Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 90 "Terror Untuk Shion"


__ADS_3

"Presdir, tamu Anda sudah datang,"


"Persilahkan dia masuk,"


Seorang wanita memasuki ruangan Nathan dan berhenti tepat di depan meja yang menjadi batasan antara Nathan dan wanita berparas cantik dan sexy. Pria itu masih tidak bereaksi sama sekali sampai akhirnya...


"Kau memiliki ruangan yang bagus dan luas, Tuan Lu,"


Nathan mengangkat wajahnya setelah mendengar suara familiar seorang wanita masuk dan berkaur di dalam telinganya. Wanita itu tersenyum dan hanya disikapi datar oleh Nathan. "Kau, sedang apa kau di sini?"


Wanita itu berdecak lidah. "Beginikah cara seorang CEO besar menyambut tamunya? Perlenalkan, aku Ellena Kim. Kakakku tidak bisa datang dan aku mewakili dia untuk membahas kerjasama kita," ujarnya.


"Hn, duduklah," pinta Nathan mempersilahkan.


Nathan menatap wanita dihadapannya dengan tatapan tak terbaca. Melihat wajah wanita itu mengingatkan Nathan akan Viona-nya. Wajah mereka yang bak pinang dibelah dua membuat Nathan tak bisa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari sosok cantik itu.


Dada Nathan berdenyut hebat. Rasanya seperti ada jutaan belati tajam yang menghujam dadanya dan mengiris hatinya. Perih serasa merobek batinnya. Dan hampir saja Nathan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri ketika melihat bibir wanita itu yang menyungging senyum lebar.


Nathan berdehem kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Viona. "Jadi namamu Ellena Kim," Viona mengangguk tanpa melunturkan senyumnya. "Langsung saja pada intinya, karna aku tidak memiliki banyak waktu,"


"Kenapa harus terburu-buru Tuan Lu, tidak bisakah kita lebih bersantai sedikit?" Viona menggerlingkan matanya pada Nathan. "Aku sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, ya setidaknya biarkan aku beristirahat sebentar saja,"


"Baiklah kalau begitu, kau bisa pergi sekarang,"


"Tunggu," seru Viona sembari menahan tangan Nathan. Viona bangkit dari duduknya.


Tatapan matanya berubah sendu. "Kau membuatku sedih Tuan Lu, padahal aku ingin bisa mengenalmu lebih dekat lagi. Tapi sepertinya sangat sulit untuk bisa masuk ke dalam hatimu. Benar apa yang dikarakan oleh orang-orang di luar sana, kau sangat dingin dan sulit didekati." Ujarnya panjang lebar. "Oh astaga, kenapa banyak sekali minuman beralkohol disini, Tuan Lu. Seharusnya kau tidak minum, minuman beralkohol seperti ini,"


Nathan memicingkan matanya. "Memangnya apa pedulimu, lagi pula itu bukan urusanmu," sinis Nathan menanggapi ucapan Viona.


Wanita itu tersenyum miris. "Aku hanya mencoba memberikan perhatian padamu, apakah salah," lirihnya bergumam.


Nathan mendesah berat. Dengan kasar dia menepis tangan Viona dari lengannya. "Kau membuang terlalu banyak membuang waktuku Nona!! Sebaiknya kau pergi sekarang, kerjasama kita bat-"


CHU...


Mata kanan Nathan membelalak merasa dan kalimatnya terpotong oleh ciuman Viona yang sangat tiba-tiba. Kedua tangan Viona menakup wajah Nathan, dan melalui ciuman itu Viona ingin meluapkan semua perasaan yang selama lima bulan tertahan dihatinya. Cairan kristal bening mengalir dari sudut matanya.


Dan sebelum Nathan menyadarinya, Viona mengakhiri ciumannya. "Kita akan membicarakannya lagi nanti, maaf atas kelancanganku. Aku pergi dulu," Viona menyambar tasnya dan pergi begitu saja.


Nathan mengutak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang. "Kai masuk keruanganku," pinta Nathan pada asisten pribadinya.


Selang beberapa saat Kai datang keruangan Nathan. "Tuan, Anda memanggil saya?"


"Segera selidiki wanita bernama Ellena Kim, dapatkan informasi apapun yang berhubungan dengannya. Sore ini juga aku ingin informasi tentangnya ada dimejaku,"


"Baik, Tuan,"


Nathan menutup mata kanannya dan mendesah berat. "Entah kenapa aku meragukan jika kau adalah Ellena Kim," gumamnya berbisik. Nathan kembali kemejanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


-


"Sebentar Eonni, aku hampir tiba."


"Jangan lama-lama, kau membuat Eonni hampir mati karna kelaparan,"


"Kekeke, baiklah-baiklah. Five minute again,"


Viona memutus sambungan telfonnya dan mempercepat langkahnya. Dia tidak ingin membuat Tania semakin kelaparan karna dirinya. Dan karna terburu-buru tanpa sengaja Viona bertabrakkan dengan orang lain yang berjalan berlawanan arah dengannya.

__ADS_1


Tubuh orang itu dan Viona sama-sama terhuyung kebelakang karna insiden tak sengaja tersebut. Kedua mata orang itu membelalak dan tubuhnya terpaku saat melihat sosok wanita yang berdiri di hadapannya. "Vi-Viona," gumamnya terbata.


Seketika peluh membasahi hampir di sekujur tubuh orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jordy.


Pria itu menatap Vioba dengan pandangan tidak percaya. Jordy menggeleng kuat, mencoba meyakinkan jika yang berdiri di hadapannya bukanlah Viona melainkan hanya ilusinya saja.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Jordy menggeleng.


Pria itu berjalan mundur beberapa langkah kebelakang, kakinya tersandung tong sampah dan membuatnya terjengkang. Sedangkan Viona memandang pria itu dengan smrik yang sulit di jelaskan.


Viona menghampiri Jordy sambil mengulurkan tangan padanya. "Mari saya bantu." Suara lembut namun menyimpan sejuta misteri itu segera menyadarkan pria itu dari lamunan panjangnya.


Dengan ragu dan tidak yakin, Jordy menerima uluran tangan Viona dan meraihnya. "Kau tidak apa-apa?" Viona meyakinkan. Jordy masih tidak bereaksi, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang disaksikan oleh matanya.


"Apa ini nyata?" Jordy mencoba menyentuh Viona demi meyakinkan pada dirinya sendiri apakah yang dia lihat itu nyata atau tidak. "Kau masih hidup!" ucapnya tak percaya.


"Apa menurutmu aku tidak baik-baik saja?" Viona tersenyum.


Tubuh Viona tertarik kedepan saat pria itu tiba-tiba saja memeluknya dan terisak kecil di dalam pelukannya, sedangkan Viona menyikapinya dengan smrik misterius yang sulit di artikan. "Aku fikir kau benar-benar telah pergi Vi, maaf. Maafkan aku Viona, aku benar-benar minta maaf. Karna aku kau terluka, karna aku tidak bisa melindungimu." Ujarnya seraya mengeratkan pelukannya.


Viona hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya, bukannya merasa tersanjung maupun tersentuh oleh ucapan pria itu. Viona justru merasa muak. Sebisa mungkin Ia menahan dirinya dan mengendalikan emosinya, menahan segalah amarah dan rasa sakit yang selama ini memenuhi perasaannya.


"Tidak Viona, kau harus bisa mengendalikan dirimu. Dia yang sudah membuatmu seperti ini, dia juga yang membuatmu harus terpisah dari orang yang kau cintai. Demi rasa sakit dan dendammu, kau harus bertahan," Ucap Jessica pada dirinya sendiri.


Merasa sesak oleh pelukan pria itu, lantas Viona mendorong dan melepaskan pelukkan Jordy. Viona menatapnya dengan tatapan yang begitu sangat sulit di artikan.


"Kau salah mengenali orang, aku bukan Viona. Perkenalkan namaku, Ellena Kim." Viona mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri pada Jordy. "Jika aku boleh tau, memangnya siapa Viona dan kenapa kau harus meminta maaf segala? Apa kau membuat kesalahan padanya?" tanya Viona penuh selidik.


Jordy gelagapan mendengar pertanyaan Viona. Wanita itu menyeringai tajam melihat wajah pucat Jordy yang tampak kebingungan. "Ti-tidak. Viona adalah istriku, dia meninggal karna kesalahanku. Aku tidak bisa melinginya, itulah kenapa aku merasa sangat bersalah," ujarnya.


Viona ingin sekali meludahi muka Jordy karna sudah mengaku-ngaku sebagai sebagai suaminya dan berlagak seperti dia adalah orang yang paling terluka dan kehilangan. "Dasar munafik brengsek, ini semua karna dirimu. Aku pasti akan mengirimu keneraka dengan tanganku sendiri. Jordy Lim, tunggu kehancuranmu,"


-


Tubuh Shion terhuyung kebelakang setelah membaca tulisan yang ada di cermin. Buru-buru Shion menghapus tulisan itu sebelum ada yang melihatnya. Shion berbalik, dan tulisan yang sama juga terdapat pada kaca jendela disamping kanan tempat tidurnya.


"Apa-apaan ini? Sial, siapa yang berani mengotori kamarku dengan tulisan-tulisab seperti ini," geramnya marah.


Shion menoleh saat merasakan kehadiran seseorang dikamarnya. Wanita itu menyapukan pandangannya namun tak menemukan siapapun di sana, Shion tak mau ambil pusing.


"Kenapa kau membunuhku!!"


Degg..


Shion tersentak kaget mendengar suara yang begitu familiar berkaur di dalam telinganya. Suaranya menggema dan terdengar begitu dekat, Shion berputar dan mencoba menemukan dari mana suara itu berasal. "Yakk!! Siapa kau, jika berani tunjukkan dirimu dan jangan jadi pengecut!!" teriak Shion penuh emosi.


"Kau pembunuh, Shion Choi, kau pembunuh!!"


"Pengecut, cepat keluar dan tunjukkan dirimu!!"


Lampu kamar Shion tiba-tiba berkedip-kedip dan mati hidup dengan sendirinya. Shion merasakan bulu kuduknya berdiri saar merasakan hembusan angin menerpa lehernya dengan pelan. Shion merasakan kehadiran seseorang di sana, namun lagi-lagi Shion tak menemukan siapapun ketika berbalik badan.


"Keluar kau!!!"


"Shion, kenapa kau membunuhku?"


Shion berbalik dan kedua matanya membelalak sempurna melihat sosok wanita berlumur darah berdiri di dekat jendela kamarnya yang terbuka-tutup dengan sendirinya. "Kkyyyaaaa!!! Hantu!!" Shion berteriak sekencang-kencangnya dan berlari tunggang-langgang meninggalkan kamarnya.


Dan tak lama setelah kepergian Shion dari kamarnya, sosok itu melompat masuk ke dalam kamar melalui jendela. "Paman, kenapa kau terus saja bergoyang-goyang? Aku hampir jatuh tadi," protes Rio pada Satya.

__ADS_1


"Ck. Kenapa kau malah menyalahkanku, Bocah!! Jelas-jelas kau yang terlalu berat, sebenarnya apa saja yang kau makan sampai-sampai bisa seberat itu,"


"Aku 'kan pemakan segala. Hahaha,"


"Yakk!! Kalian berdua, bantu aku turun dari sini," seru Frans dari atas lemari pakaian. Frans-lah yang tadi memutar rekaman suara Viona untuk menakut-nakuti Shion. "Dan kau bocah... Sebaiknya buang wig dan baju putihmu itu, itu terlalu mengerikan," protes Frans pada Rio.Alih-alih meminta maaf, Rio malah terkekeh geli. Dia tidak tau jika paman kecilnya itu ternyata masih takut pada hantu.


"Iya-iya, Paman. Kau ini berisik sekali, dasar penakut,"


"Diam kau,"


"Sudah cepat turun," pinta Satya sambil memasang tangga untuk membantu Frans turun dari atas sana.


"Pegang benar-benar,"


"Iya, iya, dasar cerewet. Kalian siap dengan aksi selanjutnya?" Satya menatap keduanya bergantian, Frans dan Rio mengangguk dengan kompak.


Kali ini mereka akan berbagi peran lagi. Jika sebelumnya Rio-lah yang menyamar sebagai hantu, kali ini giliran Frans. Sedangkan Satya akan bertugas membuat tulisan di dinding dan Rio bertugas membuat suasana menjadi sedranatis mungkin. Mereka tidak akan membuat Shion tertekan secara fisik saja, tapu juga secara mental.


.


.


Kriett...


Kriett..


Gubrakk...


"Aaahhh," Shion berteriak dan menjatuhkan tubuhnya pada ubin lantai yang keras sambil menutul kedua telinganya dengan jari-jarinya. "Ja-jangan main-main, si-siapa kau sebenarnya? Ke-kenapa kau melakukan ini padaku?"


P.E.M.B.U.N.U.H


Tulisan yang sama menghiasi kaca-kaca yang ada disekeliling Shion. Tulisan berdarah itu membuat bulu kuduk Shion tiba-tiba berdiri. Shion mencoba menepisnya dan berfikir positive.


"Si-siapa di sana?"


Lagi-lagi Shion merasakan kehadiran orang lain di ruangan itu, tapi ketiga ia mencarinya... dia tidak menemukan keberadaan siapa pun di sana.


Shion berbalik badan dan melihat sekelebat bayangan putih melintas didepannya. Tapi lagi-lagi hanya ruang hampa. Shion berbalik dan... "KYYAAA!!" wanita itu berteriak histeris akan kemunculan Viona dihadapannya, wajahnya berlumur darah dan sosok itu tengah menatap tajam padanya. Shion jatuh pingsan saking syoknya.


Viona menghapus cairan merah itu dari wajahnya dab tetsenyum puas. "Sisanya aku serahkan pada kalian bertiga," ucap Viona pada tiga pemuda dihadapannya.


Ketiganya mengangguk dan menjawab dengan sangat kompak. "Oke Nunna//Bibi," mereka terlihat begitu bersemangat dan sangat atusias, Rio terutama. Dan apa yang mereka lakukan hari ini adalah ide gila darinya.


"Shion Choi, permainan yang sesungguhnya baru saja di mulai. Aku tidak akan membuat sakit jiwamu, tapi juga mentalmu. Dan inilah harga malah yang harus kau bayar untuk menebus semua yang telah kau lakukan padaku!!"


-


"Tuan, ini Informasi yang Anda minta," Kai menyerahkan sebuah file pada Nathan.


Nathan mengambil map tersebut dari tangan Kai lalu membacanya. "Dan dari hasil penyelidikkan saya. Ellena Kim adalah putri bungsu dari Kim. Tapi dari hasil penyelidikan saya, adik.Tania Kim yang Ellena sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Dia mengalami depresi dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. DNA wanita yang bernama Ellena juga tidak cocok dengan kakaknya Tania. Saya juga melakukan pentelidikan pada mayat Nyonya yang Anda makamkan beberapa bulan yang lalu. DNA mayat itu dan Nyonya tidak cocok. Tapi kecocokan DNA malah saya daparkan dari wanita berbama Ellena Kim itu. Hasil kecocokannya 99%. Tuan, mungkinkah jika wanita itu sebenarnya adalah Nyonya? Dan sebenarnya Nyonya belumlah meninggal?"


Nathan melempar map itu keatas meja dan mendesah berat. Nathan mengacak kasar rambut coklatnya dan berteriak. Begitu banyak teka-teki dalam kematian Viona. Yang membuat Nathan selalu bertanya-tanya kenapa tak ada sedikit pun informasi mengenai kematiannya yang bisa dia temukan. Seseorang seperti sedang menutupinya.


Dan kebenaran sedikit-demi sedikit mulai terkuak setelah wanita bernama Ellena Kim itu tiba-tiba muncuk dihadapan Nathan. Dan hari ini sebuah fakta mengejutkan baru saja terungkap jika sebenarnya Ellena Kim sudah lama meninggal dan DNA mayat yang ia kuburkan hari itu tidak cocok sama sekali dengan Viona.


Dan yang menjadi pertanyaan Nathan, jika Viona memang masih hidup dan baik-baik saja sampai detik ini, lalu kenapa dia tidak pernah datang menemuinya? Jika Ellena Kim yang dia temui memanglah Viona, tapi kenapa dia harus berpura-pura tidak mengenalnya dan menjadi orang lain. Semua begitu penuh misteri dan teka-teki, dan Nathan akan mendapatkan kebenaran itu. Dia akan mencari tau apakah Ellena Kim itu Viona atau bukan?


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2