
Mentari mulai beranjak, sinarnya yang hangat mulai masuk menerobos diantara celah celah kaca jendela. Di sebuah kamar yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja, seorang gadis duduk di atas tempat tidurnya. Dia hanya termenung, hingga tak menyadari ada seseorang yang memasuki kamarnya.
"Luna," tegur Viona sambil membawa sebuah nampan berisi sarapan untuk gadis itu. "Ada apa? Kenapa kau tidak ikut sarapan? Apa kau sakit?" tanya Viona memastikan.
Luna menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Eonni. Hanya tidak nafsu makan saja, lagi pula aku tidak lapar," kata Luna.
"Jangan bohong, Lun. Aku ini Kakakmu, mungkin kau bisa membohongi semua orang, tapi kau tidak mungkin bisa membohongiku. Sekarang cerita pada, Eonni. Sebenarnya apa yang membuatmu merasa seburuk ini?"
Alih-alih menjawab. Luna malah berhambur memeluk Viona dan mulai terisak. Dan dalam pelukkan saudari kembarnya itu Luna menumpahkan semua kesedihan dan kepedihan hatinya. Dan tanpa bertanya pun, tentu Viona tau apa yang menjadi penyebabnya.
"Hiks, kenapa rasanya begitu menyakitkan, Eonni. Rasanya aku ingin menyerah saja, perasaan ini hanya menyiksa dan membuatku semakin terluka," tangis Luna semakin pecah.
Viona mengusap punggung Luna dengan gerakkan naik-turun. "Eonni tau dan memahami betul apa yang kau rasakan saat ini, Adikku. Mencinta seseorang memang mudah, tapi tidak saat kita ingin melepaskan orang itu dari hati kita. Dan apapun keputusanmu, Eonni akan selalu mendukungnya. Jika menurutmu itulah yang terbaik untukmu,"
Sebagai seorang kakak, tentu Viona tak ingin Luna semakin terluka. Memang sudah seharusnya Luna menyerah dan mencoba membuka hatinya untuk orang lain. Lagipula pria di dunia ini bukan hanya Dean saja. Mungkin saja di luar sana ada seseorang yang bisa menerima dan mencintai Luna dengan tulus, seperti cinta Nathan pada Viona contohnya.
"Coba lupakan dia, Lun. Takdir kalian hanya sebatas adik-kakak, tidak lebih. Jangan terlalu lama membiarkan batinmu tersiksa karna perasaanmu padanya. Untuk apa kau berjuang sampai seperti ini, sedangkan yang kau perjuangkan malah mencintai orang lain. Lepaskan cintamu untuknya, dan coba buka hatimu untuk yang lainnya,"
Luna melepaskan pelukkan Viona kemudian mengangguk. "Baiklah, Eonni. Akan aku coba. Oya, sore ini aku akan pulang ke rumah papa. Aku tidak bisa terus-terusan lari seperti ini hanya untuk menghindari, Dean,"
"Terserah kau saja," Viona mengusap wajah Luna. "Ya sudah, cepat makan. Kau bisa sakit jika telah makan," Luna tersenyum kemudian mengangguk.
"Siap, Bu Dokter," Viona menyentil kening Luna saking gemasnya dan kemudian meninggalkannya begitu saja.
-
Hidup dalam dunia gelap, tentu bukanlah sesuatu yang patut untuk di banggakan. Apalagi dengan segala title buruk yang melekat pada diri seorang gangster.
Menjadi seorang gangster tentu bukanlah sebuah piilihan, karna keadaanlah yang membuat mereka yang terhianati akhirnya memilih untuk meninggalkan cahaya kemudian masuk ke dalam kegelapan. Dan kebanyakkan adalah mereka yang menjadi korban broken home.
Dan itu pula yang dialami oleh Zian. Berkali-kali dikhianati membuat Zian memilih meninggalkan cahaya dan masuk ke dalam kegelapan. Balap liar, mabuk-mabukkan sampai tawuran antar geng sudah menjadi makanannya sehari-hari. Tak ada penyesalan dengan jalan yang telah dipilihnya tersebut, Zian justru menikmatinya.
Dan seperti yang sudah-sudah, pertarungan antar dua geng yang sudah lama saling bermusuhan itu pun tak lagi bisa terhindarkan. Persetan dengan anak buah mereka yang siapa-melawan-siapa, yang terpenting bos geng tersebut saling berhadapan satu sama lain.
Zian menangkis pergerakan Derry dengan tangkas karena dia sudah terbiasa berkelahi dengannya. Dan perkelahian kali ini hanya di picu sebuah masalah kecil saja, geng lawan tidak terima ketika salah satu anggotanya tidak sengaja dikencingi oleh Reno ketika sedang berbuat mesum di sebuah semak-semak.
Dan sebagai teman sekaligus leader dalam geng, tentu Zian tak tinggal diam ketika mendengar temannya berada dalam masalah. Meskipun nantinya Reno akan mendapatkan masalah yang lebih besar dari Zian.
Zian terus melayangkan serangannya pada Derry dengan sangat membabi buta. Lelaki itu tak memberi celah sedikit pun agar Derry bisa bergerak dan bisa membalas semua serangannya. Kini tubuh Zian sudah diselimuti oleh kemarahannya yang membuncah. Seolah-olah iblis dalam dirinya sudah mengambil alih kewarasannya dengan sepenuhnya.
Amarah itu menguasainya, ia tidak bisa mengontrol dirinya. Yang ia pikirkan saat ini hanya menghajar lelaki yang berada di hadapannya ini sampai tak bisa bergerak lagi. Supaya orang itu tidak terus-terusan mencari masalah dengan gengnya.
Derry yang kewalahan berusaha mencari celah agar bisa lepas dari serangan Zian. Lelaki itu mendorong tubuh Zian hingga membuat dia mundur beberapa langkah ke belakang. Dan situasi itu Derry gunakan untuk melarikan diri, tubuhnya sudah babak belur, dan dia tidak akan selamat jika pertarungan tersebut tetap di lanjutkan kembali.
"Tidak perlu di kejar, biarkan saja mereka pergi," Reno menahan Zian yang hendak mengejar Derry, dan buru-buru Reno melepaskan cengkramannya pada lengan Zian ketika melihat tatapan tajamnya yang penuh intimidasi.
"Aku akan mengurusmu nanti," ucap Zian dan pergi begitu saja. Dan Reno hanya bisa berdoa semoga Zian mengalami amnesia dan melupakan ucapannya. Dia tidak sanggup jika harus tidur di kamar mandi dengan setengah tak berpakaian.
"Dasar Iblis, huhuhu... Eomma, anakmu ini dalam masalah besar. Iblis sialan itu pasti akan menindasku lagi, huhuhu... Eomma doakan anakmu ini dari neraka ya. Maaf aku tidak menyebut surga, karna semasa hidup dulu Eomma memang penuh dosa. Merebut suami orang, selingkuh dengan tukang kebun, sampai-sampai tertangkap ketika berbuat mesum di semak-semak. Lindungi anakmu yang terlewat tampan ini ya Eomma,"
Orang-orang yang lewat di sana hanya bisa mendengus geli mendengar doa konyol Reno. Reno yang merasa menjadi pusat perhatian pun memutuskan untuk segera pergi dari sana, dia tidak ingin semakin di permalukan lagi.
-
__ADS_1
"OPPA, DIALAH YANG SUDAH MEMAKSAKU SUPAYA MENINGGALKANMU!!"
Degg..
Langkah kaki Luna terhenti di halaman luas mansion Leonil. Di sana, di teras mansion. Tampak Miranda yang sedang menangis dalam pelukkan Dean, Miranda mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya dan membuat emosi Dean langsung memuncak.
"Hiks, Oppa. Aku tidak tau apa salahku padanya sampai-sampai dia begitu membenciku. Padahal aku memiliki itikad baik untuk bisa dekat dengannya apalagi tak lama lagi kita akan menjadi keluarga. Tapi apa yang aku dapatkan? Luna, dia tidak pernah menyukaiku dan malah ingin mengusirku. Hiks, Oppa harus memberi pelajaran padanya," ujarnya panjang lebar.
Miranda semakin terisak dalam pelukkan Dean, dan air mata buayanya itulah yang membuat Dean percaya pada semua yang dia katakan.
Dean mengusap punggung Miranda dengan gerakkan naik-turun, amarah terluhat jelas dari sorot mata Dean ketika menatap Luna yang juga menatap padanya.
"Luna, kau!!"
"Apa, Dean? Apa kau ingin membuat perhitungan denganku?" tanya Luna seraya menatap Dean dengan sendu.
"Hiks, dia tidak hanya memintaku supaya aku meninggalkanmu, tapi dia juga memintaku untuk menggugurkan janin ini. Hiks, dia sangat jahat Oppa, dia benar-benar jahat," dan tangis buaya Miranda pun kembali pecah. "Balaskan sakit hatiku padanya, buat dia menyesal karna sudah membuatku merasa sakit hati,"
"BOHONG!! KAU SUDAH DI PERDAYA OLEHNYA. OPPA, SADARLAH, DIA BUKANLAH-"
"DIAM!!" bentak Dean menyela ucapan Luna. Dean menghampiri Luna dan langsung menamparnya, tidak hanya menampar saja, tapi juga mencekik leher Luna sampai membuat Luna terbatuk-batuk. "Leonil Luna, apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan itu? Kau... Bagaimana bisa kau begitu kejam, hah! Di dalam perutnya bersemayam janinku, calon anakku!!" teriak Dean tepat di depan wajah Luna.
"SADARLAH, DEAN JIKA KAU SUDAH DI PERDAYA OLEHNYA!! ITU BUKAN ANAKMU, TAPI ANAK ORANG LAIN. KAU HANYA DIPERALAT OLEHNYA!!"
"BOHONG!" Miranda menyela cepat. "Dia bohong. Oppa, anak ini adalah anakmu dan aku berani bersumpah. Ini sungguh-sungguh anakmu. Dia hanya ingin memisahkan kita,"
"Kau benar-benar KETERLALUAN!" bentak Dean di akhir kalimatnya.
"Uhuk... Uhuk.." Luna terbatuk-batuk setelah cekikan Dean berhasil terlepas.
"Kau sudah di butahkan oleh cinta, Leonil Dean, sehingga kau tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Terus terang aku menyesal punya kakak bodoh dan tidak peka sepertimu, dan aku lebih menyesal lagi karna sudah jatuh cinta pada orang bodoh sepertimu. Mulai sekarang, kita bukan saudara lagi. Karna bagiku, kau sudah mati!!" Luna menyeka air matanya dan pergi begitu saja.
"Luna tunggu, Oppa-"
"Sudah tidak usah di kejar. Gadis kasar dan tak ber-etika seperti dia sekali-kali memang harus di beri pelajaran. Sebaiknya sekarang temani aku berbelanja, janin ini juga ingin jalan-jalan bersama Papanya,"
Dean mengangguk. "Baiklah, Sayang," sekali lagi Dean melihat kearah jalan dan sosok Luna telah menghilang. Dean tak percaya bila Luna akan memutus tali kekeluargaan di antara mereka, tapi bukan itu yang membuat Dean sangat terkejut, tapi pengakuan cinta Luna-lah yang membuatnya terbungkam.
"Dan aku menyesal karna sudah jatuh cinta pada orang sepertimu,"
Dean menutup matanya. Kata-kata Luna begitu membekas di dalam ingatannya. Luna jatuh cinta padanya? Tapi sejak kapan? Dan kenapa dia tidak menyadarinya? Dean merasa bodoh, sangat-sangat bodoh karna tidak pernah bisa peka pada perasaan Luna.
-
Di bawah guyuran air hujan yang mengguyur kota Seoul dengan derasnya, Luna terus berlari tanpa arah. Kedua matanya tampak sembab karna air matanya. Langit seolah ikut merasakan kepedihan hatinya, untung saja saat itu hujan sedang turun dengan lebatnya sehingga tidak ada yang bisa melihat dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
Air hujan bagaikan mantel untuk air matanya yang kemudian menyamarkan cairan yang tak henti-hentinya menetes dari netra indahnya.
Luna berlari dan terus berlari, Ia tidak memiliki arah saat ini. Luna hanya mengikuti kemana langkah kakinya akan membawanya dan tiba-tiba saja..
BRRUUGGG ,,, !!! ,,,
Tanpa sengaja dia malah bertabrakan dengan pejalan kaki lain yang juga berlari namun dengan arah berlawanan. Membuat gadis itu terjatuh dalam posisi duduk.
__ADS_1
"APA KAU TIDAK PUNYA MATA EO? CEPAT BERDIRI DAN MINTA MAAF SEKARANG, ATAU KU HABISI KAU!!"
Dan sepertinya orang itu yang merupakan seorang pria. Merasa tidak terima saat Luna menabraknya. Pemuda itu terlihat begitu murka dan berniat untuk menghabisi nyawa Luna jika Ia tidak bangun dan segera meminta maaf padanya.
Namun Luna tak memberikan reapon apa-apa, sedikit pun Ia tidak bergeming dari posisinya. Dan hal itu semakin membuat pemuda tersebut semakin naik darah.
Pemuda dengan balutan tank top putih dan rompi kulit hitam itu mengusap kasar wajahnya. Ia menghela nafas panjang dan menghempaskan sedikit kasar. "Benar-benar cari masalah kau rupanya." desisnya tajam. "Kau tidak tuli bukan? Bangun dan minta maaf sekarang. Atau-"
"Jika kau ingin membunuhku, lakukan saja. Aku tidak peduli." lirih Luna menyela ucapan pemuda di hadapannya dengan suara paraunya.
Mendengar suara parau Luna yang sepertinya sangat familiar itu membuat pemuda tersebut yang tak dan tak bukan adalah Zian merasa sedikit bersalah karna sudah marah-marah padanya dan mengancam akan menghabisi nyawanya.
Zian merasa jika gadis dihadapannya itu tidaklah asing, tapi dia tidak yakin jika itu memang dia, karna wajahnya tertutup sebagian rambutnya yang terurai apalagi posisi wajahnya yang menunduk, dalam. Dan meskipun Ia tidak tau apa alasan gadis itu menangis, namun Ia tau jika gadis itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" tanya Zian itu memastikan.
Mendengar suara yang cukup familiar, sontak Luna mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya mereka berdua setelah mata mereka saling bersiborok.
"Luna//Zian?"
.
.
Angin malam berhembus ringan, menyapa seorang dara jelita bersurai sewarna tembaga yang sedang menatap kosong kedepan. Memandangi kendaraan yang hilir mudik di jalanan. Kejadian itu masih sangat segar di dalam ingatannya. Perlakuan kasar yang di lakukan oleh Dean padanya membuatnya hancur berkeping-keping.
Meskipun akhir-akhir ini hubungannya dengan Dean sedikit merenggang, namun tidak bisa Ia pungkiri jika Ia masih sangat mencintainya.
Dean begitu membela Miranda mati-matian, bahkan Dean nyaris saja membunuhnya karna wanita itu. Dan hal itu lebih dari cukup untuk membuat hatinya tercabik-cabik dan kini penuh luka.
"Minum dulu," Luna tersenyum tipis dan mengambil minuman yang di berikan oleh pemuda di hadapannya.
Luna menarik sudut bibirnya, dan tersenyum tipis. "Terimakasih, Zian." Ucapnya membalas.
" Apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Zian hati-hati.
Alih-alih ingin membalas pertanyaan Zian, Luna malah menundukkan kepalanya. Bibirnya kembali bergetar dan matanya memanas berkaca-kaca. Kaca yang siap pecah, kemudian berubah menjadi butiran air suci yang Luna sendiri tak mampu mencegah kedatangannya.
Sebenarnya Luna tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan orang lain apalagi di depan pria. Tapi matanya tidak bisa di ajak komoromi lagi, dan cairan-cairan bening itu jatuh dengan sendirinya.
Dan melihat sikap Luna membuat Zian semakin yakin jika memang telah terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Zian, boleh aku meminjam bahumu sebentar?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian penuh harap. Zian mengangguk.
Luna menyandarkan kepalanya pada bahu Zian. Dia membiarkan bahunya menjadi sandaran untuk gadis itu. Bahkan Zian pun tidak merasa sungkan untuk mengusap kepala Luna.
"Jika kau membutuhkan tempat untuk bersandar, bahuku selalu ada untukmu. Kau bisa menumpahkan semua kesedihanmu dan membaginya denganku," ujar Zian setengah bergumam.
Luna menutup matanya dan mencoba menyamankan posisinya. Perasaannya tiba-tiba menghangat dan ia jauh lebih tenang dari sebelumnya. Kata-kata Zian serta sentuhannya rasanya seperti sebuah mantra ajaib yang bisa mengembalikan suasana hatinya yang buruk.
-
Bersambung.
__ADS_1