
Dora terlihat sangat gelisah di ruang kerjanya. Dan semua itu mengenai kondisi perusahaannya saat ini. Perusahaan milik Dora sekali lagi berada diambang kehancuran, perusahaannya terancam gulung tikar.
Keluarnya Smit Corp dari perusahaannya. Benar-benar membuat dewan direksi kelabakan. Semua orang semakin menyudutkannya karena semua hal ini. Fokusnya terpecah antara perusahaan dan balas dendam. Mana yang harus diurusnya terlebih dahulu?
"Hah, sepertinya memang tidak ada cara lain lagi."
Dora mengambil telepon dan menghubungi seseorang. Pembicaraan mereka berlangsung singkat dan Dora tersenyum saat menutup sambungan teleponnya.
"Maafkan aku harus melibatkanmu lagi. Ini benar-benar yang terakhir." ucap Dora kemudian mengakhiri sambungan telfonnya.
-
Kediaman Nathan memang tidak pernah sepi setelah kelahiran si kembar. Orang-orang terdekat mereka selalu datang silih berganti setiap harinya dan hal itu membuat suasana rumah yang biasanya sangat hening menjadi ramai. Apalagi dengan kehebohan yang selalu trio kadal ciptakan.
Hari ini contohnya. Nyaris saja Viona dan Cherly tersedak minuman di dalam mulutnya karna ulah mereka bertiga. Entah setan apa yang merasuki mereka sampai-sampai mereka menjelma menjadi sosok wanita jadi-jadian.
"Apa lagi ini? Kenapa kalian malah berdandan mengerikan seperti ini?" tanya Viona penuh keheranan.
"Kami bertiga kalah bermain kartu dari Kakek, Bibi. Dan sebagai hukumannya, kami harus berdandan seperti ini selama satu minggu penuh!!"
Viona mendengus berat. Dia tidak tau kapan kegilaan mereka akan berakhir. Bukannya memberikan contoh yang baik pada mereka bertiga, Kakek Xi malah ikut-ikutan gila.
"Dan bagaimana penampilan kami, Nunna? Sempurna tidak? Apakah kami bertiga sudah mirip wanita beneran?" tanya Satya begitu antusias. Sesekali dia berputar memperlihatkan penampilannya pada Viona. "Bagaimana.. bagaimana..? Sangat luar biasa bukan?"
"Bukannya luar biasa, justru mengerikan yang ada!!" sahut Viona dengan nada sinis.
Satya mencerutkan bibirnya. "Nunna kau sangat menyebalkan," lalu Satya beralih pada Cherly. "Nunna, kau pasti tidak akan menghinati kami bukan? Kami cantik kan?" tanya Satya antusias.
"Tidak, kalian sangat-sangat menggelikan dan mengerikan!!" tegas Cherly, lagi-lagi Satya mencerutkan bibinya.
"HUAAA... LUCAS KENAPA MUKA KAKEK BUYUT KAU KENCINGI NAK!!"
Perhatian semua orang teralihkan oleh teriakkan Kakek Xi. Viona dan Cherly buru-buru pergi ke atas untuk melihat apa yang terjadi di susul trio Frans, Rio dan Satya.
Setibanya di sana, Viona melihat Lucas yang tersenyum sambil mengangkat-angkat kakinya. "Kakek, apa yang terjadi?" tanya Viona penasaran.
"Muka Kakek di kencingi oleh Pangeran kecilmu," jawabnya.
"Loh, kok bisa?"
"Lucas sempat rewel sebentar, pas Kakek periksa ternyata dia ngompol. Dan ketika Kakek buka poponya dan mau Kakek ganti yang baru. Juniornya tiba-tiba saja berdiri," jelas Kakek Xi menuturkan.
"Pftt. BWAHAHAHA!!" dan tawa trio kadal pun pecah.
Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kakek Xi ketika pipis itu membasahi wajahnya. Mereka bertiga terus saja tertawa bahkan sampai berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya. Sedangkan Viona dan Cherly hanya terkikik geli. Ada saja hal menggelikan yang terjadi.
Nathan yang baru saja pulang bekerja tampak kebingungan melihat semua orang berkumpul di kamarnya. "Ada apa ini?" tanya Nathan mengintrupsi semua orang.
Viona menghentikan tawanya kemudian memghampiri Nathan. "Opp, kau sudah pulang," ucapnya.
"Ada apa lagi dengan mereka? Kenapa mereka berdandan aneh seperti itu dan kenapa juga mereka tertawa seperti orang gila? Dan kau pak tua!! Apa yang terjadi dengan wajahmu itu? Kenapa mukamu kusut seperti pakaian belum di setrika?" tanya Nathan penasaran.
"Itu semua karna Pangeran kecilmu ini, masa iya muka Kakek buyutnya yang tampan ini dipipisi," Kakek Xi mencerutkan bibirnya. Dan Nathan pun tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, meskipun tawanya tak selepas mereka bertiga. "Yakk!! Cucu durhaka!! Kenapa kau malah ikut-ikutan menertawakan Kakek juga, eo!!"
Nathan hanya mekutar mata jengah. Mengabaikan Kakek Xi yang sedang komat-kamit tidak jelas. Nathan mengambil sehelai kemeja putih lengan terbuka dan celana jeans hitam lalu membawanya ke kamar mandi. Tubuhnya sudah sangat lengat semua.
"Aku titip si kembar dulu ya." Kemudian Viona beranjak dan pergi begitu saja, dia harus menyiapkan makan malam untuk semua orang.
"Vio, aku ikut," seru Cherly dan segera menyusul Viona.
.
.
Setelah hampir satu jam berkutat di dapur. Sedikitnya ada tujuh menu yang Viona dan Cherly masak hari ini. Semua makanan tersusun rapi di atas meja, yang perlu mereka lakukan sekarang adalah menunggu para pria turun untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Sosok Nathan terlihat menuruni tangga sambil membawa Laurent dalam gendongannya, sedangkan Lucas bersama Kakek Xi. Namun trio Rio, Satya dan Frans tidak terlihat. "Oppa, di mana mereka bertiga?" tanya Viona setelah Nathan ada dihadapannya.
"Mereka ketiduran di kamar. Mungkin saja mereka kelelahan karna terlalu lama tertawa," jawabnya.
Viona mengambil Laurent dari gendongan Lucas. "Biar aku saja yang menggendongnya, kau makan malam dulu saja,"
"Tidak perlu, dia terlihat sangat nyaman dalam pelukkanku. Mungkin saja dia sangat merindukan Papanya," ujar Nathan seraya mengulum senyum tipis. Jari-jarinya mengusap pipi putri kecilnya yang sesekali tersenyum dan menggeliat.
"Lalu bagaimana dengan jagoan Mama? Sepertinya dia juga sangat nyaman dalam pelukkan Kakek Buyutnya," ucap Viona melihat Lucas yang sedang terlelap dalam dekapan Kakek Xi.
Tokk.. Tokk..
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian semua orang. Terlihat Henry yang datang bersama Bima dan Alex. Senyum di bibir Viona mengembang begitu lebar melihat kedatangan mereka. Terlihat Henry membawa sebuah bingkisan begitu pula dengan Bima dan Alex.
"Untuk si kembar. Aku membelinya dalam perjalanan kemari," ucap Henry seraya menyerahkan bingkisan itu pada Viona. Viona menerimanya sambil tersenyum.
"Oppa, seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini. Tapi baiklah, terimakasih."
"Nathan, berikan dia padaku. Biarkan Gege menggendongnya sebentar," pinta Henry seraya mengambil Laurent dari dekapan sang ayah. Kemudian Nathan beralih menggendong Lucas.
"Karna semua sudah berkumpul, bagaimana kalau kita sekarang makan malam sama-sama? Aku akan membangunkan Rio, Frans dan Satya terlebih dulu," ucap Viona dan berlalu.
.
.
Usai makan malam. Mereka melanjutkan mengobrol di ruang keluarga. Kehangatan begitu terasa di sana, gelak tawa, canda ria mewarnai kebersamaan mereka. Dan suasana semakin meriah dengan ulah si trio yang mengerjai Bima habis-habisan.
Saat ini mereka berempat plus kakek Xi sedang bermain kartu dan Bima selalu menjadi korban kecurangan mereka berempat. Dan bodohnya lagi, Bima tidak sadar jika dirinya tengah dikerjai habis-habisan saat ini.
"Hyung, kau kalah lagi," seru Satya seraya mengolesi muka Bima dengan bedak bayi. Muka Bima menjadi putih semua tak ubahnya seperti tuyul.
"Aishh, tidak adil. Kenapa harus aku lagi yang kalah!!" keluh Bima seraya melemparkan kartu-kartunya.
"Itu karna kau terlalu payah, Paman!!" sahut Rio menjawab.
"Enak saja," Frans menepis tangan Bima dari depan wajahnya. "Kalau kalah ya kalah saja, lagian mana mungkin pemuda-pemuda baik dan rajin menabung ini.bisa berbuat curang? Kau terlalu mengada-ada," ujar Frans.
"Tapi siapa yang tau, apalagi dengan sikap dan kenakalan kalian selama ini!!"
"Aish, kau ini benar-benar ya?"
Dan perdebatan pun tak dapat terhindarkan lagi. Bima yang seorang diri dikeroyok dan di sudutkan habis-habisan oleh mereka bertiga. Sementara Nathan dan yang lain memilih tak ambil pusing. Karna hal semacam itu bukanlah sesuatu yang baru apalagi mengejutkan.
Nathan memisahkan diri dari yang lainnya saat merasakan getaran pada ponselnya. Nathan berjalan menuju halaman belakang supaya lebih leluasa saat bicara.
"Bagaimana hasil dari penyelidikanmu?"
....
"Awasi terus mereka, aku ingin tau apa tujuan Doris menemui orang-orang itu." Kemudian Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Nathan kembali ke dalam dan bergabung kembali dengan yang lain.
.
.
Hari semakin larut. Dan semua tamu sudah berpamitan pulang, hanya menyisahkan sang tuan rumah. Nathan dan Viona kembali ke kamar setelah menutup pintu. Lucas berada dalam gendongan Viona sedangkan Laurent berada dalam gendongan Nathan.
Viona terkekeh melihat wajah menggemaskan putranya saat cemberut ketika sedang tidur. "Oppa, bukankah Lucas sangat mirip denganmu? Dia benar-benar dirimu dalam versi mini," Viona terkekeh.
"Kau benar sekali, Sayang. Sudahlah, sebaiknya kita biarkan mereka tidur," Viona mengangguk.
Nathan menangkat Viona bridal style kemudian membaringkannya di atas tempat tidur. Jari-jari Nathan menbelai pipi Viona dengan penuh sayang, dikecupinya bibir ranum itu berkali-kali. Karna jika hanya satu kali saja itu tidak akan cukup.
Viona mengalungkan kedua lengannya pada leher Nathan kemudian mencium bibir kissable suaminya itu dengan rakus. Tak suka di dominasi, Nathan segera mengambil alih ciuman tersebut. Kedua tangan Nathan membingkai wajah Viona dan terus memagut bibir ranumnya.
__ADS_1
Tapi ciuman mereka hanya berlangsung satu menit saja. Nathan sangat lelah dan ingin tidur lebih awal. Dan selain itu, si kembar suka terbangun ketika tengah malam. Tak jarang mereka rewel dan membuat Viona begadang sampai menjelang pagi.
"Tidurlah, Sayang. Kau harus tidur lebih awal." Ucap Nathan seraya menuntun Viona untuk berbaring disampingnya. Tak ada penolakkan. Wanita itu mengangguk, dan menurut.
-
Sinar mentari pagi menelusup masuk melalui celah tirai, menggantikan kegelapan malam yang telah kehabisan waktu menemani para manusia. Malam telah berlalu dan pagi pun menjelang, memaksa para manusia kelelahan untuk bangun dan menjalani hari-hari mereka kembali.
Begitu pula dengan gadis ini. Dia terbangun bukan karena cahaya matahari yang mulai mengganggu tidurnya. Melainkan suara canda-tawa yang berasal dari lantai satu rumahnya.
Dengan malas dan tidak berminat. Luna turun dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Setelah itu Luna meninggalkan kamarnya, dari lantai dua, Luna melihat Dean dan ayahnya sedang berbincang dengan wanita yang dia lihat beberapa malam yang lalu.
Luna menggepalkan tangannya dengan kuat, sesak menghimpit dadanya melihat pemandangan menyakitkan itu. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dadanya hingga menimbulkan rasa sesak yang menyakitkan.
Tak ingin melihat pemandangan menyakitkan itu lebih lama lagi, Luna memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Oya, Dean. Kapan rencananya kau dan Miranda akan bertunangan?" tanya Leonil sambil menatap pasangan kekasih itu secara bergantian.
"Mungkin dalam waktu dekat, Pa. Aku dan Miranda sama-sama sudah siap untuk berkomitmen, karna lebih cepat lebih baik. Lagipula tak baik menunda hal baik terlalu lama, bukankah begitu Pa?"
"Papa setuju denganmu, Papa akan sangat mendukung keputusanmu itu. Papa merestui kalian berdua,"
Derap langkah kaki yang datang mengalihkan perhatian ketiganya. Sosok Luna terlihat menuruni tangga dengan anggunnya. Luna tampak cantik dalam balutan dress putih bermotif bunga. Tuan Leonil tersenyum melihat kedatangan putri tercintanya.
"Sayang, kemarilah. Papa, ingin memperkenalkanmu pada-"
"Maaf, Pa. Tapi aku sudah ada janji dengan seseorang. Aku pergi dulu," Luna memeluk dan mencium pipi Ayahnya sebelum pergi. Ritual wajib yang dia lakukan ketika hendak pergi keluar. "Pa, aku pergi dulu," Luna beranjak dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak melihat sedikit pun pada Dean, dan hal itu membuat Dean kebingungan.
"Dean, ada apa dengan adikmu? Kenapa Papa lihat tingkahnya begitu aneh akhir-akhir ini. Apakah kalian berdua bertengkar?" tanya Tuan Leonil memastikan.Dean menggeleng.
"Aku rasa tidak, Pa. Tidak ada masalah diantara kami," jawab Dean.
"Baiklah, Papa akan berbicara dengannya Nanti. Ya sudah, sebaiknya kita kita sarapan sekarang. Papa sudah sangat lapar,"
"Aku juga. Mira, ayo kita sarapan sama-sama," Dean mengulurkan tangannya pada Miranda. Wanita itu tersenyum kemudian menerima uluran tangan Dean dengan senang hati pastinya.
"Baiklah,"
.
.
Luna terus berjalan tanpa arah. Hatinya serasa remuk redam melihat kemesraan Dean dan kekasihnya. Dan sepertinya memang tidak ada lagi harapan untuk dirinya bisa memiliki Dean.
Luna menutup matanya yang terasa panas, mencoba untuk tidak menangis. Luna bukanlah gadis yang lemah.
Derit suara kursi yang dia duduki sedikit menyita perhatiannya. Dengan enggan dan tak berminat, Luna menoleh dan mendapati sosok tampan namun begitu menyebalkan tengan menggerlingkan sebelah mata padanya.
Luna memutar matanya jengah, moodnya yang sudah buruk semakin buruk karna kemunculan tamu tak di undang tersebut.
"Apa lihat-lihat?" sinis Luna tak bersahabat.
"Hei jelek, ada apa dengan mukamu itu? Kau tau, kau semakin jelek jika cemberut seperti itu,"
"Diamlah Jacksoon Wang, atau ku gantung kau hidup-hidup!!" ancam Luna bersungguh-sungguh.
Luna menyesal, kenapa dia harus bertemu pria bermarga Wang ini segala di saat suasana hatinya sedang buruk. "Yak! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku, mesum!! Kau mau membawaku kemana?" teriak Luna saat tiba-tiba Jaksoon menarik lengannya dan membawanya pergi meninggalkan taman.
"Diamlah dan jangan cerewet. Ikut saja," Luna memutar jengah matanya.
Rasanya Luna ingin sekali menggantung Jacksoon hidup-hidup karna sudah bertindak sesuka hatinya.
-
__ADS_1
Bersambung.