
Leo menatap gamang buku rekening ditangannya. Hampir semua uang dalam tabungannya terkuras habis. Ia benar-benar melarat sekarang. Yang dia miliki saat ini hanyalah apartemen yang dia tempati serta satu mobil mewah. Beberapa aset miliknya terpaksa ia jual untuk menutupi hutang-hutangnya pada bank juga untuk menggaji para karyawannya yang menunggak selama tiga bulan. Termasuk rumah mewahnya pun harus dia relakan.
Semua pegawai mengancam akan memenjarakannya jika dia tidak bisa melunasi gaji mereka. "Aarrrkkhh! Brengs**,, kenapa hidupku jadi seperti ini. Ini semua karna dirimu, Viona Anggella. Karna keputusanmu meninggalkanku sekarang aku jadi kehilangan tambang emasku." Leo menggeram meluapkan semua kemarahannya. Ia menyalahkan Viona yang telah meninggalkan dirinya.
Di samping masalah hutang yang tengah membelitnya. Leo juga dibuat pusing oleh tiga pemuda yang selalu memperburuk hidupnya. Mereka baru saja merampok dirinya dengan jumlah nominal yang tidak sedikit. Uang yang mereka ambil seharga satu mobil Lamborghini keluaran terbaru. Leo telah ditipu mentah-mentah oleh mereka bertiga.
"Kau terlihat semakin buruk, Tuan Muda Ardinata," seru wanita yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada dihadapan Leo. Laki-laki itu mengangkat wajahnya dan menatap datar wanita itu 'Cherly'. Cherly begitu memperhatikan penampilan Leo saat ini.
"Lihatlah betapa mengerikannya dirimu, kau tidak terurus sama sekali. Rambut yang semakin panjang, dan berapa lama kau tidak mencukur kumis dan jenggotmu. Apakah kau benar-benar sefrstasi itu?"
"Diamlah kau, Park Cherly. Pergilah, aku sedang tidak ingin menerima tau."
"Ck, kau sungguh-sungguh menyedihkan, Leo Aedinata." Cherly bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Tak lama setelah kepergian Cherlu. Terlihat Rio, Satya dan Frans mendatangi apartemen Leo. Wajah ketiga pemuda itu tampak berseri-seri. Mereka datang sambil menenteng beberapa bingkisan ditangan masing-masing. "Hyung/Paman, kami datang." seru ketiganya nyaris bersamaan.
Leo menyambar pistol miliknya yang berada diatas meja dan mengacungkan pada ketiga pemuda itu. "Kalian bertiga yang sudah menghancurkan hidupku, dan sekarang aku akan mengirim kalian semua untuk pergi ke neraka."
Satya dan Frans mendengus seraya memutar matanya jengah. Rio celingukan seperti mencari sesuatu. Pemuda itu beranjak untuk mengambil semua vas bunga yang kemudian dia lempar pada tangan Leo. "Aaahhh," membuat laki-laki itu meringis dan menjatuhkan pistol ditangannya. Leo hendak mengambil kembali pistol itu namun didahului oleh Satya. "Yak! Kembalikan pistol itu padaku," teriaknya marah.
"Ck, berisik sekali kau ini jadi orang. Pistol ini aku sita dan jangan coba-coba bermain-main dengan kami. Jika Nathan hyung adalah Iblis, maka kami bertiga adalah bayi iblis. Jangan pernah bermain-main dengan kami jika tidak ingin hidupmu semakin buruk dari ini." Ujarnya panjang lebar.
"Sebenarnya masalah apa yang kalian miliki denganku? Sampai-sampai kau menyiksaku secara lahir dan batin seperti ini, hah!!" bentaknya penuh emosi.
"Pertama, kau sudah melukai Nathan hyung dan membuatnya nyaris buta. Kedua, kau dan wanita itu merencanakan untuk memisahkan Viona nunna dari Nathan hyung. Ketiga, kau berusaha untuk menguasai harta milik Viona nunna.
Memang awalnya kami dan Viona nunna tidak memiliki ikatan apapun, tapi sekarang dia adalah menantu keluarga Lu jadi kami tidak bisa diam saja. Kami juga sudah lelah berpura-pura denganmu, bahkan kami ingin sekali membunuhmu sejak lama. Tapi itu tidak akan adil dengan semua perbuatanmu, kami menutuskan untuk menyiksa batinmu secara perlahan-lahan dan berharap kau merasa frustasi kemudian mati bunuh diri." Tutur Frans panjang lebar.
"Kami akan berhenti bila kau mau menuruti permintaan kami ini. Kembalikan dokumen keluarga Lu yang berada ditangan ayahmu dan selurun aset kekayaan milik Viona nunna yang berada ditanganmu."
"Tidak akan." Leo menyela ucapan Satya seraya menatapnya tajam. "Aku tidak akan memberikan apa yang sudah menjadi milikku, harta dan aset-aset itu sudah menjadi milikku dan selamanya akan seperti itu."
"Itu artinya kau menantang kami." Rio menyeringai tajam.
"Kalian fikir aku takut, baiklah.. jika kalian ingin bermain-main denganku. Aku akan mengabulkannya." Tampak Leo menghubungi seseorang, seringai penuh kemenangan terpatri dibibirnya. Tak lama berselang beberapa pria mendatangi apartemen Leo. "Lihatlah dibelakang kalian, mereka adalah orang-orangku dan mereka akan meniadakan kalian detik ini juga."
"Benarkah? Percaya diri sekali kau ini, paman." ujar Rio menyeringai.
"Apa yang kalian tunggu, cepat habisi ketiga bocah ini." perintah Leo pada anak buahnya.
__ADS_1
Orang-orang itu menelan salivanya sedikit bersusah payah melihat seringai dibibir ketiganya. Dengan cepat mereka menggeleng. "Maaf, boss. Kami menolak, kami tidak ingin dibuat malu untuk kedua kalinya oleh mereka bertiga. Mereka sudah pernah menelanjangi kami dan kami tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Kami permisi."
"Yakk!! Jangan pergi kalian!!"
"Huaaa! Aku sangat lelah, aku ingin beriatirahat sejenak di sini." Seru Rio lalu membaringkan tubuhnya pada sofa.
"Yakk!! Bocah setan apa yang kau lakukan? Turunkan sepatumu dari sana. Dan kalian, jangan menyentuh apa pun yang ada di sini. Semua itu barang mahal dan import dari luar negeri. Jauhkan tangan kalian dari sana." teriaknya marah.
Ketiganya saling bertukar pandang lalu sama-sama menatap Leo kemudian berseru. "PAMAN/HYUNG, KAU SANGAT BERISIK!!"
"KALIAN BOCAH SETAN, ENYAHLAH!!"
-
Nathan dan Viona terpaksa harus melewatkan makan malamnya sedikit terlambat dari waktu seharusnya. Setelah makan malam, pasangan suami-istri itu melewatkan waktunya dengan bersantai dan saling berbincang dikamar mereka.
Natha duduk menyandar pada sandaran tempat tidur, sedangkan Viona duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Nathan yang hanya tertutup tanktop putihnya.
"Bagaimana pertemuanmu dengan, Derry Ardinata hari ini? Dan bagaimana bisa dia sampai melukaimu seperti itu?" tanya Jessica penasaran.
"Dia mencoba menghabisiku, tapi aku bertindak lebih cepat dari dia. Aku berhasil menghindari tembakkannya dan amunisi itu hanya menggores sedikit wajahku."
"Hm, bajingan tua itu mencoba mengibarkan bendera perang denganku. Aku memberinya sedikit waktu untuknya memikirkan baik-baik tawaranku." Terang Nathan.
Viona mengangkat kepalanya dari bahu Nathan dan menatap suaminya itu dengan mata menyipit. "Apa?" ucap Nathan datar.
"Ck, orang seperti itu kenapa tidak langsung dibunuh saja?" geram Viona marah.
Nathan mendengus geli melihat bagaimana ekspresi Viona yang begitu menggemaskan padahal dalam keadaan kesal.
Mengabaikan Viona yang masih mendumal tidak jelas, Nathan beranjak kemudian berjalan lurus menuju jendela kaca dan berdiri di sana. Wajahnya mendongak, mata kanannya menatap langit yang tampak gelap.
Nathan menghembuskan nafas panjang. "Jika saja aku masih tetap Nathan Lu yang dulu, pasti aku sudah meledakkan kepalanya detik itu juga. Aku memiliki banyak sekali pertimbangan antara membunuhnya atau tidak." tuturnya panjang.
Nathan menutup mata kanannya. Memang banyak yang berubah pada diri laki-laki bermarga Lu tersebut. Jika dulu Nathan dikenal sebagai sosok yang kejam dan bertangan dingin yang tidak akan segan-segan untuk menghabisi siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Tapi sosoknya perlahan berubah sejak bertemu dan mengenal Viona meskipun sikap dinginnya masih melekat kuat pada diri Nathan.
Nathan menjadi pria yang lebih santai dan selalu berfikir bijak sebelum melakukan sesuatu. Kehadirian Viona bukan hanya merubah Nathan menjadi sosok pria yang lebih baik, tapi juga menjadi sosok pria yang jauh lebih hangat sebelum mengenal wanita itu.
Nathan menoleh kebelakang saat merasakan sepasang tangan putih memeluknya dari belakang dan seseorang bersandar pada punggungnya. Aroma bunga sakura yang begitu khas tercium indera penciuman Nathan, aroma yang menjadi untuk pria itu selain alkohol dan rokok pastinya. "Ini sudah malam, kau tidak tidur?"
__ADS_1
"Masih terlalu awal, cuaca malam ini sepertinya lumayan bersahabat. Oppa, bagaimana jika kita jalan-jalan keluar? Aku ingin menikmati udara malam kota Seoul, itu juga jika kau tidak keberatan." Nathan melepaskan pelukkan Viona kemudian berbalik badan.
"Tidak malam ini, sayang. Aku sangat lelah dan kepalaku sedikit pusing, tidak apa-apakan?" Viona menggeleng.
Wanita itu maju dua langkah lebih dekat, jari-jarinya mengusap perban yang menutup mata kiri Nathan. Raut wajahnya berubah sendu. "Jangan memasang wajah seperti itu, Viona Lu. Aku baik-baik saja."
"Tetap saja, Oppa. Memangnya istri mana yang tidak akan sedih saat melihat keadaan suaminya tidak baik-baik saja." Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya, meyakinkan padanya bila dirinya baik-baik saja
"Jangan pernah melakukan sesuatu yang membuatku selalu merasa cemas, Oppa." Bisik Nathan parau.
Nathan menutup matanya kirinya. "Maaf." Bisiknya penuh sesal. Viona menarik dirinya dari pelukkan Nathan. Kedua tangannya menakup wajah Nathan dan mencium singkat bibirnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, dan aku tidak ingin dengar kata maaf lagi keluar dari bibir Oppa," sekali lagi Viona mencium bibir Nathan dan menarik wajahnya menjauh dari suaminya.
Tapi sepertinya Nathan tidak membiarkan ciuman itu berakhir begitu cepat. Nathan menarik tengkuk Viona dan langsung melum** bibir ranum Viona dengan lembut. Nathan memperdalam ciumannya, menghisap dan melum**nya dengan sedikit ganas. Tidak merasa keberatan sama sekali, Viona justru menikmati ciuman itu.
Tangan kiri Nathan menarik tubuh Viona dan membunuh jarak diantara mereka. Lidah Nathan mengobrak-abrik rongga mulut Viona sambil membawa lidah wanita itu menari bersama, saling membelit dan mengulum. Dan ciuman itu berakhir saat Nathan merasakan pukulan pada dada bidangnyal "Masih tetap saja payah, eh." cibir Nathan sambil mengusap liur yang menetes di dagu Viona.
Wanita itu mencerutkan bibirnya. Viona benar-benar kesal karna Nathan mencibirnya "Itu karna sejak awal aku memang tidak berpengalaman sama sekali soal berciuman," sahut Viona membela diri.
Nathan terkekeh, dengan gemas laki-laki itu menjitak kepala coklat Viona. "Sudah hampir larut malam, sebaiknya kita segera tidur."
"Tapi kau harus memelukku sepanjang malam dan menggendongku ke tempat tidur," renggek Viona dan membuat Nathan mendesah berat.
Nathan tidak memiliki Nathan lain selain menurutinya. Detik berikutnya sudut bibir Viona tertarik ke atas. Meskipun terkadang sikap Viona sedikit merepotkan. Tapi Nathan tidak pernah mengeluh apalagi sampai merasa keberatan. Dia justru menikmatinya karna itu artinya Viona hanya bergantung padanya.
"Dengan senang hati, Miss." Nathan mengecup bibir Viona kemudian membaringkannya pada tempat tidur.
Dan melihat wajah menggemaskan Viona membuat Nathan tidak tahan untuk tidak menyentil keningnya. Wanita itu terkekeh, dengan hati berbunga-bunga Viona merapatkan tubuhnya pada Nathan.
Wajahnya berhadapan dengan dada bidang Nathan yang berdetak teratur. Viona membenamkan wajahnya dan mulai menutup matanya. Dan hanya dalam hitungan detik saja wanita itu sudah pergi ke alam mimpi. Sebuah kecupan sekali lagi mendarat pada kening Viona.
"*Goo*dnight Baby. Saranghae,"
.
.
Bersambung.
__ADS_1