
Miranda mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah kunci mobil pada kekasihnya. Dean baru saja membelikan Miranda mobil impiannya. Kemudian wanita itu menghampiri si pria yang terlihat mengulum senyum lebar penuh kemenangan.
"Kau mendapatkannya?" tanya pria itu kemudian mengecup bibir Miranda.
"Tentu saja, memangnya apa yang tidak bisa aku dapatkan dari si bodoh itu. Dan kita akan segera berlibur ke luar negeri dengan uang-uang ini. Seratus juta won, kita bisa pergi berkeliling Eropa,"
Pria itu rersenyum dan menatap Miranda dengan bangga. "Kau memang yang terbaik, Sayang. Tidak sia-sia aku memilihmu sebagai pasanganku. Dan hanya tinggal satu langkah lagi kita akan menguasai semua hartanya."
"Kau benar, Ben. Dan aku akan menghasut sibodoh itu supaya dia segera membunuh adiknya juga. Karna dia adalah penghalang terbesar kita untuk mendapatkan semuanya," Miranda menyeringai tajam.
Ben membelai wajah Miranda dan kembali mencium bibir merahnya. "Dan karna kau begitu hebat, sudah sewajarnya kau mendapatkan sesuatu yang special dariku. Malam ini aku akan menemanimu sampai kau puas,"
Miranda menarik leher Ben dan mencium balik bibirnya. "Dan aku akan membuatmu melayang menuju surgawi dunia. Malam ini milik kita, Sayang," ujar Miranda dan kembali mencium bibir Ben dengan brutal. Miranda mendominasi ciuman tersebut dan tak membiarkan Ben mengambil alih.
Dan tanpa mereka berdua sadari. Seseorang telah mendengarkan semua yang mereka bicarakan. Amarah terlihat jelas dari sorot matanya yang berkilat tajam, kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Dan dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubun. Pria itu mendobrak pintu dan menerobos masuk ke dalam.
BRAKK...
"MIRANDA!!! BERANI-BERANINYA KAU MEMBOHONGIKU!!"
Deggg...
Miranda dan Ben terkejut bukan main. Sontak ia menoleh dan matanya membelalak mendapati Dean berdiri di berjalan memasuki kamarnya. "De-Dean, tunggu dulu. Kau salah paham, aku bisa menjelaskan semuanya." Ujar Miranda yang tampak begitu panik. "Semua ini tak seperti yang kau bayangkan, aku-"
PLAKKK...
Dean menampar wajah Miranda sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Dan saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat wajah Miranda menoleh ke samping. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
"Kau benar-benar Iblis, karna dirimu aku membunuh ayah kandungku sendiri dan berkali-kali aku hampir membunuh adikku. Miranda, kau benar-benar Iblis!!" amarah Dean memuncak. Dia marah, sangat marah dan itu semua karna penghianatan Miranda.
Dean mencekik Miranda dan menghimpit tubuhnya pada tembok. "Dean, lepaskan. Kau membuatku tidak bisa bernafas," Miranda berusaha melepaskan cekikan Dean pada lehernya tapi tidak bisa. Cekikan Dean terlalu kuat.
Ben yang melihat Miranda dalam bahaya tak lantas diam begitu saja. Dia segera menarik Dean menjauh dari Miranda dan menghajarnya hingga babak belur. Bahkan Ben tak memberikan kesempatan pada Dean untuk membalas atau menghindari semua pukulannya.
Miranda juga tak mau rugi. Wanita itu mengambil dompet milik Dean kemudian mengeluarkan beberapa card dan semua uang tunai yang ada di dalamnya kemudian melemparkan kembali dompet itu pada si empunya.
"Sudah biarkan saja dia. Lebih baik kita pergi dari sini. Si bodoh ini juga sudah tidak berguna lagi untuk kita. Aku sudah mendapatkan yang lebih menarik darinya," ujar Miranda.
"Kau memang yang terbaik, Sayang," puji Ben.
Dean menggeram dan mengepalkan tangannya."MIRANDA!!"
-
Nathan mendesah berat. "Jadi benar-benar dia pelakukanya? Dean Leonil, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Bagaimana dia bisa begitu bodoh dengan mempercayai wanita ular seperti dia,"
"Itu juga yang tidak aku pahami. Sepertinya cinta sudah membutahkan mata dan hatinya sampai-sampai dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,"
"Tapi, Hyung. Jujur, aku sangat penasaran kenapa kau begitu peduli dengan kematian dokter Leonil, sampai-sampai kau ingin menemukan dan mengungkap siapa pelakunya?" tanya Nathan sambil menatap penasaran pria dihadapannya.
__ADS_1
"Karna aku memiliki hutang budi pada beliau, dan tanpa bantuannya mungkin aku hanya tinggal nama,"
Nathan memicingkan matanya dan menatap pria itu penasaran."Maksudmu?"
Pria itu mendesah berat. "Saat masih kecil. Keluargaku hidup serba kekurangan. Jangankan untuk biaya sekolah dan berobat ketika sedang sakit, untuk makan saja kami sangat kesulitan."
"Pada suatu ketika ayahku sakit dan kami membawanya ke rumah sakit, karna kami tidak memiliki biaya untuk membayar semua biaya rumah sakit. Akhirnya kami di usir dari rumah sakit itu. Sampai akhirnya ada seorang malaikat yang datang dan membantu kami. "
"Dengan tangan terbuka beliau menglurkan tangannya untuk membantu kami yang sedang kesulitan. Bukan hanya menyembuhkan ayah saja, tapi dia juga membebaskan ayah dari biaya rumah sakit yang bagi keluargaku sangatlah besar pada saat itu. Dan karna kebaikan hati dokter Leonil aku bisa bersekolah seperti yang lainnya, dan karna dia pula kemudian aku berjuang untuk menjadi orang yang sukses."
"Dan ketika aku sudah berhasil meraih kesuksesan. Aku berencana untuk menemuinya dan mengucapkan terimakasih padanya. Tapi apa yang aku dapatkan ketika tiba di sini, bukannya bertemu denganya, aku malah mendapatkan sebuah kabar yang sangat mengekutkan jika dokter Leonil telah meninggal," pria itu menundukkan kepalanya, kesedihan terlihat jelas dari sorot matanya.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu peduli pada kematian dokter Leonil. Bukan hanya kau saja yang berhutang budi padanya. Karna beliau, aku bisa mendapatkan kembali penglihatan pada mata kiriku. Selain Dean, dokter Leonil memiliki seorang putri angkat bernama Leonil Luna. Kebetulan sekali dia adalah saudari kembar istriku, dan jika kau mau, aku bisa mempertemukanmu dengannya,"
Pria itu meraih tangan Nathan dan mengunci manik abu-abunya. "Nathan, aku mohon. Pertemukan aku dengannya, kau bersedia, kan?" tanyanya penuh harap.
"Aku akan mengatur waktunya. Maaf, hyung. Aku harus pergi sekarang," kemudian Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Nathan masih harus kembali ke kantornya. Dia ada pertemuan penting siang ini dengan salah satu koleganya yang berasal dari luar negeri.
-
"PAPA!!"
Dean berteriak dan menangia sejadi-jadinya di depan pusara sang ayah. Penyesalan terlihat jelas di matanya. Dean menyesali apa yang telah dia perbuat pada ayahnya. Jika saja dia tidak begitu bodoh dan mendengarkan dan terpengaruh oleh hasutan Miranda, pasti ayahnya masih tetap hidup hingga detik ini.
"Hiks, maafkan aku, Pa. Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku berdosa, aku berdosa. Hiks, Papa... Kenapa aku bisa begitu bodoh dan bisa terpengaruh oleh hasutan ular betina itu, kenapa? Maafkan aku, Pa. Aku berdosa padamu, aku benar-benar berdosa. Tidak seharusnya aku membunuhmu demi wanita tak berhati itu. Maafkan aku, Pa. Maafkan aku," tangis Dean semakin pecah.
Dean menyesali semua perbuatannya. Dia menyesali apa yang telah dia lakukan pada ayah serta adiknya. Selama ini mata hatinya telah di butakan oleh cintanya pada Miranda yang sangat jelas hanya memanfaatkan dirinya.
Degg...
Dean tersentak mendengar suara dingin seorang gadis masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak ia menoleh dan mendapati Luna berdiri di belakangnya dengan tatapan membunuh.
Dean berdiri dari posisinya, posisinya dan Luna saling berhadapan dengan jarak lima meter. "Luna," lirihnya bergumam. Luna menghampiri Dean dan langsung menampar wajahnya dengan keras.
PLAK...
PLAK...
Bukan hanya satu kali saja. Luna menamparnya berkali-kali. "KAU BENAR-BENAR IBLIS, DEAN!! KAU BRENGSEK, KAU TIDAK PUNYA HATI, MAU BIADAB!! MATI SAJA KAU DEAN, SEBAIKNYA KAU MATI SAJA!!" teriak Luna seraya menumpahkan air matanya. "AARRKKHH! PAPA,,,"
"Luna," Dean menghampiri Luna dan langsung berlutut di hadapannya seraya memeluk kaki Luna. "Maafkan Oppa, Lun. Oppa benar-benar minta maaf. Oppa telah berdosa, Oppa sudah malukan sebuah kesalahan besar yang tidak mungkin bisa termaafkan. Maafkan Oppa, Luna. Maafkan, Oppa,"
Dengan kasar Luna melepaskan pelukkan Dean dari kakinya. "Lepaskan, brengs**. Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Aku tidak sudi jika tubuhku sampai di sentuh oleh tangan kotor pembunuh tak berhati SEPERTIMU!!" teriak Luna di akhir kalimatnya. "Kau benar-benar biadab Dean. Kau biadab, kenapa kau harus membunuh papa hanya demi wanita iblis seperti dia? KENAPA?" Luna berteriak sambil terus memukuli Dean dengan tasnya dengan brutal.
Luna tidak hanya memukuli Dean saja, tapi menendang juga. Bahkan Luna tak peduli dengan luka pada sekujur tubuh Dean yang beberapa diantaranya masih mengeluarkan darah segar. Luka yang dia dapatkan beberapa jam yang lalu ketika Ben menghajarnya dengan brutal.
"Kembalikan papaku, Dean!! Kembalikan papaku! Hiks,, papa,, papa,,,," Luna menangis sambil terus memanggil tuan Leonil. "Papaku, kembalikan papaku, Dean. Kembalikan papaku, aku ingin papaku, aku ingin papaku. PAPA!!" jerit Luna semakin histeris.
Berkali-kali Luna memukul dadanya yang terasa sesak. Berharap apa yang dia lakukan bisa mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya meskipun dia tau jika yang dia lakukan itu tidak akan berpengaruh sama sekali.
__ADS_1
Dean merangkak menghampiri Luna dan kembali berlutut di depannya. "Maafkan, Oppa, Luna. Maafkan Oppa, Oppa sungguh-sungguh minta maaf,"
"Apa kau bilang? Maaf? Apa maafmu itu bisa mengembalikan papaku, Dean? Tidak, papa tidak akan pernah kembali. DIA TIDAK AKAN KEMBALI!!"
"Luna, Oppa tau Oppa salah. Untuk itu Oppa minta maaf padamu. Ampuni Oppa, Luna. Jangan membenci, Oppa. Oppa mohon,"
Brugg..
Tubuh Dean terjengkang kebelakang karna dorongan Luna. "Mudah sekali kau meminta maaf, Dean. Setelah apa yang telah kau lakukan padaku dan papa. Mungkin aku masih bisa memaafkanmu jika yang kau sakiti hanya aku. Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu karna yang kau bunuh adalah papa. Seharusnya bukan papa yang mati, Dean. Tapi dirimu! Lau harus bertanggungjawab, Dean. Kau harus bertanggungjawab. Kembalikan papaku, Dean. Kembalikan papaku!!"
Dean kembali mendekati Luna dan kemudian berlutut dihadapannya. "Oppa, harus bagaimana supaya kau bisa memaafkan Oppa, Lun? Katakan, apapun akan Oppa lakukan asalkan kau mau memaafkan Oppa,"
Luna tersenyum meremehkan. "Apa? Memaafkanmu? Jangan pernah bermimpi aku akan memaafkanmu, Dean. Karna sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu!! Tidak akan pernah, dan aku sangat berharap kau mati saja,"
"Baiklah jika kematianku yang kau harapkan. Baiklah jika hanya dengan kematian kau bisa memaafkanmu. Kalau begitu bunuh aku, Lun. Bunuh aku, aku tidak akan melawan. Bunuh aku, Luna. Bunuh aku!!" pinta Dean.
Dean mengangkat wajahnya dan menyerahkan sebuah pisau lipat pada Luna."Bunuh aku, Lun. Aku rela kau membunuhku asal kau mau memaafkanku,"
Luna menyambar pisau yang ada di tangan Dean dan langsung melayangkan pada wajah Dean, Luna terus mengoreskan pisau tersebut pada wajah, leher dan lengan Dean.
Meskipun yang terluka hanya bagian kulit luarnya saja, tapi hal itu cukup membuat selujur tubuh Dean merasakan perih yang luar biasa. Bahkan air mata yang mengalir dari pelupuk mata Dean pun tak mampu meluluhkan hati Luna yang telah di selimuti emosi dan amarah.
Dean menutup matanya, mencoba menahan rasa sakit dan perih pada luka-lukanya hasil karya Luna. "Kali ini kau akan mati, Dean. Kau akan mati di tanganku. Kau harus mati!!"
TRANG...!!
Seseorang tiba-tiba datang dan merebut pisau itu dari tangan Luna kemudian membuangnya begitu saja. Tubuh Luna tertarik ke depan karna tarikan pada lengannya, selanjutnya Luna merasakan jika wajahnya berbenturan dengan dada bidang seseorang.
"Berhentilah melakukan kebodohan yang akan kau sesali nantinya. Karna jika kau benar-benar melakukannya maka kau tidak akan ada bedanya dengan dia. Biarkan hukum yang berbicara, biarkan hukum yang membalas semua perbuatannya." Ujar orang itu sembari mengeratkan pelukaannya.
"Zian," lirih Luna memanggil nama orang yang memeluknya tersebut. "Dadaku rasanya sangat sesak, saking sesaknya sampai-sampai membuatku kesulitan untuk bernafas. Dia... dialah yang telah membunuh papa, dialah yang merenggut papa dariku, dialah yang telah membuat papa tidak bisa menepati janjinya untuk mendampingiku ketika aku menikah kelak. Dialah yang telah merenggut semua kebahagiaanku, Zian... aku hancur, aku benar-benar hancur,"
Zian menutup matanya dan mendongakkan wajahnya. Kedua matanya sedikit memanas mendengar isakan pilu dan kata-kata yang keluar dari bibir Luna. Hatinya tersayat dan dadanya seraya ingin meledak. Zian sungguh benci, dia benci melihat air mata Luna.
"Kendalikan dirimu, Lun. Kau harus tenang. Jangan sampai kau membiarkan emosi semakin menguasai dirimu." Ujar Zian mencoba menenangkan Luna yang terlihat begitu hancur. Zian mengusap punggung Luna dengan gerakkan naik-turun, berharap yang dia lakukan bisa memberikab ketenangan pada gadis bermarga Leonil tersebut.
Luna semakin terisak dalam pelukkan Zian. "Papa,,, papa,,, papa. Aku ingin papaku kembali, Zian. Aku ingin papaku kembali,"
"Sadarlah,Lun. Papamu sudah tidak ada dan sekarang dia sudah tenang di sana. Relakan dia pergi, Luna. Relakan papamu beriatirahat dengan tenang," ujar Zian sambil mengusap punggung Luna dengan gerakkan turun.
"Aku ingin papaku, Zian. Aku ingin papa, aku merindukan papaku, Zian. Aku sangat merindukannya. Aku,, aku,,,"
"Luna,"
Zian memekik kaget saat Luna tiba-tiba jatuh pingsan karna tidak kuat menahan guncangan hebat pada batinnya. Tanpa membuang waktu, Zian segera membawa Luna pergi dari area pemakaman. Bahkan dia tak peduli dengan Dean yang tampak kesakitan karna luka-luka bekas sayatan hasil karya tangan Luna.
"Luna, aku mohon bertahanlah,"
-
__ADS_1
Bersambung.