
Baca juga ya novel terbaru author. jangan lupa buat tinggalin like dan komen juga 🙏🙏🙏
-
Nathan menepikan mobilnya saat sudah lumayan jauh dari cafe. Pandangannya kemudian bergulir pada sosok jelita yang duduk disamping kanannya. Tanpa Viona mengatakan apapun, tentu Nathan tau bagaimana perasaannya saat ini. Dia bisa merasakan kesedihan yang Viona rasakan.
Nathan melepaskan sabuk pengamannya kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukkannya. Isakan pilu yang keluar dari sela-sela bibir Viona membuat hati Nathan seperti diremas-remas. Nathan menutup rapat-rapat kedua matanya. "Lepaskan semua, Sayang. Lepaskan semua kesedihanmu dan jangan pernah ragu untuk membaginya denganku, suamimu!!"
Viona meremas vest yang menjadi luaran kemeja Nathan tanpa peduli jika kain berharga mahal tersebut akan kusut karna ulahnya. "Aku tidak akan memaafkan mereka, Oppa. Pembunuh-pembunuh itu tidak akan aku lepaskan. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan mereka, aku akan membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan. Mereka semua akan ku bunuh dengan tanganku!!"
"Kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan darah mereka, Sayang. Dan biar aku saja yang melakukannya untukmu. Aku berjanji akan membawakanmu jantung, hati dan kepala mereka. Dan kau bisa memegang jinjiku ini,"
Di rasa Viona mulai tenang, Nathan melepaskan pelukkannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas, jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di wajah cantik istri tercintanya. "Tersenyumlah, kau terlihat sangat cantik saat tersenyum." Pinta Nathan.
Viona kembali memeluk suaminya. "Terimakasih, Oppa. Aku tidak tau bagaimana jadinya diriku tanpa dirimu. Jika saja kita tidak dipertemukan malam itu, mungkin sampai detik ini aku masih terjebak dalan permainan kotor mereka. Kau adalah pahlawanku, dan aku sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu." Tutur Viona. Gadis itu semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Nathan.
Nathan tersenyum tupis. "Sama-sama, Sayang. Dan apa yang aku lakukan semata-mata karna aku mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai dan menyakitimu, dan aku akan menyingkirkan mereka tanpa tersisa!!" mata Nathan berkilat tajam. Aura dalam dirinya menggelap dan sorot matanya terlihat begitu berbahaya. Nathan tidak akan melepaskan seluruh keluarga Ardinata, dan dia akan membuat mereka membayar mahal semua kejahatannya.
Drett.. Drett.. Drett..
Getar pada ponselnya mengalihkan perhatian Viona. Gadis itu melepaskan pelukkan Nathan dan segera menerima panggilan dari Sunny. Viona merasa jika ada hal darurat yang mendesak, karna jika tidak Sunny tidak mungkin menghubunginya di jam kerja.
"Halo. Ada apa, Sunny-ya?"
"Viona, kau di mana? Darurat, seorang pria mengalami kecelakaan dan keadaannya kritis. Kita harus segera mengambil tindakkan cepat sebelum dia kehilangan nyawa. Cepatlah datang dan pimpin operasinya,"
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
"Ada apa? Kau terlihat sangat panik, apa terjadi sesuatu?" tanya Nathan memastikan.
Viona mengangguk. "Oppa, bisakah kau mengantarkanku ke rumah sakit sekarang juga? Ada pasien yang sedang bertaruh nyawa di sana, aku harus segera melakukan operasi darurat,"
"Baiklah, pasang kembali sabuk pengamanmu!!"
-
"Tuan Muda Ardinata?"
Leo menghentikan langkahnya karna teguran seseorang. Pria muda itu lantas berbalik dan mendapati seorang wanita berjalan menghampirinya. Leo memicingkan matanya dan menatap wanita itu penuh tanya. "Kau siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya memastikan.
Wanita itu mengulurkan tangan kanannya dan memperkenalkan namanya pada Leo, smrik tipis tercetak di bibirnya "Park Cherly, dan kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, tapi aku tau siapa dirimu." ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Cherly.
"Kau pasti memiliki dendam pada seorang laki-laki bernama Nathan Lu karna dia telah merebut calon istrimu. Bagaimana jika kita bekerja sama? Aku memberikan penawaran ini tentu bukan tanpa alasan, aku memiliki dendam pada mantan tunanganmu itu, sedangkan kau pada Nathan oppa. Pasti kau menginginkan gadis itu kembali bukan? Jika iya, maka penawaranku adalah satu-satunya solusi yang kau miliki.
Kau bisa mendapatkan wanitamu kembali dan aku ... bisa mendapatkan Nathan oppa kembali, bagaimana? Bukankah ini penawaran yang sangat menarik dan menguntungkan? Dalam hal ini kita akan sama-sama diuntungkan. Aku mendapatkan kembali kekasihku, dan kau mendapatkan kembali gadis itu. Bagaimana, apakah kau setuju?" Cherly kembali mengulurkan tangannya pada Leo. Leo menatap sejenak tangan wanita itu lalu menjabatnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju. Aku menerima penawaranmu."
Cherly tersenyum puas. "Pilihan yang bijak, Tuan Muda Ardinata."
Namun tanpa mereka berdua sadari, jika ada tiga pasang mata dan tiga pasang telinga yang melihat dan mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Ketiganya adalah Rio, Satya dan Frans. Dan wajar jika Cherly dan Leo tidak mengenali mereka bertiga karna ketiganya menyamar sebagai perempuan. Rupanya Satya, Rio dan Frans selalu mengawasi Leo setelah insiden yang menimpa Nathan tempo hari. Takut-takut jika hal serupa kembali terulang jadi mereka memutuskan untuk mengikuti dan mengawasi kemana pun dia pergi.
"Nenek sihir itu, bisa-bisanya dia merencanakan hal busuk untuk memisahkan paman Nathan dan bibi Viona?" geram Rio dengan nada rendah, hampir seperti bisikan.
"Aku tidak akan membiarkannya." sahut Frans dan Satya nyaris bersamaan.
"Apa belum kapok dia kita kerjai habis-habisan, sepertinya paman jelek itu ingin merasakan jurus andalan kita." ujar Rio bersunggut-sunggut.
Tukl!!
Bukannya sebuah persetujuan, namun malah sebuah jitakan keras yang langsung mendarat mulus di atas kepalanya. "Jangan asal keluarkan jurus mematikan kita, itu bukan jurus sembarangan dan harus melakukan berbagai ritual terlebih dulu. Jika salah, malah kita yang akan kena batunya." Tutur Satya selaku tersangka utama dibalik jitakan Rio.
"Aku setuju dengan, Satya. Kita masih memiliki cara lain untuk menggagalkan niat busuk mereka, mereka tidak tau saja jika tiga anak setan sedang mengawasi dari tempat yang tidak terlihat." sahut Frans menimpali.
"Memangnya kalian sudah memiliki rencana?" Rio menatap Satya dan Frans secara bergantian. Keduanya pun saling bertukar pandang, sama-sama mengulum senyum meyakinkan dan dengan kompak mereka menjawab...
"...Belum."
Gubrakk!!!
Jawaban Satya dan Frans malah membuat Rio jatuh terjengkang. Kini pemuda tampan yang menjelma menjadi seorang gadis yang sangat jelita itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada dicafe itu termasuk Cherly dan Leo. Beruntung tidak ada satupun dari mereka berdua yang mengenali ketiganya. Rio menatap sepasang sepatu yang berada didepannya kemudian mengangkat wajahnya secara perlahan dan mendapati seorang pemuda tampan sedang tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya.
Glukk
"Riona, kenapa hanya dilihat saja? Pemuda itu menawarkan sebuah bantuan padamu." seru Satya yang sepertinya ingin memanfaatkan moment langkah itu untuk mengerjai balik Rio sebagai bentuk balas dendamnya.
"Benar, Riona. Apa kau tidak merasa kasihan pada pemuda tampan itu. Dia berniat baik loh," imbuh Frans yang sepertinya tidak mau kalah dari Satya.
Namun bukan Rio namanya jika tidak memiliki 1001 ide untuk mengerjai mereka berdua. Pemuda itu menyeringai saat melihat keberadaan dua pria yang dulu sempat mengejar-ngejar Satya dan Frans saat di pesiar tiba-tiba muncul di cafe. Dan hal itu tentu tidak akan Rio sia-siakan begitu saja.
"Huaaa...!! Eonni, lihatlah mereka berdua. Bukankah mereka dua pria yang hari itu mengejar kalian?? Oppa, disini..." seru Rio sambil melambaikan tangannya pada kedua orang itu, keduanya pun menoleh serentak. "Di sini, kalian masih ingat padaku. Aku di sini bersama kedua saudariku yang sangat cantik itu, loh." serunya menambahkan.
Glukk!!
Susah payah Satya dan Frans menalan salivanya melihat dua pria itu menghampiri mereka, serentak keduanya menoleh pada Rio yang tengah mengulum senyum kemenangan. Pemuda itu berdiri dan pergi begitu saja. "Eonni, selamat bersenang-senang,"
"RIONA!!!"
"Hahahah."
-
Sudah hampir 5 jam operasi itu berlangsung. Namun belum ada tanda-tanda jika tim dokter akan keluar dari ruang operasi dan hal itu membuat keluarga pasien yang menunggu di luar menjadi sangat cemas dan khawatir. Selang beberapa saat keluarlah seorang gadis berparas jelita dari ruang operasi di ikuti dua perempuan lain yang berjalan mengekor dibelakangnya. Gadis itu menghela nafas lega.
__ADS_1
Meskipun lelah terlihat pada wajahnya dan peluh mengalir deras dari dahinya namun semua itu setimpal dengan keberhasilan yang dia dapatkan. Dengan perlahan punggung tangannya menyeka peluhnya. Dan segera membuka masker hijau yang menutupi sebagain wajah cantiknya yang seputih porselen dan tanpa noda itu.
Dengan langkah pasti, dia menghampiri keluarga pasien yang sudah menunggunya sejak lima jam yang lalu. Dengan senyum lembut yang terukir indah dibibir tipisnya, gadis itu menyentuh bahu paruh baya didepannya.
Dokter cantik itu tersenyum lebar membawa kabar bahagia.
"Putrimu adalah wanita yang sangat kuat, Nyonya. Meskipun sempat mengalami pendarahan hebat, namun dia mampu bertahan karna bayi yang berada dalam kandungannya." ucapnya tanpa melunturkan senyum itu dari wajah lelahnya.
Wanita itu reflek berdiri dan memeluk dokter cantik itu "Hiks, terimakasih dokter karna telah menyelamatkan putri kami. Kau memang dokter yang hebat." ucap paruh baya itu penuh haru.
"Bisakah kami menemuinya?" seru laki-laki yang sepertinya adalah suami dari wanita yang melahirkan itu. Viona mengangguk tipis.
"Tentu, tapi setelah dipindahkan keruang inap." jawabnya dan berlalu begitu saja.
Setelah mengganti pakaian operasi dengan pakaian yang dia kenakan sebelumnya. Viona menghampiri kedua sahabatnya yang sedang bermalas-malasan disofa, Viona datang dengan tiga kaleng minuman bersoda dan dua diantaranya dia berikan pada Sunny dan Kirana. "Kerja bagus dokter Anggella." puji Sunny sambil mengacungkan jempolnya.
"Tidak salah jika kau dijuluki sebagai dokter terbaik, Vi. Karna kau memang yang terbaik."
"Dan operasi darurat ini tidak mungkin berhasil tanpa bantuan kalian." sahut Viona menatap Sunny dan Kieana bergantian.
Viona langsung pergi kerumah sakit setelah mendapatkan telfon daru Sunny. Meskipun pada saat itu keadaannya sedang kacau karna kebenaran yang baru saja terungkap, namun sebagai seorang dokter, Viona tentu saja tidak bisa mengabaikan nyawa dan keselamatan pasiennya. "Malam ini kalian lembur?"
"Sepertinya tidak, kami sangat lelah dan lagi pula ini bukan jadwalku dan Sunny lembur." jawab Kirana menimpali. "Lalu bagaimana denganmu? Apa suamimu belum datang? Bagaimana jika kau pulang bersama kita saja?"
"Aku rasa bukan ide buruk." gadis itu bangkit dari duduknya dan melepas jas putih yang sejak tadi melekat ditubuhnya kemudian menggantinya dengan mantel hangat miliknya "Bisa kita pergi sekarang?"
"Tentu."
Namun setibanya di parkiran, Viona melihat mobil Nathan yang baru saja tiba diparkirkan dan tidak berselang lama sosok tampan dalam balutan pakaian hitamnya keluar dari mobil sport keluaran terbaru itu. Senyum di bibir Viona merekah seketika melihat kedatangan orang itu. "Oppa." panggil Viona sambil melambaikan tangannya.
"Berhubung pangeranmu sudah tiba, kami duluan. Jaaa." Kieana dan Sunny melambaikan tangannya pada Viona kemudian melenggang pergi, meninggalkan pasangan suami-istri itu.
Nathan menghampiri Viina dan langsung memeluk tubuh mungil itu penuh kehangatan lalu mengecup lembut keningnya, meletakkan lama-lama bibirnya disana. "Kau baik-baik saja?" Nathan mengangkat wajahnya dan memandang wajah lelah Viona yang tampak sayu.
"Apa kau terlihat tidak baik-baik saja? Aku hanya merasa sedikit lelah saja, Oppa." jawabnya seraya mengulum senyum tipis. Nathan kembali membawa Viona kedalam pelukannya. Nathan tau bila istrinya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sebaik apapun Viona mencoba menyembunyikan kesedihannya, namun dengan muda Nathan dapat menebaknya.
"Kau sudah makan malam?" Viona menggeleng lemah ,takut-takut jika Nathan akan memarahinya. Laki-laki itu mendengus berat. "Kalau begitu kita makan malam dulu." namun dugaan Viona salah, karna ternyata Nathan tidak marah padanya. Gadis itu mengangguk dan dengan cepat memeluk lengan Nathan yang tertutup lengan mantel hitamnya.
"Oppa, setelah menemaniku makan bisakah kita pergi ke Haneul Park? Aku ingin melihat bintang." renggek Viona sambil menggoyangkan lengan Nathan, matanya berkedip lucu membuat Nathan tidak tahan untuk tidak menjitak keningnya saking gemasnya. "Jangan diam saja, kita pergi ya ... baiklah kalau tidak mau aku akan pergi sendiri dan jangan salahkan aku jika selama satu hari penuh aku tidak akan bicara apalagi menegurmu." ancam Viona sambil mencerutkan bibirnya.
Nathan menyeringai. "Kau ingin menantangku, eh?" goda Nathan menanggapi ancaman Viona. Viona mengangguk. "Kau sudah mulai berani, hm,"
Gadis itu mengedipkan matanya melihat Nathan yang semakin mendekatkan wajahnya sampai akhirnya.... 'CHU' sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir mungilnya diikuti ******* ******* lembut. Nathan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang ramping Viona dan menariknya untuk semakin mendekat, tangan lain menekan tengkuk Viona.. namun ciuman itu tidak berlangsung lama karna Nathan sendiri yang mengakhirinya.
"Nanti saja kita lanjutkan, sebaiknya kita pergi sekarang?"
"Oke,"
__ADS_1
-
Bersambung.