Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 38) "Semua Gara-Gara Panci"


__ADS_3

"YAKK!! AYAM ALBINO, BERANI SEKALI KAU MENGHABISKAN DATA INTERNETKU YANG BARU SAJA AKU BELI!!"


Suara Reno menggema dan memenuhi di setiap penjuru ruangan. Pemuda itu marah dan kesal serengah mati pada si maknae karna lagi-lagi Simon mencuri data internetnya dan menghabiskannya. Dan ini sudah yang kelima kalinya.


"Hyung, kenapa kau ini pelit sekali dan kenapa juga kau suka pergitungan denganku? Padaha aku hanya memakai sedikit datamu tapi kau sudah kebakaran jenggot, padahal aku hanya memakainya untuk menyelesaikan pekerjaanku," ujar Simon melayangkan protesnya pada Reno.


Reno mendengus dan menatap Simon tidak percaya. "Hanya sedikit kau bilang? Yang benar saja? Aku baru mengisinya tadi pagi dan dataku habis tinggal 500 mb lagi. Padahal rencananya malam ini aku akan menggunan data itu untuk menyegarkan mataku. Atau jangan-jangan kau memakainya untuk hal lain? Hahahahha!! Kau tidak mungkin bisa mengelabuhiku, Simon Oh. Karna aku sudah hapal betul dengan tabiatmu itu,"


Simon menepis tangan Reno dari depan mukanya."Enak saja. Begini--begini aku tidak pernah berbohong, Hyung. Aku ini selalu jujur dan apa adanya, jadi kau jangan-"


Tenggg!!


"Ronde ke tiga." Kalimat Reno terpotong karna ulah Seho yang memukul panci dengan keras. Alhasil Simon dan Reno sama-sama terlonjak dan nyaris terkena serangan jantung dadakan. Baru saja Simon akan membuka suara lagi, tapi seruan nyaring dari arah pintu mengintrupsi kalimatnya.


"OHH TIDAKK!! PANCIKU YANG MALANG," Sontak tiga orang itu termasuk Zian yang baru saja tiba menoleh dan mendapati Adrian keluar dari kamarnya dengan langkah terburu-buru. "Yakk!! Maniak dolar, kau apakan panci berhargaku ini, eo? Ya Tuhan, baby kau sampai penyok begini. Huaaa..." Adrian langsung histeris dan menangis dengan keras membuat semua orang di sana langsung cengo melihatnya.


Zian mendengus seraya menggelengkan kepala. Malas mendengar perdebatan konyol mereka, Zian memutuskan untuk langsung pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua. Malam ini Zian sengaja tak pulang ke rumah pribadinya, dia terlalu karna sudah bisa dipastikan jika Amanda sedang menunggu kepulangannya.


Kemudian Reno maju sebagai penengah mereka berdua, bukannya memisah, dia malah ikut-ikutan. Reno menyoraki Adrian dan Seho. Dan suara mereka yang keras sampai ketelinga Zian yang sedang berada dikamarnya di lantai duam


Zian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur king size miliknya.


Rasa lelah pada tubuhnya membuat Zian malas untuk mandi terlebih dulu dan memutuskan untuk langsung tidur. Di tambah mata kirinya yang tiba-tiba berdenyut membuatnya ingin sekali cepat tidur.


"AKU TIDAK MAU TAU!! POKOKNYA KAU HARUS MENGGANTI PANCIKU INI,"


"Kau tenang saja, aku pasti akan menggantinya tiga kali lipat. Besok pagi aku akan pergi ke pasar loak untuk membelinya. Kau tau sendiri bukan jika aku ini sangat baik hati dan tidak pelit." Ujar Seho membanggakan diri.


"YAKK!! KAU FIKIR PANCIKU INI BARANG RONGSOKAN? INI BARANG MAHAL, DAN KARNA PANCI INI AKU BISA MEMASAKKAN BANYAK MAKANAN ENAK UNTUK KALIAN SEMUA SETIAP KITA BERKUMPUL DI SINI," amarah Adrian semakin meledak-ledak.


Zian mendengus dan menutup telinganya dengan bantal, perdebatan Seho dan Adrian membuatnya tidak bisa tidur. Dengan perasaan kesal campur marah. Zian bangkit dari berbaringnya dan melenggang keluar.


BRAKKK!!!


"Ayam ayam ayam."


Keempat pemuda itu terlonjak kaget bahkan penyakit latah Reno sampai kambuh karna dentuman keras mirip benda terjatuh.

__ADS_1


"YAKKK!!! KERJAAN SIAPA SIH, APA SUDAH BOSAN HIDUP EO?" Teriak Simon marah, sontak saja pemuda itu mendongak dan nyalinya langsung menciut seketika setelah melihat siapa yang melempar vas bunga itu ke lantai


"Heheheh!! Pisss, aku hanya bercanda Hyung." Ucapnya lalu beringsut ke belakang Adrian.


"Sekali lagi kalian berteriak dan membuat keributan, ku pastikan jika malam ini kalian semua akan tidur di kamar mandi." Zian menatap mereka berempat satu persatu dengan penuh intimidasi.


Sontak saja keempatnya kabur dan masuk ke dalam kamar masing-masing sebelum mendapat amukan lebih lagi dari Zian. Pemuda itu mendesah panjang, menggelengkan kepalanya lalu melenggang dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Zian ingin segera tidur, kepalanya pusing.


Zian tak ingat di mana dia mendapatkan teman-teman yang super jaib seperti mereka berempat. Tapi setidaknya keberadaan mereka bisa memberikan hiburan ketika dirinya merasa buruk.


-


Di sebuah taman yang ditimbuhi berbagai jenis mawar. Terlihat seorang dara cantik berparas barbie sedang sibuk memetik bunga-bunganya.


Mengurus taman dan mawar-mawarnya adalah pekerjaan rutin yang selalu Luna lakukan setiap paginya. Ia tidak ingat sejak kapan menyukai mawar, tapi Luna mulai tertarik pada mawar sejak dia berusia 17 tahun. Dan itulah kenapa ketika di Inggris dulu dia memilih rumah yang memiliki taman mawar sebagai tempat tinggalnya.


Hal lain bisa Luna percayakan pada para pelayannya tapi tidak untuk mengurus bunga-bunganya. Luna selalu melakukannya sendiri mulai dari menyiram, memberi pupuk sampai menanam ulang jika ada bunga yang mati selalu dia lakukan sendiri. Luna sangat menyayangi bunga-bunganya terutama mawar.


"Nona, tuan muda Qin datang dan ingin bertemu dengan Anda." Perhatiannya teralihkan karna kedatangan seorang pelayan.


"Baiklah, aku akan menemuinya. Bibi, tolong bawakan mawar-mawar ini masuk dan ganti yang sudah layu dengan yang masih segar." Wanita itu mengangguk kemudian membawa mawar-mawar segar yang baru saja Luna petik ke dalam rumah.


Zian mulai merasa jenuh, menungguh adalah hal yang paling dia benci dalam hidupnya dan sekarang dia harus menunggu. Sudah lima belas menit tapi orang yang dia tunggu tidak kunjung datang dan menampakkan batang hidungnya.


Zian memperhatikan sekelilingnya, dia berfikir bila si pemilik rumah begitu menyukai bunga mawar karna banyak sekali hal yang berbau mawar di rumah ini mulai dari lukisan sampai pengharum ruangan. Zian memang tidak bisa mengingat apapun, jadi dia tak banyak tau tentang gadis bermarga Leonil tersebut.


"Zian, maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Ucap Luna penuh sesal.


Perhatian Zian teralihkan seketika, pemuda itu menoleh pada sumber suara dan mendapati seorang dara jelita dalam balutan dress biru soft bermotif bunga, rambut panjangnya yang berwarna cerah di biarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya berjalan menghampirinya.


Zian menarik sudut bibirnya menyambut kedatangan Luna. Gadis itu begitu cantik pagi ini, dan hal itu semakin membuat Zian ingin memilikinya dan menjadikan Luna sebagai kekasihnya.


"Tumben pagi-pagi kau kemari, tidak biasanya dan apakah kau tidak pergi bekerja?"


"Hari ini aku free dan sudah mengosongkan semua jadwalku. Mesin saja butuh istirahat apalagi otak." Luna mengangguk membenarkan apa yang Zian katakan. "Ganti pakaianmu, aku ingin membawamu ke suatu tempat. Sebaiknya pakai celana saja, karna hari ini aku membawa motor bukan mobil,"


Luna menggeleng. "Aku terlalu malas untuk mengganti pakaianku. Lagipula aku masih memakai celana pendek sebagai dalaman dressku, jadi kau tidak perlu merasa cemas ketika dressku berkibar karna tertiup angin," ujar Luna memaparkan.

__ADS_1


"Hn, baiklah. Terserah kau saja,"


Luna menatap Zian untuk sejenak. Mata coklatnya memperhatikan penampilan pemuda itu. Sebuah jeans hitam membingkai kaki panjangnya, t-shirt putih lengan pendek yang dibalut vest hitam v-neck berkombinasi abu-abu gelap. Rambut blondenya di tata menyamping dan hampir menutupi mata kirinya yang tertutup benda hitam bertali. Zian begitu tampan, dan untuk sesaat gadis itu melupakan bagaimana caranya untuk bernafas.


"Kenapa kau terus menatapku? Apakah ada yang aneh di wajahku?" tanya Zian memastikan.


Luna menggeleng. "Tidak ada, ya sudah kita berangkat sekarang," Luna memeluk lengan Zian dan keduanya berjalan beriringan menuju halaman, di mana motor Zian di parkirkan.


-


"AARRKKHHH..."


Brakk...


Amanda membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Dia marah dan kesal saat melihat video tentang kedekatan Zian dan Luna yang baru saja dia terima. Amanda merasa tidak terima karna Zian lebih memilih Luna dibandingkan dirinya.


Amanda bangkit dari duduknya dan bergegas pergi. Dia akan menemui nyonya Dahlia dan melaporkan perbuatan Zian dan Luna padanya.


Namun setibanya di sana, bukan nyonya Dahlia yang dia temui melainkan Shea. Gadis itu memblokir jalan Amanda dan tak mengijinkannya untuk masuk. "Mama sedang tidak ada, sebaiknya kau pergi karna pintu rumah ini tertutup untuk ular betina sepertimu,"


"Kau!!" Amanda menggeram marah dan menunjuk Shea tepat di depan wajahnya."Sangat menyebalkan," kemudian Amanda berbalik dan pergi begitu saja.


Shea tersenyum sinis melihat kepergian Amanda. Sangat jelas terlihat jika gadis itu sangat tindak menyukai Amanda."Shea, siapa yang datang?" seru sebuah suara dari arah belakang. Sontak, Shea menoleh kemudian menggeleng.


"Bukan siapa-siapa, Ma. Hanya orang salah alamat saja," ucapnya dan pergi begitu saja.


Sebenarnya nyonya Dahlia sedang tidak pergi kemana-mana, dia ada di rumah. Dan Shea sengaja mengatakan pada Amanda jika ibunya sedang tidak ada di rumah.


"Oya, Shea. Apa kau melihat ponsel, Mama? Mama sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ketemu,"


"Tidak melihat, Ma. Mungkin saja Mama menjatuhkannya di suatu tempat. Sudahlah, aku ke kamar dulu. Aku harus bersiap-siap. Aku ada janji dengan teman-temanku,"


Shea mengunci pintu kamarnya. Gadis itu mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ada di saku celananya. Itu adalah ponsel milik ibunya. Shea sengaja mengambilnya supaya si belut Amanda tidak visa menghubunginya. Shea membawa ponsel itu ke kamar mandi kemudian menasukan ke dalam bak mandi. Layar ponsel yang sebelumnya menyala terang dan terus bergetar tiba-tiba mati hanya dalam hitungan detik ssja.


"Amanda Roberto. Tidak akan aku biarkan kau terus meracuni pikiran ibuku, tidak akan pernah!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2