
Riders tersayang, baca juga novel terbaru Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa untuk meninggalkan like koment juga ya riders.
-
"Yakk!! Tiang jelak. Berhenti menggangguku."
Teriakkan keras dari arah pintu mengalihkan perhatian ketiga orang dalam ruangan tersebut. Mereka melihat seorang gadis berparas cantik tampak kesal setengah mati karna ulah pria jangkung bernama Harry Park.
Harry terus saja mengejarnya dan mengikuti kemana pun gadis itu pergi."Oh ayolah, Nona Ria. Aku hanya ingin mengenalmu dan bisa lebih dekat denganmu. Masa tidak boleh sih?"
"Tidak boleh, lagian siapa juga yang mau mengenal pria mesum sepertimu." Jawab gadis itu yang sebenarnya adalah Rio.
Rio kalah taruhan dari kedua paman kecilnya. Sebagai hulumannya Rio harus rela menjadi seorang perempuan selama satu minggu penuh. Dan sekarang Rio benar-benar menyesali kebodohannya dengan membuat permainan konyol bin aneh seperti itu. Yang endingnya malah senjata makan tuan.
Awalnya Rio hanya asal mengucapkan karna dia berfikir bila Frans dan Satya tidak mungkin bisa memang dan menyelesaikan tantangan darinya. Tapi endingnya malah dirinya yang terjebak dalam permainannya sendiri.
"Ria?" Luna memicingkan matanya dan menatap gadis bernama Ria itu penasaran. "Sepertinya wajahnya tidak terlalu asing, aku seperti pernah melihatnya tapi di mana ya?" perempuan itu mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat gadis bermana Ria itu sebelumnya sampai Satya berbisik pelan di telinganya, sontak kedua mata Luna membelalak saking kagetnya.
"MWO?" pekiknya tidak percaya. "Ya Tuhan, hahahhaha! Rioa kau sangat cantik dan begitu mempesona, sekarang aku mengingatmu, hahahhaha."
"Yakk!! Bibi berhenti tertawa, apa kau fikir ini lucu?"
"Kekekek!! Jangan galak-galak, Ria-ya, kau nanti bisa terlihat tua loh. Dan jika di perhatian kau dan pemuda ini terlihat sangat serasi, bahkan sangat-sangat serasi, aku mendukung kalian 10000% pokoknya."
"YAKK!!"
"Nah, kau dengar sendiri bukan? Bahkan Nunna ino saja mengerti, kita memang sangat cocok dan serasi, Ria-ssi."
Dengan kasar Rio menyentak tangan Harry dari bahunya dan menatapnya dengan tajam. "Yakk!! Jangan menyentuhku seenak jidatmu yang lebar itu, apa kau fikir aku ini gadis murahan eo?" amuknya tidak terima.
"Kau.. sudah menodai harga diri seorang perempuan dengan menyentuhku seenaknya dan pria kurang ajar sepertimu baiknya di beri pelajaran."
Ria mengangkat tangannya ke udara dan hendak melayangkan pada wajah Harry, dengan cepat Harry menahan lengan Rio kemudian menariknya dan mencium paksa bibirnya, sontak saja kedua mata Rio membelalak saking kagetnya.
Tak kehabisan akal, Rio menginjak kaki Harry dengan hilsnya. "DASAR TIANG GILA, TIANG MESUM, BRENGSEK. BERANI SEKALI KAU MENGAMBIL KESUCIAN BIBIRKU. ARRRKKHHH, DASAR MONYET JELEK." Kemarahan Rio benar-benar meledak karna ulah Harry yang menciumnya seenaknya.
Dengan emosi yang berapi-api. Rio meninggalkan ruang inap Zian sambil terus melemparkan sumpah serapahnya pada Harry.
"Ria-ssi, wait."
"Bwahahahhaha."
Tawa Luna, Satya dan Frans pun pecah seketika, mereka bertiga tidak bisa berhenti tertawa karna apa yang baru saja mereka lihat di depan matanya. Bahkan Luna sampai mengeluarkan air matanya sementara Satya....
"Kkkyyyaa!! Aku ngompol." pemuda itu sampai terkencing di celananya saking terlalu lama tertawa.
Satya pun segera melesat pergi sambil menyeret tangan Frans dan di ruangan itu hanya menyisahkan Zian dan Luna saja."Kau lihat itu? Hahaha, rasanya perutku seperti di gelitik melihat tingkah mereka." Ucap Luna sambil menyeka air matanya. "Zian, sebaiknya sekarang kau istirahat. Kau pasti lelah pasca operasi. Aku akan keluar sekarang."
Zian menahan pergelangan tangan Luna ketika wanita itu hendak keluar. "Tetaplah disini dan temani aku mengobrol."
Perempuan itu menarik sudut bibirnya dan mengangguk. "Baiklah." Jawabnya singkat
"Luna, sepertinya Soojin tidak akan berhenti untuk bisa memisahkan kita berdua. Aku mengenal wanita itu dengan sangat baik, dia pasti akan melakukan segala macam cara untuk membuat kita berpisah. Aku harap kau tidak merasa ragu untuk tetap berada di sisiku."
"Aku tidak takut. Dan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja apalagi untuk wanita seperti dia. Dia fikir dia siapa bisa seenaknya mengambilmu dariku. Ingat, Zian, jika istrimu ini bukanlah wanita yang lemah, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak hubungan kita termasuk mantan istrimu itu."
Zian menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Luna. "Aku merasa beruntung memilikimu di sisiku, kau memang perempuan yang hebat Leonil Luna. Ani... Tapi Luna Qin." Zian menarik bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya.
"Tentu saja, dan kau harus merasa bangga memiliki istri sepertiku." Jawabnya dan membalas pelukkan Zian.
__ADS_1
Dan selanjutnya Zian sudah membawa bibir Luna dalam ciuman panjang yang memabukkan.
Kalina mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang inap Zian saat melihat dua orang di dalam ruangan itu sedang bergulat bibir dengan panasnya.
Tuan Qin yang tiba sedikit terlambat kebingungan melihat sang Istri mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah berhenti di depan pintu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa tidak jadi masuk?" Tanya tuan Qin penasaran
"Sepertinya kita datang di waktu yang kurang tepat, Suamiku. Sebaiknya nanti saja kita kembali lagi, aku tidak ingin mengganggu mereka berdua." Tuan Qin yang merasa penasaran pun mengintip ke dalam ruangan dan sekarang ia tau alasan Kahi tidak jadi masuk.
"Sepertinya kau benar, siapa tau mereka bisa segera memberikan cucu untuk kita."
Kalina terkekeh dan meninju pelan dada suaminya. Pasangan suami-istri itu pun memutuskan untuk pergi karna tidak ingin mengganggu kegiatan panas di dalam sana.
Zian merubah posisi mereka dengan menempatkan Luna di bawah kungkungan tubuhnya. Bibirnya terus ******* bibir Luna dengan panas dan liar. Decakan lidah dan desahan yang keluar dari bibir keduanya menggema memenuhi setiap sudut dalam ruangan.
Sadar akan sesuatu, Luna segera mendorong tubuh Zian sampai ciuman itu terlepas "Zian, bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masuk dan melihat kita?" ucap Luna setengah panik.
"Kunci saja pintunya." Pinta Zian. Luna mengangguk.
Wanita itu beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu kemudian menguncinya. Dan untuk selanjutnya tidak ada yang tau apa yang terjadi antara mereka berdua, yang jelas malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk Ken dan Luna.
.
.
Di saat malam semakin larut dan kebanyakan orang sudah memasuki alam mimpinya. Zian justru masih terjaga di atas tempat tidur inapnya. Kedatangan Soojin yang begitu tiba-tiba membuatnya berpikir hingga selarut ini.
Zian mengenal betul siapa wanita itu dan seperti apa sifatnya. Soojin bukanlah tipe wanita yang mudah untuk menyerah. Soojin adalah wanita yang sangat ambius. Dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan meskipun harus ada yang celaka dan menjadi korban.
Kecemasan Zian tentu bukan tanpa alasan. Zian takut jika perempuan psycho itu sampai melukai Luna dan membahayakan hidupnya. Soojin pasti tidak akan melepaskan Luna begitu saja setelah perempuan itu mengibarkan bendera perang padanya.
Namun Zian tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan perempuan sampai menyentuh apalagi melukai Luna. Dan jika Soojin berani melakukannya. Maka dengan tangannya sendiri Zian akan menyingkirkannya.
Zian menoleh. "Aku masih belum mengantuk, Sayang.." ucapnya. Dilihatnya jam yang menggantung di dinding. Jam telah menunjukan pukul 01.00 dini hari."Lalu kau sendiri kenapa bangun?"
Luna turun dari sofa kemudian menghampiri Zian. "Aku bangun karna haus." Jawabnya. "Apa yang sedang kau fikirkan sampai-sampai membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Luna penasaran.
"Lee Soojin." Zian mengangkat wajahnya, membalas tatapan Luna. "Terus terang saja, Luna. Aku merasa cemas, aku takut wanita gila itu akan melukai dan menyakitimu. Aku mengenal perempuan itu dengan sangat baik, dan dia adalah perempuan gila yang akan menghalalkan ssgala macam cara untuk bisa mencapai tujuannya," ujar Zian panjang lebar.
"Jadi karna hal itu?" Zian mengangguk. Luna menakup wajah Zian dan mengunci manik kanannya. "Dengar, Sayang. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Aku bukanlah wanita lemah yang mudah untuk di tindas. Lagipula aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan pelakor seperti dia merajalela. Dan jika diriku berada dalam bahaya, bukankah ada dirimu yang bisa melindungiku?"
Zian mendesah berat. "Tapi masalahnya tidaklah sesederhana itu, Luna. Jika yang kau hadapi hanya Soojin sendiri, tentu saja kau akan menang. Tapi bagaimana jika yang kau hadapi adalah para mafia yang dia sewa untuk mencelakaimu? Aku benar-benar tidak bisa tenang, Luna!!"
Kali ini Luna memilih untuk diam. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Zian karna masalah Soojin. Dan Luna sedang mencari cara dan jalan keluar untuk mengatasi masalah itu.
Mungkin tidak ada cara lain, Luna akan menggunakan cara itu. Lagipula Luna tidaklah selemah yang terlihat. Dia memang mahir dalam beladiri, tapi dia memiliki sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk keluarganya.
"Apa yang kau lamunkan?" tegur Zian melihat kediaman Luna.
Wanita itu menoleh kemudian menggeleng. "Tidak ada, aku hanya merasa lelah dan ingin segera tidur lagi. Tapi aku ingin kau memelukku sepanjang malam,"
Zian mendengus geli melihat ekspresi Luna yang begitu menggemaskan. Dengan gemas Zian menjitak kepala coklat Luna lalu menariknya untuk berbaring disampingnya. "Dasar kau ini. Baiklah, kalau begitu ayo kita tidur,"
Luna tersenyum. "Dengan senang hati,"
-
Luna menghentikan mobilnya di sebuah bangunan bekas gedung perkantoran. Wanita itu berjalan dengan tenang menuju lantai lima gedung tersebut. Suasana di sana yang begitu hening dan sepi tak membuat Luna merasa takut sedikit pun.
__ADS_1
Suara gaduh langsung masuk ke dalam telinga Luna ketika dia menginjakkan kakinya di lantai lima gedung. Dengan tenang, Luna mendorong pintu bercat coklat yang tampak usang tersebut.
Krieeettt...!!
Dan suara decitannya yang menggema, langsung menyita perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Beberapa diantaranya langsung berdiri setelah mereka melihat siapa yang datang. "Lama tidak bertemu teman-teman," ucap Luna dengan senyum menggembang lebar.
"Ketua!!"
.
.
"Jadi maksudmu kau ingin supaya kita semua kembali beraksi seperti dulu?"
Luna menggeleng. "Tidak juga. Aku tau jika kalian semua sudah berhenti dari dunia lama kita yang kelam. Karna itupula kalian memutuskan meninggalkan London dan kembali ke Korea. Aku hanya membutuhkan sedikit bantuan dari kalian. Mantan istri suamiku tiba-tiba datang dan secara terang-terangan dia mengibarkan bendera perang denganku. Dan aku ingin memberikan sedikit pelajaran pada wanita itu!!"
"Wait, wait, wait... Luna, coba katakan sekali lagi," pinta salah satu dari ke sepuluh gadis itu.
"Apa?"
"Yang kau katakan tadi. Jika kau sudah menikah dan yang kau nikahi adalah seorang duda!! Omo, apa dunia ini sudah kehabisan stok pria sampai-sampai kau lebih memilih menikahi seorang duda,"
"Eitt...! Kalian jangan salah. Meskipun suamiku duda, tapi dia itu duda bersegel. Dia belum pernah berhubungan dengan istrinya. Dan satu catatapan penting. Suamiku itu adalah duda yang sangat tampan dan penuh pesona," tutur Luna membanggakan Zian.
"Kalau begitu mana buktinya?"
"Ini buktinya. Namanya, Zian Qin. Jika foto ini masih kurang meyakinkan kalian. Aku bisa mempertemukan kalian dengannya."
"Coba aku lihat. Ya Tuhan...Luna, kau sangat beruntung. Dia duda yang sangat tampan, jika dudanya setampan ini sih, aku rela membuka lebar-lebar kakiku setiap hari hanya untuk memuaskannya,"
"Dasar sinting," sinis Luna menyahuti ucapan temannya.
Perempuan itu terkekeh. "Aku hanya mengikuti naluriku sebagai seorang wanita. Oya, Luna, aku dengar kau sudah menemukan keluarga kandungmu dan siapa yang menduga kau memiliki saudari kembar. Dan untuk yang menimpa ayahmu, kami turut berduka cita,"
Luna tersenyum simpul. Raut wajahnya berubah sendu. "Itu sudah menjadi rencana Tuhan, dan berhentilah menatapku seperti itu. Lagipula aku tidaklah semenyedihkan itu." Tegas Luna meyakinkan pada teman-temannya jika dirinya baik-baik saja.
"Black Lady, sudah lama tidak berkumpul dan bersenang-senang. Bagaimana jika malam ini-"
"Aku tidak bisa, suamiku sedang berada di rumah sakit. Mungkin lain kali saja. Dan mulai dari sekarang, persiapkan diri kalian. Aku harap kalian sudah ready jika aku membutuhkan kalian sewaktu-waktu,"
"Kau tidak perlu cemas. Kapanpun kau membutuhkan kami. Kami akan selalu siap untuk membantumu, ketua,"
Luna tersenyum lebar. Luna dan teman-teman lamanya saling berpelukan untuk beberapa saat. "Aku harus pergi. Jaga diri kalian dan sampai bertemu lagi," ucap Luna kemudian melepaskan pelukannya.
"Ketua, hati-hati di jalan dan sekali-kali bawa suamimu dan perkenalkan dia pada kami semua,"
Luna tersenyum lebar. "Baiklah, kapan-kapan aku akan membawa suamiku dan memperkenalkan kalian semua pada kalian semua,"
Black Lady sendiri adalah geng para wanita yang Luna bentuk ketika masih di London dulu. Anggota Black Lady awalnya hanya berjumlah lima orang. Luna, Kaira, Zifanya, Maura dan Erika. Dan enam anggota baru masuk dua tahun setelah Black Lady di bentuk.
Selain memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang bagus. Black Lady adalah sekumpulan gadis-gadis tangguh yang tidak mudah di tindas. Mereka jaga berkelahi dan memiliki pertahanan yang sangat kuat.
Meskipun Black Lady adalah sekumpulan gadis nakal yang memiliki hobi balap liar dan mabuk-mabukan. Tapi tak sekalipun mereka pernah membuat kekacauan dan keributan yang bisa merugikan orang lain.
Meskipun mereka adalah sekumpulan gadis-gadis cantik nan anggun yang tampak lemah dan tidak berdaya. Bukan berarti Black Lady tidak berbahaya. Karna mencari masalah dengan Black Lady sama saja artinya dengan bunuh diri.
Percaya atau tidak. Sedikitnya sudah ada 300 nyawa yang melayang di tangan para perempuan cantik tersebut. Dan lima diantaranya adalah boss besar para Mafia yang paling berkuasa dan ditakuti didaratan Inggris.
__ADS_1
-
Bersambung.