
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Sinar matahari yang menyengat kulit menjadi pemandangan pertama bagi dua pasang suami istri dan empat laki-laki mana kala mereka menginjakkan kakinya di kota kebanggaan yang begitu mereka rindukan.
Sudah hampir dua bulan Luna, Zian dan Reno tidak menginjakkan kakinya di Korea. Rasa rindu mulai membuncah di dada mereka, Luna terutana. Sudah lama dia menantikan saat – saat dimana dia akan kembali ke kampung halamannya. Dan hal itulah yang membuat Senyum Luna tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya.
Dengan hati berbunga-bunga, Luna melangkah keluar dari kedatangan luar negeri bandara Incheon bersama Viona yang berjalan disampingnya. Sedangkan para pria mengekor mereka dari belakang. Banyak pasang mata yang menatap mereka penuh kekaguman, cantik dan tampan. Sungguh perpaduan yang sempurna.
Tak sedikit mata para wanita yang menatap Zian dan Nathan dengan pandangan ingin menerkam. Melihat mereka jalan bersama membuat Zian dan Nathan terlihat seperti sepasang saudara kembar, meskipun pada kenyataannya bukan.
Dan sementara itu. Soojin yang melihat kebahagiaan Luna dari kejauhan terlihat tidak senang, apalagi ketika wanita itu memeluk lengan Zian dan tersenyum padanya. Hatinya serasa seperti terbakar, Soojin marah, dia cemburu.
Sebuah ide tiba-tiba terceletuk dikepala Soojin. Wanita itu menyeringai. Soojin menghentikan sejenak langkahnya. Wanita itu terlihat mengobrak-abrik isi tasnya kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening yang kemudian dia masukkan ke dalam sebuah minuman kaleng dengan cara disuntikkan.
Ternyata suntikan yang dia simpan di dalam tasnya ada gunanya juga. Soojin menghentikan seorang remaja yang tidak sengaja melintas didepannya. Soojin memberikan sejumlah uang pada remaja tersebut.
"Berikan minuman ini pada salah satu dari kedua wanita kembar itu."
"Yang mana? Wajah mereka sama,"
"Yang sisi kanan, namanya Leonil Luna. Katakan saja jika dia beruntung mendapatkan minuman gratis. Dan ini bayaran untukmu,"
Remaja itu menyeringai. "Baiklah, Bibi. Dan thanks untuk uangnya,"
Mata Soojin membelalak. "YAKK!! JANGAN PANGGIL AKU BIBI, KARNA AKU TIDAK SETUA ITU!!" teriaknya marah. Dan teriakkan Soojin langsung menarik perhatian orang-orang yang ada disekelilingnya. Termasuk Zian dan trio kadal.
"Lee Soojin, sedang apa dia di sini?" gumam Zian membatin.
"Oppa, ada apa? Memangnya siapa yang sedang kau lihat?" tanya Luna penasaran. Kemudian Luna mengikuti arah pandang Zian dan mendapati Soojin tengah berbincang dengan seorang remaja. "Dia? Sedang apa perempuan ulat itu di sini?" ucapnya penuh keheranan.
Zian menggeleng. "Aku juga tidak tau,"
"Ahh... Ular betina itu ya, dia menyusul kalian di Berlin. Sepertinya dia memiliki niat jahat pada kalian berdua, beruntung kami bisa mengatasinya," ujar Satya menjawab kebingungan Zian dan Luna.
"Wanita itu!!" Zian menggeram marah."Aku akan memberi pelajaran pada iblis betina itu," Zian hendak pergi namun tiba-tiba seorang remaja menghampiri mereka. Remaja itu memberikan sebuah minuman pada Luna.
"Nona, ini minuman untukmu. Kau beruntung mendapatkan minuman gratis," ucapnya.
"Apa? Minuman untukku?" Luna menatap remaja itu penasaran. Remaja itu mengangguk.
Bukan Luna yang mengambilnya tapi Zian. Zian merebut minuman tersebut kemudian membuangnya ke dalam tong sampah. "Katakan pada wanita itu, sebaiknya jangan macam-maca jika dia ingin nyawanya masih menyatu dengan raganya." Ujar Zian.
Gluk..!!
Susah payah remaja itu menelan salivanya ketika melihat tatapan tajam Zian yang penuh intimidasi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, remaja itu langsung pergi.
"Sebaiknya jangan menerima apapun yang tidak kau kenal. Sudah siang, sebaiknya kita pulang."
"Huft, baiklah,".
"Nunna, Hyung. Kalian duluan saja. Kalian duluan saja, ada hal yang harus kami lakukan," ucap Frans seraya melirik Soojin dengan tatapan tak terbaca.
"Aku harap kalian tidak berbuat aneh-aneh lagi kali ini," Nathan menyahut cepat.
"Hahaha. Tentu saja tidak, Paman. Mana mungkin kami yang tampan dan imut ini membuat masalah. Ya sudah, kami pergi dulu, bye..." Rio menarik Satya dan Frans. Mereka melambaikan tangannya pada semua orang sambil memasang senyum bodoh.
Mengabaikan mereka bertiga. Kelima orang itu berjalan meninggalkan bandara. Zian dan Nathan menghentikan taksi pertama yang lewat di depan mereka. Dengan bahasa Korea yang sangat lancar, Zian dan Nathan menyebutkan alamat rumah yang mereka tuju.
Dan tanpa menunggu lama, sopir taksi tersebut menjalankan mobilnya. Reno ikut pulang bersama Nathan dan Viona, karna kebetulan mereka satu arah.
-
__ADS_1
"BOCAH SETAN!! BERHENTI MENGGANGGU DAN MERECOKI HIDUPKU!!"
Amarah Soojin memuncak karna ulah trio kadal yang akhir-akhir ini selalu membuat buruk harinya. Soojin tidak tau masalah apa yang dia miliki dengan mereka bertiga sampai-sampai Rio dan kedua paman kecilnya membuatnya tersudut.
"Bibi, kau terlalu berisik. Lihatlah, diwajahmu mulai muncul keriput," ucap Rio sambil menunjuk wajah Soojin.
Plakk...
Soojin menepis tangan Rio dengan kasar dan menatapnya tajam. "Jauhkan tanganmu dari wajahku, bocah!! Kalau lecet apa kau mau bertanggung jawab!!" bentaknya marah.
"Idihh...!! Wajah plastik saja sombongnya minta ampun. Dan kau tenang saja, Nunna. Kalau rusak masih banyak ember bekas dibelakang," sahut Frans tanpa dosa.
"Yakk!! Kau fikir mukaku ini terbuat dari apa? Pergi kalian dari sini, atau ku gantung kalian hidup-hidup. Pergi,, pergi,, PERGI...!!!" jerit Soojin histeris.
Soojin melemparkan apapun yang ada didekatnya pada Rio, Frans dan Satya. Memaksa mereka bertiga untuk pergi. Alih-alih menuruti, mereka bertiga malah melompat ke atas kasur Soojin. "KAMI TIDAK MAU!!" ketiganya menjawab kompak.
"YAKK!!!" amuk Soojin penuh emosi.
Dengan emosi yang memuncak. Soojin menghampiri mereka bertiga kemudian menarik selimut yang membungkus tubuh mereka. Soojin memaksa Rio, Satya dan Frans supaya mereka turun dari tempat tidurnya.
"PERGI KALIAN DARI SINI!!" jerit Soojin histeris.
Frans melompat turun dari tempat tidur kemudian menarik Soojin lalu membantingnya ke kasur. Tubuh Soojin jatuh dalam posisi terlentang. "Nunna, kau terlalu berisik. Bagaimana kalau kami membungkamu sekarang juga. Kami bertiga akan memuaskanmu dan membuatmu sampai tidak bisa berjalan," ujar Frans dengan seringai mesumnya.
"YAKKK!!! MATI SAJA KALIAN BERTIGA!!"
"Hahahaha...!!"
-
Korea bukanlah wadah bagi orang suci. Bukan pula tempat bagi segala jenis manusia berhati binatang. Tapi Korea merupakan perpaduan antara keduanya. Salah satu kota metropolitan yang terletak di Korea Selatan.
Siang berjalan apa adanya. Begitupula dengan saat malam tiba. Tak ada bedanya. Kehidupan kota yang standar dan biasa saja—nyaris membosankan, membuat orang malas untuk meniti hidup, membuat orang bertanya-tanya, apakah hidup itu hanya seperti ini saja. Begini-begini saja.
Seluruh pasang mata terlihat lelah. Wajah-wajah palsu tersebar di segala penjuru. Tak ada duka meskipun hidup yang mereka jalani tidak sebaik yang terlihat. Senyum terpancar dari setiap bibir mereka yang berada di sebuah club malam yang terlerak dipusat kota.
"Hyung, di sini...!" seru Simon ketika melihat kedatangan Zian. Pemuda itu melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. "Huaaa...!! Hyung, aku sangat merindukanmu," Simon merentangkan kedua tangannya bermaksud memeluk Zian.
Tapi sial menimpanya, bukannya tubuh Zian melainkan lantai yang harus dia cium. Zian menghindar ketika Simon hendak memeluknya.
"KYYYAA!! GIGIKU COPOT, HUAAA..."Simon langsung histeris saat mengetahui dua gigi depannya lepas."Hiks, Hyung... Kenapa kau malah menghindar? Padahal aku hanya ingin memelukmu. Lihatlah, karna dirimu aku kehilangan gigiku..."
Zian memicingkan matanya. "Oh, jadi kau menyalahkanku?" Simon buru-buru menggeleng. Dia ngeri sendiri melihat tatapan tajam Zian yang penuh intimidasi.
"Ti...Tidak, Hyung. Mana berani aku menyalahkanmu, hahaha." Ekspresi wajah Simon langsung berubah. Pemuda itu memaksakan diri untuk tersenyum meskipun pada kenyataannya hatinya sedang menangis.
Mengabaikan Simon yang masih terus tertawa seperti orang bodoh. Zian melanjutkan langkahnya dan menghampiri Adrian serta Seho yang sedang duduk di ruang VIP sambil menikmati minuman pesanan masing-masing.
Namun langkah kaki Zian seketika terhenti ketika dia tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang wajahnya tidak begitu asing padanya. Pria itu kira-kira seusia Adrian, tiga tahun lebih tua darinya.
Sontak Zian menoleh, tapi pria itu sudah tidak ada di sana dan menghilang dari jangkauan matanya. "Derby, mungkin dia? Atau aku hanya salah lihat saja?" ucapnya membatin.
"Ada apa, Zian?" tanya Seho penasaran.
Seho menggeleng. "Tidak apa-apa, apa kalian sudah sudah lama menungguku?"
"Tidak, kami baru saja tiba. Oya, kami juga sudah memesankan minuman untukmu. Kapan kau kembali dari Berlin?" tanya Adrian.
"Hn, pagi tadi."
"Lalu mana oleh-olehnya untuk kami, Hyung? Oya, apakah Berlin itu yang memiliki menara Eiffel-nya? Aaahh, pasti kalian melihat bunga tulip juga ya?" tanya Simon dengabn begitu antusias. "Yakk!! Hyung, kenapa kau malah menoyor kepalaku?" protes Simon sambil menatap Seho sebal.
"Dasar bodoh, menara Eiffel itu bukan di di Jerman, tapi di Italy. Yang ada di Berlin itu patung Liberty. Lagipula mana ada bunga tulip di Jerman, karna bunga tulip itu adanya di Perancis."
"Orang boroh teriak bodoh. Memangnya sejak kapan menara Eiffel pindah ke Jerman? Menara Eiffel itu adanya di Paris. Bunga Tulip bukanya di Jerman tapi di Belanda," ujar Adrian menegaskan.
__ADS_1
Simon menatap Adrian dengan wajah polosnya."Benarkah? Jadi menara Eiffel dan bunga Tulip sudah pindah lokasi ya?" tanya Simon polos. Simon memandang Adrian tanpa dosa.
Adrian memijit pelipisnya. Berbicara dengan Simon dan Seho terkadang memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. "Zian, apa yang sedang kau lihat? Jangan bilang kalau kau sedang melihat perempuan-perempuan sexy di sana?" Adrian menebak asal.
"Lebih tepatnya pria yang bersama mereka. Mereka mengingatkanku pada Derby Qin. Putra sulung dari mendiang bajingan itu,"
"Maksudmu putra sulung mendiang pamanmu yang kau bunuh beberapa tahun yang lalu?" tebak Rebo 100% benar.
"Hn,"
"Tapi aku rasa mereka tidak mirip sama sekali. Atau mungkin karna sudah dewasa?" ucap Adrian yang juga ikut memperhatikan pria yang Zian yakini sebagai Derby Qin, putra sulung dari mendiang pamannya yang Zian bunuh 18 tahun yang lalu.
Kedua tangan Zian terkepal kuat. Jika itu memang Derby Qin. Zian bersumpah akan membunuhnya juga. Masih sangat segar dalam pikiran Zian bagaimana Derby dan seluruh keluarganya memperlakukan mendiang kakeknya dengan sangat buruk.
Kakek Qin pernah sampai masuk rumah sakit karna perbuatan Derby dan adiknya. Dan karna itulah Zian begitu dendam dan membenci seluruh keluarga pamannya.
"Zian, kau mau kemana?" seru Seho.
"Pulang,"
"Tapi pestanya kan belum di mulai,"
"Kalian lanjutkan saja tanpa diriku,"
-
Angin malam berhembus mengusik kedua matanya yang tengah tertutup, meriuhkan juntaian bulu mata lentiknya dengan lembut, menyapu pelan wajah ayunya dengan desiran dingin hawa malam ini.
Ia berdiri dalam diam. Menikmati hembusan angin malam yang serasa membekukan. Bulu-bulu halus pada lengannya berdiri. Di Balkon kamar Luna menanti, masih belum ada tanda-tanda jika Zian akan pulang, sentara waktu sudah menunjuk pukul 00.00 tengah malam. Tapi belum terdengar suara deru mesin mobil yang menghampiri ke arah rumah.
Sudah hampir satu jam Luna menunggu dalam suasana dingin dan hening. Namun yang dia tunggu tak kunjung datang. Jujur saja Luna merasa cemas, meskipun tak menunjukkannya secara terang-terangan. Tapi Luna tau jika Zian dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Baiklah Luna menyerah walau masih sedikit berharap. Dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Kedua matanya rasanya seperti direkatkan dengan lem sehingga sulit baginya untuk tetap membuka matanya.
Namun lagi-lagi Luna ingin bertahan sebentar lagi. Dia membuka kembali matanya, dan melihat ke arah jalanan yang masih saja ramai oleh kendaraan walau jam sudah menunjukkan pukul 1 AM. Berharap sebuah cahaya mobil berhenti di balik pagar yang sudah tertutup rapat itu.
Nihil!
Luna memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan bertepatan dengan itu, deru suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Luna beranjak dan berlari meninggalkan kamarnya. Lega terlihat jelas pada raut wajahnya ketika dia melihat Zian pulang dalam keadaan baik-baik saja.
"Oppa," seru Luna dan berhambur ke dalam pelukan Zian. "Aku lega kau baik-baik saja," ucapnya setengah berbisik.
Zian tertegun. Detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. Zian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Luna. "Maaf, sudah membuatmu cemas," bisiknya penuh sesal. Luna menggeleng.
"Lain kali kalau mau pergi dan pulang terlambat kabari aku. Aku benar-benar mencemaskanmu, Oppa," ucap Luna.
"Hari ini fikiranku benar-benar kacau. Sekali lagi aku minta maaf, Sayang,"
Luna melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya menakup wajah Zian seraya mengurai senyum lembut. "Aku lapar, sebaiknya sekarang temani aku makan malam,"
"Kau masih belum makan malam?" Luna menggeleng.
"Aku masih menunggumu, lagipula bagaimana aku bisa makan jika suamiku masih belum pulang, bahkan aku tak me dapatkan kabar darinya sama sekali," tutur Luna.
Zian mendesah berat. Seharusnya dia tau seberapa keras kepalanya Luna. "Baiklah, ayo kita makan malam sekarang. Kau harus makan yang banyak. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit karna kurang makan,"
Luna mengangguk. Dengan senyum mengembang Luna memeluk lengan Zian yang tertutup kain kemeja hitamnya. Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan.
-
Bersambung.
__ADS_1
Bonus Foto Visual Utama...