Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 49 "Takut Ditinggalkan"


__ADS_3

Pagi telah tiba. Mentari pagi terlihat sudah duduk di atas disinggasananya. Membiaskan cahaya keemasan yang mampu menghangatkan setiap mahluk hidup yang bergantung padanya. Cuaca pagi ini begitu cerah, hangat dan mempesona. Membuat siapapun seolah membali mendapatkan semangatnya. Tapi tidak dengan Viona. Duka masih menyelimuti hati dan perasaannya.


10 hari telah berlalu, namun Viona masih belum bisa melupakan kesedihannya pasca kehilangan janin dalam perutnya. Viona tidak pernah memduga jika takdir akan mempermainakan dirinya seperti ini. Dan untuk apa Tuhan memberikan sebuah kebahagiaan padanya jika pada akhirnya kebahagiaan itu di renggut kembali dari hidupnya.


Viona menutup matanya saat merasakan netranya mulai memanas. Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dan pada akhirnya pertahannya runtuh. Viona menangis tersedu-sedu. Rasa takut seketika memenuhi ruang kosong dalam hatinya.


Sudah dua hari Nathan tidak datang menemuinya bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi. Semua orang mengatakan jika dia pergi ke Busan untuk menyelesaikan sesuatu dan mengatakan jika Nathan akan segera kembali. Tapi Viona justru merasa ragu. Dia berfikir jika Nathan sudah meninggalkannya, pasti Nathan merasa kecewa pada dirinya karna tidak becus melindungi calon buah hati mereka. Itulah yang Viona pikirkan.


"Sayang, kenapa kau menangis?"


Senna yang baru saja tiba di ruang inap adik iparnya tampak terkejut melihat wanita itu berurai air mata. Senna menutup kembali pintu ruang inap Viona lalu menghampirinya. "Apa kau merindukan suamimu?" tanya Senna yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


"Hiks, pasti Nathan Oppa sudah meninggalkanku 'kan Kak Senna? Dia pergi karna merasa kecewa padaku, 'kan? Dia pasti berfikir jika aku ini adalah wanita yang tidak berguna karna tidak bisa menjaga buah cinta kami. Hiks, aku pasti sudah kehilangannya!!" ujar Viona di iringi isakan pilunya.


Senna menyeka air matanya lalu membawa Viona ke dalam pelukkannya. Senna menggeleng. "Itu tidak benar, Sayang. Nathan pergi bukan karna dia kecewa padamu. Dia pergi untuk menyelesaikan sesuatu di Busan dan akan kembali hari ini, Bima baru saja menghubungiku dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan.


Viona mengangkat wajahnya. "Benarkah?" Senna mengangguk. "Kak Senna tidak membohongiku 'kan? Kak Senna mengatakan itu bukan karna ingin menghiburku saja 'kan?" lagi-lagi Senna menggeleng. Meyakinkan pada Viona jika dirinya memang tidak berbohong.


"Untuk itu Viona minum dulu obatnya dan setelah ini istirahat. Nathan pasti akan marah jika dia tau kau tidak pernah tidur selama dua malam ini. Dan Kakak jamin, saat kau bangun nanti Nathan sudah ada di sini,"


"Sungguh? Kak Senna tidak membohongiku kan?" Senna menggeleng.


"Tentu saja tidak. Ya sudah sebaiknya kau istirahat dan Kakak akan menemanimu di sini sampai Nathan datang,"


"Baiklah."


Decit suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian Senna yang sedang duduk di samping Viona. Senna memutar lehernya dan mendapati Nathan memasuki ruangan. "Nathan itu?" kaget Senna melihat sesuatu menyembul dari balik poni yang menjuntai hingga menutupi mata kirinya. "Jangan bilang jika kau terluka dan mengalami cidera? Duduklah biar Kakak memeriksanya,"


Nathan menepis pelan tangan Senna. "Mata kiriku tidak apa-apa dan hanya mengalami sakit mata biasa. Aku sengaja menutupnya supaya tidak menular pada orang lain terutama Viona." Ujar Nathan menjelaskan. "Bagaimana keadaannya selama aku pergi, Kak?" tanya Nathan. Tatapannya tak lepas sedikit pun dari Viona.


"Buruk, ikutlah keruangan Kakak. Kakak akan menceritakan semua padamu, dan untuk sekarang biarkan dia beristirahat."


"Hn,"


.


"Itulah yang terjadi pada Viona selama kau tidak ada. Dia begitu tertekan karna berfikir jika kau sudah meninggalkannya karna kecewa sebab dia tidak bisa menjaga janinnya dengan baik. Terus terang, Nathan. Kakak sangat prihatin dengan keadaan Viona saat ini. Sungguh Kakak tidak pernah menyangka jika kehilangan janinnya akan berdampak besar pada mentalnya saat ini." Terang Senna panjang lebar.


Kata-kata Senna membuat Nathan terdiam. Pria itu menutup matanya dan mendesah berat. "Lalu apakah ada cara untuk bisa mengembalikannya menjadi seperti sedia kala? Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya tersiksa seperti itu Kak. Dan apakah terapi gelombang otak bisa membantunya untuk melupakan semua yang terjadi, aku hanya ingin Istriku bisa bangkit dari keterpurukannya ini."


"Kakak tidak berani melakukannya karna hal itu memiliki dampak yang sangat besar pada keadaan mental Viona nantinya. Kau hanya perlu selalu berada di sisinya. Yakinkan padanya jika semua yang terjadi bukanlah salahnya. Karna hanya kau satu-satunya yang bksa melakukannya,"


Nathan mendesah berat. "Aku tau harus melakukan apa. Aku akan menemuinya sekarang," Senna mengangguk.


.


Viona membuka matanya dan mendapati Nathan duduk disampingnya sambil menggenggam tangannya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca melihat sosok tampan yang ada dihadapannya. Antara percaya dan tidak percaya melihat suaminya akhirnya kembali.

__ADS_1


"Oppa," Viona bangkit dari posisi berbaringnya dan berhambur memeluk Nathan.


"Aku di sini, Sayang." Bisik Nayhan. Nathan menutup matanya dan membalas pelukkan Viona.


"Aku fikir kau pergi meninggalkanku. Aku sangat takut, Oppa. Aku benar-benar takut."


"Aku sudah di sini, memangnya apa lagi yang kau takutkan? Dan jangan pernah berfikir jika aku akan meninggalkanmu. Karna apapun yang terjadi. Aku akan tidak akan pergi, aku akan selalu berada disisimu dan bersamamu sepanjang waktu." Bisik Nathan sambil mengeratkan pelukkannya.


Dan Viona bisa merasa lega sekarang. Ternyata ketakutannya selama ini tidaklah berdasar, karna Nathan tidak pernah meninggalkan dirinya. Viona melepaskan pelukkan Nathan. Jari-jari lentiknya kemudian menyibak poni yang menutupi sebagian wajah tampan suaminya. Viona terkejut saat melihat perban yang menyatu dengan plaster menutup mata kiri suaminya.


"Oppa, apa yang terjadi pada mata kirimu?" kaget Viona. "Apa kau mengalami cidera? Apakah lukanya sangat parah?" tanya Viona bertubi-tubi. Kecemasan tersirat jelas dari sorot mata hazelnya yang sayu.


Nathan menggenggam tangan Viona dan meyakinkan padanya jika dirinya baik-baik saja. "Mataku tidak apa-apa dan mataku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas."


"Kalau memang tidak apa-apa lalu kenapa sampai di tutup perban?"


"Aku mengalami sakit mata, karna tidak ingin menularkan padamu dan orang lain. Maka aku menutupnya." Jelas Nathan.


"Sungguh? Kau tidak sedang membohongiku bukan?" Nathan menggeleng.


Kemudian Nathan membuka perban itu dari matanya. "Bagaimana, apa sekarang kau sudah percaya?" Viona mengangguk lalu menatap Nathan dengan pandangan bertanya seolah meminta penjelasan lagi. "Tiang gila itu membawa penyakit mata yang kemudian dia tularkan padaku dan Alex, beruntung yang sakit hanya sebelah mataku saja sedangkan Alex kedua matanya sampai matanya tidak bisa di buka." Jelas Nathan yang seolah mengerti apa yang Viona pikirkan.


Viona mengambil perban itu dari tangan suaminya kemudian memasang kembali pada mata kirinya. "Oppa, kenapa kau tidak bisa di hubungi selama dua hari ini? Kau membuatku sangat takut,"


"Maaf Sayang, selama dua hari ini aku sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat untuk menghubungimu. Dan karna urusanku sudah selesai. Mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi,"


"Tentu Sayang,"


-


Setelah hampir tiga minggu di rawat di rumah sakit. Akhirnya pihak rumah sakit mengijinkannya untuk pulang. Keadaan Viona saat inj sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya.


Sejak pulang semalam, rumah Nathan tidak pernah sepi, keluarga Nathan dan orang-orang terdekat mereka datang silih berganti untuk menjenguk atau sekedar menemaninya karna mereka tau bila Viona akan merasa kebosanan. Semua orang merasakan apa yang Viona rasakan , Kirana dan Sunny terutama. Mereka adalah wadak yang menjadi tempat Viona mencurahkan segalanya termasuk keinginannya untuk memiliki anak dalam rumah tangganya dan Nathan.


"Bibi, kau ingin makan sesuatu? Atau mungkin apel? Tidak-tidak, bagaimana kalau jeruk saja? Mungkin anggur merah, hijau atau....?"


"...Aku tidak ingin makan apa pun." jawab Viona menyela ucapan Rio.


"Huft, baiklah." pemuda itu mendengus mendengar jawaban bibinya.


Selain Rio, di sana juga ada Satya dan Frans yang mencoba untuk menghibur Viona. Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk mengembalikan senyum di bibir wanita itu termasuk merubah diri mereka menjadi wanita lengkap dengan dress, wig serta hils dan usaha mereka berhasil meskipun yang Viona perlihatkan hanyalah sebuah senyum palsu.


Tak jauh dari tempat mereka berada. Terlihat Nathan dan Henry memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Henry tidak berani membahas apapun untuk saat ini, ia takut jika sampai salah bicara dan menyinggung perasaan Nathan nantinya. Apa yang baru saja menimpa Nathan dan Viona terlalu sakit untuk di bicarakan dan terlalu sedih untuk di ingat kembali.


Baru saja mereka di berikan sebuah kebahagiaan namun dalam sekejab kebahagiaan itu direnggut begitu saja dari hidup mereka.


"Adik iparku terlihat redup dan rapuh. Aku merindukan senyum hangatnya, aku sedih melihat keadaanya saat ini," ucap Henry mencoba mencairkan suasanal "Maaf Nathan. Sebagai Kakakmu aku merasa tidak berguna, aku tidak bisa membantu kalian sama sekali."

__ADS_1


"Tidak apa, Ge."


"Pasti hal ini berat untuk kalian berdua terutama Viona, aku tidak tau sehancur apa perasaannya saat ini." Tutur Henry.


"Jika saja hari itu aku tidak melakukan pertemuan penting dengan para kolega kita pasti hal semacam ini tidak akan terjadi. Aku berandil besar dalam meninggalnya calon bayi kami. Aku merasa bukan suami dan ayah yang baik untuk mereka, Ge. Aku benar-benar merasa buruk. Tapi jika aku terlihat lemah itu hanya akan semakin melukai hati Viona."


"Jangan menyalahkan dirimu terus menerus. Semua yang terjadi sudah tergaris. Yang terpenting sekarang adalah mengembalikan Viona menjadi seperti sedia kala." ujar Henry.


Laki-laki itu memandang sang adik dan mencoba mencari tau apa yang tengah di rasakan oleh Nathan saat ini. Henry dapat melihat kesedihan dan kehancuran tersirat dari sorot matanya yang tajam. Nathan kembali memandang Viona yang hanya menatap kosong kedepan.


Hatinya benar-benar hancur, Nathan benar-benar merindukan sosok Viona yang dulu dulu dia kenal. Yang selalu tersenyum dan menunjukkan kehangatannya. Nathan merindukan sikap manjanya, ia ingin bila istrinya bisa segera kembali seperti dulu dan kemudian melupakan kesedihannya.


"Ini sudah hampir malam, sebaiknya kalian pulang. Viona juga harus beriatirahat," ucap Nathan yang segera di balas anggukan oleh Henry.


"Baiklah, aku juga sudah sangat lelah,"


Selepas kepergian Henry, Rio, Frans dan Satya. Di dalam rumah itu hanya menyisahkan sang empunya rumah. Nathan menghampiri Viona yang sedang duduk termenung di ruang keluarga. Viona mengangkat wajahnya saat menyadari kedatangan seseorang. "Oppa?"


"Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur."


Viona menggeleng. "Aku ingin melihat bintang, Oppa... bisakah kau menemaniku sebentar?" Viona menatap Nathan penuh harap.


Laki-laki itu tersenyum kemudian mengangguk "Baiklah," Nathan tidak bisa menentang apalagi melarang keinginan Viona yang ingin melihat bintang. Nathan tidak ingin membuat Viona semakin sedih karna dirinya tidak mengijinkannya untuk melakan ini dan itu. Selama itu tidak mempengaruhi kesehatannya, maka Nathan akan membiarkannya.


-


Jam yang menggantung di dinding sudah menunjuk angka 02.00 dini hari. Namun Viona masih belum mau beranjak dari balkon kamarnya, sudah hampir tiga jam wanita itu berdiri di sana. Berkali-kali Nathan sudah membujuknya namun tak di gubris juga. Pandangan matanya menatap jutaan bintang yang memghiasi langit malam, Viona yakin jika saat ini bayinya berada di antara bintang-bintang yang sedang dia pandang.


"Sayang, sebaiknya kita masuk. Udaranya semakin dingin, kau bisa sakit lagi."


"Tapi...?"


"...Aku tidak mau mendengar kata penolakkan lagi, masuk sekarang!!" Pinta Nathan yang lebih terdengar seperti sebuah perintah yang mutlak.


Wajah Viona merenggut seketika mendengar nada tajam Nathan. Sambil menghentakkan kakinya kesal, Viona masuk kedalam kamarnya dan membuat Nathan mendengus berat. Nathan melangkah masuk kedalam kamarnya dan setibanya di dalam ia mendapati sang istri tengah duduk bersila diatas tempat tidur mereka. Melihat wajah cemberut Viona membuat sudut bibir Nathan tertarik keatas. Melihat Viona yang seperti ini seakan-akan Nathan melihat istrinya telah kembali. Meskipun pada kenyataannya tidak. Kemudian Nathan mengahmpiri Viona lalu duduk di sampingnya.


"Kau marah padaku?" Viona menggeleng.


Wanita itu menggeser duduknya lalu memeluk Nathan. "Oppa, aku ingin dia segera kembali. Bisakah suatu saat nanti kita memiliki mereka lagi?"


"Tentu Sayang, tapi untuk saat ini aku tidak ingin kau memikirkan apapun. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita segera tidur. Kau terlihat lelah."


"Bisakah kau memelukku sepanjang malam?" Viona mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan. Nathan mengulurkan tangannya untuk membelai wajah cantik Viona yang terlihat muram kemudian mendaratkan ciuman pada keningnya.


"Tentu Sayang, aku akan memelukmu sepanjang malam."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2