Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 97) Bunga Dan Kado Untuk Cherly


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI CEO CACAT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗


-


"Eonni, aku merinduianmu!!"


Tubuh Viona terhuyung kebelakang karena terjangan Luna yang begitu tiba-tiba. Sudah lebih dari satu Minggu mereka tidak bertemu jadi wajar jika Luna sangat merindukan Viona.


"Apa kau datang sendiri? Di mana, Zian? Apa dia masih di kantor?" Luna mengangguk. "Ya sudah ayo masuk, bantu eonni memetik bunga dan kemudian merangkainya. Hari ini Cherly ulang tahun, dan Eonni berencana untuk mengirimkan bunga padanya,"


"Cherly, ulang tahun? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tau? Baiklah, Eonni... Ayo sekarang saja kita memetiknya,"


Viona terkekeh. "Ternyata selain Zian ada hal lain yang membuatmu bersemangat," ucapnya. Kini giliran Luna yang terkekeh. Dan tanpa ia menjelaskan lebih detail lagi, Viona tau jika dirinya memang sangat menyukai bunga terlebih lagi itu adalah bunga mawar.


Kebersamaan sepasang saudari kembar itu di warnai obrolan dan candaan. Tak jarang Viona mendengus karena sikap barbar Luna. Meskipun Luna dan Viona terlahir kembar. Namun mereka memiliki sikap yang bertolak belakang. Meskipun masih banyak kesamaan yang terlihat diantara adik dan kakak tersebut.


Seperti Viona yang pandai memasak, tapi Luna tidak. Luna yang pandai mengemudikan mobil, tapi Viona sedikit payah. Viona adalah perempuan yang ramah namun tangguh tapi Luna adalah sosok wanita barbar namun sedikit cengeng, dan masih banyak lagi perbedaan yang terlihat diantara mereka berdua.


"Oya, Eonni. Di mana si kembar? Kenapa aku tidak melihat mereka?" tanya Luna.


"Mereka sedang pergi bersama ayah. Kemarin ayah menjemputnya dan mengajak mereka pergi berlibur ke Pulau Jeju. Trio Satya, Frans dan Rio ikut bersama mereka,"


"Aahh, pasti rumah sepi banget tanpa mereka berdua. Apakah malam ini, Nathan Oppa lembur?"


"Eonni rasa tidak, memangnya kenapa?"


"Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di luar, sepertinya Zian Oppa juga tidak lembur malam ini," usul Luna.


Tampak Viona berfikir. "Hm, aku rasa bukan ide buruk. Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi, Nathan Oppa dan kita bisa bertemu langsung dengan mereka di luar," ujarnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Eonni rasa sudah cukup, ayo kita bawa masuk ke dalam,"


"Oke, Eonni!!"


.


.



"Huaaa...Cantiknya," Luna berseru senang setelah melihat hasil karyanya dan Viona. "Aku tidak menyangka jika Eonni memiliki bakat lain,hahaha,"


Dengan gemas Viona menjitak kepala Luna."Dasar kau ini. Eonni akan meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah, Cherly. Kau ingin memberinya sesuatu atau tidak?" tanya Viona.


"Apa Eonni masih memiliki tas yang masih belum pernah Eonni pakai sebelumnya? Kalau ada biar aku pakai dulu nanti aku ganti, bagaimana?"


"Ada beberapa di kamar. Kau bisa memilih sendiri tas mana yang mau kau berikan padanya,"


"Huaa... Gonawo, Eonni. Kau memang yang terbaik. Aku semakin menyayangimu," Luna mencium pipi Viona kemudian melesat pergi ke dalam ruangan di mana Viona menyimpan barang-barangnya. Dan Viona hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah saudari kembarnya tersebut.


"Dasar wanita barbar,"


-


Ketukan pada pintu menyita perhatian Cherly yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Wanita itu mematikan kompornya kemudian beranjak untuk melihat siapa tamunya yang datang. Dan Cherly sedikit terkejut melihat sopir Viona datang sambil membawa buket bunga dan sebuah bingkisan.


"Nyonya, saya datang untuk mengantarkan bunga dan bingkisan ini dari nyonya Viona dan nyonya Luna."


Cherly tersenyum kemudian mengambil bunga dan bingkisan tersebut. "Katakan pada nyonyamu terimakasih dariku,"

__ADS_1


"Baik, Nyonya,"


Cherly membawa masuk buket bunga dan bingkisan itu ke dalam rumah. Kedua matanya membelalak dan berkaca-kaca setelah membaca tulisan selamat ulang tahun yang terselip diantara rangkaian bunga dan di dalam bingkisan tersebut, terharu lebih tepatnya.


Cherly segera menghubungi Viona dan mengucapkan terimakasih pada dia juga Luna. Cherly tidak menyangka jika Viona akan ingat ulang tahunya, dan Luna bahkan mengirimkan hadiah juga untuknya.


Hubungan buruk antara Cherly dan Viona di masa lalu hanya tinggal cerita sejak dia memutuskan untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf padanya. Dan sejak saat itu hubungan mereka membaik, bahkan Cherly sering membantu Viona dan sekarang mereka bersahabat baik.


"Sekali lagi terimakasih, Vi. Kau memang sahabat terbaik," kemudian Cherly memutuskan sambungan telfonnya. Wanita itu membawa bunga dan tas itu ke kamarnya untuk di simpan.


-


Dua wanita dengan wajah bak pinang di belah dua terlihat meliukkan tubuhnya memasuki sebuah restoran mewah yang terletak di jantung kota Seoul. Kedatangan mereka di sana langsung menyita perhatian banyak mata pria, beberapa pria yang ada di sana menatap mereka dengan pandangan lapar dan ingin menerkam.


Dari jarak lima meter. Mereka melihat dua pria yang wajahnya bak sepasang pria kembar tengah menunggu kedatangan mereka berdua yang pastinya adalah Luna dan Viona. Luna melambaikan tangannya ketika Zian menoleh dan melemparkan senyum lembut padanya.


"Oppa, apa kalian sudah menunggu lama? Maaf kami datang terlambat." Ucap Viona penuh sesal.


"Tidak apa, kami juga baru tiba," balas Nathan.


Luna menyapukan pandangannya. Dia melihat banyak pasang mata yang melihat kearahnya, Zian, Nathan dan Viona. Wanita itu menggerutu kesal. "Ck, apakah mereka tidak pernah melihat pasangan kembar jalan bersama, ya meskipun Zian Oppa dan Nathan Oppa bukan orang kembar cuma wajah mereka saja yang seperti orang kembar," tuturnya.


"Sudah biarkan saja, toh mereka juga punya mata. Lebih baik kita makan malam sekarang, kami sudah memesankan makanan kesukaan kalian berdua," ujar Zian.


Kemudian pandangan Luna beralih pada meja yang penuh dengan berbagai menu makanan dan beberapa diantaranya adalah makanan kesukaannya. Membuat mata Luna berbinar seketika.


"Huaa.. Oppa, kalian tau saja makanan kesukaanku." Seru Luna sambil menatap Zian dan Nathan bergantian.


"Sudah jangan berisik, sebaiknya kita duduk dan makan." Ucap Viona menengahi. Kemudian mereka duduk di kursi di samping suami masing-masing. Dan makan malam selanjutnya mereka lewatkan dengan tenang.


.


.


.


Namsan Tower pada malam hari seperti ini tentu sangat ramai dengan para pengunjung domestic maupun lokal. Tak sedikit dari mereka yang mengalihkan pandangan mereka pada pasangan suami-istri tersebut, pada Zian lebih tepatnya.


Siapa yang tak mengenal Zian di Korea? Hampir mustahil bagi warga Negara Korea Selatan yang tak mengetahui eksistensi Zian disana. Zian adalah seorang pembisnis muda yang wajahnya sering wara-wiri di televisi maupun tabloid bisnis. Meskipun dia dan Nathan memiliki rupa bak pinang di belah dua. Tapi masih banyak hal yang menjadi pembeda di antara mereka berdua. Dan publik juga bisa melihat perbedaan tersebut.


"Oppa, bagaimana kalau kita menggantungkan gembok pada pagar itu juga seperti yang mereka lakukan?" seru Luna sambil memperhatikan beberapa pasangan yang sedang menggantungkan gembok cinta mereka disepanjang pagar yang berada disana.


Pertanyaan Luna sedikit menyita perhatian Zian yang sedari tadi hanya diam. Zian mengangkat bahu. "Aku rasa bukan ide buruk. Tunggulah di sini. Aku akan membeli gemboknya dulu," ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Tak lama setelah kepergian Zian. Terlihat dua orang pria menghampiri Luna yang sedang duduk di sebuah kursi seorang diri sambil memainkan ponselnya. Luna mengangkat wajahnya saat merasakan kedatangan seseorang di sana.


"Hai, Nona. Tidak sengaja kita bertemu di sini setelah sekian lama. Sepertinya kita ditakdirkan untuk berjodoh." Ucap pria tersebut yang pastinya adalah Derby.


"Kau!" kaget Luna kemudian bangkit dari duduknya. "Minggirlah, keberadaanku di sini hanya merusak pemandangan," Luna menyenggol bahu Derby dan melewatinya begitu saja.


"Nona, tunggu!!" seru Derby. Sepertinya Derby tidak mengijinkan Luna untuk pergi. Luna mendengus berat. Dengan emosi, Luna menarik tangan Derby yang bertumpuh pada bahunya lalu membanting tubuh pria bertubuh dempal itu ke tanah. "Aaahhh. Wanita sialan, apa yang kau lakukan? Ahhh.. Pinggangku!!"


"Itulah akibatnya jika berani menggangguku. Sebaiknya jaga baik-baik tanganmu jika kau tidak ingin aku mematahkannya," sinis Luna dan pergi begitu saja.


"Yakk!! Kenapa kau malah asik bermain ponsel? Cepat bantu aku!!" bentak Derby pada Eric yang terlihat sibuk bermain ponsel.


"I-Iya, Tuan." Eric segera membantu Derby untuk berdiri setelah memasukkan ponselnya ke dalam jasnya. Eric baru saja menghubungi seseorang dan melaporkan sebuah informasi penting padanya.


Sementara itu....

__ADS_1


Luna berjalan sedikit terburu menghampiri Zian yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Pria itu mengangkat wajahnya saat menyadari kedatangan seseorang. "Oppa," serunya dan berhambur memeluk Zian. "Sebaiknya kita pulang saja. Aku sudah tidak mood untuk memasang gembok di atas sana. Aku bertemu pria gila yang membuat hancur moodku," tuturnya.


"Apakah orang itu adalah, Derby Qin?"


"Eo, bagaimana kau bisa tau?" tanya Luna kebingungan.


"Memangnya siapa lagi, yang bisa membuatmu kesal kalau bukan dia. Ya sudah, ayo kita pulang," ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Keduanya pun berjalan beriringan menuju parkiran di mana mobil Zian di parkiran


Mood Luna benar-benar berantakan karena kemunculan Derby yang bak hantu. Niatnya untuk bersenang-senang harus dia urungkan karena rasa kesalnya itu. Tak jauh berbeda dengan Luna, Nathan pun menjadi tidak berminat karena keberadaan Derby di sana.


.


.


Luna langsung menjatuhkan tubuhnya pada sofa di kamarnya setelah mereka tiba di rumah. Zian memasuki kamar tak lama setelahnya. Pria itu terlihat melepas jasnya kemudian menghampiri Luna yang tampak menekuk wajahnya.


Zian menakup wajah Luna kemudian mencium singkat bibir ranumnya. "Kau masih kesal?" tanyanya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Sekali lagi Zian mengecup bibir yang tampak menggoda itu. "Bagaimana kalau malam ini aku akan menghilangkan kekesalanmu itu?" Zian menyeringai nakal.


Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. Bibirnya juga membentuk seringai nakal yang membuat Zian semakin ingin menerkamnya detik itu. "Siapa takut, mari kita lakukan,"


Selanjutnya bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Zian.


Lengkungan panjang terdengar disela-sela ciuman panas itu ketika jari-jari Zian mengobrak-abrik Miss milik Luna. Mini dress yang membalut tubuhnya tersingkap ke atas, lapisan dalam yang Luna pakai pun sudah Zian buang entah kemana.


Laki-laki berdarah China itu menyeringai mendengar lengkungan panjang yang terus keluar disela-sela ciuman panas mereka berdua. Zian tidak akan tinggal diam, malam ini dia akan mendapatkan jatahnya lagi.


Mengharapkan lebih dari sekedar berciuman. Zian melepaskan tautan bibirnya dan mengangkat tubuh Luna ala bridal style, lalu membaringkan diatas tempat tidur.


.


.


Malam yang semakin larut tak lantas membuat kedua anak manusia itu menghentikan aktifitas panasnya, lengkungan dan desahan yang menggugah birahi terdengar memenuhi seisi ruangan yang kedap suara itu. Mereka saling mendesah menyeruhkan nama masing-masing, saat pergulatan diatas ranjang itu semakin memanas.


Tubuh polos itu terus menggeliat dibawah setiap sentuhan laki-laki yang menginvasi tubuhnya. Suhu di dalam kamar itu menjadi semakin meningkat hingga mereka akan mencapai titik puncak dari pergulatan mereka.


Tubuh polos Luna terlentang dibawah kungkungan tubuh besar Zian.


Luna mencengkram kuat seprai sampai kusut dan tidak lagi berbentuk. Bibirnya terus menggerang, merasakan kenikmatan duniawi yang begitu menghanyutkan. Kelopak mata itu terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang coklat yang kemudian bersiborok dengan abu-abu milik suaminya. Luna menyeringai, Ia begitu menikmati pergulatan panas itu. Bahkan mereka berdua tak peduli dengan udara malam yang semakin dingin dan terasa membekukan ini. Bukan lagi dingin, malam ini justru terasa panas bagi mereka.


Luna tidak bisa mengangat berapa kali miliknya keluar. Yang Ia rasakan hanya puncak kenikmatan yang diberikan oleh Zian yang tidka bisa terbantahkan. Ia begitu dimanjakan dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikit pun.


Permainan panas Zian membuat erangan Luna semakin merangsang rasa birah* laki-laki itu agar terus membuathya mengerang kenikmatan. Sosis milik Zian menempus pertahanan Luna tanpa ampun, sedangkan bibirnya memagut bibir ranum itu sambil meremas buah dada Luna dengan gemas..


Mereka berdua sama-sama merasakan kenikmatan duniawi yang begitu memabukkan.


Malam yang dingin dan terasa menusuk ternodai oleh pergulatan panas mereka berdua yang membuat siapa pun akan merinding ketika mendengar desahan yang mampu membangkitkan birahi siapa pun yang mendengarnya.


Kegiatan yang mampu membangkitkan hasrat yang membuktikan betapa nikmatnya percintaan mereka.


Baik Luna maupun Zian tidak mencari tau siapa yang lebih awal dan lebih banyak memberikan kenikmatan dunia satu sama lain. Mereka juga tidak berusaha mencari siapa pemenang dalam permainan yang mereka lakoni. Karna yang mereka lakukan hanyalah sekedar untuk mencari secercah kenikmatan duniawi yang hanya akan mereka dapatkan dari satu sama lainnya yang tidak mungkin diberikan oleh ataupun pada orang lain.


Dua jam telah berlalu, tetapi mereka terus melakukan kegiatan panas itu tanpa henti. Dan jarum jam sudah menunjukkan angka 02.00 dini hari. Malam semakin dingin dan udara yang semakin menusuk justru membuat pergulatan mereka semakin memanas. Mereka masih belum merasa puas, mereka masih menginginkan lebih.


Luna ingin agar Zian terus berada di dalam dirinya dan terus menginvasi bibir serta buah dadanya. Peluh yang membanjiri tubuh mereka dan nafas yang tersengal-sengal sama sekali tidak mereka hiraukan. Mereka tidak ingin berhenti, mereka ingin lagi dan lagi.


Namun pergulatan panas itu terhenti ketika Zian sudah mencapai puncaknya. Kegiatan panas itu pun akhiri mereka akhiri, Zian mengecup singkat bibir Luna sebelum beranjak dari atas tubuhnya.


Kemudian membaringkan tubuhnya disamping tubuh Luna yang tampak kelelahan. Keduanya terkekeh setelahnya. Zian merubah posisinya, satu ciuman ia berikan pada bibir dan masing-masing pipi Luna sebagai tanda betapa ia sangat mencintai wanita itu. Melalui pelukan hangat, Zian ingin menyalurkan rasa cinta dan besarnya kasih sayang yang dia miliki pada sang wanita yang kelak akan menjadi Ibu untuk anak-anaknya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2