Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 7 "Mencari Arti Cinta"


__ADS_3

Para pembaca yang budiman. Ayolah bantu ramein novel Author dengan meninggalkan like dan coment. Karna satu like dari kalian sangat berarti untuk Author 🙏🙏🙏🙏.


-


"NATHAN!!"


Viona memekik kaget setelah melihat sosok pria yang baru saja menegur dirinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


"Tidak menyangka akan bertemu denganmu disini." Nathan berbalik dan berdiri berhadapan dengan Viona.


Viona memperhatikan penampilan pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia terlihat berbeda, kemeja gelap tanpa lengan yang tiga kancingnya dibiarkan terbuka hingga terlihat singlet putih yang menjadi dalaman kemejanya serta jeans panjang hitam. Terlihat liar namun tidak sedikit pun mengurangi ketampanannya


"Aku hanya ingin terlihat santai dengan pakaian ini, dan lagi pula perjalanan ini bukan perjalanan bisnis." Ujar Nathan seolah mengerti apa yang Viona fikirkan. "Dari tadi aku melihatmu hanya sendiri, dimana teman atau mungkin kekasihmu?"


Viona mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis ."Aku datang sendirian. Lalu bagaimana denganmu, Tuan."


"Sama, aku juga datang sendiri. Dan jika bukan karna ulah kakakku, aku tidak mungkin terjebak disini. Aku berfikir 10 hariku disini akan sangat membosankan, tapi aku rasa tidak karna kau juga berada disini." Ucapnya kembali memandang laut.


"Ya, aku juga berfikir demikian." Ucap Viona menyahuti. "Tapi sangat mengherankan jika pria setampan dirimu hanya datang sendirian untuk pesiar. Seluruh wanita didunia ini pasti sudah buta." Nathan terkekeh mendengar ucapan Viona kemudian berbalik untuk menatapnya .


Satu jitakan mendarat mulus dikepala gadis itu. "Dasar kau ini, kau mencibirku sedangkan kau juga hanya datang sendirian."


Viona merenggut sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Nathan. Gadis itu mencerutkan bibirnya, kemudian Viona berbalik dan hendak pergi dari sana. Namun naas, hampir saja gadis itu terjatuh karna tersandung kakinya sendiri.


Dan mungkin hidungnya sudah berciuman dengan dek kapal jika saja tidak ada sebuah tangan yang menahannya. Wajah Viona memerah merasakan betapa bidangnya dada Nathan yang tersembunyi dibalik kemeja dan singlet ketatnya.


"Malam ini aku menunggumu jam tujuh, kita bertemu disini dan kita makan malam bersama." Bisik Nathan dan berlalu begitu saja meninggalkan Viona yang masih terpaku dalam posisinya.


Viona mengangkat tangannya dan menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik perutnya dan dewi batinnya berlonjak tidak karuan.


Sudut bibir Viona tertarik ke atas, entah kenapa dia begitu gembira. Dan haruskah dia berterimakasih pada kedua sahabatnya karna sudah memberinya sebuah liburan yang mungkin akan penuh dengan makna.


oOo


Viona melirik jam yang menggantung di dinding kamar. Waktu menunjuk angka 7 kurang 15 menit. Viona mengganti dressnya dengan lace berlengan panjang yang memperlihatkan punggung indahnya.


Menyisir rambut panjangnya sambil mematut dirinya didepan cermin. Ia ada janji makan malam dengan Nathan, entah apa yang membuat Viona ingin sekali terlihat cantik di depan laki-laki bermarga Lu itu padahal mereka bukanlah sepasang kekasih.


Setelah selesai berdandan, Viona meninggalkan kamarnya dan berjalan melewati lorong kapal.


Beberapa kali Ia berpapasan dengan beberapa pasangan yang tentu saja membuatnya iri. Jika saja Leo ada disini, mungkin rasanya akan sangat berbeda. Meskipun dia tidak pernah mencintai tunangannya itu, namun sikap hangat Leo membuatnya selalu merasa nyaman.


Viona berjalan menuju dek kapal dan mendapati seorang pria yang hanya terlihat punggung tegapnya yang tertutup kain kemeja dan vesnya. Pria itu berdiri menghadap lautan yang terlihat menggelap karna hari sudah mulai malam.


"Sepertinya kau senang sekali melihat laut."


Suara lembut itu membuyarkan lamunan pria itu yang tengah sibuk memandang lautan. Pria itu lantas berbalik dan sedikit terpaku melihat bagaimana cantiknya Viona malam ini, dalam balutan lace dress yang melekat pas ditubuh rampingnya.


Rambut panjangnya yang terurai dan polesan make up tipis yang menyempurnakan penampilannya malam ini. Dan hanya orang buta yang mengatakan bila dia tidak cantik, bahkan Viona adalah gadis tercantik yang pernah Nathan temui. "Wow! Kau terlihat sempurna denga gaun itu. Kau ... sangat cantik."

__ADS_1


Blussshh!!


Pipi Viona merona mendengar pujian Nathan. Tidak menduga jika pria dingin itu akan memujinya . Rasanya Viona ingin mengutuk Nathan yang terlihat tampan malam ini. Kemeja navy yang lengannya digulung sampai siku dibalut vest abu-abu gelap dan celana bahan yang senada dengan warna vestnya. Rambut coklatnya yang ditata rapi.


"Maaf, jika membuatmu menunggu terlalu lama."


Nathan mengangkat bahunya. "Tidak masalah. Sebaiknya kita bergegas sekarang, aku sudah menyiapkan tempat untuk kita berdua." ucap Nathan sambil mengulurkan tangannya. Viona mengangkat wajahnya dan menatap tangan Nathan yang terulur didepannya. Dengan ragu Viona menerima uluran tangan Nathan.


Setelah berjalan sekitar lima menit, mereka tiba direstoran dan kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan yang kemudian mengantar mereka menuju meja yang hanya cukup untuk dua orang. Dan bagusnya meja yang Nathan pilih berhadapan dengan jendela sehingga mereka bisa menikmati keindahan laut sambil menyantap makan malamnya.


Nathan merasa dirinya seperti seorang putri karna dilayani dengan baik. Ia fikir akan merasa bosan selama perjalanan karna hanya sendiri. "Ini pertama kalinya aku menaiki kapal pesiar, aku fikir aku akan merasa kebosanan tapi ternyata tidak sama sekali."


"Ya, aku juga sependapat denganmu. Apalagi setelah tau kau juga berada disini, mungkin pelayaran ini akan menjadi pelayaran yang paling berkesan."


Viona memicingkan matanya "Kenapa?"


"Karna aku berlayar dengan seorang bidadari," Viona terkekeh, sulit sekali dipercaya jika patung es seperti Nathan bisa menggombal juga.


Nathan mengambil segelas wine yang baru saja dituangkan oleh pelayan dan meneguknya sedikit. "Jadi, apa yang membawamu kemari?" Viona meletakkan gelas winenya dan menatap Nathan yang juga menatapnya. "Aku kemari hanya untuk berlibur, kau sendiri?"


"Mencari sebuah arti cinta." jawabnya.


Viona memicingkan matanya. Menatap Nathan penuh kebingungan. "Wow, sangat aneh jika kau mencari arti cinta disebuah kapal pesiar. Seharusnya kau mencarinya pada seorang wanita, Tuan!" ujar Viona sambil menekan dikalimat terakhirnya.


"Seharusnya, tapi sayangnya aku tidak menemukan hal itu pada pasanganku." Balas Nathan.


"Begitukah?"


-


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Tapi Viona masih belum bisa menutup matanya dan tetap terjaga. Gadis itu meninggalkan kamarnya dan pergi kedek kapal untuk melihat bintang. Viona berdiri dipinggir kapal, kedua tangannya bertumpuh pada pagar besi yang terasa dingin dan keras.


Gadis itu menutup matanya, merasakan sejuknya angin laut menerpa wajah cantiknya dan menerbangkan helaian panjangnya yang dibiarkan terurai. Syal tipis yang melingkari lehernya tiba-tiba terbang tertiup angin, Viona hendak meraihnya namun tangannya tidak sampai.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain merelakan syal kesayangannya itu. Tapi sepertinya dewi fortuna masih berpihak pada Viona, buktinya syal itu bisa kembali pada pemiliknya tentu dengan bantuan orang lain pastinya.


"Syal ini milikmukan?" sontak Viona menoleh dan mendapati pemuda tampan berwajah dingin berdiri dibelakangnya sambil menggenggam syal miliknya. Viona memutar tubuhnya dan posisi mereka saling berhadapan.


"Nathan!" Viona tersenyum lebar.


"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak tidur?" Nathan melewati Viona begitu saja kemudian bersandar pada pagar besi yang menjadi pembatas kapal.


"Aku tidak bisa tidur, lalu bagaimana denganmu sendiri? Kenapa kau juga belum tidur?" Viona mengikuti jejak Nathan dan berdiri disampingnya.


"Sama halnya denganmu, aku juga tidak bisa tidur." jawabnya.


Hening...


Tidak ada lagi sepatah kata pun setelah perbincangan singkat itu. Mereka sama-sama diam dalam keheningan. Nathan memutar lehernya dan diam-diam memperhatikan Viona yang terlihat asyik melihat bintang-bintang lewat ekor matanya.

__ADS_1


Gadis itu tetap cantik meskipun dilihat dari sisi mana pun. Rambut coklat panjangnya yang terurai, sepasang mutiara berwarna hazel yang indah, bibir tipis yang menawan. Nathan mengurai senyum setipis kertas. Demi bunga mawar yang baru saja mekar, belum pernah Nathan melihat gadis yang sedemikian cantik


Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, pemuda itu bangkit dari posisinya. "Mau jalan-jalan?" tanyanya memberi penawaran "Akan kutunjukkan beberapa tempat dikapal ini padamu." lanjutnya.


Tampak Viona berfikir sebelum menerima tawaran Nathan. "Um! Baiklah, aku rasa bukan ide yang buruk."


"Ayo." Nathan mengulurkan tangannya pada Nathan , memberi isyarat agar gadis itu menerima ulurannya.


Ragu-ragu Viona menerima uluran tangan Nathan dan mereka berjalan beriringan.


Hangat dan nyaman. Dua rasa itulah yang Viona rasakan ketika tangannya digenggam oleh Nathan, Viona merasakan perasaan aneh dan asing saat pria itu menatap matanya atau ketika mengumbar senyum yang bahkan tidak lebih tebal dari selembar kertas.


Viona merasakan tangannya seperti mati rasa dalam genggaman Nathan. Gadis itu mendongak dan menatap sisi wajah Nathan. Wajah tampan bak adonis, rahang tegas, hidungnya yang mancung ditambah rautnya yang stoic tanpa ekspresi, sungguh mempesona. Dan Viona segera menatap kedepan saat Nathan meliriknya sesaat.


Viona menggeleng kuat, tidak seharusnya seperti ini. Ini salah, benar-benar salah. Seharusnya Viona sadar diri jika dia telah memiliki calon suami, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Sesuatu berjalan tidak seperti biasanya, wajahnya memanas dan jantungnya berdebar tak karuan. Dan detak jantung Viona semakin tidak terkendali saat Nathan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan menatapnya dengan intens.


"A-ada apa , Nathan? Ke-kenapa tiba-tiba berhenti?" tanyanya sedikit gugup. Viona memalingkan wajahnya dan menghidari kontak mata dengan Nathab. Ia tidak ingin terlihat semakin bodoh di depan pria itu.


"Kemarilah." Nathan menarik pelan lengan Viona untuk berdiri disampingnya.


Pria itu meminta Nathan untuk menutup matanya dan gadis itu menurutinya. Entah apa yang tengah Nathan rencanakan padanya, dan ketika mata itu terbuka puluhan kembang api dengan berbagai warna menghiasi langit malam. "Lihatlah, bukankah sangat indah?"


"Ya Tuhan!!" Viona membekap mulutnya, kedua matanya tampak berbinar-binar melihat pemandangan langkah itu. "Huaaaa! Itu sangat indah, dan sudah lama rasanya aku tidak pernah melihat kembang api seperti ini." Ujarnya kegirangan.


"Kau menyukainya?" tanya Nathan, Viona mengangguk antusias


"Ya, aku sangat-sangat menyukainya." jawabnya .


"Viona?"


Gadis itu menoleh mendengar suara berat yang memanggilnya begitu dekat, jantungnya berdetak semakin kencang saat pria dalam balutan kemeja hitam dan vest abu-abu itu mendekat dan membunuh jarak diantara mereka.


Viona dapat meradakan hangatnya nafas Nathan menerpa wajahnya, dan gadis itu hanya mampu terpaku melihat senyum lembut dibibir pria didepannya. Entah apa yang sedang Viona fikirkan, namun mata coklat pria itu seperti menghipnotis Viona untuk tidak berpaling arah.


Viona menggepalkan kedua tangannya yang terkulai disisi tubuhnya saat merasakan sesuatu yang kenyal dan basah mendarat diatas bibirnya. Salah satu tangan Nathan menekan tengkuk Viona ketika bibirnya tidak hanya mencium namun juga melum** dan mengecupnya.


Viona merasakan waktu terhenti detik itu juga dan udara disekitarnya menipis, meskipun tau salah. Namun Viona tetap tidak bisa menolak apalagi mencegah saat Nathan mencium bibirnya.


Nathan melepaskan ciumannya dan Viona segera membuang muka kearah lain. Viona tidak ingin jika Nathan sampai melihat wajahnya yang memerah mirip kepiting rebus. Viona benar-benar tidak menyangka dengan yang baru saja terjadi.


Sepanjang ia menjalin hubungan dengan Leo. Sekali pun mereka belum pernah berciuman dan parahnya lagi ciuman pertama Viona bukanlah pria yang bertatus sebagai tunangannya melainkan pria asing yang baru dia kenal kurang dari dua bulan. Viona bebar-benar terhipnotis dengan sorot mata pria itu dan bibir lembutnya. Bahkan Viona masih merasakan bibirnya yang basah karna ciuman mereka.


"Na-Nathan tiba-tiba aku mengantuk. Aku masuk dulu ya, selamat malam." Buru-buru Viona meninggalkan Nathan yang masih bertahan dalam posisinya.


Pria itu mengulum senyum setipis kertas sambil memandang kepergian Viona. Nathan mengangkat salah satu tangannya yang kemudian ia arahkan pada dadanya dimana jantungnya berdetak.


"Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, Viona Anggella."


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2