
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM. Tinggalkan like komentnya juga ya 🙏🙏🙏
-
Rasanya Luna ingin sekali mengutuk Zian yang sudah membuatnya tidak bisa berjalan hari ini. Bagaimana tidak, Zian menyerangnya tak lama setelah mereka bangun. Dan endingnya dia harus berjalan dengan sedikit bersusah payah seperti ini.
Zian yang sedang disibukkan dengan pekerjaannya mengerutkan dahi melihat cara jalan Luna yang sedikit aneh."Sayang, you oke?" tanya Zian mememastikan.
"Buruk!!" Luna menyahut cepat Tatapannya nyalang dan tidak bersahabat. "Ini semua karnamu, Oppa. Jika saja kau bisa lembut sedikit saja, pasti aku tidak akan tersiksa seperti ini. Uhh, Miss-Ku rasanya panas dan sangat perih." Keluh Luna. Wanita itu sedikit meringis.
"Hn, jadi karna hal itu. Baiklah, hari ini aku akan menjadi kakimu, aku akan menggendongmu kemanapun kita pergi, bagaimana?" Zian menatap Luna yang juga menatap padanya.
"Dan membuatku terlihat seperti wanita cacat?" Luna menyela cepat. "Oh, tidak, Oppa. Lebih baik aku berjalan sendiri karna kondisiku tidak seburuk itu. Dan bisakah kau menghubungi Reno? Suruh dia membelikan bedak bayi untukku, aku membutuhkan itu untuk mengatasi rasa perih di paha dalamku." tutur Luna.
"Baiklah,"
Perbincangan Zian dan Luna diintrupsi oleh suara dering pada ponsel milik pria itu. Zian bangkit dari duduknya dan mendapati nama Nathan tertera pada layar ponselnya. Tanpa membuang banyak waktu, Zian segera menerima panggilan tersebut.
"Yeobseo. Ada apa, Hyung?"
"Zian, apakah Rio, Satya dan Frans sudah tiba? Aku sudah mencoba menghibungi salah satu dari mereka tapi ponselnya tidak ada yang aktif,"
"Apa? Mereka bertiga ada di sini?" kaget Zian dan membuat Luna langsung menoleh padanya, menatap suaminya itu penasaran. "Tapi mereka belum tiba, dan mereka juga tidak menghubungiku maupun Luna sama sekali," jelas Zian.
"Zian, tolong segera cari dan temukan mereka. Aku takut mereka dalam masalah, aku benar-benar tidak bisa tenang," tutur Nathan.
"Baiklah, aku dan Luna akan segera mencari mereka,"
Zian memutuskan sambungan telfonnya kemudian memasukkan ke dalam saku celananya. "Oppa, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Luna melihat wajah panik Zian.
"Nathan hyung menghubungiku dan memberitauku jika Satya, Rio dan Frans sedang berada di Kota ini. Kira-kira sudah tiga hari mereka berada di Berlin. Luna, sebaiknya kau bersiap-siap, kita harus mencari mereka," tutur Zian
Luna mendesah berat. "Tidak di Negeri orang, tidak di Negeri sendiri. Mereka bertiga selalu saja membuat masalah. Ahhh... Sialan, kenapa semakin perih saja rasanya. Dasar, Zian Qin gila. Ini semua gara-gara dia. Jika saja dia tidak terlalu kasar pasti aku tidak akan tersiksa seperti ini!!" Luna terus saja menggerutu, menghujani Zian dengan berbagai sumpah serapahnya.
Zian mendengus seraya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dia merasa geli sendiri. Sembari menunggu Luna yang sedang berganti pakaian. Zian menghubungi Reno dan memintanya supaya membantu mencari keberadaan trio kadal yang kemungkinan besar sedang menderita di luar sana.
Zian bangkit dari duduknya saat melihat Luna kembali dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda. "Sudah siap?" Luna mengangguk.
Luna memperhatikan penampilan Zian. Pria itu hanya memakai vest tanpa luaran ataupun dalaman. "Oppa, kau yakin akan pergi dengan pakaian seperti ini?" Luna menatap Zian penasaran.
"Memangnya kenapa?"
"Ini adalah musim dingin. Kau bisa mati membeku jika keluar hanya dengan satu lapis pakaian, sudah begitu pakaian lengan terbuka pula. Lagipula apa kau ingin membuat wanita-wanita diluaran sana menjerit histeris karna melihatmu yang begitu sexy dan panas dalam balutan vest ini?" ujar Luna.
"Aku fikir kau menyukainya. Karna sedari tadi kau tidak meloloskan tatapanmu dari lenganku?" Zian menyeringai membuat Luna langsung mati kutu.
__ADS_1
Wajah Luna memerah karna malu. "I-Iya, itu memang benar. Tapi,,, tapi,,, tapi,,, Ahhh.. Sudahlah, lupakan saja. Sebaiknya kita berangkat sekarang," Luna menyerahkan sebuah jas pada Zian dan meminta pria itu memakainya. Luna benar-benar tidak rela jika lengan sexy suami-nya sampai di lihat oleh wanita lain.
-
Rio, Frans dan Satya tidak menyangka jika mereka akan mengalami saat-saat terburuk dalam hidupnya. Terombang-ambing di negeri orang tanpa tau arah dan jalan.
Selama tiga malam mereka harus tidur di emperan toko karna kepayahannya dalam berbahasa. Bisa saja mereka pergi ke Hotel berbintang lima jika saja salah satu dari mereka fasih berbahasa Inggris ataupun Jerman. Tapi nyatanya mereka bertiga benar-benar payah.
"Paman, ayo kita pulang saja. Aku tidak ingin di sini lagi. Kota ini memang indah tapi seperti neraka. Ayo kita pulang, aku ingin pulang," Rio merenggek dan menangis karna ingin pulang.
Dia tidak mau berada di tempat asing ini lebih lama lagi. Rio tidak mau hidup menggelandang seperti para tuna wisma. Dia ingin pulang ke Negera asalnya, yakni Korea.
"Bukan hanya kau saja yang ingin pulang, bocah. Kami juga ingin pulang, tapi..."
"Tapi apa lagi, Paman?" Rio menyela cepat. "Ayo kita pulang. Huaa... Aku ingin pulang," Rio menangis histeris.
Satya dan Frans memeluk Rio dan mereka bertiga menangis berjamaah. Bahkan mereka tidak peduli meskipun sekarang jadi pusat perhatian.
Dan disaat bersamaan. Reno yang memang sedang mencari mereka tanpa sengaja melihat keberadaan ketiga pemuda itu. Reno langsung menghampiri mereka bertiga. "Frans, Rio, Satya," seru Reno. Ketiganya mdnoleh.
Seperti mendapatkan angin segar saat mereka mihat keberadaan Reno. Satya, Rio dan Frana langsung berdiri dan menghampiri pria itu. "Huuaaa..." tubuh Reno terhuyung kebelakang karna pelukan mereka. "Hiks, setelah terombang-ambing tanpa kepastian. Akhirnya kami bertemu denganmu juga. Huaa..." Rio kembali histeris. Pemuda itu menangis sejadi-jadinya.
Reno menjadi sangat panik dan kebingungan. Sudah payah dia berusaha menenangkan Rio. "Cup,,, cup,,, cup,,, jangan menangis lagi ya. Kalian sudah aman sekarang. Sebaiknya kita cari cafe saja. Kita tunggu, Zian dan Luna di sana. Mereka juga sedang mecari kalian," ujar Reno.
"Huaaa... Kebetulan sekali, kami bertiga memang sedang kelaparan, Paman." Ucap Frans sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
YEEE...!! MAKAN!!"
-
"Reno sudah menemukan mereka bertiga, dan sekarang mereka ada di cafe di sekitar sini. Sebaiknya kita susul mereka,"
"Huh. Aku sudah tidak sabar untuk mengomeli mereka bertiga," Luna tampak begitu berapi-api.
Zian mendengus, menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Wajar jika Luna merasa kesal setengah mati pada mereka bertiga. Mereka membuat semua orang panik dan kalang kabut dibiatnya.
Zian menghidupkan kembali mobilnya. Dan dalam hitungan detik mobil mewah itu melaju tenang pada jalanan kota yang lumayan padat.
Setelah lebih dari lima belas menit berkendara. Mereka berdua tiba di cafe tempat Reno dan ketiga bocah itu berkumpul. Luna turun dari mobil Zian dengan tidak sabaran. Luna masuk ke dalam cafe dan menghampiri empat laki-laki yang sedang menyantap makan siangnya dengan tenang.
"Aaahhhh...!! Sakiiitttt," Rio dan Satya menjerit histeris karna jeweran pada telinganya. "Huaaa... Nunna, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menjewer telinga kami?" protes Satya sambil mengusap telinganya yang di jewer oleh Luna.
"Bagus aku hanya menjewer telinga kalian. Padahal aku ingin sekali menggantung kalian hidup-hidup. Kalian bertiga membuat panik semua orang, APA KALIAN SADAR ITU??"
Tubuh ketiga pemuda itu menegang melihat kemarahan Luna yang begitu mengerikan. Melihat gadis itu marah membuat bertiga seperti uji nyali. Bukan rahasia lagi jika Luna akan begitu mengerikan ketika dia sedang marah.
"Nunna, maaf. Huaaa... Ampuni kami, kami sungguh tidak ingin membuat masalah apalagi membuat kalian semua khawatir." Tutur Frans.
__ADS_1
Luna mendengus. "Baiklah, kali ini aku akan memgampuni kalian bertiga. Sebaiknya habiskan makanan kalian kemudian kita kembali ke Hotel. Kalian pasti sangat lelah karna menggelandang selama tiga hari tiga malam," ujar Luna.
"Huaaa...!! Gomawo, Nunna. Kau memang baik. Kami menyayangimu!!" seru Satya dan berhambur memeluk Luna, di susul Frans dan Rio.
"Aku juga menyayangi kalian," ucap Luna dan membalas pelukan mereka bertiga.
-
Malam pun bertandang, matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Bersamaan dengan itu, awan yang diselimuti kabut perlahan datang menumpahkan ribuan bahkan jutaan partikel putih ke seluruh daratan yang ada dibawahnya.
Salju kembali turun membasahi permukaan kota Berlin. Semua aktivitas sedikit terhambat oleh kedatangan salju yang begitu mendadak, namun kecantikan kota Berlin di malam hari kian terlihat romantis.
Interior bangunan-bangunannya yang minimalis dan klasik, menciptakan esensi keindahan tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya. Terlebih dengan paduan warna-warni yang dihasilkan oleh gemerlapnya lampu pertokoan, perkantoran serta lampu dari berbagai kendaraan yang melaju di jalan raya.
Cantik dan mengagumkan...
Luna memang sangat mengagumi keindahan kota Berlin apalagi ketika malam tiba. Wanita itu berdiri di balkon kamarnya. Memandang keindahan kota dari lantai dua puluh hotel tempatnya menginap.
Luna menoleh saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan menghampirinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat siapa yang datang."Oppa, lihatlah salju-salju itu. Bukankah sangat mengagumkan?" Luna menunjuk salju yang turun di luar sana.
"Ya, sangat indah dan mengagumkan,"
Luna menyandarkan punggungnya pada dada bidang yang tersembunyi di balik kemeja hitam dan mantel abu-abu itu. Suhu udara malam ini turun lagi hingga ke titik terendah. Jadi wajar jika malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.
"Oppa,"
"Hm,"
"Kenapa aku belum hami sampai detik ini? Ini adalah bulan ke enam kita menikah, tapi kenapa belum ada tanda-tanda jika aku akan segera hamil. Apa mungkin aku ini mandul?"
Zian melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Luna hingga posisi mereka saling berhadapan. Tatapannya berubah dingin dan tatapannya sedikit tajam. "O-Oppa, kenapa kau menatapku seperti itu?" Luna sedikit merinding melihat tatapan Zian.
"Berhentilah berbicara sembarangan, Luna Qin!! Kau belum hamil karna Tuhan belum mempercayai kita untuk menjaga titipannya. Jika waktunya telah tiba, kau pasti akan hamil. Jadi jangan berfikir yang tidak-tidak. Sudah malam, sebaiknya kau segera tidur," Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.
Luna menundukkan wajahnya. Sungguh, dia sangat menyesali ucapannya. Tidak seharusnya dia berbicara sembarangan dan membuat Zian marah.
"Oppa, mianhae," lirih Luna penuh sesal. Wanita itu menundukkan wajahnya, bulir-bulir air mata tampak mengalir dari sudut matanya.
Zian mendesah berat. Menghampiri Luna kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, ya sudah, sebaiknya kita tidur. Ini sudah larut malam. Lain kali jangan bicara sembarangan lagi," Zian melonggarkan pelukannya. Jari-jari besarnya kemudian menghapus air mata di pipi Luna.
Luna menakup sisi wajah Zian. Kemudian jari-jari lentiknya menyentuh pelipis Zian yang masih tertutup perban. Ini hari kedua Zian terluka, dan lukanya masih basah. Hal itu terbukti dengan darah segar yang menyembul pada permukaan kasanya.
"Baiklah, ayo kita tidur,"
-
Bersambung.
__ADS_1