggu saat yang tepat untuk mempercayai kita menjaga titipannya. Jadi jangan banyak berfikir. Tersenyumlah, kau terlihat jelek jika murung terus seperti itu," pinta Nathan tanpa melepas kontak matanya.
Viona meninju pelan dada Nathan. "Kau menyebalkan Oppa." Gerutu Viona sambil mencerutkan bibirnya. Kemudian wanita itu terkekeh dan berhambur ke dalam pelukkan suaminya. "Mungkinkah karna kurang sering kita melakukannya? Bagaimana jika kita membuatnya setiap hari, kita bisa menguji cobanya. Oppa, bagaimana menurutmu? Apa kau setuju dan sependapat denganku?" tanya Viona dengan mata berbinar-binar. Tapi gelengan jawaban Nathan membuat dia merenggut kecewa. Wanita mencerutkan bibirnya.
Nathan mendengus geli. Melihat ekspresi Viona membuatnya ingin sekali segera melahap dirinya. "Jangan memaksaku untuk melahap habis bibirmu detik ini juga!! Dan aku tidak tau bagaimana nasib bibirmu setelah ini jika kau masih saja mencerutkannya seperti itu," ancam Nathan bersungguh-sungguh.
"Oppa," renggek Viona yang semakin kesal karna kata-kata Nathan. Nathan terkekeh geli, terutama saat melihat wajah murung istri tercintanya itu.
"Baiklah-baiklah, aku mengaku salah dan aku minta maaf. Kau lembur hari ini?" Viona menggeleng. "Ya sudah kita pulang sekarang," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
Wanita itu tidak protes sedikit pun dan langsung setuju ketika Nathan mengajaknya untuk pulang. Karna sebenarnya Viona sangat lelah dan ingin segera bermalas-malasan ditempat tidur super nyaman miliknya.
Entah kenapa Viona merasa jika akhir-akhir ini ada yang salah pada dirinya. Tubuhnya menjadi cepat letih dan tak jarang dia merasakan malas yang berkepanjangan. Tidak berselera makan dan suka merasa mual jika mencium aroma mewangian, persis seperti wanita yang sedang hamil muda.
.
.
.
"BIBI//NUNNA!!"
Dan ketika tiba di rumah. Mereka berdua dikejutkan dengan keberadaan trio kadal yang tak lain dan tak bukan adalah Rio, Satya dan Frans. Tidak hanya mereka bertiga saja, tapi Daniel juga. Tapi bukan kehadiran mereka yang membuat Nathan dan Viona terheran-heran, melainkan tenda-tenda yang mereka dirikan dihalaman.
"Ahh, tenda-tenda ini. Rencananya malam ini kami ingin mengajak kalian berdua berkemping di sini," jawab Rio dengan begitu antusias.
"Lihatkah Nunna, kami juga sudah membeli daging sapi segar untuk-"
"Bongkar kembali tenda-tenda itu," pinta Viona menyela ucapan Satya. Membuat ketiganya membelalakkan mata.
"Nde...!!"
Viona mendengus berat. "Jika kalian ingin mendirikan sebuah tenda, tidak seharuanya dihalaman depan seperti ini, tapi dihalaman belakang. Jadi bongkar tenda kalian dan pindahkan kebelakang, kita membuat api unggun dan aku akan menyiapkan arang dan bumbu untuk membakar daging serta membumbui daging-daging yang kalian bawa. Bagaimana? Kalian bertiga setuju bukan?"
"SETUJU!!!" Viona mendengus geli. Wanita itu menggelengkan kepala melihat tingkah mereka bertiga yang seperti bocah.
.
.
.
Mereka berada di halaman belakang rumah Nathan dan Viona, dan membuat sebuah pesta kecil-kecilan dengan membuat BBQ dan bermalam di sana di sebiah tenda yang mereka dirikan. Nathan sedang sibuk menyetel peralatan BBQ barunya sambil melihat buku panduan dengan sangat teliti sedangkan istrinya masih sibuk di dalam rumah.
Sementara Satya, Daniel, Frans dan Rio sedang menyiapkan bahan-bahan BBQ seraya tertawa ringan. Sesekali Daniel menjahili ketiga pemuda itu dengan melemparkan ulat mainan atau memasukkan tikus mainan ke dalam pakaian mereka dan kemudian membuat mereka berteriak histeris karna ketakutan.
__ADS_1
Dan Viona yang masih berada didapurnya tak bjsa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Ia tak tahu darimana dan sejak kapan semua kebahagiaan itu berasal, melihat pemandangan di luar membuatnya ingin menangis bahagia. Untuk mencengah air mata itu keluar, Viona memikirkan apa saja yang akan mereka lakuan dan hal gila apa yang ketiga pemuda itu ciptakan. Viona tersenyum dalam hati.
Dan sementara itu, Nathan yang tak kunjung melihat Viona keluar rumah, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk mencari istri cantiknya itu yang saat ini sedang sibuk mengupas buah di konter dapur. Saat melihat kedatangan Nathan, sudut bibir Viona tertarik keatas. Nathan mendekap tubuh Viona kedalam pelukkannya dan langsung mencium bibirnya.
Deru nafas kefua insan manusia itu menerpa kulit masing-masing. Sebelah tangan Nathan telah melingkar erat di pinggang Viona. Sedangkan Viona hanya pasrah, dapat dilihat dari matanya yang terpejam seakan menanti perlakuan selanjutnya. Bibirnya tak berhenti mengulum senyum manis yang dapat membuat siapa saja ingin menciumnya. Tangannya mengalung pada leher Nathan.
Nathan memeluk lebih erat wanita dalam pelukannya itu dengan tangan kanannya, dan menekan tengkuk wanitanya lebih dalam hingga ciuman mereka tak ada jarak seinchipun. Pagutan dan hisapan tak dapat dihindari dari ciuman itu. Mereka sangat menikmati ciuman itu satu sama lain.
Kedua mata mereka sama-sama tertutup rapat dan kepala mereka saling bergerak seirama, sebelah tangan Nathan berpindah pada wajah Viona dan mengusapnya dengan penuh kelembutan.
Dan sementara itu. Satya yang hendak mengambil beberapa kaleng soda dari lemari pendingin nyaris saja menjerit saat melihat pemandangan yang begitu basah dan luar biasa di depan matanya. Beberapa kali Satya sampai menelan saliva dan matanya membulat. Tubuh Satya terasa panas padahal Viona dan Nathan yang sedang berciuman.
Tak ingin tersiksa, Satya segera melesat menuju kamar mandi untuk melainkan permainan solo di sana. Dan rasanya Satya ingin sekali mengutuk mereka berdua karna sudah membuat otaknya yang menurut Satya sendiri masih polos itu menjadi tersesat.
.
.
.
Acara pun dimulai. CherlybBima, Sean, Tiffany dan Henry juga datang ke sana atas undangan Viona. Sayangnya Senna, Sunny dan Kirana tidak ada diantara mereka karna ketiganya sedang berada di luar negeri. Begitu pula dengan Hans, Hans sedang pergi ke America untuk mengurus pekerjaannya di sana .Viona sengaja menghubungi mereka berlima, karna menurutnya semakin banyak yang datang maka semakin meriah acaranya.
Bima tampak kesal saat memotong-motong bawang bombai di hadapannya. Sesekali pria jangkung itu mendongak menatap langit ketika cairan bening mendesak keluar dari matanya. 'Dasar Rusa sialan! Kenapa dia selalu saja menjadikanku sebagai korban dalam segala suasana? Hiks, dan karna bombai sialan ini aku jadi sangat melow!' gerutu pria jangkung itu dalam hati.
"Nunna⦠apa apinya sudah cukup untuk membakar dagingnya?" suara cempreng Frans menghancurkan konsentrasi Viona, Tiffany dan Cherly yang kini sudah ganti memotong kentang untk digoreng nanti.
Diliriknya bara di tempat pemanggangan. "Kurang, buat agar baranya sedikit lebih besar." Katanya singkat.
Danβ¦
BUUUUUMMMM!
Sebuah ledakan besar tak dapat terhindarkan. Semua menoleh pada asal suara ledakkan tersebut. Kedua mata Viona membelalak sempurna. Daging-daging itu gosong semua karna ulah Frans dan Rio. "Frans!! Rio!!" teriak Viona sedikit geram.
Kedua pemuda itu mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf V. Senyum kaku tercetak dibibir kedua pemuda itu. "Ma-maaf, kan katanya baranya kurang besar. Jadi kusiramkan saja bensin ke atasnya. Hehehe." Kata Rio yang wajahnya sudah dihiasi dengan jelaga hitam itu sambil cengengesan dengan wajah tak berdosa.
"BWAHAHAHHA!!" tiba-tiba tawa Bima dan Sean pecah ketika melihat muka Rio dan Satya yang cemong semua dan rambut mereka yang langsung mengembang seperti terkena setrum. Mereka berdua terlihat lucu dan sangat menggemaskan. "Hahaha! Lihatlah muka kalian berdua, kalian berdua mirip Dakocan, hahaha," keduanya kembali tertawa dengan lepaskan.
Dan sementara itu, Frans dan Rio yang merasa penasaran langsung mengeluarkan ponsel masing-masing untuk memastikannya. Kedua mata mereka membelalak saking kagetnya. Wajah yang penuh dengan jelaga hitam, rambut yang mengembang mirip rambut badut. Keduanya saling bertukar pandang dan... "BWAHAHHAAHA!" sama-sama tertawa lepas. Mereka berdua merasa geli juga konyol melihat bagaimana keadaannya saat ini.
"Hahahha. Paman, lihatlah bagaimana mengerikannya dirimu. Kau mirip badut yang memakai perias wajah dari arang, hahahha..."
"Dan lihatlah dirimu juga. Kau mirip tuyul yang baru saja terjatuh diatas pantat kuali,"
"HAHAHHA..!!"
Dan tawa mereka pun meledak. Tak ada duka yang tersirat pada raut wajah mereka. Mereka terlihat begitu bahagia, Bima dan Sean yang menjadi bahan kejahilan Rio, Satya dan Frans. Dan muka mereka tak jauh berbeda dari mereka berdua.
Viona menghampiri Nathan kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang tersembunyi dibalik kemeja hitam lengan terbukanya. Senyum dibibir Viona mengembang sangat lebar begitu pula dengan Nathan. Tak jarang Viona terbahak melihat bagaimana konyolnya mereka.
Nathan menyapukan pandangannya pada semua orang yang ada di sana dan tersenyum tipis. Dia tidak menduga jika hari ini akan datang juga. Hari di mana kebahagiaan tercipta tanpa ada duka dan air mata. Dan Nathan berharap kebahagiaan seperti ini akan berlangsung selamanya.
__ADS_1
-
Bersambung.