Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 12 "Ingin Hidup Bersamamu"


__ADS_3

Hampir tiga jam mereka berkeliling tanpa arah dan tujuan. Lelah berjalan terlalu lama, Viona memutuskan untuk di dek kapal diikuti oleh Nathan yang kemudian juga duduk disampingnya. Mereka sama-sama memandang langit biru dengan berselimut awan putih tipis. Matahari tidak terlalu terik, cuaca hari ini sangat bersahabat. Nathan menoleh dan melihat Viona tengah menutup mata sambil menikmati angin laut.


"Apa kau percaya pada yang namanya cinta pada pandangan pertama?" tanya Nathan yang sontak membuat Viona membuka kembali matanya lalu menoleh dan menatap pemuda disampingnya.


Degg!!


Jantung Viona baru saja berdegup mendengarnya. Apa yang baru saja dimaksud oleh laki-laki itu? Bagaimana dia harus menjawabnya? Nathan masih menatap Viona tanpa mengakhiri kontak matanya. Kemudian beralih menatap langit dengan pandangan menerawang.


"Sebenarnya aku kesini bukan hanya ingin menemukan arti cinta, tapi karna aku ingin menghindari seseorang. Dia bernama Cherly. Hubungan kami terjalalin tanpa dilandasi cinta, aku menerimanya karna merasa kasihan dan sekarang aku ingin hubungan kamu berakhir. Tapi masalahnya tidaklah sesederhana itu."


Kali ini. Dari sudut hatinya, Viona merasa tidak rela saat mengetahui jika Nthan telah termiliki. Seperti ada yang mengganjal didalam hatinya saat pria itu meyebutkan nama kekasihnya.


"Lalu, jika memang kau sudah tidak mencintainya kenapa masih dipertahankan dan tidak diakhiri saja?"


"Karna aku masih menunggu waktu yang tepat dan aku berfikir untuk mengakhiri hubungan kami setelah kembali dari liburan ini." ujarnya. Matanya masih menerawang langit.


"Adakah wanita yang kau cintai saat ini? Ma-maksudku, seseorang yang diam-diam telah mencuri hatimu." Viona merutuki dirinya sendiri, bagaimana dia bisa bertanya seperti itu pada Nathan. Ia hanya ingin tau, memangnya seperti apa wanita yang mampu meluluhan hati seorang pria dingin Nathan.


"Hm." Nathan mengangguk. "Dan itu adalah sebuah cinta pada pandangan pertama. Sosoknya begitu anggun dimataku. Dan dalam sekejap, dia mampu membuat hatiku terpikat. Dengan sangat mudah dia merebut hatiku."


"La-lalu, apa kau sudah pernah mencoba mengatakan padanya?" tanyanya penasaran. Nathan menggeleng.


"Belum secara lisan, namun aku sudah mengatakannya melalui pancaran mata dan sikapku. Jika dia memang peka pasti dia akan melihat perasaan itu dimataku."


Viona membuang muka. Ia merasa sakit didadanya. Entah kenapa ia merasa tidak rela saat mengetahui jika Nathan mencintai wanita lain. Viona tersenyum pahit. "Pasti beruntung sekali gadis itu karna dicintai oleh laki-laki sepertimu. Jika tidak keberatan, bisakah suatu saat kau kenalkan dia padaku? Bukankah kita berteman."


"Kenapa aku harus menceritakannya padamu, sedangkan orang itu ada dihadapanku. Jika kau ingin tau siapa wanita itu, wanita itu ada didepanku. Kaulah orang itu, Viona. Kaulah gadis anggun yang sudah membuatku terpikat sejak aku pertama menatap matamu. Aku ... jatuh cinta padamu Viona Anggella." Ucap Nathan sambil menatap dalam manik hazel Viona membuat mata gadis itu membulat saking kagetnya.


Viona membekab mulutnya. "Na-Nathan!"


"Aku tau ini salah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku jika aku memang sudah jatuh cinta padamu." Nathan meraih tengkuk Viona dan mencium singkat bibirnyal "Meskupun hanya singkat, ijinkan aku memulai kisah ini denganmu. Karna aku tau, karna pada akhirnya kau akan kembali kedalam pelukannya."


Viona merasakan jika matanya mulai memanas. Dadanya bergemuruh hebat, rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dadanya mendengar kalimat terakhir Nathan. Viona berhambur ke dalam pelukkan Nathan.


Gadis itu merasa bingung dengan perasaannya, harus merasa bahagia atau malah sebaliknya. Dan untuk saat ini Viona tidak ingin memikirkan apapun. Ia tidak bisa menolak perasaan Nathan yang sudah masuk ke dalam hatinya. Karna pada kenyataannya, Viona juga sudah jatuh cinta padanya.


-


Lampu dalam kamar itu sudah dimatikan sejak beberapa waktu yang lalu, di depan sebuah monitor yang menyala terang terlihat seorang pria yang duduk dengan tenang berhadapan dengan monitor tersebut. Jari-jarinya bergerak dengan lincah diatas keyboard dan sesekali tangannya berpindah pada mouse yang berada disebelah keyboardnya.


Wajah tampan tanpa ekspresi itu menunjukkan keseriusan saat melihat rentetan kata yang memenuhi layar monitornya. Laki-laki itu kembali beraksi dengan segala kemampuan dan pengetahuannya di bidang informasi dan teknologi yang menjadi salah satu keahliannya. Jari-jarinya kembali menari diatas keyboard laptop-nya 'Objektive Complate', laki-laki itu menyeringai kemudian menekan tombol enter dengan cukup keras.

__ADS_1


"Cih! Ternyata mereka hanya kumpulan orang-orang bodoh." Ujar laki-laki itu di iringi seringai meremehkan.


Tidak ada virus, mata-mata, penyidik atau apapun itu yang bisa dia temukan didalam sistem perusahaan yang sedang ia retas datanya. Dan hal itu tentu saja semakin mempermudah pekerjaannya .


Melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya, waktu sudah menunjuk angka 11 dan artinya sudah lebih dari satu jam dia duduk diruangan itu. Mematikan layar monitornya lalu bangkit dari duduknya untuk menyalahkan penerangan dalam ruangan itu.


Drettt Drettt Drettt!!


Langkah kakinya terhenti karna dering pada ponselnya yang ada di atas nakas. Laki-laki itu yang tak lain adalah Nathan berbalik dan menatap ponselnya yang layarnya menyala terang. Melangkah tenang, Nathan meraih ponsel itu lalu mengangkatnya


"Ada apa, Rio?"


^Paman, kau dimana? Aku melihat nunna cantik sedang diam termenung di dek kapal dan dia terlihat kesepian. Sebaiknya kau kesana dan temani dia.^ seru seseorang di sebrang telfon.


"Baiklah, aku akan kesana." jawab Nathan lalu memutuskan sambungan telfonnya.


.


.


^Tunggu aku ,sayang. Minggu depan aku akan kembali ke Korea untuk mempersiapkan pernikahan kita.^


Viia menutup matanya rapat-rapat , kata-kata Leo kembali terngiang di telinga dan memenuhi fikirannya. Ia belum siap jika harus menikah muda. Viona masih ingin menikmati masa mudanya dan menitih karirnya untuk menjadi seorang dokter bedah yang hebat.


Tapi masalahnya laki-laki itu adalah Leo, dan Leo sudah mengambil keputusan sepihak agar dia berhenti dari pekerjaannya jika mereka telah menikah. Padahal menjadi seorang dokter yang hebat adalah cita-cinta Viona sejak dia masih kecil.


Viona masih duduk termenung di dek kapal, memikirkan nasibnya setelah dia menikah dengan Leo. Nasi sudah menjadi bubur, dan apa boleh buat ia tidak mungkin bisa menolaknya apalagi sampai lari dari pernikahan itu mengingat jika itu adalah keinginan terakhir dari orang tuanya sebelum mereka meninggal. Ayah dan Ibunya menitipkan Viona pada Leo untuk dijaga dan dinikahi.


Viona menarik kedua kakinya, melingkarkan tangannya untuk memeluk lututnya dan menyembunyikan wajah diantara kedua kakinya. Nathan datang dan menghampiri Viona yang terlihat begitu menyedihkan.


Pukkk!!


Sentuhan lembut pada bahunya membuat Viona mau tidak mau mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria berdiri didepannya. Tapi sayangnya Viona tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas karna terhalau air matanya sendiri. "Vio, kau tidak apa-apa?" tanya orang itu memastikan.


"Nathan, kaukah itu.?" alih-alih menjawab, Viona malah balik bertanya.


Gadis itu menghapus air matanya dan terlihatlah wajah Nathan yang menatapnya penuh kecemasan dengan jelas. "Nathan," Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karna pelukan Viona yang sangat tiba-tiba. Nathan yang kebingungan mengangkat tangannya dan membalas pelukan gadis itu.


"Viona, ada apa? Kenapa kau menangis?"


"Aku tidak ingin menikah dengannya. Aku tidak pernah mencintainya. Aku sungguh-sungguh tidak ingin menikah dan hidup dengannya. Katakan padakum katakan padaku aku harus bagaimana?" lirih Viona ditengah isakannya.

__ADS_1


Jari-jarinya meremas vest yang menjadi lapisan luar t-shirt lengan pendek press body yang Nathan kenakan, tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karna ulahnya.


Nathan menutup matanya , hatinya terasa seperti diremas mendengar isakan gadis itu. Rasanya begitu sesak hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. Hati kecilnya tidak akan pernah rela jika gadis penolongnya itu dinikahi dan menjadi milik orang lain. Bukan karna Nathan masih memiliki hutang budi dan hutang nyawa pada Viona, tapi karna Nathan memang sudah jatuh cinta pada dokter cantik itu sejak pertama kali menatap mata hazelnya.


"Apa sesuatu telah terjadi? Jika kau mau, kau bisa bercerita padaku." Nathan melepaskan pelukannya dan menatap mata hazel Viona yang juga menatapnya. "Kau mempercayaiku bukan?" Viona mengangguk.


Akhirnya Viona pun menceritakan semuanya pada Nathan dari awal sampai akhir tanpa ada satu pun yang terlewat termasuk tentang kembalinya Leon dari luar negeri dan rencana pernikahan mereka. Sepanjang Viona bercerita, Nathan tidak memberikan tanggapan apa pun.


Nathan melihat berbagai ekspresi pada wajah Viona saat menceritakan yang dia alami setelah kepergian orang tuanya, jari-jarinya juga tidak pernah lelah menghapus tiap bulir air mata yang mengalir dari mata hazel itu.


Nathan yang biasanya tidak pernah peduli pada orang lain terlebih itu pada wanita, justru kali ini menunjukkan sikap yang berbeda pada Viina. Dari caranya menatap, caranya tersenyum dan sikap yang ditunjukkan membuktikan jika Nathan benar-benar mencintai gadis itu.


"Aku tidak pernah mencintainya karna aku mencintai orang lain. Meskipun belum terlalu lama kami saling mengenal, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri jika aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Mungkin yang aku rasakan ini sangatlah salah, tapi jika takdir mengijinkan hanya dengannya aku ingin hidup dan menghabiskan sisa umurku." Ujar Viona mengakhiri ceritanya.


Tapi tidak ada tanggapan. Nathan masih tidak memberikan jawaban apapun. Pria itu hanya diam sambil menatap langsung ke dalam mutiara hazel Viona sedikit datar.


"Bisakah aku keluar dari masalah ini? Dan bisakah aku lepas darinya? Aku benar-benar lelah, bukan hanya tubuhku tapi juga batinku." lanjutnya dengan air mata yang kembali berurai.


"Memangnya dengan siapa kau ingin hidup dan menghabiskan sisa umurmu?" setelah cukup lama diam, akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibir Nathan.


Viona tidak langsung menjawab , mata hazelnya mengunci manik coklat milik Nathan dan menatapnya dalam. Dengan tegas Viona menjawab "Kau. Dengan kaulah aku ingin hidup dan menghabiskan sisa umurku." Tanpa mengakhiri kontak matanya.


Nathan menarik sudu bibirnya. Kemudian dia meraih tengkuk Viona dan melum** bibir ranumnya


"Katakan sekali lagi, Viona Anggella. Aku ingin mendengarnya sekali lagi." Nathan berbisik dan menatap mata Viona , Ia ingin mendengarnya sekali lagi. Kalimat itu dari bibir Viona.


"Aku hanya ingin hidup denganmu dan menghabiskan sisa hidupku." Ucap Viona sekali lagi.


Bibir Nathan kembali menempel pada bibir Viona setelah gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya sedikit mencondong pada Viona dan kedua tangannya membingkai wajah ayu itu. Bibirnya mengecupi bibir Viona perlahan-lahan, kemudian dikec**nya dan dilum**nya lagi. Tangannya mulai berpindah pada punggung dan pinggang Viona, mengintimkan tubuh mereka dan meremasnya lembut.


Kedua tangan Viona yang semula mengepal dikedua sisi tubuhnya perlahan menuju leher Nathan dan memeluknya. Gadis itu menutup matanya saat Nathan memasukkan lidahnya kedalam mulut hangatnya dan mengobrak-abrik isi dalam mulutnya. Mengabsen deretan gigi putihnya dan mengajak lidahnya itu menari bersama.


Sadar Viona membalas ciumannya, Nathan segera memindahkan gadis itu keatas pangkuannya. Beruntung suasana di dek sedang sepi sehingga tidak ada yang melihat apa yang mereka berdua lakukan kecuali tiga pemuda yang melngintip mereka dari persembunyiannya.


Suara pagutan cukup kencang mengakhiri ciuman panas mereka. Diam-diam pria itu menelisik wajah Viona yang memerah dan tersenyum. "Istirahat selesai." Kembali Nathan membekap milik Viona.


Baru saja dia msmberikan waktu singkat pada Viona untuk meraup oksigen. Ciuman mereka kali ini jauh lebih panas dari sebelumnya, ditambah dengan lidah Nathan yang mulai mengeksplorasi mulut Viona . Laki-laki itu kembali mengabsen deretan gigi putihnya dengan bibir Nathan yang masih memagut bibir Viona.


Ciuman ini...? French Kiss? Ughh! Rasanya Viona tidak kuat, belum pernah dia berciuman sepan** ini. Rasanya setiap pergerakan dan gerakan lidah Nathan membuatnya lemas. Ia membutuhkan oksigen....


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2