Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 18 "Aku Menginginkanmu"


__ADS_3

Viona melepaskan pelukan Nathan karna dering pada ponselnya. Gadis itu beranjak dari depan Nathan dan mendapati nama Leo tertera menghiasi layar ponselnya. Viona tidak langsung menerima panggilan itu , gadis berparas barbie itu menoleh menatap Nathan yang juga menatap padanya. Ragu-ragu Viona menerima panggilan itu. "Halo."


^Viona kau dimana? Apa yang laki-laki itu lakukan padamu? Siapa dia dan apa maksudnya membawamu pergi? Apa dia berbuat buruk padamu? Katakan kau diruangan mana? Aku akan menghampirimu kesana.^


Vio a kembali menatap pada Nathan yang juga menatap padanya. Viona sedikit merinding saat melighat sorot matanya berubah dingin dan tajam, seperti ada aura kelam yang menyelimuti dirinya. Dan Viona berani bersumpah jika Nathan tidak suka mengetahui Leo menghubunginya. "Kau tidak perlu cemas, Oppa. Aku baik-baik saja, laki-laki itu bukan orang jahat. Dia menjemputku karna keluarga pasien yang pernah aku selamatkan nyawanya ingin bertemu denganku secara pribadi. Oppa, sebaiknya kau tidak usah menungguku karna setelah ini aku akan langsung pergi kerumah sakit."


^Tidak, aku akan tetap menunggumu dan aku tidak menerima penolakan.^ Leo memutuskan sambungan telfonnya sebelum Viona melayangkan protesnya. Gadis itu mendengus, meletakkan ponsel itu diatas meja dan menghampiri Nathan yang tengah membuang muka.


"Oppa." panggilnya lirih, namun tidak ada respon. Nathan malah membuang muka kearah lain. Sorot matanya dingin dan datar. "Kau marah padaku?" Viona menakup wajah Nathan memaksa Pria itu menghadap padanya. "Maaf." Viona mengecup singkat bibir Nathan. "Aku mencintaimu, hanya mencintaiku."


Nathan meluapkan kekesalannya dan rasa cemburunya dengan cara ******* bibir Viona. Menciumnya dalam. Menghisapnya kasar dan ********** tanpa henti. Tidak berniat melepaskan Viona sedikit pun.


Ciuman itu masih berlangsung, nafas Viona memburu dan terenggah-enggah. Meskipun menyadarinya namun Nathan tetap enggan untuk melepaskannya... Nathan takut jika ciuman itu berakhir maka Viona akan lepas dari dekapannya. Kedua manik teduhnya menatap mata kanan Nathan sayu seakan meminta lebih dari sekedar berciuman.


Dan Nathan benar-benar melepaskan ciuman itu setelah merasakan pukulan pada dadanya, sepertinya Viona sudah tidak kuat untuk melayani ciuman brutalnya. Kemudian beranjak beberapa langkah dari hadapan Viona. "Aku benar-benar tidak suka kau menerima telfon dari bajing** Ardinata itu saat bersamaku. Meskipun aku tidak lebih dari selungkuhanmu saja, tapi aku lebih mencintaimu dibandingkan dia."


Viona maju kedepan. Mengalungkan tangan kirinya pada leher Nathan, sedangkan tangan satu lagi mengusap benda hitam yang menutup mata kiri kekasihnya itu. "Aku mengerti, tidak akan ku ulangi lagi." ucapnya kemudian mengecup singkat bibir Nathan.


"Kau terlihat tampan dan semakin misterius dengan benda ini, Oppa. Aku menyukainya dan tidak salah jika kau disebut mysterious boys." lanjutnya dengan seringai menggoda.


"Begitukah? Jika kau menyukainya aku tidak akan melepasnya." bisik Nathan lalu menarik kembali tubuh Viona agar semakin intim padanya.


Mencium brutal bibir gadis itu untuk yang kedua kalinya... namun ciuman kali ini lebih singkat dari sebelumnya."Apa pun akan kulakukan untukmu, Sayang."


"Termasuk menunjukkan sampai di mana tribal itu menghiasi tubuhmu?" Viona mengangkat wajahnya, memandang wajah datar Nathan dengan tatapan teduhnya. Laki-laki itu mengangguk tipis membuat senyum Viona mengembang lembar. "Soo.. kapan kau akan menunjukkannya?"


"Kapan pun kau mau." jawabnya singkat.


"Sekarang juga."


"Tapi tidak ditempat ini, Sayang. Aku akan menunjukkan padamu di tempat special."

__ADS_1


"Tidak masalah."


.


.


Kedatangan Leo di perusahaan milik ayahnya langsung di sambut oleh para karyawan yang melakukan demo menuntut agar gajinya segera di lunasi.


Leo keluar dari mobilnya dan dikawal oleh eksekutif muda mengingat para pendemo itu semakin menggila. Lemparan tomat dan telur busuk membanjiri tubuh Leo membuat jas mahalnya menjadi kotor dan berbau tidak sedap.


Leo menggepalkan tangannya dan mencoba untuk tidak menghiraukan mereka. Ia perlu menemui sang ayah dan memastikan dia baik-baik saja.


Brakkk!!


Leo mendobrak keras pintu ruang kerja Derry Adrinata dan mendapati laki-laki tengah baya itu duduk dikursi kebesarannya.


Derry duduk sambil memijit kepalanya yang terasa pening. Didepan sana para karyawan berdemo menuntut agar gaji mereka segera dilunasi. Derry mencoba berbicara dengan mereka namun menemui jalan buntu dan endingnya dia malah menjadi pelampiasan amukan mereka semua. Tubuh Derry dilempari batu, tomat dan telur busuk juga tepung. Laki-laki itu menghela nafas kemudian bangkit dari duduknya.


"Ayah, kenapa semua menjadi semakin kacau begini? Bukankah perusahaan kita sudah mendapatkan suntikan dana dari beberapa investor luar negeri?"


"Lalu, bagaimana kau bisa merasa sangat yakin bisa menangkap hacker misterius itu sementara sampai saat ini kau masih belum tau siapa orang itu sebenarnya?"


"Ayah tidak perlu cemas, aku yakin aku bisa mengungkap dan menangkap hacker itu... aku bersumpah akan memutilasi tubuhnya dan mencincangnya, menggiling kemudian akan aku buang kedalam laut." ujar Leo berapi-api.


"Jangan sesumbar, karna sepertinya musuh yang kita hadapi bukan orang biasa. Dia lebih cerdik dan licik dari yang kita duga. Sungguh, Ayah sangat-sangat penasaran siapa orang itu dan dendam apa yang dia miliki pada keluarga kita sampai-sampai ingin menghancurkan perusahaan ini."


"Tenang saja Ayah, putramu ini bukanlah orang bodoh. Jika kita tidak memiliki jalan keluar untuk masalah ini, bukankah kita masih memiliki harta keluarga Viona yang ada ditangan kita? Kita bisa memanfaatkan harta melimpah itu untuk kepentingan kita, lagi pula gadis bodoh itu tidak pernah tau jika Ayahnya telah meninggalkan harta yang sangat melimpa untuknya." ujar Leo menyeringai.


"Kau benar, bagaimana Ayah melupakan hal itu? Seperti dulu Ayah menghianati kepercayaan Lu Jian, kau pun bisa melakukan hal yang sama pada Viona. Tapi Ayah harap kau bisa memperlakukan dia dengan baik, sampai kita mendapatkan apa yang kita butuhkan. Setelah itu terserah padamu, mau kau buang atau kau jadikan boneka lolitamu Ayah tidak akan ikut campur. Sekarang temani Ayah menemui seseorang." Derry bangkit dari duduknya dan melangkah pergi di ikuti Leo yang mengekor dibelakangnya.


"Tentu Ayah, dengan senang hati."

__ADS_1


Dan inilah tujuan Leo yang sebenarnya kenapa dia ingin segera menikahi Viona. Viona adalah satu-satunya pewaris tunggal seluruh harga keluarganya, Leo membutuhkan stempel dan tanda tangan darinya untuk mendapatkan semua harta itu. Harta yang di miliki Viona sangatlah banyak, dan tidak akan habis sampai 7 turunan. Dan mengenai perjodohan itu, itu hanyalah akal-akalan yang di buat oleh Leo dan Ayahnya untuk menjerat Viona.


.


.


Viona langsung berdiri dari duduknya setelah Nathan melepas semua kain yang melekat ditubuh bagian atasnya. Tubuh kekar berorot , tidak terlalu besar namun terlihat kencang dan cukup untuk membuat wanita diluar sana menjerit saat melihatnya. Saat ini mereka berada di apartemen pribadi milik Nathan karna mereka berdua sama-sama membutihkan privasi.


Viona menghampiri Nathan dan merabah otot perutnya yang kencang. 'Ya Tuhan, betapa sempurnanya priaku ini.' Viona ingin mengecup perutnya, membayangkannya saja membuat perut Viona seketika mengencang. Lalu pandangannya bergulir pada tribal yang menghiasi tubuh Nathan. "Apa itu terlukis juga dibelakang tubuhmu?" bisiknya lirin... Suaranya masih terdengar parau.


Viona mengalihkan tatapannya pada mata Nathan yang juga menatapnya, kosong. Nathan tidak memberikan jawaban, sebagai gantinya laki-laki itu berbalik badan dan seperti yang Viona duga. Tribal itu juga menutupi bahunya. Pola tribal diatas punggungnya sedikit menjorok kekanan, berbeda dengan pola yang menjorok kebawah. Pola tribal itu ditata lurus mengikuti tulang punggungnya. Dan tribal itu menghilang dibalik celana bahannya, indah.


Viona menggerakkan jari-jarinya diatas punggung Nathan, lebih tepatnya pada tribal itu membuat tubuh Nathan menegang sesaat. Perlahan Viona mendekatkan wajahnya untuk mengecup pola dipunggungnya. Terdengar erangan frustasi keluar dari bibir manis Nathan yang mati-matian menahan hasratnya.


"Apa kau ingin membunuhku?" Nathan menggeram tertahan namun tubuhnya masih tetap diam. Sepertinya sentuhan Viona memberikan pengaruh besar pada Nathan.


Puas dengan tribal dipunggung Nathan. Viona beralih pada tribal yang menghiasi lengan kanan dan tubuh bagian depannya. Seperti yang dia lakukan tadi, Viona juga melakukan hal yang sama pada tribal yang menghiasi dada Nathan dan berlama-lama disana kemudian merabah perutnya. Menikmati texsturenya yang kuat dan kencang, Viona mendongakkan wajahnya untuk melihat bagaimana ekspresi wajah Nathan.


Ia melihat kobaran api semakin besar dari mata kanannya. Viona menyeringai kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, sedikit berjinjit untuk mencium bibirnya.


"Mereka sangat indah Oppa." Viona berbisik di depan mulutnya hingga terasa nafasnya yang mulai memburu. Tidak ingin kalah dari Viona. Nathan melingkarkan lengan berototnya pada pinggang Viona dan membunuh jarak diantara mereka


"Hentikan , Nona. Apa kau benar-benar ingin membangunkan singa yang sedang kelaparan eh?"


Viona tersenyum kecil "Why? Apa kau merasa keberatan?"


Kali ini gairahnya yang membawa bibir Nathan menuju bibir Viona, melum** dan menghisapnya penuh nafsu. Memindahkan salah satu tangannya pada tengkuk Viona agar ciuman itu tidak muda terlepas. Lidahnya kini berada didalam mulut hangat Viona mengobrak-abriknya, Viona terlihat begitu menikmatinya dan dia sangat menyukai lidah Nathan yang terasa hangat di dalam mulutnya.


Lidahnya mengabsen deretan gigi putih Viona dan mengajak lidahnya menari bersama. Bukan tarian lembut seperti dansa melainkan dance yang berirama cepat dan menuntut. Sesaat Nathan melepaskan tautan bibirnya dan menatap wajah Viona yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Aku menginginkanmu ... Oppa!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2