Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 66


__ADS_3

Nathan tak pernah merasa sepusing ini sebelumnya. Dia lebih memilih dihadapkan dengan tumpukan dokumen di atas meja kerjanya daripada harus menghadapi situasi seperti ini. Viona, wanita yang sedang hamil 3 bulan itu sedang merajuk. Si wanita merepotkan itu benar-benar berbeda dari sifat aslinya.


Dan Nathan baru menyadari wanita yang hamil itu merepotkan padahal sebelum hamil Viona tidak pernah bersikap seperti itu. Sekarang wanita itu amat sangat terlalu maha super merepotkan dengan permintaan ngidamnya. Dua hari ini Nathan sukses di buat sebal karena rengekan ngidamnya.


"Oppa," renggek Viona sambil berpupil eyes, kan mulai lagi.


"Apa?"


"Mau, ya?"


"Tidak." Singkat tegas dan menyakitkan. Viona langsung memanyunkan bibirnya.


"Ayolah Oppa," Viona mulai memaksa tapi Nathan masih bergeming. "Kenapa sih kamu nggak mau?" Suara Viona mulai terdengar parau. Sudut bibirnya tertarik ke bawah.


"Aku tidak mau melakukannya. Kau tahu kan resikonya. Minta yang lain saja."


Viona menggeleng dan tetap bersikeras pada permintaan. "Aku maunya itu ya itu." Viona mulai merengut.


Nathan mendesah berar. "Kau tahu bukan, jika aku tidak bisa melakukan itu. Dewasalah sedikit."


"Itu hanya hal yang mudah, Oppa. Sebenarnya kau ini suami macam apa sih, katanya sayang istri, tapi ternyata tidak," Viona mulai membelakangi Nathan, "Padahal hanya satu permintaan ngidam dari istrimu saja kau tidak bisa mengabulkannya."


Mulai lagi kan. Nathan memilih berpura-pura untuk tidak dengar seperti biasa. Toh nantinya Viona juga akan mengalah dan tidak merengek lagi. Tiba-tiba terdengar isak tangis di sebelah Nathan. Dan endingnya Viona mengeluarkan jurus andalannya, dia menangis hanya gara-gara ngidamnya tidak dituruti? Nathan harus benar-benar menjauhkan Viona dari kedua sahabatnya.


"Kau jahat Oppa!" Isakan Viona semakin terdengar jelas. Nathan pun mulai panik. Pria bermarga Lu itu menolehkan kepalanya untuk melihat keadaan Viona.


"Astaga, kenapa kau semakin hari semakin menjadi saja?. Sejak kapan kau mulai kekanak-kanakan seperti ini?" Tangan Nathan terulur tapi segera ditepis Viona.


"Hiks, kau jahat Oppa! Mana yang namanya suami bertanggung jawab, huh?" Nathan mendengus berat. "Padahal hanya permintaan sesimpel itu saja kau tidak bisa," simpel? Kedengarannya simpel tapi menurut Nathan ini hal yang paling merepotkan di dunia ini. "Atau jangan-jangan Oppa memang sudah tidak mencintaiku lagi. Kau tidak suka kehadiran anak kita ini." Ucapan Viona semakin terisak.


"VIONA CUKUP!!" bentak Nathan dengan nada meninggi.


Nathan benar-benar sudah tidak tahan lagi. Jika saja yang di minta Viona bukan hal yang mungkin membahayakan janinnya pasti Nathan akan mengabulkannya. Viona meminta untuk ****** jadi Nathan menolaknya. Biarpun kondisi kandungan Viona kuat, tapi tetap saja Nathan merasa takut. Dia masih sangat trauma dengan apa yang menimpa Viona saat kehilangan janinnya.


"Mengertilah Vi! Jika yang lainnya aku masih bisa, tapi tidak untuk yang satu itu. Kenapa kau tidak mengerti juga? Aku masih sangat trauma dengan apa yang menimpamu dan janin kita. Jadi aku mohon mengertilah," ucap Nathan melembut.


"Oppa," kedua mata Viona tampak berkaca-kaca. Nathan meraih bahu Viona dan membawa wanita itu dalam pelukkannya. "Hiks, aku minta maaf. Aku salah dan sudah bersikap kekanakan. Aku benar-benar minta maaf," Viona mencengkram kemeja yang Nathan kenakan tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karna ulahnya.


"Sudah-sudah jangan menangis lagi. Aku sudah memaafkanmu tapi jangan di ulangi lagi ya," Nathan melonggarkan pelukkannya dan menatap Viona. Wanita itu mengangguk. "Kau boleh meminta apapun padaku kecuali yang satu itu. Kita pasti akan melakukannya lagi, tapi tunggu sampai janinmu benar-benar kuat. Oke," lagi-lagi Viona mengangguk.


"Dan sebagai gantinya. Bisakah aku melihat dia sekarang juga? Aku ingin melihat tribalmu, aku sangat merindukan mereka. Hampir seharian ini kau menyembunyikannya di balik lengan kemeja sialan itu!!" Viona mencerutkan bibirnya.


Nathan menghela nafas berat. Dan selanjutnya kemeja hitam itu dia tanggalkan dari tubuhnya menyisahkan singlet putih yang melekat pas di tubuhnya. "Kyyyaaa...! Tribal," histeris Viona dan langsung memeluk lengan kanan Nathan yang di hiasi Tatto kemudian menciumnya.

__ADS_1


"Sekarang kau puas?" Viona mengangguk. Sekarang tidur, ini sudah malam dan aku tidak mau mendengar alasan apapun, titik!!" Viona mencerutkan bibirnya. Dan dengan terpaksa Viona pun mengiyakannya karna tidak ingin di omeli habis-habisan oleh Nathan.


"Tapi Oppa tidak boleh kemana-mana dan harus memelukku sepanjang malam," renggek Viona sambil menatap mata kanan Nathan.


"Hn, baiklah,"


-


Malam yang dingin telah berlalu. Sang penguasa malam telah kembali keperaduannya, keberadaan bulan di gantikan oleh mentari yang kemudian mendampingi bumi.


Matahari pagi bersinar hangat dan lembut. Burung-burung berkicau dengan riangnya, serta semilir angin pagi yang berhembus sejuk menambah kedamaian pagi ini. Harum bunga semerbak tandanya hari semakin siang.


Hari minggu, merupakan hari libur Nasional yang telah berlangsung sejak dulu hingga sekarang. Mulai dari Taman Kanak-kanak sampai pada pusat perkantoranpun mengambil jatah libur pada masa akhir pekan ini.


Hari minggu kerap kali di isi dengan berkumpul bersama keluarga atau paling tidak piknik hanya untuk melepas stres setelah setiap hari senin hingga sabtu yang dihabiskan untuk bekerja entah itu lembur atau tidak, bekerja setiap hari terkadang membuat siapa pun merasa stres dengan tumpukan dokumen-dokumen kantor yang menumpuk bersama deadline yang serasa tiada taranya.


Tapi bukankah itu konsekuensinya dalam bekerja? Tak ayal, kerap kali kita tidak bisa pulang hanya karena lembur kerja hingga kadang harus menginap di kantor dan pulang pagi harinya dan itupun harus dapat izin untuk libur sehari.


Dan yang paling kena dampaknya tentulah di pihak keluarga, terlebih itu kalau kau punya Istri dan anak, tentu akan jarang bertemu jika kau selalu sibuk mengurusi kerjaan kantor. Jarang bertemulah, jarang makan bersama di rumahlah, atau sebagaimana biasanya kita jumpai di nasib para karyawan yang selalu sibuk dengan tugas kantor.


Karena itulah, hari minggu kebanyakan dihabiskan untuk berkumpul bersama keluarga.


Di sebuah mansion mewah yang memiliki dua lantai. Terlihat tiga pemuda baru saja selesai bersiap-siap. Ketiga pemuda itu pastinya adalah Rio, Frans dan Satya. Hari ini mereka hendak pergi untuk melakukan sebuah misi penting. Targetnya kali ini bukan lagi Cherly melainkan Bram dan Sandora.


Mereka akan berbagi tugas, Rio akan pergi menemui Dora sedangkan Satya dan Frans akan pergi menemui Bram. Entah apa lagi rencana mereka kali ini dan hal gila apa yang akan mereka lakukan pada mereka berdua.


"Pagi Ma, Pagi Paman," sapa Rio pada kedua orang itu.


"Kalian sudah rapi? Memangnya mau pergi ke mana?" tanya Henry penasaran.


"Kami ada urusan penting Hyung," jawab Satya kemudian menarik kursi kosong di depannya.


"Memangnya sejak kapan bocah-bocah badung seperti kalian bisa memiliki urusan penting? Aku fikir waktu kalian hanya kalian habiskan untuk bersenang-senang saja,"


"Jangan salah, Hyung. Begini-begini kami juga memiliki kesibukkan. Bahkan kami bisa menghasilkan uang sendiri dengan mudah,"


"Kalian mencuri?" kaget Senna.


"Enak saja, tentu saja tidak Ma. Mana mungkin pemuda-pemuda tampan dan imut seperti kami mencuri. Kami tidak mencuri tapi merampok!" jelas Rio yang sontak membuat mata Senna dan Henry sama-sama membelalak saking kagetnya.


"APA? KALIAN MERAMPOK!!"


"Aishh," Satya menggaruk tengkuknya. "Bukan merampok secara kriminal seperti yang kalian fikirkan. Kami memang merampok, yang kami rampok adalah orang-orang jahat. Leo dan bapaknya contohnya. Dari mereka kami pernah mendapatkan uang 1 milyar won secara cuma-cuma." Jelasnya tanpa ada beban sedikit pun.

__ADS_1


"A-Apa? 1 milyar Won?" kaget Henry yang kemudian di balas anggukan oleh ketiganya. "Tapi bagaimana caranya? Dan kenapa bisa?"


"Karna kami jenius," ketiganya menjawab kompak.


"Jangan bilang jika kalian melakukan peretasan seperti yang biasa Nathan lakukan?" tebak Henry.


Ketiganya menggeleng. "Otak kami terlalu cerdas jadi mana ngerti soal retas meretas. Bukan dengan cara seperti itu, tapi dengan cara jitu hingga mereka mau memberikannya secara cuma-cuma."


"Kalian mengancamnya?"


"Ralat, tapi membuat sebuah negoasiasi. Dan kali ini kami memiliki dua target baru dan mereka semua beruang."


Senna memicingkan matanya dan menatap ketiganya penasaran. "Siapa?"


"Bram Wiranata dan Sandora Lim. Dua orang yang merupakan musuh terbesar Paman Nathan dan Bibi Viona saat ini." Jawab Rio. "Paman, sepertinya kita hampir terlambat. Sebaiknya kita pergi sekarang. Ma, Paman, kami berangkat dulu ya. Doakan kami mendapatkan banyak uang hari ini."


Senna dan Henry hanya bisa mendengus berat. Mereka tidak tau bagaimana bisa pemuda seperti mereka memiliki banyak ide-ide gila yang menyesatkan lawannya. Mereka melakukan begitu banyak tindakkan tak terduga yang terkadang membuat orang lain geleng-geleng kepala.


-


"Pagi Nona Boss,"


Seorang pria bermata panda menghampiri Viona yang sedang menyusun makanan di meja makan. Wanita itu menoleh dan menatap bingung laki-laki dihadapannya. Wajahnya terlihat tidak asing tapi dia tidak ingat kapan pernah bertemu dengannya.


"Dia adalah Ming Tao, orang yang akan menjadi bodyquard pribadimu," sahut seseorang dari arah belakang. Terlihat Nathan menuruni tangga kemudian menghampiri mereka berdua. "Dan mulai sekarang dia yang akan mengantarkanmu kemana pun kau pergi jika aku tidak bisa, dan dia akan tinggal bersama kita." Jelas Nathan memaparkan.


Viona meniti Tao dari ujung rambut dari ujung kaki. "Oppa, kau yakin dia bisa diandalkan?"


"Nona Boss, kau tidak perlu meragukan kemampuanku. Begini-begini aku hebat dan bisa diandalkan. Dan satu lagi, aku adalah satu-satunya panda paling tampan dan paling imut di dunia,"


Viona mendecih dan menatap Tao sebal. "Cih, memang siapa yang garamin lautan, dasar Panda gila!!"


Tao terkekeh geli melihat ekspresi sebal Viona yang membuatnya malah terlihat menggemaskan. "Kekeke...!! Panda gila. Nona Boss, aku anggap itu sebagai panggilan sayang untukku,"


Viona memutar matanya jengah dan meninggalkan Tao begitu saja. "Terserah," wanita itu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dan saat kembali dari dapur, di meja makan hanya ada Nathan. Sedangkan Tao entah sudah pergi ke mana dia. "Oppa, kemana perginya Panda menyebalkan itu?" bingung Viona.


"Dia pergi untuk mengurus sesuatu. Sebaiknya kita sarapan sekarang setelah ini kita pergi kekediaman keluarga Lu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Henry Hyung."


Viona tersenyum kemudian mengangguk. Dan selanjutnya mereka melewati sarapannya dengan tenang. Tidak ada perbincangan hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan.


-


"Nyonya, kau itu sudah tua!! Jadi sebaiknya jangan banyak tingkah jika tidak ingin terkena encok!!"

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2