
Nathan terbangun di tengah malam karna rasa pusing yang luar biasa mendera kepalanya. Susah payah Nathan mencoba untuk merubah posisinya, sebelah tangannya mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. Kemudian Nathan beranjak untuk menemukan di mana letak obatnya, tapi tak ketemu juga.
Tak ingin mengganggu Viona yang sedang tidur, Nathan memutuskan untuk mencarinya sendiri. Tapi bukan Viona namanya jika dia tidak peka. Viona bangun dari posisi berbaringnya dan mendapati Nathan seperti sedang mencari sesuatu.
"Oppa, kau mencari apa?" tanya Viona penasaran.
Nathan mengangkat wajahnya. "Apa kau melihat kotak obat? Kepalaku pusing sekali dan aku membutuhkan obat itu," jawab Nathan sambil mencengkram kepalanya yang terlilit perban.
Viona bangkit dari berbaringnya kemudian berjalan menuju nakas kecil samping meja riasnya. Viona membawa beberapa butir obat yang kemudian dia berikan pada Nathan. "Oppa, ini obatnya. Minum dulu," Nathan menerima obat itu kemudian meneguknya secara bersamaan.
"Sebaiknya kau tidur lagi," pinta Viona.
"Maaf, karna diriku kau jadi terbangun," sesal Nathan.
Viona menggeleng. Wanita itu menakup wajah Nathan dan mengunci manik abu-abunya. "Tidak apa-apa, Oppa. Seharusnya kau membangunkanku, lagi pula bagaimana bisa aku enak-enakkan tidur sementara kau sedang kesakitan? Lagipula aku tidak ingin di cap sebagai istri yang buruk karna mengabaikan suaminya yang sedang sakit. Baiklah, sekarang Oppa tidur lagi," pinta Viona.
"Sebentar," Nathan menarik bahu Viona lalu membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. Nathan menutup matanya dan kian mengeratkan pelukkannya pada tubuh Viona, memberikan rasa hangat dan rasa nyaman di saat yang bersamaan.
"Tidak akan ada yang berani berfikir buruk tentangmu. Lagipula siapa yang berani melakukannya? Kau adalah istriku, dan sebagai suamimu.. Tentu aku tidak akan tinggal diam apalagi membiarkan orang lain sampai berfikir yang tidak-tidak tentangmu," ujar Nathan panjang lebar.
Viona menatap Nathan penuh haru. Cairan bening tampak mengalir dari sudut matanya. "Oppa," gumamnya lirih.
Viona menutup matanya saat merasakan benda lunak nan basah menyapu permukaan bibirnya disusul dengan pagutan-pagutan kecil.
Nathan sudah berusaha menahan hasratnya untuk tidak mencium bibir ranum Viona dengan lebih. Tapi gagal, karna Nathan sudah melahap seluruh permukaan bibir tipis milik Viona dengan sangat rakus. Memagut dan mengigit-gigiti bibir Viona yang sudah mulai sedikit membengkak karena ulahnya.
Nathan menggigit agak keras saat meminta akses masuk ke dalam mulut hangat sang istri tercinta. Mengabsen setiap deret gigi putih milik Viona. Menggelitik langit-langit mulut sang dara yang membuat Viona mendesah panjang.
Cukup lama bibir mereka berdua saling berpagutan hingga Nathan merasakkan pukulan kecil di dadanya. Sepertinya Viona juga butuh oksigen.
Nathan pun melepaskam ciuman mereka dan menatap dalam manik hazel Viona yang mebuatnya jatuh dan terjatuh lagi ke dalam pesona seorang Viona Anggela.
"Oppa..." panggil Viona pelan dengan mata sayunya.
"Hmm..." balas Nathan hanya dengan gumaman.
"Apa kau tahu?" tanya Viona.
"Apa?" tanya Nathan balik dengan senyuman hangatnya.
"Aku sangat berterimakasih kepada tuhan karna yang telah mengirimkan dirimu untukku. Kau adalah hal terindah yang aku dapatkan dari Tuhan di dalam.l hidupku. Dan aku berdoa pada Tuhan semoga cinta kita bisa kekal. Oppa.. Aku mencintaimu selamanya," ujar Viona panjang lebar.
Dan setelahnya pun Viona kembali menepelkan bibirnya pada bibir Nathan. Hanya sekedar menempelkkan saja tanpa ada pagutan panas dan menghanyutkan. Menyalurkan rasa cintanya yang teramat sangat besar hingga keduanya pun kembali terpejam ke alam mimpi mereka.
-
Suara burung bernyanyi riang menyambut datangnya sang mentari di pagi yang cerah ini, berusaha untuk membangunkan setiap insan manusia yang masih nyaman terlelap di atas ranjang empuknya supaya tidak melewatkan momen terindah yang tercetak jelas pada saat pagi hari seperti ini.
Angin musim semi berhembus pelan. Dengan berpayungkan langit berwarna biru cerah, seorang wanita berdiri di balkon kamarnya untuk menikmati suasana asri yang masih begitu asri dan belum tercemar oleh polusi.
Hari yang cerah, saat matahari menyinari kediaman Leonil dengan segala bunga yang mekar di taman indahnya. Mengundang burung-burung untuk hinggap pada pohon berbiji, dan kupu-kupu untuk mencari nectar pagi.
Saat itu Luna tengah berdiri di balkon kamarnya, merasakan dan memperhatikan indahnya suasana di taman belakang di pagi hari.
Dering ponsel terdengar di kejauhan. Luna menolehkan kepala ke belakang dan mendapati ponselnya terus berdering. Luna beranjak dari balkon dan masuk ke dalam. Luna meraih ponsel di aras nakas samping tempat tidurnya, lalu menggeser tombol hijau di layar.
Luna mematikan televisi yang tidak ditontonnya sejak tadi pagi, sebelum benar-benar memposisikan ponsel itu disamping daun telinganya.
"Ada apa kau menghubungiku pagi-pagi begini?" tanya Luna to the poin tanpa basa-basi.
"Yakk!! Pertanyaan macam apa itu, Leonil Luna? Bukan.. tapi Luna William?" teriak suara di ujung telefon dengan keras, dia tengah melayangkan sebuah protes pada Luna.
Luna memutar matanya jengah. "Ck, berhentilah bersikap berlebihan, Jacksoon Wang. Seharusnya hari yang menjadi moment terbaikku malah menjadi moment terburukku karna dirimu. Sudahlah, aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni pria menyebalkan sepertimu!!"
"Yakk!!"
"Ya, sudah ya. Aku tutup dulu telfonnya, bye..bye.."
__ADS_1
Luna meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja dan kembali melanjutkan ritual wajibnya ketika pagi hari. Gadis itu menutup matanya kemudian merentangkan kedua tangannya. Luna membiarkan sang bayu menyapanya lewat sentuhan lembutnya.
-
"Theo, apa benar selama dua minggu belakangan ini seseorang tengah mengawasi ku?" tanya Nathan ditengah kesibukkannya.
"Benar, Tuan," jawab Theo yang berdiri di samping tuannya itu.
"Selidiki apa tujuan orang itu, cari tau pada siapa dia bekerja," perintah Nathan.
"Sudah, Tuan. Saya sudah melakukannya sejak penyerangan Anda kenarin, saya langsung memerintahkan seseorang untuk menyelidiki hal ini," jawabnya.
Nathan menoleh dan menatap tangan kanannya itu dengan takjub. Dia memang sangat sibuk dengan bisnisnya selama beberapa minggu ini, sehingga Nathan tidak terlalu memperhatikan apa yang ada disekelilingnya. Dan karna kelengahanya itu, dia membiarkan lawan selangkah lebih maju.
"Kalau begitu apa tujuan serangga pengganggu itu mengawasiku?" Nathan kembali fokus dengan laptopnya namun tetap mendengarkan apa yang akan dipaparkan oleh Theo.
"Dia adalah orang suruhan, dan dalang utama dalam insiden itu adalah Yamamoto. Dia tidak terima karna Anda membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaannya." fokus Nathan sekarang teralih sepenuhnya pada informasi yang Theo sampaikan. "Sepertiya dia benar-benar menginginkan kematian Anda, Tuan."
"Hn, dasar serangga pengganggu. Dari dulu Yamamoto memang tidak pernah bosan ya bermain api denganku," katanya sambil menggeram.
"Pantau terus, dan singkirkan beberapa anak buahnya yang sedang mengawasiku. Dan akan kupastikan serangga pengganggu itu merasakan akibatnya jika dia terus mencari masalah denganku!"
"Baik Tuan. Satu hal lagi, sepertinya Yamamoto juga berusaha menggunakan putrinya untuk memuluskan rencananya. Dan kedatangan wanita itu beberapa hari yang lalu di kantor ini karna perintah Yamamoto. Sepertinya dia sudah mulai curiga jika Anda bukanlah Kevin Xiao melankan Xi Nathan. Sebaiknya Anda lebih berhati-hati lagi pada wanita itu."
"Yurinaka?" Theo mengangguk.
Yamamoto memang pernah menawarkan putrinya yang bernama Yurinaka untuk dijodohkan dengan Nathan. Tetapi Nathan menolaknya bahkan sebelum ia bertemu dengan gadis itu. Bagi Nathan, gadis itu hanyalah pion ayahnya yang akan digunakan untuk merebut kekuasaannya dalam dunia bisnis.
Lagi pula Nathan bukan-lah orang bodoh, ia tidak akan tertipu. Perjodohan itu hanyalah kedok untuk menariknya agar berdiri dipihak Yamamoto guna mendapatkan sebuah keuntungan yang sangat besar. Setelahnya, pasti mereka akan berusaha menjatuhkan Nathan dan merebut Xiao Group darinya. Lagipula siapa yang membutuhkan seorang gadis jika sejak awal kau sudah punya rencana sendiri, bukankah begitu Xi Nathan?
"Hn. Serangga-serangga Yamamoto ini memang sangat mengganggu. Tidak ayah, tidak anak, keduanya sama-sama menantangku rupanya." Kesinisan tampak sangat jelas dalam nada bicaranya.
"Aku hampir lupa. Bagaimana dengan Doris Lu? Apa kau sudah mendapatkan informasi dengan bajingan tua itu!!"
"Sudah Tuan, setelah Anda menghancurkan tempat tinggalnya dan membuatnya bangkrut. Hidupnya menjadi terlunta-lunta. Dia hidup menggelandang selama beberapa bulan sebelum akhirnya bergabung dengan Sandora Lim. Dan saat ini mereka tengah mengumpulkan kekuatan untuk membangkitkan kembali organisasinya yang Anda hancurkan!!" terang Theo panjang lebar.
"Baik, Tuan. Saya mengerti,"
"Bagus,"
Nathan menyeringai puas. Lupakan dulu sejenak tentang dua serangga Yamamoto. Karna ada hal yang harus dia urus sekarang, takni membereskan Sandora Lim dan Doris Lu.
"Oya, Tuan. Tadi nyonya menghubungi saya. Dia berpesan supaya Anda tidak pulang terlalu malam. Si kembar terus saja rewel jika Anda tidak ada,"
"Baiklah, kau sudah boleh pergi sekarang. Lanjutkan tugasmu dan segera laporkan padaku," perinta Nathan. Theo mengangguk.
"Baik Tuan. Saya permisi dulu,"
"Theo tunggu!!"nseru Nathan dan menghentikan langkah Theo. "panggil Jane pulang dari China. Dia akan kujadikan pengawal pribadi putra-putriku."
"Baik, Tuan."
-
Sudah lebih dari tiga bulan Doris bisa merasakan kehidupan kembali setelah hidup terlunta-lunta selama beberapa bulan pasca musibah yang dia alami hari itu.
Beruntung dia bertemu dengan kawan lamanya yang kemudian membantunya dan memberinya tempat tinggal.
Sampai detik ini Doris masih belum menemukan titik terang dari apa yang menimpanya satu tahun yang lalu. Dia sudah berusaha keras untuk menemukan orang yang menghancurkan tempat tinggalnya, membunuh seluruh anak buahnya dan membuatnya jatuh bangkrut.
Doris sudah meminta bantuan Sandora, tapi belum juga menemukan sebuah titik terang dan hal itu membuatnya menjadi sangat frustasi.
"Kau sudah minum terlalu banyak, Doris Lu!!" Dora merebut gelas wine dari tangan Doris lalu meletakkan di atas meja.
"Kenapa kau harus mengganggu kesenanganku?"
"Karna kau mulai gila!!" tegas Dora. "Kau fikir dengan minum dan mabuk begini kau bisa mengembalikan semua milikmu yang hilang dan menemukan pelakunya? Tidak!! Jadi berfikirlah secara jernih, cari orang itu dan kemudian habisi dia!!"
__ADS_1
Doris mengangkat wajahnya dan menatap Dora dengan marah. "Tau apa kau? Kau bisa bicara seperti itu karna tidak berada di posisiku. Sebaiknya kau diam dan jangan ikut campur. Aku benar-benar muak dengan hidupku sekarang!!"
Dora menatap Doris marah. Wanita itu memutar matanya jengah dan kemudian meninggalkan Doris begitu saja."Terserah," sinis Dora di tengah langkahnya.
-
Jam dinding menunjukkan pukul delapan dan belum ada tanda-tanda jika si kembar akan segera bangun. Satya pun melenggang ke dapur dan meninggalkan si kembar bersama Rio dan Frans, mengikuti instruksi Viona untuk memindahkan susu.
Sudah setengah jam yang lalu, kini susunya menghangat. Satya meletakkan dua botol susu untuk memindahkan minuman bayi tersebut.
"Huwee!"
Suara tangisan dari lantai atas mengejutkan Satya, dengan terburu-buru ia memindahkan susu, lalu berlari naik ke dalam kamar dimana depan pintunya terdapat gantungan bertuliskan 'Lucas & Laurent Room' warna-warni nan lucu.
Dia berjalan mendekat ke arah keranjang bayi si kembar. Di sana sudah ada Rio dan Frans yang berusaha untuk menenangkan mereka berdua. Sejenak tangisan keduanya mereda, namun tidak bertahan lama.
"Ssh, ssh, anak baik, anak manis, jangan menangis lagi ne. Paman akan menari dan bernyanyi untuk kalian." Ucap Rio membujuk.
Cepat-cepat Rio memulai aksinya tapi sayang apa yang dia lakukan tidak mempan apalagi membuat si kembar berhenti menangis.
Satya datang lalu menyodorkan dua botol susu yang baru saja dia bikin.
Sempat ia berpikir, apakah hubungan batin anak kembar seerat ini? Sampai-sampai keduanya bisa menangis bersamaan? Lucas menepis botol pemberian Satua an menyebabkannya tumpah lalu membasahi ranjang, untung Frans segera mengangkat Lucas sebelum tumpahan susu mengenainya.
"Huwee!"
Dia mengusap-usap punggung Lucas berusaha menenangkannya. Hasilnya nihil, bayi laki-laki itu ngotot minta susu.
"Ayolah... Paman tidak bisa membuat susu dan ibumu sedang pergi." Frans memelas, mengajak anaknya berbicara.
Berharap Lucas mengerti penderitaannya lalu berhenti menangis.
Tapi maaf saja Paman tampan, perut Lucas lebih penting. "HUWEE!" tangis Lucas kembali pecah.
Viona sedang pergi. Dia mendapatkan panggilan dari Sunny dan Kirana jika terjadi situasi darurat di sana. Rumah sakit kehabisan tenaga medis jadi terpaksa mereka menghubungi Viona.
"Iya iya! Paman buatkan lagi, oke." Satya melihat pada keranjang Laurent yang daritadi diam menikmati susunya.
"Paman, biar aku saja." Seru Rio. Cuma membuat susu, aku pasti bisa."
"Heh, Rio jangan membuat malu geng Kadal." Seru Frans.
Merasa airnya telah mendidih, Rio mengikuti apa yang Viona lakukan pagi tadi, meniup-niup susu dalam gelas agar cepat dingin.
"HUWAAA!" terdengar tangis Lucas yang semakin keras. Satya dan Frans benar-benar dibuat kerepotan.
"Baik baik! Paman datang!" susu hangat itu langsung dipindahkan oleh Nathan.
Secepat mungkin dia kembali ke kamar si kembar. Wajah Lucas tampak memerah.
"Cup! Cup!" setelah menyedotkan Lucas, tangisan bayi itu tidak berhenti. Ia malah mendorong botolnya sambil menangis kencang. Mereka bertiga pun semakin panik
Tiba-tiba Laurent yang diam ikut menangis kencang, membuat ketiganya jadi kebingungan karena tidak tahu apa akan ia lakukan. Mereka tidak mengerti bagaimana caranya harus menenangkan mereka. Laurent menangis, botol susunya sudah kosong, pastinya dia sudah tidak lapar lagi.
Kalau begini tentunya mereka butuh bantuan seorang wanita berpengalaman menangani anak kecil, dan wanita itu yang saat ini ada dipikiran mereka bertiga.
Di satu sisi dia merasa ragu, apakah benar meminta bantuan dari orang lain ketika Viona sendiri yang memintanya untuk mengurus anak-anak itu? Ini tidak benar. Tapi mereka tidak memiliki pilihan. Dan sepertinya hari ini menjadi hari paling buruk bagi Satya, Rio dan Frans.
"Jika kalian besar nanti, Paman akan mendaftarkan kalian sebagai penyanyi rock dan pop." ujar Rio pada si kembar meski diabaikan.
Ia mengangkat gagang telepon dan menekan tombol, suara nada sambung menyahut di seberang sana, hingga akhirnya suara wanita menjawab panggilannya.
"Haloโ Nunna... kami butuh bantuanmu!!"
-
Bersambung.
__ADS_1