Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 32) "Kecelakaan"


__ADS_3


Baca juga ya novel Author yang ini 🙏🙏 Like komentnya selalu di tunggu ya.


-


Waktu sudah menunjukkan pukul 00 tengah malam, tapi Luna masih tetap terjaga. Gadis itu mulai merebahkan tubuhnya pada kasur super nyaman miliknya sambil membuka-buka buku yang sedaritadi ditelantarkannya karena asik berchat ria dengan Zian.


Selesainya chat mereka pun bukan karena Luna yang mengakhiri, tapi Zian. Ya, pria berambut blonde itu mengakhiri chat mereka dengan alasan sudah malam, dan sudah mengantuk. Maklum saja, karna besok Zian harus bekerja.


Tak lama berselang, gadis itupun mulai menguap lalu meletakkan kembali bukunya di tempat semula dan urung untuk membacanya. Dan tak butuh waktu lama untuk Luna segera tidur dan pergi menyelami alam mimpinya.


-


Mobil sport mewah yang Zian kemudikan melaju kencang membelah jalanan yang lumayan legang. Dawai asmara menjadi begitu indah terdengar di dalam keheningan yang bermakna. Luna duduk tenang sambil membaca novelnya di sebelah Zian yang sedang mengemudi, gadis itu tidak banyak berucap, begitu pula Zian, pria itu tenang mengendarai mobilnya dengan wajah datar yang berseni.


Kedua insan manusia ini sedang terhanyut ke dalam sebuah gejolak rasa yang ditimbulkan oleh dasyatnya fenomenal cinta yang terhubung.


Zian melirik Luna yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa, dia terlalu fokus pada novelnya. Sorot matanya dan raut wajah gadis itu menyimpan berjuta makna yang ia sembunyikan untuk disimak. Namun tak jarang dia menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda-beda . Terkadang dia tersenyum, terkadang dia tertawa lepas, cemberut dan juga merona.


Entah novel apa yang sebenarnya sedang di baca oleh Luna sampai-sampai membuat gadis itu bisa begitu larut dan terhanyut dalam kisahnya.


Saat ini contohnya, wajah Luna merona, tatapannya mengkilat-kilat saat gadis itu tersenyum menahan gejolak perasaan yang bertebaran di dalam mobil Zian.


Apa yang dia rasakan akhir-akhir ini memang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi, hanya satu hal yang Luna pikirkan saat ini. Pria yang sedang menyetir di sebelahnya itu adalah... adalah... adalah.. Luna menggeleng, tak seharusnya dia berfikir terlalu jauh. Bukankah dia sendiri yang mengatakan tidak ingin membuat komitmen untuk saat ini. Luna tidak ingin menelan ludahnya sendiri


"Luna." Panggil Zian. Luna tidak mendengar karena pikirannya sedang terjebak di dalam badai bunga .


"Luna." Panggil Zian lagi. Luna masih tuli.


"Luna." Panggilan ketiga Zian berhasil menyapu badai bunga yang sebelumnya menyumbat rongga telinga Luna. Gadis berlaras ayu itu langsung menoleh.


"Eh, ada apa? Zian, kau memanggilku?" tanya Luna dengan wajah polosnya. Wajah polosnya menatap Zian penuh rasa penasaran.


Alih-alih sebuah jawaban. Malah sebuah jitakkan yang Luna dapatkan. "Aduhh, Zian... Sakit!!!" jerit Luna. Jari-jari lentiknya mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zian.


"Salah sendiri kau tidak menjawab saat aku memanggilmu. Memangnya apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Zian.


"Idih, mau tau saja. Itu rahasia, dan kau tidak boleh sampai mengetahuinya," jawab Luna.


Zian memutar jengah matanya mendengar ocehan gadis itu. "Kau ingin makan siang di mana?" Zian menoleh, menatap gadis disampingnya. "Apa kau memiliki rekomendasi tempat baru, atau kau ingin makan di tempat biasanya saja?"


"Di tempat biasanya saja. Kebetulan aku juga sudah sangat merindukan masakan pedas di kedai bibi Jang yang bikin nagih itu. Kau setuju, 'kan?"


"Tentu,"


.


.

__ADS_1


Mereka melewati makan siangnya dengan tenang. Seperti biasa, Luna terlihat begitu ambisius dalam menikmati makan siangnya. Gadis itu terlihat begitu lahap dalam menikmati makan siangnya. Bahkan Luna bisa menghabiskan sampai tiga mangkuk makanan dalam porsi jumbo.


Gila memang, tapi anehnya berat badanya tidak bertambah sama sekali, bahkan dia tetap terlihat langsing meskipun makannya sangat banyak.


"Ahhh... Panas-panas," Luna mengipasi mulutnya dengan tangannya karna merasa kepanasan. Dan Zian yang melihatnya hanya bisa mendengus geli.


Zian menguangkan air ke dalam gelas kemudian memberikannya pada Luna."Dasar ceroboh. Seharusnya kau meniupnya terlebih dulu sebelum memakannya, minum dulu," Luna menerima gelas yang Zian sodorkan padanya sambil berdecak kesal.


"Diamlah dan berhenti mengomel, Zian Qin. Dasar menyebalkan," gerutu Luna Seraya menatap sinis pada Zian.


Tiga puluh menit kemudian mereka telah menyelesaikan makan siangnya. Saat ini keduanya sedang berjalan-jalan di taman diarea sungai Han. Kebetulan siang ini jadwal Zian sedang kosong. Ia menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum jam makan siang tiba.


Luna dan Zian berjalan sambil bergandengan tangan, keberadaan mereka di sana juga cukup menarik perhatian. Tak sedikit dari pengunjung wanita yang mencuri-curi pandang pada Zian dan sampai merona melihat bagaimana tampannya pemuda itu.


Dan sementara itu... Luna tak begitu menghiraukan mereka dan menganggap jika orang-orang itu hanyalah kumpulan debu yang tidak berguna.


"Zian, kau lihat itu. Semua orang memperhatikan kita. Sepertinya mereka sangat iri dengan kebersamaan kita berdua."


"Lalu?"


"Lalu apanya, ya biarkan saja." Ucapnya.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,, aku lapar. Hiks,,, aku sangat lapar,"


"Eo," Luna tersentak mendengar suara tangis seorang anak kecil.


"Hei, Nak. Kau kenapa?" tanya Luna seraya berlutut di depan bocah itu.


"Hiks, aku lapar. Sudah dua hari aku tidak makan. Aku benar-benar tidak memiliki uang sama sekali. Hiks, perutku sampai sakit. Aku benar-benar kelaparan," ujar bocah laki-laki itu.


Luna yang merasa iba padanya terlihat beranjak dari posisinya. "Zian, tetaplah di sini. Aku titip dia sebentar ya, dan aku akan segera kembali," Zian melihat kemana Luna pergi. Ternyata gadis itu masuk ke dalam sebuah minim market yang letaknya tak jauh dari taman tempatnya berdir.


Sepuluh menit kemudian Luna datang dengan sebuah kantong besar yang penuh makanan dan minuman. "Ini, Nunna belikan banyak makanan dan minuman untukmu. Ada banyak makanan instan yang bisa kau makan setiap saat. Dan ini ada sedikit uang, simpan dan bisa kau gunakan jika kau kehabisan stok makanan."


Tangus anak itu pun semakin pecah. Dia merasa terharu dengan kebaikan hati Luna. "Huaaa.. Makasih, Nunna. Jika saja tidak ada dirimu pasti aku dan kedua adikku akan tetap kelaparan. Maaf, aku harus pulang. Pasti saat ini kedua adikku sedang menangis karna kelaparan. Sekalu lagi terimakasih," bocah itu membungkuk dan segera pergi dari hadapan Luna.


Dan sementara itu. Zian tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat apa yang baru saja Luna lakukan. Di balik sikapnya yang barbar, sebenarnya dia adalah gadis yang baik.


Zian menarik lengan gadis itu hingga wajah Luna berbenturan dengan dada bidang Zian yang tersembunyi di balik kemeja berlengan panjang dan vest hitamnya. "Ini baru Leonil Luna yang aku kenal. Baik hati dan peduli pada sesama. Kau memang seorang malaikat tak bersayap, Lun," ucap Zian sambil mengecup kepala coklat Luna.


Luna mengangkat wajahnya. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Zian. Dan lagipula mana mungkin aku bisa tega melihat anak sekecil itu yang terus menangis karna kelaparan." Ujarnya.


"Baiklah, setelah ini kau mau pergi ke mana lagi? Mumpung aku lagi free, semua pekerjaanku di kantor sudah selesai."


Luna menatap Zian dengan serius. "Aku sedang memikirkan sesuatu. Zian, bisakah kau mengambil cuti selama beberapa hari saja dan temani aku pergi berlibur ke Pulau Jeju? Seumur-umur aku belum pernah ke sana. Mau ya, mau ya?" mohon Luna membujuk.


Zian melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Aku rasa jika hari ini tidak bisa. Aku ada janji bertemu dengan rekan bisnisku yang dari Macau sore ini. Bagaimana kalau besok pagi saja. Aku akan mengosongkan jadwalku selama beberapa hari, kau tidak keberatan bukan?" tanya Zian seraya mengunci sepasang mutiara coklat milik Luna.


"Besok ya? Em, baiklah.. Aku rasa tidak ada masalah. Baiklah... Kita pergi besok saja. Kalau begitu hari ini aku akan mengikuti kencan buta yang telah di persiapkan oleh Irene untukku,"

__ADS_1


"Kencan buta?" Luna mengangguk."Seperti yang sudah aku katakan padamu sebelumnya. Aku akan mencari pria kemudian mengencaninya. Aku ingin merasakan bagaimana sensasinya memiliki kekasih sungguhan meskipun hanya dalam hitungan jam saja, menurutmu bagaimana?" tanya Luna seraya mengunci manik abu-abu milik Zian.


Zian menggeleng. "Aku tidak setuju dan aku tidak mengijinkannya!!" Zian menentang keras keinginan Luna itu. "Kau tidak bisa berkencan dengan sembarangan pria, Lun. Kau harus melihat bebet bobotnya dulu. Bagaimana jika yang kau kencani bukan-lah pria baik-baik? Apalagi kalian tidak saling mengenal sebelumnya,"


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Kalau begitu, biar aku saja yang menjadi teman kencan satu malammu!!"


"Apa?"


"Bukankah kau sendiri yang ingin merasakan bagaimana berkencan dan memiliki pasangan. Kau tidak ingin membuat komitmen dan aku juga tidak ingin membina hubungan yang serius denganmu selama hatimu masih terbagi dua. Mari kita berkencan, terhitung mulai sekaranh sampai tengah malam nanti kita adalah sepasang sekasih!!"


Luna menatap Zian dengan mata berkaca-kaca. "Zian, aku sangat terharu mendengarnya. Kau sudah banyak berkorban untukku. Maka dari itu nikahi aku tiga tahun lagi, dan aku pastikan pada saat itu tiba, dihatiku hanya ada dirimu sebagai satu-satunya cinta dalam hidupku," ujar Luna dan berhambur ke dalam pelukan Zian.


"Pasti, dan jika saat itu tiba. Aku akan menjadikanmu sebagai satu-satunya wanita paling bahagia di dunia. Aku akan melimpahimu dengan banyak cinta dan kasih sayang sehingga kau merasa sebagai wanita yang paling beruntung di dunia ini," Zian menutup matanya dan membalas pelukkan Zian.


Zuan tidak tau sejak kapan cinta itu tumbuh dan mekar di dalam hatinya. Dan dia baru menyadari seberapa penting arti kehadiran Luna ketika gadis itu berada jauh darinya. Dan Zian pasti akan menunggunya. Karna baginya Luna memang layak untuk dilperjuangkan.


-


"Sialan!!"


Amanda memukul setir mobilnya dengan penuh emosi. Dia tidak tau lagi harus bagaimana dan harus dengan cara apa supaya Zian mau melihat dirinya sebagai seorang wanita yang layak untuk diperjuangkan cintanya.


Sudah berbagai cara Amanda lakukan tapi tak satupun ada yang berhasil. Zian begitu sulit untuk di raih dan itu membuatnya sangat frustasi.


"Ini semua karna gadis sialan itu. Aku tidak akan tinggal diam. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan padanya. Jika aku tidak bisa memiliki Zian maka dia juga tidak boleh. Satu-satunya cara adalah dengan menyingkirkannya. Leonil Luna, aku pasti akan membunuhmu!!"


Seperti Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Pucuk di cinta, ulanpun tiba. Amanda melihat Luna yang hendak menyebrang jalan. Wanita itu menyeringai dingin. Amanda menambah kecepatan pada mobilnya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya.


Dan sementara itu. Zian yang melihat nyawa Luna berada dalam bahaya tak lantas diam begitu saja. Zian berlari menghampiri Luna sambil berteriak dengan kencang.


"LUNA...!! AWAS....!!"


BRAKKK...


Luna terdorong kesamping dan jatuh di tepi jalan. Sontak saja Luna menoleh, kedua matanya membelalak melihat tubuh Zian yang terpental hingga melewati dan mobil setelah tubuhnya tertabrak mobil yang hampir menabraknya dan berakhir di aspal dalam keadaan bersimbah darah.


"ZIAN!!!"


-


"Baiklah, aku akan mendonorkan darahku untuk putraku asalkan kau mau meninggalkannya menjauh dari hidupnya,"


"Maafkan aku, Zian. Tapi semua ini aku lakukan demi dirimu. Aku ingin kau selamat dan tetap hidup, kau boleh membenciku sepuas hatimu. Kau harus tetap hidup,"


Bersambung.


...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2