
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI CEO CACAT YANG KEJAM) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗
-
Luna melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kawasan elite kota Seoul.
Tubuhnya yang dibalut mini dress berwarna soft-pink bermotif bunga menjadi pusat perhatian banyak pasang mata pria karena dia memiliki bentuk tubuh yang sempurna, di dukung dengan wajah cantik dan kulit seputih porselen.
Luna memperhatikan sekitarnya mencari seseorang sampai ponsel yang ada di genggamannya berbunyi dan mengangkat dengan cepat ketika nama Viona-lah yang menjadi pemanggil.
"Eonni, kalian ada dimana? Aku sudah sampai." Ucap Luna sambil menyapukan pandangannya.
"Arah jam 12 , Sayang," jawab Viona. Kemudian Luna menoleh dan mendapati Viona tengah melambai padanya. Luna tersenyum lebar.
Setelah memutuskan sambungan telfonnya, Luna segera berjalan menuju ke lokasi dimana Viona dan Cherly berada.
Seperti yang sudah mereka rencanakan kemarin. Hari ini ketiga wanita itu akan pergi berbelanja bersama. Banyak sekali yang ingin Luna beli, apalagi sudah sangat lama dia tidak pernah pergi berbelanja.
"Eonni!" serunya melambaikan tangannya ketika melihat Viona dan Cherly yang juga sedang berjalan ke arahnya. Luna berlari kecil dan langsung memeluk mereka berdua ketika sudah ada dihadapannya. Ritual wajib yang selalu mereka lakukan ketika bertemu.
Banyak pasang mata pengunjung yang menatap mereka iri bercampur kagum pada ketiga perempuan itu. Mereka begitu sempurna dengan kecantikan di atas rata-rata, apalagi si kembar yang memiliki wajah lembut dan sorot mata yang begitu teduh dan menenangkan.
Tapi mereka bertiga tak mau ambil pusing. Melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju lantai dua tempat di mana surganya para wanita berada. Karena di sana gudangnya barang branded dari berbagai merek ternama dari berbagai penjuru dunia.
Seoul Departement Store tidak begitu ramai akhir bulan seperti ini. Tak banyak orang berlalu lalang meski hari ini adalah hari libur. Setidaknya begitulah kesan yang di dapat oleh ketiga wanita itu yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dua.
Pertama-tama mereka mendatangi sebuah koto kosmetik. Rencananya ketiga wanita cantik itu ingin membeli lipstick bedak dan berbagai alat make up lainnya.
Luna dan Cherly melihat-lihat lipstik, sedangkan Viona memilih untuk melihat-lihat bedak dan pelembab. Rencananya Luna akan membeli beberapa lipstik satu brand namun berbeda warna. Begitu juga dengan Cherly, dan hanya Viona yang tidak berminat dengan lipstick.
"Eonni, bagaimana menurutmu?" Luna baru saja mencoba lipstick yang hendak ia beli. Luna sangat menyukai warnanya yang terlihat sotf dan alami. "Pink atau oranye?" Luna menunjukkan dua lipstick di tangannya pada Viona.
Viona memperhatikan kedua lipstick tersebut dan kemudian dia menyarankan supaya Luna memilih keduanya. "Menurut Eonni begitu? Baiklah, aku akan pilih kedua-duanya."
"Jangan lupakan warna merah, Lun. Pria akan mudah terpesona jika pasangannya memakai lipstick warna merah," ujar Cherly.
"Benarkah?" Cherly mengangguk. "Baiklah, aku akan membeli satu lagi dan itu warna merah,"
Dan setelah dari toko kosmetik. Mereka bertiga melanjutkan ke sebuah boutique yang hanya menyediakan pakaian pria dengan berbagai brand ternama seperti Gucci, Ralph Lauren, Hugo Boss, Burberry, Levi's dan masih banyak lagi.
Luna dan Viona berjalan menuju deretan pakaian pria berlabel Gucci, karena Nathan dan Zian sama-sama menyukai pakaian dengan label tersebut. Sedangkan Cherly deretan pakaian berlabel Levi's.
Luna memilih beberapa helai kemeja lengan panjang, lengan terbuka dan beberapa setel jas lengkap dengan celana dan vestnya. Tidak ada salahnya jika dia membelikan beberapa potong pakaian baru untuk suaminya.
Dan ketika hendak menuju kasir, mata coklatnya melihat sebuah long vest hitam yang terpajang pada sebuah manequine. Kedua mata Luna langsung berbinar ketika membayangkan saat Zian memakai long vest. Dia pun segera memanggil penjaga toko.
Luna mengambil tiga warna berbeda. Hitam, coklat dan abu-abu, sedangkan Viona hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat keantusiasan adiknya dalam memilihkan pakaian untuk Zian.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kalian sudah selesai?" tegur Cherly yang kemudian di balas anggukan oleh Luna dan Viona.
Setelah membayar semua pakaian-pakaian tersebut. Mereka bertiga melanjutkan agendanya dengan pergi ke boutique khusus wanita.
Luna membeli beberapa helai dress, blus cantik dan juga rok. Tak ada satupun celana yang Luna beli. Luna terlihat begitu bersemangat begitupula dengan Cherly. Sedangkan Viona hanya membeli dua helai dress saja karena masih banyak pakaian baru di lemarinya yang belum pernah dia pakai.
Dan setelah lebih dari tiga jam berkeliling mall, akhirnya mereka mendapatkan semua barang yang mereka anggap penting.
Dan karena kesulitan membawa sendiri, mereka memutuskan untuk menyewa jasa orang lain untuk membawakan barang-barang belanjaan mereka menuju parkiran.
"Setelah ini kita mau pergi ke mana lagi?" tanya Cherly pada kakak beradik tersebut.
"Bagaimana kalau kita pergi dan nongkrong di cafe. Sudah lama sekali aku ingin bersantai di cafe bersama saudara dan teman. Eonni, Cherly, kalian setuju kan?" Luna menatap keduanya penuh harap.
Cherly dan Viona saling menatap. Mereka sama-sama mengulum senyum lebar. "Aku rasa bukan ide yang buruk," jawab keduanya dengan kompak.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil masing-masing dan mobil itu melesat menuju cafe tempat mereka berkumpul dengan para suami.
.
.
Luna mengurungkan niatnya untuk memasuki cafe saat netra coklatnya menangkap siluet wanita yang langsung menghancurkan moodnya berada di dalam cafe tersebut dengan seorang pria asing yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Dan kediaman Luna membuat bingung Viona dan juga Cherly. Viona berbalik kemudian menghampiri Luna. "Ada apa? Kenapa tidak jadi masuk?" bingung Viona.
"Itu," kemudian Viona dan Cherly mengikuti arah tunjuk Luna. Mata Viona menyipit.
"Eonni, bisa tidak kita ke cafe lain saja? Aku terlalu malas jika harus bertemu dengan betina itu." Tuturnya.
"Baiklah, kita ke Garden Cafe saja," usil Cherly yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Luna terlalu malas jika harus bertemu dengan Soojin. Dia sedang tidak mood jika harus terlibat perdebatan dengan wanita itu. Luna terlalu lelah apalagi habis berkeliling mall selama berjam-jam. Dan pilihan terbaik adalah pergi menghindarinya.
-
Derby memijit pelipisnya karena rasa pening yang mendera kepalanya. Wajahnya kusut, rambutnya yang sudah berantakkan semakin terlihat berantakan karena sudah tak terurus lagi.
Eric tersenyum menyeringai kearah Derby yang sudah stres akibat perusahaannya yang hampir bangkrut karena ulah seorang Hacker yang telah membobol data-data keamanan perusahaan dan mencuri data-data penting perusahaannya.
Sebagian besar investor yang menanamkan saham di perusahaan milik Derby mendadak menarik dananya kembali dan mencari perusahaan lain. Derby bahkan tidak mengerti apa yang membuat mereka menarik semua saham yang telah di tanamkan di perusahaan miliknya.
Sudah hampir tak ada harapan, perusahaan Derby sudah terlajur jatuh, rumor dari awak media memperparah keadaan dan membuat banyak pegawai yang mekilih mengundurkan diri secara tiba tiba dengan alasan yang sangat tak masuk akal menurutnya.
Derby sudah mencoba segala cara untuk menahan mereka agar tetap bertahan dan tidak mengundurkan diri tapi mereka tetap ingin mengundurkan diri. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Derby sangat marah dan hilang akal.
Dia ingin sekali menemukan orang itu, orang yang telah menjadi dalang utama di balik kesialan yang menimpa hidupnya.
"Tuan, Anda terlihat sangat buruk dan kacau," komentar Eric melihat keadaan Derby yang berbeda jauh dari biasanya.
__ADS_1
"Apakah aku bisa baik-baik saja di tengah terjangan badai yang menghantam perusahaanku? Aku benar-benar tidak mengerti dengan orang-orang itu, sebenarnya masalah apa yang mereka miliki denganku sampai-sampai mereka berusaha untuk menjatuhkanku!!" Derby mulai tersulut emosi.
"Lalu, apakah Anda sudah memiliki cara untuk mengatasi masalah ini, Tuan?" tanya Eric memastikan.
"Belum, kepalaku terlalu pening untuk berfikir lebih jauh. Sebaiknya kau keluar dan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri," ucap Derby.
Derby yakin, pasti orang itu sedang menertawakannya disuatu tempat. Bagaimana pun caranya Derby harus bisa menemukan orang itu dan memberikan sebuah pelajaran yang berharga padanya.
Derby tidak akan tinggal diam dan membiarkan orang itu menang darinya. Cepat atau lambat dia pasti akan menemukannya, dan Derby akan membuat orang itu hancur sehancur-hancurnya.
-
Zian tiba di rumahnya hampir tengah malam. Banyaknya pekerjaan di kantor membuatnya harus mengambil kerja lembur di tambah lagi dengan Reno yang tidak masuk karena mengalami diare parah.
Pria itu tak merasa heran saat melihat rumah dalam keadaan sepi dan gelap. Ini sudah hampir tengah malam dan pasti istri cantiknya itu sudah meringkuk di balik selimut tebalnya.
Zian berjalan perlahan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dan persis seperti dugaannya, Luna memang sudah tertidur pulas. Zian mendekati Luna tanpa suara karena dia tidak ingin mengusik tidur sang dara.
Sebuah ciuman Zian daratkan pada kening Luna dan menempelkan bibirnya berlama-lama di sana.
Jari-jari besarnya mengusap kepala Luna penuh sayang. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Kemudian Zian beranjak dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya terasa lengket semua dan itu membuat Zian merasa tidak nyaman.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Zian membaringkan tubuhnya di samping Luna. Dan tidak sampai 10 menit Zian sudah tertidur pulas.
-
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, tak terasa sudah hampir satu jam lebih Luna memandangi wajah Zian, mengagumi wajah rupawan suaminya. Jari-jari lentiknya masih setia menyusuri setiap lekukan sempurna di wajah sang adonia mulai dari mata, hidung, kening, pipi, pelipis, dagu dan semua bagian yang ada di wajah Zian.
Luna akui jika paras suaminya menang nyaris sempurna. Tidak ada kecacatan selain beberapa bekas luka, bekas perkelahian atau kecelakaan yang pernah Zian alami.
Gerakan jari Luna terhenti saat pemilik wajah itu tiba-tiba membuka kelopak matanya dan memperlihatkan sepasang netra abu-abu yang sangat menawan.
Luna tersenyum tipis, begitu pula dengan Zian yang juga tersenyum. "Morning, Baby," bisik sebuah suara serak, khas orang baru bangun tidur.
Suara yang selalu dingin dan datar, tapi selalu terasa lembut ditelinganya, entah hanya perasaan Luna saja atau memang kenyataannya begitu.
"Pagi juga, Oppa." Jawabnya lembut. Luna tersenyum dan kemudian mengecup singkat bibir Zian.
Luna kembali mengunci manik abu-abu milik Zian. "Semalam kau pulang jam berapa? Kenapa tidak membangunkanku? Maaf, karena aku tidak menunggumu. Aku benar-benar lelah setelah berjam-jam berputar-putar di mall bersama Vio Eonni dan Cherly," tuturnya.
"Aku pulang hampir tengah malam, aku tidak membangunkanmu karena kau terlihat sangat lelah." Tuturnya.
Hari ini adalah akhir pekan jadi wajar jika mereka berdua masih bermalas-malasan. Zian kembali merengkuh tubuh Luna ke dalam pelukannya. Kedua matanya tertutup. "Aku masih ingin tidur lagi, tetaplah begini dan jangan coba-coba untuk pergi," bisik Zian dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna.
Tak ada penolakkan, Luna mengangguk dan kemudian membenamkan wajahnya pada pertopangan leher Zian. "Tidak, aku tidak akan pergi kemana pun," jawabnya.
Luna mencoba untuk menutup kembali matanya meskipun dia tak yakin bisa tidur lagi setelah bangun. Sama seperti Zian, Luna pun masih ingin bermalas-malasan.
-
__ADS_1
Bersambung.