
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang ganti juduI jadi SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Zian memarkirkan mobilnya di halaman luas kediaman keluarga Qin. Pria itu terlihat keluar sambil menenteng sebuah bingkisan yang berisi mangga muda dan beberapa jenis makanan lainnya, yang semua adalah pesanan Luna.
Hari ini istri cantiknya itu ngidam ingin memakan sesuatu yang asam dan pedas. Dan Zian membelinya saat dalam perjalanan pulang tadi.
"Oppa," pelukan hangat langsung menyambutnya ketika Zian menginjakkan kakinya di lantai utama kediamannya. "Kenapa lama sekali?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian dengan bibir sedikit dia manyunkan.
Zian membelai helaian panjang Luna yang tergerai. "Aku mampir sebentar untuk membeli mangga muda dan Tteokbokki pesananmu." Zian mengangkat bingkisan di tangannya. Luna tersenyum lebar dan bersorak kegirangan.
"Kkyyyaaa...! Oppa, kau memang yang terbaik. Kupaskan mangga ini untukku," pinta Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.
"Tentu, tapi setelah aku mandi dan mengganti pakaian dulu."Jawabnya.
Luna mengangkat bahunya. "Tidak masalah," dan tersenyum lebar. Zian mengacak rambut Luna dan keduanya berjalan beriringan menuju lantai dua, di mana kamar mereka berada.
Zian langsung melesat pergi ke kamar mandi. Sedangkan Luna pergi untuk menyiapkan pakaian yang akan di pakai suaminya setelah dia mandi.
Cklekk...
Luna membuka walk in closet yang sangat-sangat luas itu, menampilkan deretan jas, kemeja, dress dan berbagai jenis pakaian wanita merek ternama yang menggantung rapi di tempatnya masing-masing.
Jangan lupakan deretan sepatu, tas, perhiasan dan jam tangan koleksi mereka, juga pakaian dalam merek terkenal dalam laci-laci dibagian bawah rak tempat baju sehari-hari mereka telipat.
Luna melangkahkan kakinya memasuki ruangan berukuran luas itu dan mencari baju mana yang harus di pakai suaminya. Dan setelah hampir lima menit memilih-milih, pilihan Luna jatuh pada sebuah kemeja denim lengan terbuka dan sebuah singlet hitam. Tak ketinggalan celana panjang yang senada dengan warna kaus dalamnya. Luna tersenyum lebar
Di bandingkan harus melihat Zian memakai pakaian lengan panjang. Luna lebih menyukai jika suaminya itu memakai pakaian lengan terbuka. Apalagi sejak kehamilannya, dia paling tidak bisa jauh-jauh dari lengan suaminya ketika dia berada di rumah.
Kemudian Luna membawanya keluar dan tepat setelah dia menutup pintu bercat coklat itu, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Zian yang keluar hanya dengan sebuah handuk yang melingkari pinggulnya.
Aroma maskulin yang begitu khas langsung menyeruak dan berkaur di dalam hidung Luna. Luna menghampiri Zian dan langsung memeluknya. Kedua tangannya mengalung pada leher Zian.
Zian memiringkan wajahnya dan mencium singkat bibir tipis Luna. "Oppa, aku sudah memilihkan pakaian untukmu." Luna menunjuk pakaian pilihannya yang dia letakkan di atas tempat tidur. Zian mendengus geli, dia sudah menduga jika Luna akan memilihkannya pakaian lengan terbuka.
"Mulai lagi," Luna terkekeh.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak ingin menuruti permintaan istrimu yang cantik ini? Lagipula ini bukan permintaanku, tapi permintaan baby Qin yang ada di dalam perutku." Luna mengusap perutnya yang belum ketara karena baru 15 Minggu.
Zian menghela nafas. "Baiklah, aku akan memakainya." Luna langsung tersenyum lebar dan bersorak senang. Endingnya sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya."Dasar kau ini," Luna terkekeh. Zian melepaskan pelukan Luna dan segera memakai pakaiannya.
Melihat Zian yang sudah berpakaian lengkap, membuat Luna tersenyum lebar. Wanita itu begitu puas melihat pakaian pilihannya yang kini melekat sempurna di tubuh suaminya.
"Wow, lihatlah Oppa. Kau sangat tampan, Ani... Tapi sangat-sangat tampan dengan pakaian itu. Bukankah aku stylis yang hebat." Luna membanggakan dirinya sendiri. Dan Zian hanya bisa mendengus geli.
Sebuah jitakan mendarat pada kepala coklat Luna. "Dasar kau ini. Ya sudah, ayo kita turun. Tteokbokki-nya keburu dingin kalau tidak segera di makan." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
-
"Tidak mau, pokoknya Laurent ingin pergi berkencan, titik!!"
Gadis kecil itu terlihat merajuk dan ngotot ingin pergi berkencan setelah dia mendengar dari Satya, Rio dan Frans jika memiliki teman kencan dan pergi dengan teman kencannya itu sangat menyenangkan.
"Ck, kau itu masih bocah. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak! Lagipula kau pikir kencan itu apa?" sahut Lucas menimpali.
Laurent menoleh dan menatap sinis saudara kembarnya itu. "Cih, memangnya siapa yang meminta pendapat darimu? Lagipula maniak game sepertimu tau apa?" Laurent tak mau kalah.
"Cukup kalian berdua!!" suara dingin ayahnya menghentikan perdebatan sepasang anak kembar itu. Sepertinya Nathan sudah tidak tahan lagi dengan perdebatan kedua buah hatinya. "Dan kau Laurent, kemarilah... Papa ingin bertanya padamu,"
Takut-takut Laurent menghampiri sang ayah. Dia menunduk karena takut jika Nathan akan memarahinya. "Sekarang Papa tanya padamu, memangnya siapa yang mengajarimu tentang hal-hal yang seharusnya di lakukan oleh orang dewasa?" tanya Nathan dengan tegas.
Keringat dingin mulai mengucur deras dari kening mereka melihat tatapan Zian yang seolah-olah ingin menerkam. Ketiganya mengangkat tangannya, dan jarinya membentuk huruf V.
"Sudahlah, Pa. Langsung di hukum saja manusia menyesatkan seperti mereka," seru Lucas tanpa mengalihkan fokusnya dari game di genggamannya.
"Yakk!! Bocah, kenapa kau malah meracuni pikiran Nathan Hyung?" pekik Satya.
"Siapa suruh kalian mengajari bocah cengeng itu sesuatu yang menyesatkan. Bagus Papa tidak langsung mengirim kalian ke Antartika." Lucas melirik tajam mereka bertiga.
"Astaga, Paman. Kenapa kau harus menurunkan sifat mengerikamu itu pada dia juga." Keluh Rio.
Sementara itu, Viona yang sedang sibuk mengecek data-data pasiennya hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat keributan yang terjadi di rumahnya. Dan Viona tidak tau hukuman seperti apa yang akan mereka terima dari Nathan karena sudah mengajari yang tidak-tidak pada putri mereka.
-
Sinar matahari yang menyeruak masuk melalui celah-celah jendela membuat dua orang yang masih terlelap di atas ranjang empuknya itu mulai terusik. Sekarang sudah pukul tujuh dan hanya rumah pasangan Qin yang tidak menampakan tanda-tanda kehidupan sedari pagi.
__ADS_1
Padahal, biasanya rumah itu yang selalu memulai aktivitasnya paling awal, mendahului orang lain di komplek perumahan newah itu. Tapi, para tetangga pun sudah tidak heran. Kejadian ini memang terjadi sesekali.
Zian Qin mengernyit, berusaha menghalau sinar matahari dengan lengannya, sebelum akhirnya kelopak mata itu terbuka perlahan dan menampilkan mata abu-abu yang mampu membius orang lain terjerat dalam pesonanya. Dan haal yang pertama kali menangkap indra penglihatannya membuat seulas senyum terpantri di bibirnya. Bukan pemandangan luar biasa seperti pemandangan kota Seoul di pagi hari.
Bukan juga pemandangan halaman rumahnya yang dipenuhi berbagai bunga bermekaran. Melainkan hanya sebuah pemandangan yang terlampau biasa bagi pasangan lain, tapi begitu berkesan bagi mereka, bagi Zian, untuk melihat wajah tidur istrinya di sampingnya.
Masih dengan senyuman, tangannya yang besar terangkat mengusap wajah wanita yang berbaring di sebelahnya. Matanya menyusuri setiap lekuk dari wajah yang ia kagumi itu. Zian kembali mengurai senyum tipis di bibir Kissable-nya.
Kecupan dan usapan yang Zia berikan pada kening dan rambut Luna membuat wanita itu mengernyit. Bibirnya mengeluarkan lenguhan pelan sebelum mulai membuka kelopak matanya perlahan.
"Maaf, aku jadi membangunkanmu," suara serak Zuan memenuhi pendengaran Luna yang kini mengurai senyun.
Dia merapat ke arah Zian dan menyandarkan wajahnya di dada suaminya yang tersembunyi di balik singlet hitamnya. "Oppa, jam berapa ini?" tanya Luna. Matanya menyipit, menghalau sinar matahari yang serasa menusuk retina matanya.
"Baru jam tujuh," jawabnya singkat.
"Ah, lalu kenapa kau tidak membangunkanku?"
Luna beranjak dari berbaringnya kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu dia membuka tirai dan membuat ruangan yang semula gelap seketika menjadi terang.
Luna berjalan menuju balkon di ikuti Zian setelah pria itu mencuci muka dan menggosok giginya.
Zian memeluk Luna dari belakang. Baginya tidak ada pemandangan yang lebih indah selain makhluk mungil menggemaskan yang ada dipelukannya saat ini, dengan dress biru bermotif bunga berpadu cardigan putih, maka dapat dipastikan sosok ini semakin sempurna dimata nya.
Zian tersenyum tipis. Saat ini ia dan Luna sedang berdiri di balkon kamar mereka menikmati suasana pagi yang masih alami. Semilir angin pagi yang terasa segar terasa begitu sejuk ketika menyentuh kulit mereka yang terbuka.
Luna menyandarkan punggungnya pada dada bidang suaminya yang hanya tertutup singlet hitamnya. Sedangkan kedua tangan Zian memeluk perut Luna dengan hangat. "Oppa, apa kau bisa merasakannya? Detak jantungnya, hembusan nafasnya. Semua terasa nyata saat aku menutup mataku." Ucap Luna sambil menuntun perut Zian untuk mengusap perut Luna yang masih belum terlalu ketara.
Zian menutup matanya. Merasakan kehadiran kehidupan lain di dalam perut istrinya. Dada Zian rasanya ingin meledak, darah dalam tubuhnya berdesir, rasanya begitu luar biasa. Sampai-sampai Zian tak kuasa menahan rasa harunya.
Zian membalik tubuh Luna, posisi mereka saling berhadapan. Zian menakup wajah Luna dan mencium singkat bibir ranumnya. "Aku bahagia," ucap Zian dan kembali mengecup bibir Luna. "Memilikimu di sisiku, kau adalah mimpi terindah yang Tuhan berikan padaku. Terimakasih, Sayang. Karena telah melengkapi hidupku," bisik Zian. Kemudian menarik Luna ke dalam pelukannya.
Luna menutup matanya. Wanita itu mengangkat kedua tangannya, dan dengan senang hati membalas pelukan Zian. Luna sangat bahagia, dia benar-benar bahagia memiliki suami seperti Zian. Zian bukan hanya sekedar suami untuknya, tapi dia adalah sumber tersebar dari kebahagiaan dalam hidupnya.
"Aku bersiap-siap dulu. Ada Meeting penting dengan Kolega dari luar negeri satu jam lagi," Luna mengangguk. Zian mengecup kening Luna dan pergi begitu saja.
Luna masuk tak lama setelahnya. Dia harus menyiapkan setelan jas yang akan Zian pakai hari ini.
Satu set jas telah Luna siapkan di atas tempat tidur. Kemudian dia pergi keluar untuk menyiapkan kopi dan beberapa potong roti untuk sarapan. Zian tidak merasa keberatan meskipun setiap paginya dia hanya menyantap roti tawar dan selai sebagai sarapan.
__ADS_1
-
Bersambung.