Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 77) "Penakut"


__ADS_3


Hai riders, jangan lupa baca juga ya, novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM selalu tinggalkan like komentnya juga. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


-


Zian bangkit dari posisi berbaringnya kemudian berjalan ke arah balkon. Jam dinding sudah menunjuk angka 02.00 dini hari, tapi Zian masih tetap terjaga dan dia merasa sulit untuk menutup matanya.


Pertemuan singkatnya dengan Derby beberapa jam yang lalu masih terasa segar dalam ingatan Zian. Kedua tangannya terkepal kuat dan mata abu-abunya berkilat tajam. Amarah terlihat jelas pada sorot matanya. Auranya menggelap dan tatapannya terlihat begitu berbahaya. Rasanya Zian ingin sekali menghabisi Derby detik ini juga. Tapi dia masih memiliki banyak pertimbangan untuk melakukannya.


Jika saja Zian masih belum menikah dan membina rumah tangga. Pasti dia sudah mencari keberadaan Derby dan menghabisi pria itu. Namun hal tersebut tidak Zian lakukan karena dia memikirkan bagaimana nasib Luna bika tanpa dirinya. Dan Zian tidak akan mengambil keputusan tanpa memikirkannya lebih dulu secara matang-matang.


Zian mendesah berat. Pria berambut blonde itu mengambil satu batang rokok dari dalam kotaknya, meletakkannya dimulut dan menyalakan rokok tersebut dengan korek apinya. Pria itu menghisap dalam-dalam rokoknya, kemudian mengeluarkan asap rokok tersebut dari mulutnya.


Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini sangatlah kosong. Tak ada satupun bintang yang menghiasi langit malam. Yang ada hanyalah langit mendung berawan.


Zian mendongakkan wajahnya dan tengah memandang langit tak berbintang di atas sana. Dinginnya malam tak lantas membuatnya merasa terusik sedikit pun, meskipun pakaian yang melekat di tubuhnya sangat kontras dengan udara dingin malam ini. Hanya sebuah celana hitam panjang dan kemeja lengan terbuka yang senada dengan warna celananya.


Zian kemudian menundukโ€ฆ


Apa yang dia lihat sore tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Derby Qin, sukses membuat geram hatinya apalagi dengan sikap dan perilaku kurang ajarnya pada Luna yang membuat Zian semakin ingin melenyapkannya.


Tak lama kemudian Zian kembali mendongakkan kepalanya. Menatap langit malam yang kelam. Lama Zian terdiam dalam kesendirian. Tiba-tiba saja dia mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang yang semakin lama semakin mendekat.


Zian menoleh pada sumber suara dan mendapati Luna berjalan menghampirinya. Zian membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah kemudian menyambut Luna ke dalam pelukannya.


"Kenapa bangun? Masuklah, udara di sini sangat dingin,"

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak, saat aku menyadari jika suamiku hilang dan tidak ada lagi disampingku berbaring. Aku pikir kau hilang di culik Kolong Wewe, tapi ternyata kau ada di sini,"


Zian memicingkan matanya. "Apa kau bilang? Kolong Wewe? Benda apa itu? Apa sejenis makanan atau minuman?" tanya Zian kebingungan.


Luna menggeleng. "Aku juga tidak tau. Aku tau nama itu dari trio ajaib. Mereka bilang itu adalah hantu yang berasal dari Indonesia, soal bentuknya aku juga tidak tau," tutur Luna.


"Ingin coba melihatnya? Kita bisa mencari taunya lewat google," tawar Zian menyeringai. Dan Zian berani bersumpah jika Luna pasti akan langsung menolaknya mengingat seberapa penakutnya istrinya ini.


Luna menggeleng cepat. "Amit-amit tujuh turunan. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur karena terbayang-bayang. Bagus jika yang terbayang-bayang itu adalah wajah Lu-Han yang tampan. Tapi kalau yang terbayang adalah wajah mahluk astral aku tidak mau!!" persis seperti dugaan Zian. Luna akan langsung menolaknya. Luna memang tidak pernah takut pada apapun kecuali hantu.


Zian terkekeh. "Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius, hm?" Zian mengecup singkat bibir Luna. Tanpa memagutnya, hanya sekedar menempel saja.


Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. "K


arena raut wajahmu sangatlah meyakinkan jadi aku tidak berfikir jika yang, Oppa katakan itu hanya sebuah candaan. Oya, apa yang sedang kau lakukan di sini? Ini masih malam, tapi kenapa Oppa tidak tidur?" tanya Luna penasaran.


"Apa ini karena kakak sepupumu itu?" tanya Luna hati-hati. Dia takut jika pertanyaannya itu malah menyinggung perasaan Zian.


Zian menghela nafas panjang, dan mengangguk samar. "Ya, dan kedatangan bajingan itu membuatku tidak tenang. Apalagi dengan sikap kurang ajarnya itu, dia begitu berani menggodamu yang jelas-jelas sudah bersuami. Rasanya aku ingin cepat membunuhnya," Luna merasakan kemarahan yang begitu besar tersirat dari ucapan dan sorot mata Zian yang tajam.


Luna maju dua langkah lebih dekat kemudian menangkup wajah Zian dan mengunci sepasang manik abu-abunya. "Dengarkan aku, Oppa. Sebaiknya relaks-kan dirimu dan tenangkan pikiranmu. Bersama-sama kita akan menemukan cara untuk menghancurkannya, hm," ucap Luna tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Sebaiknya sekarang kita masuk. Kau terlihat lelah, kau harus istirahat sekarang. Dan aku tidak ingin mendengar kata tidak!!" Zian mendesah berat. Kenapa semakin lama Luna malah semakin mirip dengan dirinya? Zian tersenyum tipis, di acaknya rambut panjang Luna. Dan keduanya berjalan beriringan memasuki kamar.


-


Pagi yang hangat telah datang menjelang. Cahaya yang agung telah sampai di ujung cakrawala, membias masuk dari kaca jendela, namun terhalangi oleh tirai putih gading hingga hanya seberkas yang lolos dan tepat

__ADS_1


mengenai wajah sepasang suami-istri yang tertidur di sana. Membangunkan salah satu dari mereka berdua.


Kelopak matanya terbuka dengan perlahan-lahan, memperlihatkan sepasang mutiara berwarna coklat di sana. Sudut bibirnya tertarik ke atas mana kala iris matanya menangkap sosok jelita yang sedang berbaring


disampingnya.


Wanita itu balik menatapnya dan memberikan senyum cerah nan hangat sehangat mentari yang bersinar pagi ini. Sejenak si pria nampak terkesima oleh pemasangan indah yang ada di depan matanya. Dan keindahannya mampu mengalahkan keindahan sang Dewi malam ketika bersinar


"Pagi," sapa wanita itu seraya menakup sisi wajah suamimu.


"Pagi juga, Sayang," jawab di pria dengan suara seraknya. Khas seseorang yang baru saja bangun tidur. "Kau tidak perlu memasak apapun lagi ini. Aku ingin mengajakmu sarapan di luar,"


Wanita itu 'Viona' memicingkan matanya. "Tumben, tapi inikan bukan hari libur. Apakah, Oppa tidak pergi ke kantor?" tanya Viona seraya mengunci matik mata suaminya.


Zian menggeleng. "Aku mengambil cuti selama beberapa hari. Aku ingin memiliki banyak waktu untuk kalian bertiga. Selama beberapa Minggu belakangan ini aku selalu sibuk dan jarang meluangkan waktu untukmu, Laurent dan Lucas. Untuk itu aku ingin mengambil cuti. Dan rencananya aku ingin membawa kalian berlibur ke Yunani. Bukan hanya kita berdua tapi juga Luna dan Zian, aku rasa mereka perlu berbulan madu supaya cepat mendapatkan hasil," tutur Nathan dan sontak membuat kedua mata Viona berbinar.


"Sungguh?" Nathan mengangguk. Viona kemudian berhambur ke dalam pelukan suaminya dan mencium singkat bibirnya."Kalau begitu aku akan segera mengabari, Luna. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya,"


Nathan mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang terkadang suka kekanakan itu. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas dan membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Dan Nathan akan melakukan apapun yang bisa membuat Viona bahagia.


Nathan bangkit dari posisi berbaringnya saat mendengar suara dering pada ponselnya. Dahinya mengernyit melihat nama yang tertera pada layar ponselnya yang menyala terang."Hn, ada apa kau menghubungiku?"


"Nathan, aku memerlukan uang. Bisakah kau meminjami aku dulu? Aku hampir kehabisan uang untuk Kucing-kucing liarku."


Nathan mendesah berat. "Baiklah aku akan mentransfernya siang ini," di rasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi. Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Nathan tidak tau kapan sahabat jangkungnya itu akan berubah dan lebih serius dalam menata dan menjalani hidupnya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2