
Rambut panjang yang terurai bebas, wajah cantik bak boneka dengan mata indah yang terpejam sepenuhnya, serta tubuh mungil yang begitu indah menjadi objek paling menarik siapapun yang melihatnya. Wanita cantik yang memiliki fisik sempurna itu kini tengah tertidur lelap layaknya putri tidur di ranjang mewah king size miliknya.
Tidur lelap Wanita cantik dengan kulit seputih porselen itu agaknya mulai berakhir saat ia merasa bahwa selimut yang menutupi tubuhnya kian tersingkap. Udara dingin malam ini kian menyeruak begitu saja menyentuh permukaan kulitnya yang terekspost. Viona perlahan membuka matanya karna terusik dengan udara dingin yang menerpa kulitnya.
Kedua matanya memicing, melihat tempat disampingnya kosong dan terasa dingin ketika diraba. Yang artinya tempat itu sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. "Oppa," seru Viona sembari menyapukan pandangannya mencoba menemukan keberadaan Nathan tapi nihil. Sosok yang dia cari tak bisa Viona temukan di mana pun.
Viona menyibak selimut yang menutupi sebagain tubuhnya kemudian turun dan berjalan meninggalkan kamar tanpa alas kaki. Setibanya di luar kamar, Viona menemukan Nathan yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memangku laptopnya. Lampu diruangan itu dibiarkan mati.
"Oppa, apa yang sedang kau lakukan? Dan kenapa lampunya dibiarkan mati?" tegur Viona seraya menghampiri suaminya.
Nathan mengangkat wajahnya. "Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan itu tidak membutuhkan penerangan," jawabnya sedikit datar.
"Meretas lagi?" tebak Viona 100% benar.
"Hn,"
"Perusahaan mana lagi kali ini? Jangan bilang jika tergetmu kali ini adalah perusahaan milik Jordy?" tebak Viona yang lagi-lagi tepat sasaran.
"Hn, aku ingin membuatnya hancur sehancur-hancurnya. Karna tidak memiliki sepeser uang pun yang tersisa didompet itu lebih mengerikan daripada menghadapi kematian," ujar Nathan dengan seringai iblisnya.
"Jadi kau berniat membuatnya melarat?" tebak Viona penuh selidik. "Astaga Oppa, kenapa kau semakin mengerikan saja, tapi aku suka."
Nathan menutup laptopnya dan meletakkan di atas meja. Kemudian dia berdiri untuk menghidupkan kembali penerangan di ruangan itu. "Kenapa kau malah bangun?" tanya Nathan seraya mendaratkan pantatnya disamping Viona.
"Aku terbangun karna kedinginan." Kata Viona seraya merebahkan kepalanya pada paha Nathan sebagai bantal. "Oppa, pasti kau merasa kecewa padaku karna aku tidak bisa menjaga buah cinta kita. Kita kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya," ujar Viona dengan nada serak seperti menahan tangisnya.
"Semua sudah terjadi dan tidak ada gunanya lagi disesali, karna disesali pun percuma, mereka tidak mungkin kembali pada kita. Dan lagi pula kita sebagai umat manusia hanya bisa berencana karna segalanya Tuhan yang menentikan. Dan percayalah karna rencana Tuhan pasti lebih indah," ujarnya. Nathan mencoba menyampaikan pada Viona jika semua yang terjadi dan menimpa calon anak mereka bukanlah kesalahannya. "Ini masih larut malam, sebaiknya kembali kekamar dan tidur lagi. Aku akan segera menyusul,"
Viona menggeleng. "Tidak mau, aku cuma mau tidur jika Oppa juga tidur sekarang. Lagi pula aku tidak mau jalan sendiri ke kamar. Gendong," renggek Viona sambil merentangkan kedua tangannya.
Nathan mendengus geli. Sepertinya penyakit lama istri cantiknya itu sedang kambuh lagi. Dan jika sudah seperti ini, maka Nathan tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan Viona. Nathan mengangkat tubuh Viona dan membawanya masuk kekamar. Dan senyum lebar tercetak di bibir tipis Viona, dia tau jika Nathan tidak mungkin mengabaikan keinginan kecilnya.
.
.
Mentari pagi mulai menyinari kota Seoul. Rumput basah akibat hujan semalaman terlihat berkilau ketika matahari bersinar semakin terang. Burung-burung gereja berterbangan dan hinggap di jendela kamar Viona. Cicitan burung gereja yang bermain di jendela kamar membuat wanita itu terbangun dari tidur lelapnya.
Jendela kamar yang tidak tertutup rapat membuat cahaya matahari menembus kelopak mata Viona. Wanita bersurai panjang itu perlahan membuka mata dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok tampan yang berbaring disampingnya.
Viona menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Wanita itu mengangkat tangan kanannya, jari-jari lentiknya mengusap benda hitam bertali yang menutup mata kiri suaminya.
Viona menutup matanya, dengan perlahan ia mulai menggerakkan jari-jari lentiknya untuk menyusuri wajah Nathan mulai dari hidung, bibir, mata dan setiap inci wajah itu. Dan ketika dia benar-benar telah kehilangan penglihatannya, Viona masih bisa mengenali suaminya hanya dengan menyentuh wajahnya.
"Viona, hentikan!! Apa yang kau lakukan?" Nathan membuka mata kanannya dan menatap langsung ke dalam manik hazel Viona.
Raut wajah Viona berubah sendu. "Aku hanya berusaha mengingat setiap inci pada wajahmu dan merekamnya di dalam ingatanku. Jika suatu saat nanti aku benar-benar tidak bisa melihat lagi, setidaknya aku masih bisa mengenalimu melalui sentuhanku," ujarnya. Viona mulai berderai air mata. Liquid-liquid bening itu terus berjatuhan yang kemudian membasahi wajah cantiknya.
Mendengar ucapan Viona membuat Nathan tak kuasa menahan air matanya. Liquid-liquid bening tampak berjatihab dari mata kanannya. Hatinya perih dan batinnya serasa teriris. Nathan menakup wajah Viona dan menggeleng.
"Tidak. Sayang. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan hal mengerikan itu sampai menimpa dirimu. Aku pasti akan menemukan donor mata untukmu, jika memang tidak ada, maka aku akan membuat Shion dan Jordy harus merelakan matanya untukmu. Karna merekalah kau menjadi seperti ini," dan Viona tidak berkata apa-apa lagi. Wanita itu menenggelamkan wajahnya pada lengkungan leher Nathan. Di saat hatinya rapuh seperti ini, memang hanya pelukkan Nathan yang bisa membuatnya tenang.
__ADS_1
Viona melonggarkan pelukkannya. "Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita, kau ingin aku masakkan apa?" Viona mengangkat wajahnya dan menarap Nathan yang juga menatap padanya.
Nathan menggeleng. "Kau tidak perlu memasak apapun. Kita sarapan di luar saja,"
"Tapi Oppa, apa tidak terlalu berbahaya untukku? Bagaimana jika Shion dan Jordy sampai melihat kebersamaan kita? Aku tidak ingin apa yang sudah aku mulai harus berakhir dengan sia-sia sebelum aku bisa membalas semua perbuatan mereka,"
"Bagaimana mungkin mereka tau jika itu adalah dirimu hanya karna kau jalan bersamaku. Lagi pula penampilanmu yang sekarang sangat mencolok dan menjadi pembeda antara kau dan Viona yang mereka kenal. Mereka tidak akan menyadari jika ini adalah dirimu Sayang, percayalah"
"Kau yakin?" Nathan mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Oppa, bisakah kau memelukku lagi? Ini masih terlalu awal untuk bangun,"
"Tentu,"
-
Jordy berdiri tegak di dekat jendela ruangannya. Ia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia menghela napas panjang saat membaca sebuah artikel tentang dirinya dan perusahaannya yang sedang bermasalah. Bukan hanya di media sosial saja tapi sebuah tabloid juga memuat berita tentang dirinya.
Jordy melempar tabloid yang sedang digenggamnya dengan keras ke arah sofa. Dia mendesah pelan, apa Shion sudah tau tentang artikel itu? Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kebenaran itu sampai terungkap? Mungkinkah dirinya dan Shion akan sama-sama membusuk dipenjara?
Jordy mengacak rambutnya dengan kasar. Hal yang paling Jordy cemaskan akhirnya datang juga. Karna serapat apapun dirinya menyembunyikan bangkai, pasti akan terendus juga. Hidup dan masa depannya akan berakhir jika dirinya sampai membusuk di penjara.
BRAKK....
Dobrakkan keras pada pintu mengejutkan Jordy. Nyaris saja dia terkena serangan jantung dadakan karna ulah Shion. Shion menghampiri Jordy dan langsung memukulnya, membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
"Yakk!! Apa-apaan kau ini, Choi Shion," amuk Jordy sambil menyeka darah dari bibirnya.
Shion melemparkan sebuah artikel ke arah wajah Jordy. "Baca itu, bagaimana bisa muncul artikel seperti itu?" teriak Shion penuh emosi
"Kau-"
"OKE SEMUA!! ANGKAT TANGANNYA KITA GOYANG LAGI," kalimat Shion terpotong oleh suara berisik dari luar. Penasaran apa yang sedang terjadi. Jordy berjalan ke arah jendela untuk melihatnya.
"Apa-apaan di bawah sana. Siapa yang mendatangkan orang-orang aneh itu?" dengan emosi yang tertahan. Jordy meninggalkan ruangannya. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakkan Shion yang memintanya untuk menunggu dirinya.
Dan setibanya di luar Jordy melihat mahluk dua alam sedang bernyari dan bergoyang. "**Lihat jurus apa...?"
"Yang kuberikan, jaran goyang, jaran goyang,"
"Aseeekkk... Goyang lagi. Tarik sissss...."
"Semongko**,"
"Eo. Paman, Bibi, kalian akhirnya keluar juga. Lihatlah hiburan yang aku datangkan langsung dari Indonesia untuk kalian berdua. Bukankah ini sangat luar biasa?"
Jordy yang diliputi amarah langsung menghampiri Rio dan mencengkram pakaiannya. Amarah tergambar jelas pada sorot matanya. "Oh, jadi ini perbuatanmu? Bocah, bubarkan semua ini atau kau akan kuhabisi di sini?"
Alih-alih merasa takut. Rio malah menyeringai dingin. "Paman, sebaiknya fikir baik-baik sebelum berkata apa-apa. Memangnya kau yakin bisa menghabisiku?" ucapnya meremehkan.
"Kau!! Jadi kau menantangku!!"
"Jaran goyang, jaran goyang. Tidak baik mengajak main anak kecil. Sebaiknya bermain saja dengan kita bertiga yang lebih joss dan lebih berpengalaman," tiga waria menghampiri Jordy sambil bernyanyi. Lirik Jaran Goyang dan lagu amburadul mereka gabungkan menjadi satu.
__ADS_1
"Ahhh. Mahluk jadi-jadian, apa yang kalian lakukan? Arrrkkhhh... Sosisku, jangan sembarangan dipegang," teriak Jordy dengan histeris.
"Abang, kau sangat tampan dan mempesona. Eikke kan jadi makin cinta. Abang tenang saja, kami pasti bisa memuaskanmu. Jauh-jauh dari Indonesia tentu kami sudah sangat berpengalaman,"
"Huaaa. Hahahah, waria gila, waria mesum, lepaskan aku. Jangan sembarangan merayapi tubuhku. Aku masih perjaka dan aku tidak ingin berakhir mengenaskan di tangan kalian!!"
Jordy terus berteriak dan meronta. Mencoba melepaskan diri dari tangan ketiga waria tersebut. Jordy tidak tau mimpi buruk apa yang dia alami semalam sampai-sampai mengalami nasib yang begitu mengenaskan. "Shion Choi, kenapa kau diam saja seperti orang bodoh? Tolong aku, lepaskan aku dari mahluk-mahluk gaib ini. Huaaaa... Hiks, Ibuuu,"
"Hahaha! Nikati saja, lagi pula itu bukan deritaku, tapi deritamu!"
"Huha.. Huha.. Huha.. Ada wanita cantik di sini. Huha.. Huha.. Kami sudah lama tidak mencicipi kenikmatanya,"
Kedua mata Shion membulat sempurna saat beberapa manusia berpenampilan aneh menghampirinya. "Si-siapa kalian? Dan kalian mau apa? Tidak, tidak, tidak. Kalian jangan mendekat!! Huaa... Kyyyaaa, siapa pun tolong aku,"
"Yakk!! Jangan sembarangan memegang sosisku yang berharga, hahaha... huaaa, lepaskan aku,"
"Aduh, kamu belum di sunat ya? Bagaimana kalau kami bantu kau sunat sekarang?"
"Sunat? Apa itu?"
"Aisshh!! Hyung, kau ini payah sekali. Sunat saja tidak tau. Makanya kalau main yang jauh seperti kami bertiga. Sunat itu adalah tradisi di Indonesia, setiap laki-laki harus di potong ujung sosisnya. Kalau masih anak-anak dipotongnya dengan sebuah alat khusus yang tidak sakit. Tapi kalau yang sudah hampir karatan sepertimu, motongnya memakai ini," ujar Satya. Satya menunjukkan sebuah pisau pemotong daging yang ukurannya besar dan tampak berkilau di bawah sinar Matahari.
Kedua mata Jordy membelalak. "KYYA!! TIDAK!!"
Rio, Satya dan Frans saling bertukar pandang dan kemudian tertawa sekencang-kencangnya. "Hahahha! Rasakan,"seru ketiganya dengan kompak. Kemudian mereka membubarkan semua orang dan pergi begitu saja dari sana.
.
.
"Nunna, jadi tentang Artikel adalah kerjaanmu?" Frans menatap Cherly tidak percaya.
Setelah dari kantor Jordy. Ketiga pemuda itu pergi menemui Cherly. Wanita itu menghubungi mereka dan mengajak mereka bertemu. "Tapi kenapa Nunna melakukannya? Dan bagaimana Nunna bisa tau jika merekalah pelaku pelenyap Viona Nunna?" kini giliran Satya yang bertanya.
Shion menghela nafas panjang. "Dosa yang aku lakukan pada Viona di masa lalu begitu besar. Di saat aku menyadari kesalahanku dan kami mulai berteman dia malah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya. Terus terang aku sangat kehilangan dia setelah kepergiannya hari itu. Dan bagaimana aku bisa tau, aku tidak sengaja mendengar pecakapan kalian. Dari situlah aku beribisiatif untuk menebar terror pada mereka. Dua hari yang lalu sorang wanita tiba-tiba datang menemuiku dan memberikan beberapa lembar foto mengenai apa yang menimpa Viona pada hari itu," ujar Chely panjang lebar.
"Bibi," Rio begitu terharu mendengar penuturan Shion. Dia tidak percaya jika ternyata Shion begitu tulus pada Viona. Dan mungkin tidak ada salahnya jika memberitaunya jika sebenarnya Viona masih hidup.
Rio mendesah panjang. "Bibi, sebenarnya kami merahasiakan hal ini dari semua orang termasuk dirimu. Tapi melihat ketulusanmu pada Bibi Viona jadi aku rasa tidak ada salahnya memberitaumu mengenai hal ini. Sebenarnya, Bibi Viona belum meninggal. Dia masih hidup, dan jasad yang dimakamkan pada hari itu bukanlah Bibi Viona tapi orang lain,"
Kedua mata Cherly lantas membelalak setelah mendengar apa yang baru saja Rio sampaikan padanya. "Apa? Jadi sebenarnya Viona masih hidup?" dan ketiganya mengangguk dengan kompak.
"Bibi Viona berhasil diselamatkan oleh wanita bernama Tania Kim, kemudian dia merubah nama dan penampilannya untuk balas dendam pada kedu iblis itu. Dan kami bertiga sedang menebar terror untuk memberikan pelajaran pada mereka berdua," tutur Rio.
"Dan bagaimana kalau Nunna ikut bergabung bersama kami bertiga? Bersama-sama kita beri pelajaran pada mereka berdua, kita buat mereka merasakan hidup seperti di Neraka?" Satya menatap Cherly yang juga menatap padanya.
Cherly menggelapkan tangannya dan mengangguk. "Baiklah, aku setuju untuk bekerja sama dengan kalian bertiga. Sama-sama kita hancurkan mereka berdua,"
"Setuju!!!"
-
__ADS_1
Bersambung.