Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 79 "Segalanya Bagiku"


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan like sebelum membaca dan tinggalkan komen yang menyemangati Author buat ngetik lanjutan ceritanya 🙏🙏🙏 baca juga novel kedua Author ISTRI KONTRAK CEO DINGIN.


Maaf, karna banyak typo-typo bertebaran.


-


Viona bangun dari tidurnya karna merasa haus. Jam dinding baru menunjuk angka 4 dini hari. Masih terlalu awal untuk bangun. Wanita itu turun dari tempat tidurnya dengan perlahan supaya tidak membangunkan Nathan yang sedang terlelap.


Kedua mata Viona memicing melihat pintu kaca yang menghubungkan ruang keluarga dan taman terbuka dan lampu di sana juga tampak menyala.


Curiga ada penyusup yang tiba-tiba masuk. Viona memutuskan untuk memeriksanya. Tapi setibanya di sana bukan penyusup yang dia dapati melainkan seorang pria tua yang sedang merawat bunga-bunganya. Kakek Lee terlihat mencabut beberapa mawar miliknya yang sudah mati atau layu kemudian menggantinya dengan yang baru. Viona menghampiri Kakek Lee dan menegurnya.


"Kakek, ini masih malam. Apa yang Kakek lakukan?"


Sontak saja Kakek Lee menoleh dan sedikit terkejut melihat keberadaan Viona di sana. "Nyonya Lu, Anda sedah bangun?" sapa Kakek Lee. "Bunga-bunga Nyonya ada beberapa yang mati dan mulai layu, jadi saya mencabutnya dan menggantinya dengan yang masih segar," jelas Kakek Lee menuturkan.


Viona menghampiri Kakek berusia 70-an tersebut seraya berkata. "Kakek tidak perlu melakukan ini, ada orang lain yang melakukannya. Sebaiknya Kakek masuk dan tidur lagi, ini masih malam,"


Kakek Lee menggeleng. "Saya merasa tidak enak jika hanya diam tanpa melakukan apa-apa, Nyonya. Saya merasa tidak pantas diperlakukan dengan begitu Istimewa oleh Anda dan Tuan Lu. Anda memberi makan dan pakaian serta tempat tidur yang layak saja sudah lebih dari cukup untuk kami," tutur Kakek Lee.


"Apa yang kakek bicarakan. Kakek sangat layak mendapatkan perlakuan istimewa dari kami. Apa yang kami berikan tidak seberapa dibandingkan dengan jasa Kakek dan Daniel pada Nathan Oppa. Kalian sudah merawatnya dengan sangat baik, bahkan Kakek tidak merasa ragu untuk membawa dia pulang ke rumah Kakek meskipun dia adalah orang asing."


"Anda terlalu berlebihan Nyonya, karna apa yang kami lakukan adalah bentuk dari rasa kemanusiaan pada sesama manusia,"


"Sungguh mulia hati Kakek," Viona tersenyum dan menatap Kakek Lee penuh rasa haru. "Kakek masuk lagi ya, bisa-bisa Nathan Oppa marah jika melihat Kakek bekerja seperti ini," bujuk Viona.


Dan akhirnya Kakek Lee mau mendengarkan Viona kemudian kembali kekamarnya. Begitu pula dengan Viona, wanita itu masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya.


"Kau dari mana saja?" tegur Nathan saat melihat Viona kembali ke dalam.kamar.


"Dapur, tiba-tiba aku haus. Oppa sendiri kenapa bangun? Sebaiknya kita tidur lagi, ini masih malam,"


"Apa kau melihat kotak obatku? Tiba-tiba mata kiriku berdenyut lagi dan aku tidak menemukan kotak obatku," ujar Nathan.


"Mata kiri Oppa sakit lagi? Aku akan memeriksanya, aku takut jika ada jahitannya yang terbuka,"


Nathan menahan tangan Viona seraya menggelen. "Tidak usah, mungkin karna efek pukulan yang aku terima kemarin sore. Berikan saja obat itu padaku,"


Viona mendesah berat. "Baiklah, tunggu sebentar, aku akan ambilkan obatnya." Ucap Viona lalu meninggalkan Nathan begitu saja.


Perhatian Nathab sedikit teralihkan oleh dering pada ponselnya. Mata kanannya memicing, Henry menghububginya? Tumben sekali kakaknya itu menghubunginya di pagi buta seperti ini.


"Ada apa kau menghubungiku pagi buta begini, Ge?" seru Nathan tanpa basa-basi.


"Apa itu perbuatanmu? Apa kau yang membantai James Wang dan orang-orangnya?"


"Jadi kau menghubungiku karna hal itu? Apa kau tidak bisa membahasnya nanti saja? Kau sudah mengganggu waktu istirahatku, Ge!" Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.


"Oppa, ini obatnya,"


Nathan menerima beberapa butir obat dan air putih yang Viona berikan padanya lalu meminumnya. "Kita tidur lagi," ucap Nathan seraya menuntun Viona untuk berbaring disampingnya. Satu kecupan Nathan daratkan pada kening Viona.


"Oppa, kau tidak ingin menyapanya? Selama beberapa hari ini kau terus mengabaikannya, sepertinya dia sangat merindukan Papanya,"


Nathan merubah posisinya, wajahnya berhadapan dengan perut Viona. "Tumbuh dengan baik Nak, Papa akan selalu menanti dan menjagamu dengan baik di sini," ucap Nathan dengan lembut sambil mengusap perut Viona dan setelahnya mengambil ciuman lembut pada bibir Viona.


"Aku mencintaimu Viona," ucap Nathan penuh kelembutan. Jari-jarinya mengusap pipi Viona.


Viona tersenyum lebar. "Aku juga mencintaimu, Oppa. Sangat-sangat mencintaimu," jawab Viona dengan senyum yang sama. Nathan menarik lengan Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya.

__ADS_1


"Apa kita tidak jadi tidur lagi?" Viona mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan. Mutiara hazelnya mengunci manik kanan milik suaminya.


Nathan menggeleng. "Aku sudah tidak bisa tidur lagi, dan lagi pula ini sudah pagi."


"Oppa, bagaimana kalau kita pergi berlibur? Aku dan Tiffany sudah membuat janji akan pergi berlibur ke pulau Nami akhir pekan ini. Henry Oppa sudah setuju dan hanya tinggal kau saja yang belum memberikan persetujuan. Oppa setuju ya, kalau kau tidak setuju dan tidak mau pergi aku tidak akan makan selama 7 hari 7 malam. Biar saja aku sakit dan kemudian ma-"


"Oke, kita pergi tapi berhenti berkata yang tidak-tidak. Atur saja waktunya," pinta Nathan pada akhirnya.


"Yeee... Berlibur, Oppa kau memang suami terbaik di dunia. Aku semakin mencintaimu." Viona pun bersorak bahagia, wanita itu langsung berhambur ke dalam pelukkan Nathan. "Kalau begitu aku akan menghubungi Tiffany," ucap Viona yang terlihat begitu antusias, sedangkan Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan istrinya.


-


"BOCAH SETAN!!! KELUAR KALIAN DARI RUANGANKU!!"


Amarah Bram memuncak karna ulah Satya. Baru saja pemuda itu memecahkan giok kristalnya yang Bram dapatkan ketika bertandang ke China. Dan karna ulah Satya, 500 juta won melayang sia-sia.


"Ups, maaf Paman. Aku sungguh-sungguh tidak sengaja," Satya pura-pura menyesal.


"Maaf kau bilang? Kau fikir kata maaf saja bisa mengembalikan guci giok kristal itu. Ganti sekarang juga atau aku akan menyeretmu ke penjara?" ancam Bram bersungguh-sungguh.


"Paman mau melaporkanku ke polisi? Apa Paman tidak kasihan padaku? Aku ini anak yatim, ayahku mati tercebur empang. Ibuku orang tidak punya jika aku masuk penjara siapa yang akan mencari uang dan membelikan perawatan wajah untuknya."


"Itu bukan urusanku, jika kau tidak mau membayar ganti rugi, kau harus bersiap masuk penjara!!"


Alih-alih merasa takut. Satya malah tertawa terbahak-bahak dan membuat Bram kebingungan. "Apa yang kau tertawakan? Aku sedang marah dan emosi karna dirimu. Dan apakah kau tau seberapa mengerikannya diriku jika sedang marah. Dan baiklah akan aku tunjukkan padamu saat aku sedang marah."


"Paman, ada cicak dibajumu," seru Satya histeris.


Sontak mata Bram membelalak. "A-Apa? Cicak? Ma-Mana?"


"Di bajumu,"


"Huaaaa, kkkkyyyaaa... jauhkan cicak itu dariku!!"


"BOCAH SETAN!! AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!!"


"Hahahah...."


-


Nathan mengangkat kepalanya saat menyadari kedatangan seseorang diruangannya. Tampak Henry berjalan memasuki ruang kerjanya kemudian berjalan ke arah sofa yang berada di tengah-tengah ruangan. Nathan menutup dokumen terakhirnya lalu bangkit dari duduknya.


Alis Nathan memicing melihat raut cemas yang tersirat pada mimik muka Henry. "Ada apa dengan wajahmu itu, Ge? Apa terjadi masalah?"


"Bagaimana kau bisa tetap sesantai ini sedangkan keadaan di luar sana begitu panas. Apakah kau tidak sadar jika tiga boss besar Black Devil sedang mencari dan memburu pria misterius yang menghabisi saudara mereka dengan brutal,"


"Lalu, aku harus bagaimana? Bersembunyi seperti seorang pengecut? Oh ayolah, Ge. Itu bukanlah gayaku. Lagi pula siapa yang bisa menangkap diriku?"


"Tapi kau sedang diselidiki dan diincar,"


"Aku tidak gentar. Lagi pula bukan aku yang memulai duluan, mereka yang sudah mengibarkan bendera perang denganku,"


"Nunna saja tidak mempermasalahkannya apalagi memperpanjang masalah ini, tapi kenapa justru kau yang-"


"Karna istriku nyaris saja menjadi korban dari kebrutalan mereka-" sela Nathan dengan suara sedikit meninggi. "Dan kau bisa bicara seperti ini karna pada saat kejadian tidak ada dilokasi. 130 nyawa manusia tidak bersalah melayang sia-sia karna kebrutalan mereka. Dan hampir saja aku menjadi gila karna aku fikir Viona juga sudah menjadi korban dari kegilaan mereka. JADI BAGAIMANA AKU BISA DIAM SAJA!!"


Henry terkesiap, nyaris saja dia terkena serangan jantung dadakan. "Nathan, Gege hanya?"


"Diamlah, sebaiknya kau keluar. Aku masih banyak kerjaan,"

__ADS_1


Henry mendesah berat. "Baiklah, Gege akan pergi sekarang. Maaf kalau kata-kata Gege malah melukai perasaanmu, Gege hanya-"


"Aku tau, tidak perlu di bahas lagi. Pergilah sekarang,"


"Sudah hampir jam makan siang, Gege harap kau tidak melewatkan makan siangmu lagi,"


"Hn,"


Dan selepas kepergian Henry, di dalam ruangan hanya menyisahkan Nathan sendiri. Nathan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca disamping kanannya. Kedua tangannya tersembunyi apik di dalam saku celananya, iris matanya yang dingin hanya menatap datar pada jalanan kota yang tampak padat kendaraan di bawah sana.


Iblis dalam dirinya mulai mengambil alih akhir-akhir ini dan Nathan seolah tidak bisa mengendalikannya. Seperti yang dia lakukan kemarin malam contohnya.


Nathan yang sedang kalap karna dikuasai oleh emosi benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dan bukan hanya boss ke 4 dalam organisasi Black Devil yang dia habisi dan dia bantai, tapi juga semua anak buahnya. Tidak hanya satu dua orang saja, tapi puluhan danjumlahnya nyaris menyentuh angka 100. Parahnya lagi hal itu Nathan lakukan hanya seorang diri. Gila memang, tapi itulah yang terjadi.


"Oppa,"


Perhatian Nathan teralihkan. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang. "Sayang, kau di sini," Nathan berbalik kemudian berjalan menghampiri Viona. Kecupan singkat dan pelukkan hangat langsung menyambutnya.


"Aku membawakan makan siang untukmu, bagaimana kalau sekarang kita makan sama-sama?" usul Viona, Nathan mengangguk sebagai jawaban. "Oya, Oppa. Aku berpapasan dengan Henry Oppa di luar, wajahnya terlihat masam, apa kau mengomelinya?"


"Hn, dia yang membuatku jengkel."


"Pantas saja dia terus berkomat kamit tidak jelas. Kekeke, aku malah ingin tertawa saat mengingat bagaimana ekspresinya tadi. Dia terlihat begitu menggemaskan," celoteh Viona di tengah kesibukkannya menata makanan-makanan itu di atas meja.


"Kau datang sendiri?"


Viona menggeleng. "Aku bersama si panda. Tapi aku langsung menyuruhnya pulang karna aku masih ingin di sini. Oya, hari ini kau lembur tidak? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar. Malam ini aku ingin berkeliling kota menikmati keindahan Seoul dimalam hari. Oppa mau kan?" renggek Viona menohon.


Dan Nathan hanya bisa mengiyakan keinginan Viona. "Baiklah, setelah pekerjaanku selesai aku akan menemanimu berkeliling kota,"


"Yeee... Oppa memang yang terbaik,"


"Dasar kau ini. Sebaiknya kau istirahat saja dulu, aku harus kembali bekerja."


"Hoam, itu juga yang mau aku lakukan. Aku sangat mengantuk, Oppa nanti bangunkan aku jika sudah selesai ya," Nathan mengangguk. Dan dalam hitungan menit saja Viona sudah terlelap dalam mimpinya.


Nathan mengusap kepala Viona dengan penuh kelembutan, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.


"Rasanya aku masih tidak percaya jika pada akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita yang mampu mengetarkan hatiku sejak pertama kali menatap matanya. Kau sudah mengajarkan banyak hal padaku, Sayang. Apa arti cinta yang sebenarnya, kau mengajarkanku arti cemburu dan juga merindu. Dan kau juga bisa membuatku merasakan bagaimana takutnya kehilangan, aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu. Karna kau adalah segala-galanya bagiku!! Saranghae,"


-


"AARRKKKHHHH! SIAPA PRIA INI SEBENARNYA? DAN KENAPA MENEMUKAN JEJAKNYA SAJA TIDAK BISA!!"


Amarah pria memuncak karna hingga sekarang masih belum ditemukan sebuah titik terang tenang siapa yang telah menghabisi saudara termudanya. Berbagai hal telah ia dan kedua saudaranya lakukan. Tapi masih belum juga menemukan titik terang mengenai siapa yang membunuh saudara mereka.


"Kakak pertama, kita harus bagainana? Jejaknya benar-bebar tidak terlacak dan tidak ada barang bukti dilokasi. Jika seperti ini terus bagaimana kita bisa membalaskan kematian adik keempat,"


"Itu juga yang sedang aku pikirkan. Sepertinya kita harus membuat jebakkan dan menyusun sebuah rencana dengan matang untuk menarik dia keluar dari sarangnya. Jadi kalian bantu aku berfikir dan temukan ide yang tepat, jangan hanya mondar-mandir tidak jelas didepanku karna itu membuat mataku sakit dan kepalaku mules,"


"Tapi Kakak pertama, yang mules itu bukan kepala tapi perut. Karna kepala itu pusing,"


"DIAM!!" bentak pria itu menyela ucapan saudaranya. "Memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk mengoreksi ucapanku? Mulut-mulutku mau bicara apa juga itu terserah padaku. Jadi jangan banyak tanya segera temukan orang itu lalu seret dia kehadapanku, jika kalian sampai gagal. Maka kepala anak buah kalian yang jadi gantinya. Karna jika kepala kalian maka aku tidak akan memiliki saudara lagi. Kenapa malah masih diam di sini? PERGI SEKARANG!!!"


"I-iya baik kakak pertama."


Pria itu mendesah berat. Tenggorokkannya terasa sakit karna terlalu banyak dia gunakan untuk berteriak hari ini. Kemidian dia melangkah pergi meninggalkan aula pertemuan dan kembali kekamarnya yang berada di lantai dua.


"Nasibku sungguh tidak beruntung. Memiliki saudara tapi bodoh semua,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2