
Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatian Viona yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Wanita itu menoleh dan mendapati sosok Nathan berjalan menuruni tangga. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Dan Viona hanya bisa menghela nafas berat. Ini hari ke tiga Nathan mendiaminya.
Viona mematikan kompornya dan menghampiri Nathan yang sedang duduk di ruang keluarga. Nathan tidak bereaksi sedikit pun, pria itu tetap terlihat dingin meskipun Viona berdiri didepannya.
"Oppa, kau ingin aku buatkan kopi?" tanya Viona sedikit basa basi.
"Tidak usah," jawabnya datar. Fokusnya tak lepas sedikit pun dari layar ponselnya.
Viona menggepalkan tangannya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Dia tidak tau sampai kapan Nathan akan mendiaminya seperti ini. Viona sungguh tidak tau kesalahan apa yang sebenarnya dia lakukan sampai-sampai Nathan bersikap dingin padanya.
Wanita itu berbalik dan meninggalkan Nathan begitu saja. Dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan malam tiba.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap punggung Viona yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sebenarnya Nathan tidak ingin bersikap terlalu keras pada Viona, hanya saja dia ingin agar Viona lebih terbuka padanya.
Mungkin yang dia lakukan memang salah dan sedikit keterlaluan. Tapi itu hal itu jauh lebih baik dari pada harus membentak apalagi melukai fisiknya. Bisa saja Nathan bertanya secara baik-baik padanya. Tapi belum tentu Viona mau berterusterang dan mengatakan yang sebenarnya.
"PAMAN//BIBI, KAMI DATANG!!"
Perhatian keduanya teralihkan oleh teriakkan keras dari arah depan. Tak berselang lama muncul tiga sosok pemuda yamg pastinya adalah Rio, Frans dan Satya. Mereka bertiga datang sambil menenteng dua kantong besar yang berisi makanan dan minuman kaleng.
"Apa yang kalian bawah?" tanya Viona penasaran.
Rio mengangkat bingkisan ditangannya dan tersenyum lebar. "Ini, kami baru saja menang lotre siang ini. Jadi kami membeli banyak makanan dan minuman yang akan kita makan bersama-sama," ujarnya.
Bukan lotre. Sebenarnya mereka merampok uang milik Cherly dalam jumlah yang lumayan besar. 10 juta won, dan uang sebanyak itu mereka pakai untuk bersenang-senang termasuk membeli makanan dan minuman.
"Sedang apa kalian di sini?"
"Tentu saja untuk berkunjung, Hyung. Kami ingin melihat bagaimana kondisimu saat ini. Dan selain itu, kami bertiga juga merindukan Vio Nunna," jelas Satya menjawab pertanyaan Nathan.
"Eh, Bibi. Sebenarnya ada apa dengan raut wajahmu itu? Kenapa kau terlihat sedih? Apa Paman Nathan menindasmu?" tanya Rio pada Viona.
Viona menggeleng. "Tidak. Hanya saja aku merasa buruk akhir-akhir ini. Mungkin karna bawaan tamu bulanan, tunggulah sebentar, makan malam hampir siap."
"Kami sangat ingin makan malam bersama kalian. Tapi masih ada urusan, mungkin lain kali saja. Nunna, Hyung. Kami pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi, bye."
"Lalu bagaimana dengan makanan dan minuman yang kalian bawa ini?"
"Bibi, itu kami sengaja membelikannya untuk kalian berdua. Kami tau di rumah ini jarangan ada cemilan, jadi kami sengaja sengaja membelikannya untuk kalian. Jangan lupa di makan ya, kami pergi,"
Viona menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka bertiga. Dan rumah seketika menjadi sepi setelah mereka pergi. Hanya tersisa Nathan dan Viona yang tak saling bertegur sapa.
Viona melanjutkan memasaknya sedangkan Nathan fokus pada laptopnya. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia periksa. Nathan tidak bisa melimpahkan semua pekerjaan pada Henry dan Bima. Bukan karna Nathan meragukan kinerja mereka, tapi mereka juga memiiki kesibukkan masing-masing.
"Aish, kenapa susah sekali sih." Keluh Viona karna tangannya tidak sampai pada botol garam yang dia letakkan di laci paling atas. Kemudian pandangannya bergulir pada Nathan. "Oppa, bisakah kau membantuku mengambil botol garam itu?? Tanganku tidak menjangkaunya,"
"Untuk apa meminta bantuanku? Bukankah kau bisa melakukan semua hal sendiri?" sinis Nathan tanpa menatap melawan bicaranya.
"Maksud Oppa apa? Aku benar-benar tidak mengerti,"
Nathan menutup laptopnya kemudian menghampiri Viona. "Apa masih perlu aku menjelaskannya? Sebaiknya mulai sekarang urus semua masalahmu sendiri, aku tidak akan ikut campur. Untuk apa aku peduli jika kau sendiri tidak bisa menghargaiku sebagai seorang suami." Ujar Nathan.
Setelah mengatakan kalimat pedas itu Nathan langsung pergi, meninggalkan Viona yang kini beruraian air mata. Viona merasa sesak, dadanya seperti ditekan karna sikap Nathan. Sepertinya Viona masih belum menyadari juga apa yang membuat Nathan menjadi begitu marah padanya.
Deru suara mobil Nathan meninggalkan halaman menyisahkan kekosongan dan kehampaan di hati Viona. Viona hanya bisa menadang sendu kepergian suaminya. Tak ingin larut dalam kesedihan terlalu lama, Viona berbalik dan memutuskan untuk pergi kekamarnya. Mungkin berendam di dalam air hangat selama beberapa saat akan membuat suasana hatinya yang buruk akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
Dan sementara itu...
Nathan yang tidak sengaja berpapasan dengan dua van hitam yang melaju berlawanan arah menjadi sedikit cemas. Kedua van itu terlihat mencurigakan. Nathan yang memiliki firasat buruk segera memutar balik mobilnya dan menyusul van itu yang semakin menjauh.
Persis seperti dugaannya. Kedua van itu menuju kediamanannya. Yang itu artinya nayawa Viona berada dalam bahaya karna bisa saja yang menjadi target buruan mereka adalah Viona. Apalagi Alex pernah mengatakan jika musuh lama ayahnya kembali untuk membuat perhitungan dan targetnya adalah Viona.
Nathan mencoba menghubungi Viona tapi tidak ada jawaban. Viona tidak mengengkat panggilan darinya. "Angkat Vi, angkat," gumam Nathan yang terlihat cemas dan sedikit kacau. Nathan terus mencoba menghubunginya tapi tetap tidak ada jawaban dari Viona. "Aaarrrkkhhh, sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tidak mau mengangkat telfon dariku." Geram Nathan sambil memukul stir mobilnya sendiri.
Nathan menambah kecepatan pada mobilnya. Mobilnya melaju dengan kecepatan penuh pada jalanan yang legang, dan Nathan tidak akan mengampuni mereka semua jika hal buruk sampai menimpa istrinya.
-
BRAKKK...!!
Suara keras yang berasal dari halaman mengejutkan Viona yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu berlari ke arah jendela kaca disamping tempat tidurnya. Kedua maganya membelalak melihat dua van memasuki halaman. Sadar dirinya berada dalam bahaya. Viona tidak tinggal diam, dia hendak menghubungi Nathan dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab darinya.
Viona mencoba menghubungi balik dan tersambung. "Oppa-"
"KEMANA SAJA KAU? KENAPA TIDAK MENGANGKAT PANGGILAN DARIKU? APA KAU TAU JIKA SAAT INI NYAWAMU SEDANG BERADA DALAM BAHAYA!!!"
"Mereka sudah datang, orang-orang itu sudah tiba di sini!!"
"Hubungi Kai, minta dia untuk segera datang bersama beberapa anak buahnya. Sebaiknya kau jangan coba-coba untuk keluar karna mereka bukanlah lawan yang mudah untukmu. Aku akan tiba beberapa menit lagi,"
"Baiklah, aku mengerti,"
-
Rentetan tenbakkan yang Nathan lepaskan secara membabi buta membuat beberapa pria itu roboh seletika. Di kedua tanganya, masing-masing memegang sebuah senjata api. Nathan terus menembaki mereka tanpa ragu, bahkan dia tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk memberikan serangan balasan padanya.
Dengan gerakkan yang sangat lincah, Nathan menghalau setiap serangan yang mengarah padanya. Nathan tak membiarkan lawannya menyentuh tubuhnya bahkan hanya seujung kuku saja. Dan hampir setengah dari mereka berhasil Nathan lumpuhkan.
Meskipun perkelahian terlihat sangat tak seimbang, tapi melumpuhkan mereka tentu bukanlah perkara yang sulit bagi Nathan. Mengingat jika Nathan adalah pria yang sudah melewati pelatihan fisik dengan keras selama bertahun-tahun.
Viona hanya bisa menyaksikan perkelahian tersebut dari dalam. Sebenarnya dia ingin sekali keluar dan membantu Nathan. Tapi Nathan sudah melarangnya dan memintanya untuk tetap di dalam. Viona tidak ingin Nathan semakin marah dan mendiaminya lebih lagi. Dan Viona hanya bisa melihat dan menyaksikan perkelahian tersebut dari kejauhan.
Pukulan, tendangan dan suara letupan senjata api mewarnai perkelahian tersebut. Hanya tersisa tiga orang lagi yang mulai tampak ragu-ragu untuk memberikan perlawanan.
Tiba-tiba mereka bertiga membuang senjatanya kemudian berlutut di depan Nathan dan memohon supaya diampuni.
"Tu-Tuan ampuni kami dan tolong jangan bunuh kami. Ka-Kami hanya orang suruhan, a-ampuni nyawa kami dan biarkan kami pergi," mohon salah satu dari ketiga pria itu.
"Tapi sayangnya aku bukanlah pria berhati lembut," sinis Nathan.
"Tuan, maaf kami datang terlambat," sesal Kai yang baru saja tiba.
"Urus mereka, termasuk mayat-mayat itu."
"Baik Tuan,"
Melihat keadaah terkendali. Viona langsung keluar dan menghampiri Nathan untuk memastikan keadaannya. "Oppa kau tidak apa-apa 'kan?" tanya Viona memastikan. "Kau tidak terluka bukan?" lanjutnya menambahkan.
"Aku baik-baik saja. Dan apakah sekarang kau paham, jika kau tidak bisa mengatasi semua masalah sendiri? Kenapa kau tidak mau lebih terbuka padaku, suamimu? Jika saja kau memberitauku sejak awal, mungkin keadaannya tidak akan serumit ini!!"
Viona tersentak. "O-Oppa, jadi kau sudah tau tentang Bram Winarata? Dan jangan bilang kau mendiamiku berhari-hari karna hal ini? Kau kesal dan marah karna aku tidak mau lebih terbuka dan memberitaumu?" tebak Viona 100% benar.
__ADS_1
"Baguslah jika kau tau. Dan kau masih memiliki hutang penjelasan padaku, Nyonya Lu!!"
Viona menghela nafas. "Baiklah, sepertinya memang tidak ada gunanya lagi aku merahasiakan masalah ini darimu. Aku akan memberutaumu semuanya. Tapi sebaiknya kita masuk sekarang dan makan malam. Aku sangat lapar," renggek Viona sambil memegangi perutnya. Nathan mendengus geli. Satu jitakkan Nathan daratkan pada kepala coklat Viona.
"Dasar kau ini. Baik kita masuk,"
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tunjuk Viona pada Kai dan anak buahnya.
"Mereka aku rekrut bukan untuk makan gaji buta. Jadi biarkan mereka menyelesaikan pekerjaannya."
"Huft, baiklah,"
-
Cherly tidak tau mimpi buruk apa yang sebenarnya dia alamo akhir-akhir ini sampai-sampai dia harus berurusan dengan tiba rubah kecil yang sangat nakal dan licik. Entah sudah berapa banyak uangnya yang dirampok oleh mereka bertiga. Dan rasanya Cherly ingin supaya mereka segera lenyap dari dunia ini.
Cherly mendatangi sebuah tempat di mana para mafia bersarang. Wanita itu memberikan sejumlah uang pada mereka dalam jumlah yang sangat besar. Cherly ingin supaya mereka menghabisi Rio, Satya dan Frans.
"Ini adalah uang mukanya. Aku ingin supaya kalian menghabisi tiga pemuda dalam foto ini. Dan aku ingin malam ini juga mendengar kabar baik dari kalian."
"Anda tidak perlu cemas, Nona. Hal semacam ini adalah pekerjaan yang sangat gampang untuk kami. Dalam waktu tiga jam, Anda akan mendengar kabar terbaik dari kami."
"Bagus, aku yakin kalian bisa diandalkan."
"Tunggu saja hasiknya dengan tenang Nona,"
Cherly menyeringai tajam. Dia sangat tidak sabar untuk menunggu sampai beberapa jam ke depan. Dan setelah ini Cherly akan bisa menikmati hidupnya dengan tenang tanpa gangguan dari mereka bertiga lagi.
Tapi tanpa sepengetauan Cherly. Diam-diam Satya, Rio dan Frans memasang alat penyadap di dalam tas milik Cherly sehingga mereka tau apa yang sedang wanita itu rencanakan.
Selepas kepergian Cherly. Seorang bocah datang dan menghampiri lima pria yang Cherly bayar untuk menghabisi mereka. Rio menggiring mereka ke sebuah tempat yang telah dia dan kedua paman kecilnya persiapkan. "Hei, bocah!! Jangan lari kau,"
"Aku tidak lari Paman, aku hanya ingin pergi ke tempat yang tepat supaya kau lebih leluasa bersenang-senang. Tidak lucu kan jika kejahatanmu membunuh tiga pemida yang masih di bawa umur sampai dilihat banyak orang," seru Rio tanpa menghentikan langkahnya.
"Bocah, cerdik juga kau rupanya. Hahaha, baiklah. Bersiap-siaplah untuk merasakan kekejaman kami berlima!!"
"Dan kalian berlima, bersiaplah untuk menyaksikan kecerdikan dan kelicikan kami bertiga. Kalau begitu ayo kejar aku Paman!! Kedua paman kecilku sudah menunggu kedatangan kalian," seru Rio sambil sesekali menoleh kebelakang. "PAMAN, MEREKA SUDAH DATANG!!" teriak Rio memberi kode.
Dua orang yang berada di atas pohon telah siap di posisi masing-masing. Mereka telah menyiapkan jebakkan untuk orang sewaan Cherly. Satya dan Frans saling bertukar pandang dan keduanya mengangguk.
"Sialan kau bocah. Di mana kalian sebenarnya eo? Keluar supaya aku lebih mudah menghabisi kalian!!"
"Paman botak, paman kumis, paman otot, dan paman berdua. Aku di sini,"
"Hahaha, rupanya di sana kau bocah. Mau lari kema kau hm?"
Mereka berlima berdiri tepat di atas tumpukan daun yang penuh dengan semut merah dan semut api, parahnya mereka belum menyadari. Dari atas pohon Satya dan Frans menjatuhkan ratusan ulat bulu keatas tubuh kepala mereka yang kemudian merambat ke dalam pakaian yang mereka pakai.
"Ahhh. Gatal, gatal, gatal...!! Yakk, bocah apa yang kalian lakukan pada kami? Ahh gatal...."
"Hehehe. Paman ini baru awal. Penderitaan kalian yang sebenarnya baru saja di mulai!!"
-
Bersambung.
__ADS_1