
Jam dinding sudah menunjuk angka 02.00 dini hari, tapi Nathan masih tetap terjaga... Ketika Nathan mencoba untuk menutup matanya, tiba-tiba saja sebuah bayangan masa lalu melintas difikirannya. Dalam bayangan itu, Nathan melihat seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 15 tahun duduk di bawah sebuah pohon sakura yang tengah berguguran dengan seorang gadis bersurai coklat panjang bergelombang, Nathan tidak tau seperti apa rupa gadis kecil itu karna posisinya yang duduk memunggungi.
Suara cempreng gadis kecil itu terus terngiang-ngiang ditelinga Nathan. 'Xiao Lu, Oppa. Bisakah aku memegang janjimu jika saat dewasa nanti kau akan menikahiku?''
'Tentu saja, Mao. Aku pasti akan menikahimu, meskipun aku akan kembali ke China. Tapi aku berjanji akan kembali dan menikahimu saat usiamu sudah 21 tahun. Kau bisa memegang kata-kataku. Kau percaya kan?'
Nathan mencengkram kepalanya yang rasanya ingin pecah, semakin dia mencoba mengingat masa lalunya ia malah semakin tersiksa. Laki-laki itu bangkit dari posisi berbaringnya lalu menggulirkan pandangannya pada wanita yang tertidur lelap disampingnya. Setiap kali melihat wajah Viona ia merasa familiar. Mulai dari wajahnya, caranya tersenyum, caranya menangis dan caranya berbicara sama sekali tidak asing bagi Nathan. Sayangnya dia tidak ingat jika pernah bertemu dengan Viona sebelumnya, sebelum wanita itu menyelamatkannya malam itu.
'Oppa, ketika dewasa nanti aku ingin menjadi dokter dan desainer. Bisakah kau mendukungku?'
'Oppa ,jangan pernah melupakanku. Aku akan menunggumu sampai 12 tahun lagi, Oppa simpan pita ini dan aku akan menyimpan kalung pemberianmu ini. Oppa, aku pasti akan sangat merindukanmu'
'Oppa....!'
'Oppa....!'
'Oppa...!'
Nathan menggeram tanpa suara, salah satu tanganya mencengkram kepalanya yang rasanya ingin pecah. Menyibak selimut dari tubuhnya kemudian beranjak dan berjalan menuju balkon kamar, berdiri di sana dan menatap langit malam bertabur bintang. Mata coklatnya menatap milyaran bintang yang berkelip diatas sana berharap menemukan jawaban dari semua pertanyaannya.
"Oppa." Suara serak khas orang baru bangun tidur itu mengalihkan perhatian Nathan, laki-laki itu menolehkan kepalanya dan mendapati Viona berjalan menghampirinya.
"Kenapa tidak tidur dan malah berdiri di sini? Memangnya apa yang kau cari?" tanya wanita itu setelah berada disamping Nathan.
"Sebuah jawaban." jawabnya singkat.
Viona memiringkan kepalanya dan menatap Nathan penuh tanya. Nathan menutup matanya dan mendesah berat. "Tiga belas tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan hebat hingga aku mengalami hilang ingatan. Aku melupakan masa laluku, seluruh memoryku yang berhubungan dengan masa lalu terhapus semuanya dari ingatanku. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya dan aku baik-baik saja meskipun tanpa ingatan masa laluku, tapi akhir-akhir ini ada sesuatu yang sangat menggangguku.
Aku sering sekali melihat bayangan seorang gadis yang terus menari-nari difikiranku, aku mencoba mencari tau siapa gadis itu dengan mencoba mengingatnya namun hal itu tidak membantu sama sekali. Dan hal itu malah membuatku semakin tersiksa," tutur Nathan, matanya tetap menatap langit dan menerawang jauh, dan tanpa Nathan sadari jika ucapannya itu tanpa sengaja melukai perasaan Viona.
Viona terdiam selama beberapa saat. "Jika kau berhasil mendapatkan kembali ingatan masa lalumu, apa kau akan mencari gadis itu lalu kembali padanya dan mencampakkanku?" Nathan tersentak mendengar pertanyaan wanita itu, ada kesedihan yang bisa dia tangkap dari sorot matanya yang teduh.
Nathan mendesah berat, maju satu langkah lalu membawa Viona kedalam pelukkannya. "Tidak!!! Dan bagaimana mungkin aku bisa mencampakkan wanita yang sangat kucintai demi seseorang yang berasal dari masa laluku yang tidak aku ketahui sama sekali. Meskipun dalam kepingan-kepingan ingatan itu aku berjanji untuk menikahinya saat dia berusia 21 tahun, aku akan mengingkari janji itu dan tetap mempertahankanmu, Viona Lu." bisik Nathan sambil menutup matanya.
Viona terdiam untuk beberapa saat, kalimat Nathan mengingatkannya pada seseorang 'Xiao Lu' laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, laki-laki yang berjanji akan menikahinya saat usianya 25 tahun. Entah ini hanya sebuah kebetulan saja atau ada misteri dibalik semua ini? Hanya waktu yang bisa menjawab semua pertanyaan dan keraguan hatinya.
"Viona,"panggilnya lirih. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bahkan setelah aku mendapatkan kembali ingatan masa laluku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu hanya demi sesuatu yang tabuh karna aku mencintaimu. Aku hanya mencintaimu dan aku sangat-sangat mencintaimu. Bisakah kau mempercayaiku?"
Nathan melonggarkan pelukannya, matanya menatap wajah cantik dihadapannya dengan seksama. Saat menatap mata itu, Nathan selalu merasa dejavu. Tatapan itu sungguh tidak asing dan terasa familar untuknya.
Viona menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Tentu saja, Oppa. Aku mempercayaimu dan akan selalu begitu." Tepat setelah Viona menyelesaikan kalimat terakhirnya, bibirnya langsung disergap oleh Nathan.
Meskipun awalnya sempat merasa terkejut, tapi detik berikutnya Viona bisa mengimbangi ciuman Nathan. Kedua tangannya mengalung pada leher suaminya. Kepala mereka saling bergerak seirama, Nathan terus melum** bibir Viona dan benar-benar menginvasinya. Namun sayangnya ciuman itu tidak berlangsung lama karna Nathan sendiri yang segera mengakhirinya.
"Sudah hampir pagi, sebaiknya kita segera masuk. Aku sangat lelah dan aku tidak ingin sampai terlambat untuk mengajakmu kesuatu tempat." senyum di bibir Viona terkembang detik itu juga, ia sangat bahagia mengetahui jika Nathan akan membawanya pergi.
"Baikalah Oppa, dengan senang hati,"
.
Sang ratu malam telah kembali keperaduannya, mentari yang hangat mulai menyapa dan mengambil alih tugas sang dewi malam untuk mendampingi bumi.
__ADS_1
Angin berhembus lembut, meniupkan udara kehidupan yang baru bagi semua orang. Bulan dan bintang bersembunyi, keberadaannya tergantikan oleh matahari. Sinar mentari mulai menyinari bumi. Gemerisik dedaunan yang diiringi dengan kicau burung turut mewarnai pagi itu. Mengusir udara malam yang beku, membawa kehangatan bagi setiap insan yang hidup dan bernaung di bumi.
Malam hari selalu menyisahkan kenangan dan menyimpan sejuta misteri, dan pagi selalu datang dengan membawa ketidakpastian juga sebuah harapan.
Dan begitulah waktu terus berjalan. Seperti roda kehidupan yang selalu berputar, bergerak maju seiring dengan berjalannya waktu dan berhenti saat kita tutup usia.
Jam yang menggantung di dinding baru menunjuk angka 06.00 pagi. Dan Viona sudah terlihat rapi, tubuhnya dalam balutan dress putih berbahan brukat sepanjang lutut dengan balutan mantel cantik berwarna merah yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Wajah cantiknya diolesi make up tipis dan rambut panjangnya di gulung keatas.
Viona meninggalkan kamar serta sosok tampan yang masih terlelap dalam tidurnya. Seorang pria setengah baya langsung membungkuk ketika melihat kedatangannya. "Nona, Anda sudah bangun?" pria itu menyapa Viona dengan sopan.
"Paman, aku akan jalan-jalan sebentar. Jika Nathan Oppa bangun kemudian menanyakanku, katakan saja jika aku pergi ke bukit belakang rumah untuk memetik bunga,"
"Tapi Nona, akan sangat berbahaya jika Anda pergi sendiriam saja dan Tuan Nathan bisa marah besar pada saya. Sebaiknya tunggu saja sampai Tuan bangun," bujuk pria itu memohon.
"Paman tenang saja dan tidak perlu cemas. Jika Nathan Oppa sampai marah, aku yang akan bertanggung jawab. Dan satu lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi Paman tidak usah khawatir. Aku pergi,"
"Nona, Nona,"
.
Tidak terasa Viona telah sampai disebuah bukit yang ditumbuhi oleh pohon sakura.
Saat itu bukanlah musim dimana bunga bermekaran. Tapi anehnya kelopak-kelopak bunga musim semi itu malah bermekaean. Kelopak bunga sakura yang berguguran ditanah tampak seperti sebuah peimadani merah muda yang menyambut kedatangan Viona di sana.
Hari itu adalah hari yang cerah. Matahari bersinar dengan hangat, angginpun bertiup sepoi-sepoi. Hari yang sangat bersahabat.
Viona lalu melanjutkan langkahnya dan berjalan kedalam hutan sakura itu. Ia mulai melupakan keinginannya untuk memetik bunga disini dan ingin duduk santai dibawah pohon sakura sambil menikmati keindahan sang bunga musim semi ini. Karna melihat bunga sakura bermekaran di musim dingin adalah sesuatu yang langkah.
Viona membaringkan tubuhnya dengan beralaskan ribuan kelopak sakura yang berguguran di tanah. Wanita itu menutup matanya. Semilir angin berhembus lirih, menyapa sang dara melalui sentuhannya.
"Tidak disangka ada seorang bidadari di bukit ini,"
Viona tersentak kaget mendengar suara berat seorang pria masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak saja Viona membuka matanya dan mendapati sosok asing berdiri dihadapannya. "Bahkan kau terlihat lebih mempesona setelah membuka mata, Nona," pria asing itu tersenyum tipis.
"Siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?" sinis Viona bertanya.
"Aku siapa? Apa Nona cantik sungguh ingin mengenal diriku? Baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Aku adalah Albert Zion, senang bertemu dengan Nona cantik. Sekarang giliran Nona yang harus mempernlkan diri,"
Viona menatap pria itu dengan sinis. "Tidak sudi," Viona beranjak dan pergi begitu saja. Meninggalkan pria asing itu sendiri di sana. Sedangkan Albert tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Nona cantik, jangan pernah memanggilku Albert Zion jika aku tidak bisa mengetahui siapa namamu!!"
.
"Dasar pria kurang ajar. Seenaknya saja menggangguku dan merusak moodku, memangnya dia pikir dia siapa? Sampai-sampai ingin tau namaku segala. Dasar playboy cap kadal, cuma penjajah cinta yang bicara semanis itu pada wanita. Benar-benar menyebalkan, rasanya aku ingin menggantungnya hidup-hidup!!"
Viona terus saja menggerutu di sepanjang langkahnya. Mood yang dia bangun dengan susah payah hancur begitu saja karna ulah seorang pria asing yang tiba-tiba datang dan merusak suasana hatinya. Dan karna terlalu larut dalam dunianya sendiri sampai-sampai Viona tidak sadar jika seseorang tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Orang itu terlihat memicingkan mata ketika melihat gerakkan bibir Viona yang sedang berkomat-kami tidak jelas. Dari raut wajahnya pria itu berani bersumpah jika Viona sedang kesal setengah mati.
Dugghh...
"Aaahh," langkah Viona terhenti dan tubuhnya sedikit terhuyung setelah tanpa sengaja dirinya bertabrakkan dengan seseorang. Baru saja Viona akan membuat perhitungan dengan orang itu. Tapi hal itu dia urungkan setelah melihat siapa yang berdiri dihadapannya. "Oppa," pekik Viona terkejut.
"Ada apa denganmu? Sepertinya kau sangat kesal?" tanya Nathan keheranan.
__ADS_1
"Bukan sepertinya lagi, tapi aku memang sangat-sangat kesal. Aku bertemu dengan pria aneh di butik sakura. Dia datang secara tiba-tiba seperti setan dan merusak moodku,"
Nathan memicingkan matanya. "Pria?" Viona mengangguk. "Apa dia tinggi, putih dan memiliki tahi lalat di dagu sebelah kirinya?" tanya Nathan penuh selidik.
Tampak Viona berfikir dan mencoba mengingat-ingat ciri-ciri fisik pria asing tersebut. "Ya, aku rasa dan dia memiliki mulut yang sangat manis dalam kata-kata," kata Viona.
Nathan mendesah berat. "Jika kau bertemu lagi dengannya. Sebaiknya hindari saja, dia bukan pria baik-baik. Dan lagi pula aku tidak suka jika milikku sampai di sentuh orang lain!!" terang Nathan menegaskan.
"Omo, jangan bilang kalau Oppa mengenalnya?" Viona menatap Nathan tak percaya.
Nathan mengangguk. "Ya, aku emang mengenalnya. Namanya Albert Zion dan kami berteman. Dia memang seperti itu, matanya tidak bisa meleng sedikit jika melihat ada perempuan cantik. Tapi dia tidak akan berani macam-macam padamu jika dia tau kau adalah istriku." Tutur Nathan. "Sudah waktunya sarapan, sebaiknya kita kembali sekarang. Siang ini aku akan mengajakmu ke suatu kempat." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
-
Senna tersenyum hangat menyambut kedatangan Tiffany dirumahnya, sebuah pelukan hangat langsung Tiffany dapatkan dari ibu satu anak itu. Raut bahagia terlihat jelas di wajah Senna mengetahui Henry pulang dengan membawa calon adik ipar untuknya dengan begitu Senna tidak akan takut jika laki-laki itu akan menjadi Bu-Di karna tidak kunjung mendapatkan istri.
"Bagaimana kabarmu, Fanny-ya?"
"Seperti yang Kak Senna lihat, aku sangat baik." jawab gadis itu tersenyum. Tiffany mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang. "Oya, eonni-ya. Di mana adik iparmu? Aku dengar Nathan sudah menikah? Aku ingin sekali berkenalan dan bertemu dengannya." sambung Tiffany.
"Sayang sekali, sejak menikah Nathan memutuskan untuk tinggal dirumah miliknya. Mungkin dia dan istrinya membutuhkan privasi, kau tau sendiri bukan bagaimana berisiknya Rio, Satya dan Frans. Bisa-bisa mereka tidak cepat mendapatkan keturuanan jika tetap tinggal dirumah ini." tutur Senna.
Tiffany terkekeh mendengar ucapan Senna. "Oya, Fanny-ya malam ini kau menginap di sini saja ya, pasti tiga bocah itu sangat bahagia mengetahui kau ada di sini." Tiffany tersenyum kemudian mengangguk.
"Sepertinya bukan ide buruk."
"Hei kalian, bagaimana bisa kalian berdua asik mengobrol dan malah mengabaikan diriku." keluh Henry yang merasa tidak terima karna diacuhkan oleh Senna dan Tiffany.
Keduanya terkekeh dan Tiffany segera meminta maaf, melihat wajah menggemaskan Tiffany membuat Henry tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya. Gadis yang baru saja resmi menyandang status kekasihnya itu terlihat begitu menggenaskan dan cantik jadi tidak salah bila Henry jatuh cinta padanya.
"Maaf, Oppa. Kau tau sendiri bukan jika aku sangat merindukan Kak Senna. Oya, Kak!! Bisakah kau ceritakan seperti apa istri Nathan? Aku sangat penasaran dengan wanita yang mampu meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu. Dan pasti dia lebih hebat dari seorang Cherly Park, buktinya saja Nathan bisa serius dan memutuskan untuk langsung menikahinya."
Senna menceritakan seperti apa sosok Viona pada Tiffany, mendengar cerita Senna membuat Tiffany menjadi sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan calon iparnya itu. "Begitulah dia, selain baik hati dan sangat ramah. Dia juga seorang dokter yang sangat hebat, baik sehingga begitu di cintai oleh para pasiennya dan Kakak lega karna yang menikah dengan Nathan adalah dia... bukan Cherly."
"Huaaa.. Kak Senna, aku jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengannya." ujar Tiffany.
"Sabarlah, Tiffy... saat ini mereka berdua sedang pergi untuk berbulan madu, semalam aku menghubungi Nathan dan dia mengatakan sedang dalam tahap untuk memberikan keponakan yang sangat aku dambakan." cerocos Henry panjang lebar.
Senna memicingkan matanya dan menatap Henry dengan pandangan menuntut, "Benarkah?" Henry mengangguk antusias "Tapi kenapa mereka tidak memberi tauku dan pergi secara diam-diam??" ujar Senna penuh keheranan.
"Sudahlah, Kak. Tidak perlu di fikirkan, yang terpenting kan hasilnya." sahut Henry menimpali.
"Tumben kau pintar. Fanny, bagaimana kalau kita lergi ke taman belakang saja dan berbincang di sana? Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Senna sambil menggenggam tangan Tiffany.
Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk. "Baiklah,"
Dan Henry hanya bisa mendengus kecewa. "Huft, dasar wanita. Aku diabaikan lagi." Keluhnya.
.
Bersambung.
__ADS_1