Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 86 "Pembunuhan Viona"


__ADS_3

Suasana Seoul siang ini tak secerah biasanya, lembayung awan melukis mendung hitam memayungi atas langit kota yang siap runtuh detik itu juga. Di tambah hembusan awan kencang membuat suhu hari ini menurun, awan hitam telah menggulung di atas sana dan siap memuntahkan seluruh isinya. Orang-orang berlalu lalang dan berusaha menyelamatkan diri sebelum rintikan-rintikan hujan berjatuhan dan membasahkan tubuh mereka.


Di tengah riuknya kota Seoul, terlihat seorang wanita berjalan dengan langkah sedikit tergesah memecah kerumunan orang-orang yang berjalan di depannya. Tak jarang pula Ia bertabrakan dengan pejalan kaki lain, raut wajahnya memperlibatkan jika Ia sedang cemas. wanita itu sedikit mempercepat langkahnya saat melihat lampu lalu lintas berganti hijau dan berjalan tanpa ragu.


"Apa yang kau tunggu, ini adalah kesempatanmu untuk membalas sakit hatimu padanya, Adik tiri. Dan jika kau menundanya kemudian membiarkan dia tetap hidup. Maka hanya rasa sakit yang akan kau dapatkan, apa kau bisa membiarkan wanita yang kau cintai bersama pria lain dan bahagia di atas penderitaanmu? Dan satu-satunya jalan terbaik adalah dengan kau melenyapkannya, dengan begitu kau maupun Nathan sama-sama tidak bisa memilikinya." ujar Shion mencoba meracuni fikiran Jordy.


Meskipun awalnya ragu untuk melakukannya, namun setelah mendengar penuturan Shion membuat hatinya kembali terbakar. Dengan emosi yang sampai di ubun-ubunnya, Jordy segera menyalahkan mesin mobilnya dan melancarkan aksinya. Sementara Shion yang sedari tadi berada di samping Jordy dapat tersenyum puas melihat peribahan pada raut wajah laki-laki itu.


"Kau benar, jika aku tidak bisa memilikinya. Maka pria itu juga tidak bisa memilikinya. Dan satu-satunya jalan terbaik adalah melenyapkannya." ujar Jordy dengan mata terfokus pada sosok wanita yang berdiri ditepi jalan.


"Pemikiran yang bagus Adik tiri." balas Shion tersenyum.


Shion melipat kedua tangannya di depan dadanya, senyum misterius menghiasi wajahnya. Tak lama lagi satu tujuannya akan segera tercapai.


"Viona Anggella, bersiaplah untuk pergi ke neraka!!" batinnya tersenyum.


Jordy segera menjalankan mobilnya saat wanita yang akan menjadi targetnya terlihat melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan, pria itu segera menambah kecepatan pada laju mobilnya dan...


BRAAAAAKKKK...


Tubuh wanita itu terpental setelah terhantam bagian depan mobil yang Jodry kemudikan, tubuhnya terangkat sekitar dua meter ke udara sebelum berakhir di aspal. Seketika darah memenuhi hampir sekujur tubuhnya mulai dari kepala dan bagian tubuh lainnya termasuk sela-sela kakinya. Dan dalam hitungan detik saja, orang-orang berhamburan dan menggerumuni tubuh wanita malang itu. Sementara mobil yang baru saja menabraknya melarikan diri, dan wanita itu baru saja menjadi korban tabrak lari


"Ada apa di sana, Sean?"


"Sepertinya di depan sana sedang terjadi kecelkaan Nona."


"Bisa lebih mendekat sedikit?"


"Baik Nona."


Wanita misterius yang berada dalam mobil sedan hitam itu menautkan kedua alisnya melihat beberapa pria turun dari sebuah mobil biru yang berjarak 5 meter didepannya. Pria-pria itu terlihat memecah kerumunan, dan salah satu dari mereka mengangkat tubuh wanita itu. Dan membawanya masuk kedalam mobilnya, tak jauh dari mobil itu. Seorang wanita berdiri dan bersandar pada mobil silver yang ada di belakangnya, Lantas ia beranjak dari posisinya dan menyerahkan amplop berwarna coklat tua ke tangan salah satu pria itu.


"Ini sisahnya, dan lakukan tugas kalian dengan benar."


"Baik Boss."


"Cepat bawa wanita itu ke sungai Han dan buang jasadnya di sana."


"Baik Boss."


"Ada apa denganmu?" Shion menatap Jordy penuh keheranan. Kedua tangannya tampak gemetar dan peluh membasahi hampir sekujur tubuhnya, rasa takut menghinggapi perasaannya akan keadaan Viona.


"Shion, bagaimana bila Viona sampai mati? Apa kita akan masuk penjara?" tanya Jordy sambil mengunci tatapan mata Shion.


"Apa maksudmu? Apa kau takut? Jangan jadi pengecut Jordy Lim, semua akan baik-baik saja. Dan sisahnya serahkan saja padaku. Cepat naik, biar aku yang membawa mobilnya. Aku tidak ingin mati konyol karna dirimu."


Shion menyambar kunci mobil yang berada di tangan Jordy, kemudian Ia berjalan menuju jok kemudi. Sementara laki-laki itu berjalan menuju Jok penumpak, dan tidak sampai 30 detik. Mobil itu telah melesat jauh menyusul mobil yang membawa tubuh Viona.


"Ikuti mobil itu."


"Baik Nona."


.

__ADS_1


.


.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 10 jam, akhirnya mobil Shion tiba di sungai Han. Dari tempatnya saat ini Ia melihat jika orang-orangnya telah sampai lebih dulu di sana, dengan cepat. Ia keluar dari mobilnya dan menghampiri pria-pria itu di ikuti Jordy di belakangnya.


"Boss Anda sudah datang?"


"Bawah wanita itu kesin," pinta Shion tegas


"Baik Boss."


"Viona,"


Jordy tersentak saat melihat keadaan Viona. Hampir di sekujur tubuhnya penuh luka dan berdarah, termasuk wajahnya. Wanita itu mengulurkan tangannya pada dirinya dan bibirnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Seketika perasaan Jordy menjadi berkecambuk melihat hal itu, kedua tangannya terkepal kuat dan matanya memanas. Hatinya berteriak untuk segera menyelamatkan wanita malang itu, namun tubuhnya seakan tidak merespon. Sendi-sendinya terasa kaku hingga Ia sulit untuk menggerakannya.


"Lempar wanita itu ke sungai."


"Baik Boss."


Byurrr...


Jordy tak kuasa menahan air matanya melihat apa yang Shion lakukan pada Viona, Ia meremas dadanya yang terasa sesak. Ia merutuki kebodohannya yang telah membuat wanita itu celaka, jika saja Ia tidak menuruti ucapan saudari tirinya. Pasti saat ini Viona masih baik-baik saja


"YAK KAU, SAMPAI KAPAN KAU AKAN BERDIRI DI SANA, KITA PERGI DARI SINI ATAU KAU SIAP MASUK PENJARA!!" teriak Shion dan membuyarkan lamunan Jordy seketika.


"Maaf, aku melamun,"


"Dasar."


"Nona, dia masih hidup."


"Cepat bawa masuk kemobil dan kita harus segera membawanya ke rumah sakit."


"Baik Nona."


"Bertahanlah, aku pasti akan menyelamatkan nyawamu."


-


Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, mohon tinggalkan pesan.


Nathan melemparkan ponselnya begitu saja dan kembali memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pening dan perasaannya semakin tak karuan. Sudah berkali-kali Nathan mencoba menghubungi Viona tapi selalu di.luar jangkauan. Seharusnya istrinya itu sudah datang sejak setengah jam yang lalu karna terakhir kali Nathan menghubunginya Viona sedang dalam perjalanan dan hampir sampai dikantornya.


Entah apa yang terjadi, Nathan merasa seperti ada sesuatu yang menghantam tubuhnya. Rasa sakit seketika memenuhi sekujur tubuhnya termasuk kepala dan perutnya. Seketika perasaan Nathan menjadi tidak enak, Ia terfikir akan Viona. Nathan mencoba menghubunginya lagi, namun ponselnya tidak aktif


"AAARRRKKHH!! KENAPA VIONA HARUS MEMATIKAN PONSELNYA." Teriak Nathan geram.


Nathan menarik nafas panjang dan menghelanya. Dia mencoba untuk tetap tenang dan berfikir positive, mungkin saja Viona sedang mampir ke suatu tempat dan ponselnya habis batre. Nathan membuka filenya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


-


"Nona, apa dia belum sadar?"

__ADS_1


Wanita itu mendongakkan kepalanya mendengar suara yang begitu familir masuk ke dalam pendengarannya.


"Belum Sean. Semoga saja dia tidak mengalami Amnesia, jadi kita bisa sedikit mengorek informasi darinya."


"Semoga saja Nona."


Setelah tak sadarkan diri hampir 5 jam, terlihat ada pergerakan dari Viona. Wanita itu membuka matanya dengan perlahan dan mengerjap, Ia menatap ke segala penjuru dan mendapati dua orang asing berdiri di samping kirinya.


"Kau sudah sadar?" suara lembut itu menyadarkan Viona sepenuhnya, wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan


"Di mana in? Dan bagaimana aku bisa berada di sini? Lalu kalian siapa?" tanya Viona meminta penjelasan.


"Perkenalkan, aku Tania Kim. Dan ini supir sekaligus Bodyguard pribadiku dan namanya Sean." ujar Wanita itu yang ternyata bernama Tania Kim.


"Aku Viona." Balas Viona singkat.


Viona mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya, sekelebat bayangan seketika melintas di kepalanya. Saat sebuah mobil mencoba membunuhnya dengan cara menabraknya kemudian menenggelamkannya di sungai. Selain pria-pria asing, Viona juga melihat beberapa keberadaan Jordy dan Shion.


Ia mengingat jelas bagaimana kejamnya Shion saat meminta anak buahnya untuk membuangnya kesungai dalam keadaan masih bernyawa. Dan yang tidak Viona tidak habis fikir adalah Jordy, bagaimana pria itu membiarkannya di perlakukan seperti itu dan tidak menghiraukannya ketika Ia mencoba meminta tolong. Di sadari atau tidak, kini wajah Viona telah penuh dengan air mata


"Ada apa Viona? Kenapa kau menangis?" tanya Tania seraya menyeka air mata Viona.


"Aku sedih, bagaimana mereka bisa melakukan hal sekeji itu padaku. Bahkan sahabatku sendiri hanya diam saja saat iblis itu berusaha untuk membunuhku."


"Karna dia terlibat dalam pembunuhan itu. Saat kejadian, aku ada di sana dan melihat semuanya. Juga detik-detik saat kau mengalami kecelakaan itu, mobil itu sengaja menabrakmu. Dan setelah terkapar, mobil itu meninggalkanmu. Sesaat setelahnya, ada mobil lain yang datang untuk menjemput dirimu. Membawamu ke sungai Han, dan membuangmu di sana. Dan jika aku perhatikan dengan seksama, pembunuhan ini memang telah di rencananakan dengan matang." tutur Tania panjang lebar.


Viona terdiam sejenak setelah mendengar penuturan Tania. Ia tidak menyangka bila Jordy akan setega itu padanya, hanya karna Ia pernah menolak cintanya. Jordy sampai bekerja sama dengan Shion untuk membunuhnya. Viona memejamkan matanya dan meremas dada kirinya yang terasa sesak, rasa sakit yang Ia rasakan pada tubuhnya tidak sedalam sakit dalam hatinya. Lantas Ia membuka kembali matanya dan menggepalkan kedua tangannya.


"Mereka tidak akan aku lepaskan begitu saja, aku pasti akan membalasnya." Ucap Viona dengan mata berkilatan. Viona mengusap perutnya yang sudah rata dan dia baru saja sadar jika dirinya telah kehilangan calon bayinya. "Aku akan membalas mereka dengan kejam, karna mereka aku kehilangan calon bayiku,"


"Jadi kau ingin balas dendam pada mereka?" tanya Tania dan di balas anggukan oleh Viona.


"Ya, aku ingin mereka menerima akibatnya. Mereka harus membayar setiap tetes darah dan air mata yang sudah aku teteskan. Aku ingin melihat mereka berdua menderita dan hancur ditanganku sendiri. Dan mereka juga harus merasakan apa yang aku rasakan." Ujar Viona, tangannya terkepal kuat.


"Dan aku akan membantumu." sahut Tania cepat.


"Tapi kenapa kau ingin membantuku? Bukankah aku hanyalah orang asing?" tanya Viona sambil mengunci tatapan mata Tabia.


"Karna adikku meninggal dengan cara yang sama, seperti yang hampir menimpamu. Dia di bunuh dengan sangat keji. Yang membedakannya sebelum mati. Tubuhnya lebih dulu di perko**. Saat itu aku merasa tidak berguna karna tidak bisa menyelamatkannya, dan hal itu tidak akan aku biarkan terulang kembali padamu. Aku akan membantumu sampai akhir, bersama-sama kita akan memerangi ketidakadilan." Tutur Tania panjang lebar


Sebagai seorang wanita, tentu saja Tania mengerti apa yang saat ini Viona rasakan. Ia dapat merasakan bagaimana sakit dan hancurnya wanita itu, dan Tania telah membulatkan tekadnya untuk membantunya.


"Langkah pertama yang harus kita ambil adalah meyakinkan semua orang jika kau memang sudah meninggal. Kita akan membeli mayat untuk menyempurnakan rencana kita, kita letakkan mayat itu di sungai tempat dimana kau di buang. Kita akan membuat mayat itu menyerupai dirimu, walaupun harus melakukan bedah wajah demi hasil yang sempurna."


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?"


"Tentu saja tidak. Dan selain itu,kau juga harus menjauhi orang-orang terdekatmu. Termasuk Sahabat, Saudara, Orang Tua, juga suamimu. Apa kau sanggup?" tanya Tania dan menatap ke dalam mata Viona.


Wanita itu terdiam, itu artinya Ia juga harus menjauhi Nathan. Meskipun berat dan terkesan sulit, namun Viina akan tetap melakukannya. Wanita itu memejamkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Tania.


"Baiklah, aku sanggup." balas Viona pada akhirnya.


Tania tersenyum tipis. "Dan mulai hari ini, namamu bukan lagi Viona. Melainkan Ellena Kim!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2