
baca juga novel Author yang VAMPIRE CANTIK DAN SANG PEMBURU ya.
-
"Zian, tunggu!! Mama perlu bicara denganmu," seru Dahlia ketika melihat kedatangan putra bungsunya. Membuat Zian mau tidak mau menghentikan langkahnya.
Dahlia menghampiri Zian dan langsung menampar pipinya dengan keras. "Mama! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau menamparku?" kaget Zian sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh sang ibu.
"Bagus Mama hanya menamparmu saja, Zian Qin. Kau benar-benar sudah sangat keterlaluan!! Di mana tanggung jawabmu sebagai seorang pria? Bisa-bisanya kau meninggalkan Amanda hanya demi seorang gadis yang tidak jelas. Mama tidak mau tau, pokoknya jauhi gadis itu dan segera nikahi Amanda."
"Aku tidak sudi!! Karna sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan gadis manja seperti dia!!"
"Jadi kau lebih memilih melihat Mamamu mati, begitu? Baiklah kalau itu yang kau inginkan, Zian. Mama akan mati di depanmu," Dahlia menyambar belati yang ada di atas meja lalu mengarahkan pada urat nadinya.
Bukannya merasa panik dan menghentikan aksi gila ibunya. Zian malah terlihat menghela nafas. "Mulai drama lagi? Aku sudah muak dengan sikapmu akhir-akhir ini, Ma. Jadi ini sifat aslimu, pantas saja papa lebih memilih wanita itu di bandingkan dirimu. Karna kau terlalu munafik!! Dan jika kau menang ingin bunuh diri, lakukan saja. Toh, bukan aku juga yang akan merasa sakit dan mati," Zian beranjak dan pergi begitu saja. Meninggalkan Dahlia yang tengah di liputi emosi.
Zian merasa tak mengenali ibunya lagi. Banyak sekali yang berubah pada wanita itu. Ibunya yang dulu dia kenal penuh kelembutan kini tidak terlihat lagi.
Nyonya Dahlia menjadi begitu arogan dan sering kali menyombongkan diri. Apalagi setelah ia berhasil membawa perusahaan mendiang kakeknya di puncak kejayaan. Dan mungkin saja itulah sifat asli ibunya yang selama ini tersembunyi di balik sikap lemah lembutnya.
Dahlia terlihat mengutak-atik ponselnya selama beberapa detik dan kemudian menghubungi seseorang. "Amanda, di mana kau sekarang? Temani ibu bertemu dengan gadis itu. Ibu ingin memberi pelajaran pada gadis tak tau malu itu, karna dia, kini Zian semakin berani melawan ibunya!!"
"Dengan senang hati, Ibu. Dan kebetulan sekali aku sedang berada di cafe yang sama dengan gadis murahan itu. Datanglah ke playfood cafe, aku akan menunggumu di sana,"
Nyonya Dahlia memutuskan sambungan telgonnya kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dan sementara itu, Shea yang tidak sengaja mendengar perbincangan ibunya dan Amanda langsung menemui Zian dikamarnya.
"Zian, mungkin teman gadismu itu sedang dalam masalah. Mama baru saja menghubungi belut betina itu. Mama berencana menemui dan melabrak gadis itu, jadi pergilah sekarang. Mereka berada di Playfood cafe." ujar Shea.
Zian langsung pergi tanpa menghiraukan Shea yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Pemuda itu tak akan memaafkan ibunya apalagi Amanda jika mereka sampai berani menyentuh dan menyakiti Luna.
-
Dahlia segera turun dari mobilnya dan menghampiri Amanda yang sudah menunggunya di depan cafe. Mereka berbincang sebentar kemudian masuk ke dalam cafe bersama-sama.
Dahlia menghampiri Luna yang sedang berbincang dengan teman-temannya di salah satu meja di sudut cafe. "Ibu, dialah orangnya. Orang yang sudah mempengaruhi Zian sehingga dia melawanmu, dan dia juga yang sudah membuat Zian berkali-kali meninggalkanku," ujar Amanda sambil menunjuk Luna.
"Oh, jadi kau orangnya? Berani sekali kau meracuni otak anakku dan membuat dia melawan ibunya sendiri!"
Plakk...!!
Luna berdiri dan menahan tangan Dahlia yang hendak menamparnya lalu menghempaskannya sedikit kasar. "Ada apa ini? Siapa Anda, dan kenapa tiba-tiba Anda menuduh saya yang tidak-tidak?" tanya Luna meminta penjelasan.
__ADS_1
"Dasar gadis kurang ajar! Di mana sopan santunmu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua? Dan berani sekali kau menatapku dengan tatapan seperti itu, hah!"
"MAMA CUKUP!!" bentak Zian. Pemuda itu baru saja tiba di cafe dan menengahi perdebatan antara Luna dan Ibunya. "Kau sudah bertindak kelewatan kali ini. Luna, kita pergi dari sini,"
Zian meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya pergi dari cafe tersebut. Bahkan dia tak menghiraukan teriakkan Ibunya yang memintanya untuk berhenti. Zian benar-benar merasa malu dengan tindakkan Ibunya yang sudah kelewat batas.
.
.
Zian dan Luna menghentikan langkahnya setelah cukup jauh dari cafe. Zian memegang bahu Luna sambil mengunci sepasang iris coklatnya. "Apa mama menyakitimu?" tanya Zian memastikan.
Luna menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat. "Tapi, Zian. Kenapa kamu harus bersikap sekasar itu pada ibumu? Bagaimana kalau dia sampai berfikir jika kau jadi seperti ini karna diriku? Namaku bisa semakin buruk di mata mamamu,"
Zian mendesah berat. "Aku tidak akan bersikap kasar jika saja mama tidak memulai duluan dan bertindak keterlaluan seperti itu padamu, Luna. Dan sekarang aku tau kenapa papa lebih bersama dengan ibumu dibandingkan bersama mama."
"Karna mama penuh dengan tipu muslihat dan kemunafikan yang selama ini tersembunyi di balik kelemahannya yang ternyata hanyalah pura-pura. Penyakitnya, penderitaannya, semua itu bohong, semua itu palsu. Dan bodohnya aku malah tertipu dengan permainannya itu."
"Aku merasa malu, Luna. Aku sangat-sangat malu karna memiliki ibu seperti dia," ujar Zian panjang lebar.
Zian menurunkan tangannya dari bahu Luna kemudian beranjak dan meninggalkan gadis itu beberapa langkah dbelakangnya. Luna menatap punggung Zian dengan pandangan tak berbaca.
Kemudian Luna beranjak dari tenpatnya berdiri dan menghampiri Zian. Luna memeluk pemuda itu dari belakang. "Zian, kau boleh merasa marah dan kecewa padanya, tapi kau tidak boleh membencinya. Karna bagaimana pun juga dia adalah ibumu, ibu kandungmu."
Gadis itu menutup rapat-rapat kedua matanya.
Zian melepaskan pelukan Luna kemudian berbalik dan posisi mereka kini saling berhadapan. Zian meraih bahu Luna kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukkannya.
"Kau tidak akan pernah tau jika kau tidak bertanya apa alasannya menelantaskanmu saat itu. Temui dia dan coba bicara dari hati kehati dengannya. Dan jika kau mau, aku akan mempertemukanmu dengannya,"
Luna menggeleng. "Aku belum siap, Zian. Bagaimana jika alasan dia meninggalkanku malah membuatku semakin terluka? Aku tidak ingin sakit dan terluka untuk yang kesekian kalinya. Sebaiknya aku tidak bertemu dengannya sampai aku benar-benar siap," ujar Luna.
Zian melepaskan pelukkanya dan mengunci mata Luna. "Baiklah, karna semua keputusan ada ditanganmu. Ini adalah hidupmu, dan kau sendiri yang berhak untuk menentukannya, bukan orang lain." Kemudian Zian melepaskan pelukkannya. "Sebaiknya aku antar kau pulang,"
"Tapi aku lapar, aku tadi belum sempat makan karna kau seenaknya saja menarikku pergi, bagaimana kalau kita makan dulu?" usul Luna seraya menatap Zian penuh harap. Pemuda itu mendengus geli, dengan gemas Zian menjitak kepala coklat Luna sedikit keras."Appo, Zian sakit!!" jerit Luna sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zian.
Zian merangkul bahu Luna. "Kau ingin makan di mana?" tanya Zian, keduanya mulai melangkahkan kakinya dan meninggalkan area taman.
Luna meletakkan jarinya di bibir dan mulai berfikir. "Di mana ya? Emm... Bagaimana kalau hotel bintang lima? Aku rasa kau tidak akan jatuh miskin hanya karna mentraktirku di tempat mewah sesekali saja. Bagaimana?" Luna menatap Zian dengan mata berbinar-binar.
"Dasar matre," Zian menyentil kening Luna. Alih-alih kesal dan marah. Luna malah terkekeh.
Luna meneluk lengan terbuka Zian, dan keduanya kini menjadi pusat perhatian. Cantik dan tampan, sungguh sebuah perpaduan yang sempurna. Begitulah yang mereka pikirkan.
__ADS_1
-
Sang penguasa siang mulai membenamkan sinarnya di ujung barat. Langit biru perlahan menghang dan digantikan oleh langit orange yang terlihat bak sebuah primadani dengan gradasi hitam dan ungu yang mendominasi.
Burung-burung camar mulai mengangkasa. Terbang melintasi langit untuk kembali kesarangnya. Bulatan kuning besar yang tampak di ujung barat perlahan tenggelam semakin dalam di balik bukit.
Lampu-lampu kota pun mulai tampak dinyalakan menandakan jika malam yang dingin akan segera datang.
Di tengah hiruk-piruk kota Seoul yang tak pernah mati. Terlihat sepasang muda-mudi berjalan beriringan di trotoar jalan sambil berpegangan tangan. Di tangan kiri si gadis memegang sebuah ice cream rasa coklat kacang kesukaannya.
Keduanya terlihat begitu serasi bak sepasang kekasih meskipun pada kenyataannya tak ada ikatan istimewa yang terjalin di antara mereka berdua."Melihat orang lain berkencan denga pasangannya membuatku ingin memiliki pacar juga," ucap si gadis yang sedang memandang iri pada sepasang kekasih yang sedang bermesraan di sudut taman.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap pemuda disampingnya dengan serius. "Zian, bagaimana kalau aku cari pacar saja? Bukan,,, bukan,,, tapi pria yang bisa aku kencani. Menurutmu bagaimana?" tanya gadis itu yang pastinya adalah Luna sembari mengunci sepasang manik abu-abu milik Zian.
"Jika kau ingin memiliki kekasih, aku bisa mengabulkannya. Kita bisa berkencan sungghan jika kau mau,"
Luna menggeleng. "Tidak,, tidak,, tidak,,, orang itu tidak boleh dirimu. Aku tidak ingin hubungan kita memburuk jika kita sampai putus. Aku lebih nyaman menjalani hubungan tanpa status denganmu. Karna dengan begitu kita tidak saling terikat. Lagipula aku berniat menjadikanmu sebagai jodoh masa depanku. Jika aku sudah siap untuk membuat komitmen, aku akan memintamu untuk langsung menikahiku tanpa harus berpacaran dulu," ujar Luna panjang lebar.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Maka aku akan memaksamu, aku akan menghamilimu supaya kau tidak memiliki alasan lagi untuk menolakku," jawabnya asal.
Dan endingnya sebuah jitakan malah mendarat mulus pada kepala coklat Luna."Dasar sinting, di mana-mana wanita yang hamil, bukan pria!!"
"Ehhh, jangan salah. Itu adalah sebuah trobosan terbaru. Di mana bukan wanita saja yang bisa hamil dan melahirkan, tapi pria juga," ujar Luna. Dan lagi-lagi Zian hanya bisa mendengus geli.
"Dasar aneh," ucapnya dan pergi begitu saja.
"YAKK!! ZIAN QIN, TUNGGU AKU!!" seru Luna dan bergegas mengejar Zian yang berjalan mendahuluinya.
Luna melompat ke atas punggung Zian kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian.
"Zian, aku bersungguh-sungguh saat aku mengatakan akan menjadikanmu sebagai jodoh masa depanku. Ketika aku benar-benar siap untuk membuat sebuah komitmen. Katakan saja aku ini gila dan tak masuk akal, karna hanya dirimu yang pantas dan layak menjadi pendamping hidupku." Ujar Luna panjang lebar.
Zian melirik Luna dari ekor matanya. "Aku tau jika di dalam hatimu masih ada dia, Luna. Itulah alasan utama kenapa kau tidak ingin membuat komitmen dengan siapa pun. Dan aku akan menikahimu ketika di dalam hatimu hanya ada aku sebagai satu-satunya pria yang kau cintai. Aku tidak ingin memulai hubungan denganmu ketika hatimu masih terbelah dua," ujar Zian yang terdengar dingin namun menyiratkan kesedihan yang begitu dalam.
Luna menundukkan wajahnya. Kali ini dia tidak berkata apapun lagi. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghantan dadanya ketika mendengar kata-kata Zian. Mungkin memang benar apa yang Zian katakan, meskipun tak sepenuhnya benar.
"Sudah hampir larut malam, sebaiknya aku antar kau pulang," Zian menurunkan Luna dari punggungnya. Dan keduanya berjalan beriringan menuju tempat di mana mobil Zian di parkirkan.
-
Bersambung.
__ADS_1
...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...