Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 72 "Ibu dan Anak Tiri"


__ADS_3

"Ibu, ada apa ini?"


Perhatian Dora, Rio dan Satya teralihkan oleh teguran seorang perempuan dari arah belakang yang kemudian bergabung bersama mereka bertiga. Wanita berparas cantik tapi terlihat angkuh itu memicingkan matanya melihat seorang pemuda cupu duduk di lantai sambil berlinang air mata.


"Shion," seru Dora melihat kedatangan putri sambungnya. "Kau ada di sini? Kapan kau kembali dari London?" tanya Dora penasaran.


"Pagi ini,"


"Lalu kenapa kau tidak memberi tau Ibu,"


"Hm, aku tidak memiliki banyak waktu. Ngomong-ngomong siapa bocah ini? Kenapa dia terus memanggilmu Ibu? Apa dia anak harammu yang selama ini kau sembunyikan dariku dan Papa?" Shion memicingkan matanya, menatap Ibu tirinya itu dengan seringai penuh selidik.


"Sembarangan, jangan menuduhku dengan seenak jidatmu yang lebar itu, Choi Shion!!"geram Dora.


Shion mendecih dan memutar jengah kedua matanya. "Aku hanya bertanya, kenapa kau harus marah? Jika memang bukan ya sudah,"


Shion sendiri adalah anak tiri Dora dari suami ketiganya. Sejak awal pernikahannya dengan sang ayah, Shion tidak menyukai Dora karna kemunafikannya.


Shion tau jika Dora tidak tulus pada mendiang ayahnya, dia hanya mengincar harta yang dimiliki oleh keluarga Choi. Meskipun Shion tau. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi sampai mendepak Dora keluar dari rumahnya karna dia adalah pemegang stelmpel sah seluruh kekayaan keluarga Choi. Dan Dora sendiri tidak bisa menguasai seluruh kekayaan mendiang suaminya karna semua kekayaan itu masih atas nama Shion.


Dora mendesah berat. "Sebaiknya pikirkan menggunakan logika dan akal sehatmu. Mana mungkin aku yang cantik ini memiliki anak seperti dia, sudahlah... Sebaiknya kita pergi saja, Ibu bisa terkena tekanan darah tinggi jika terlalu lama disini," Dora menarik Shion keluar dan meninggalkan cafe. Dia sudah sangat lelah jika harus terus-terusan berurusan dengan Iblis kecil seperti Rio.


Rio langsung bangkit dari posisinya dan Frans yang tidak kedapatan jatah peran terlihat menghampiri kedua saudaranya. Pandangan mereka tertuju pada Shion yang baru saja meninggalkan cafe.


"Paman, apa kalian juga memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Rio seraya menarap Satya dan Frans secara bergantian.


"Apakah dia Shion yang sama? Orang yang mencampakkan Nathan Hyung 7 tahun yang lalu? Tapi untuk apa dia tiba-tiba kembali?" heran Satya penuh kebingungan.


"Wahhh, ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus segera mengambil tindakkan sebelum wanita itu mengusik rumah tangga Nathan hyung dan Viona Nunna." Ujar Frans.


"Frans benar. Dan jika bukan kita lalu siapa yang akan melakukannya. Lagi pula akan sangat menyenangkan jika mainan kita bertambah satu lagi, dan artinya kita memiliki 4 mainan sekarang," Tutur Satya panjang.


"Dan aku sudah memiliki rencana untuk wanita itu. Dan untuk sementara kita awasi saja ular betina itu, dan kita akan membagi tugas mulai sekarang. Aku akan mengurus Ibu dan anak itu. Paman Frans, tugasmu mengawasi Cherly, kita tidak bisa melepaskan dia begitu saja. Dan Paman Satya akan mengawasi Bram Wiranata. Bagaimana? Kalian setuju tidak?" Rio menatap kedua paman kecilnya.


"Aku sih tidak masalah. Dan mulai sekarang kita harus lebih keras lagi karna yang kita tangani bukan hanya satu orang, tapi empat orang. Dan yang menyenangkan dalam hal ini adalah....??"


"KITA BISA MENDAPATKAN UANG LEBIH BANYAK LAGI SECARA CUMA-CUMA, HAHAHA!!!"


-


"Taooo,"


Suara mirip lumba-lumba langsung menggema dan memantul dari setiap sudut ruangan. Malam yang seharusnya tenang seketika menjadi gaduh karna teriakkan Viona. Wanita itu benar-benar di uji kesabarannya oleh Tao, Tao yang sudah resmi menjadi bodyquard Viona kini tinggal satu atap dengannya juga Nathan. Bukannya menyenangkan, hal itu justru menjadi mimpi buruk bagi Viona.


Tao adalah pria yang memiliki sifat 11-12 dengan Rio, Satya dan Frans. Tingkat kejahilannya sudah jangan di tanya lagi, dulu mereka sering bekerjasama sebelum ketiga pemuda itu mendapatkan banyak mainan baru, selalu Kai dan Henry yang menjadi korban kejahilan mereka.


"Jauhkan mentimun itu atau aku akan menggantungmu hidup-hidup!!" ancam Viona bersungguh-sungguh


"Aishh, Nona Boss, kau ini lucu sekali. Masa lya takut sama mentimun, itukan gak lucu,"


"Aku bukan takut, bodoh!! Tapi aku geli,"

__ADS_1


"Takut sama geli apa bedanya? Hanya berbeda tipis saja, dan lagi pula apa alasannya sampai-sampai Nona Boss tidak menyukainya?"


"Aku bilang karna aku geli!! Lagi pula mentimun baunya tidak enak, jadi aku tidak suka."


Viona menyambar seikat bayam yang ada di meja dapur saat melihat Tao semakin mendekat padanya. "Tao, kau benar-benar sudah bosah hidup ya!! Letakkan dan jauhkan mentimun itu dariku atau aku akan menggantungmu hidup-hidup di pohon cabe?" ancam Viona bersungguh-sungguh.


"Aishhh. Nona Boss, kau sungguh tidak asik, masa iya kau tega akan membunuhku hanya karna mentimun ini? Kan tidak lucu,"


"Diam kau Panda!!" teriak Viona. "Yakkk!! Jangan mendekat, Tao," Viona melemparkan telur pada Tao dan membuat rambutnya yang baru saja dia cuci di salon menjadi bau amis.


"Huaaa... Nona Boss, tega sekali kau padaku. Kenapa kau harus mengotori rambutku yang harum semerbak seperti bunga yang baru mekar di pagi hari ini?"


"Huh, rasakan. Siapa suruh mencari masalah denganku. Bagus cuma rambutmu, jika kau berani-berani lagi, maka jangan salahkan aku jika aku sampai memotong sosismu!!" ancam Viona bersungguh-sungguh.


"Nona Boss!!"


"Hahahha,"


Nathan yang melihat perdebatan mereka berdua hanya bisa mendengus geli. Pemandangan semacam itu bukanlah pertama kalinya, hampir setiap hari dia disuguhi pemandangan yang sangat menggelikan di mana Tao membuat Viona marah-marah karna kejahilannya dengan ending pria itulah yang langsung mendapatkan karma secara kontan.


Nathan menghampiri mereka berdua dan kedatangannya langsung disadari oleh Viona. "Oppa, kau sudah pulang. Aku fikir hari ini kau lembur lagi,"


"Hn, pekerjaan hari ini lumayan ringan jadi tidak banyak yang aku kerjakan. Kau sudah makan malam?" Viona mengangguk. "Baguslah, aku akan mandi dan ganti baju dulu. Suruh pembantu menyiapkan makan malam untukku," Viona mengangguk.


"Ya sudah, Oppa mandi dulu sana. Bibi, tolong segera siapkan makan malam untuk Tuan ya,"


"Baik Nyonya,"


.


.


Viona menghampiri Nathan lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher jenjang suaminya. "Ada apa, hm? Apa kau begitu merindukanku?" tanya Nathan seraya melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Viona.


"Bukankah Oppa tau sendiri jika sejak hamil aku tidak pernah bisa jauh darimu. Jadi mana mungkin aku tidak merindukanmu," Viona mencerutkan bibirnya.


Nathan mendengus geli. Pria itu mengangkat dagu Viona kemudian mencium singkat bibir ranum tipisnya tanpa memagutnya. "Tentu saja aku tau, karna kau selalu menghubungiku setiap detik dan setiap waktu,"


"Itu bukan hanya karna aku yang merindukanmu tapi anak kita juga, kau tau sendiri bukan jika dia tidak pernah mau jauh dari Papanya."


Nathan menundukkan tubuhnya. Wajahnya berhadapan dengan perut Viona yang sedikit membuncit. "Benarkah itu, Nak? Papa juga sangat merindukanmu, tumbuh dengan baik dan sehat ya, karna Papa dan Mama akan menunggumu lahir dan melihat dunia yang kejam ini," Nathan tersenyum lembut di usap dan di ciumnya perut Viona dengan penuh sayang. Dan Viona selalu tidak bisa menahan rasa harunya setiap kali melihat Nathan mencoba berinteraksi dengan janin yang ada di dalam kandungannya. Hatinya langsung menghangat.


"Tunggu sebentar, aku akan ganti baju setelah ini temani aku makan malam,"


"Tidak perlu repot-repot memilih lagi, Oppa. Aku sudah menyiapkannya," seru Viona sambil menunjuk tempat tidur.


Nathan melihat sebuah vest abu-abu berkombinasi hitan dan singlet hitam sudah ada di atas tempat tidur. Pria itu mendengus geli. Dia tidak memiliki pilihan lain karna selain memakainya, Viona akan merajuk lagi jika dia tidak menurutinya. Dengan segera Nathan memakai pakaian pilihan Viona dan hal itu membuat senyum dibibir Ibu hamil tersebut mengembang semakin lebar.


"Waaahh. Lihatlah, Nak. Papamu sangat tampan dan keren bukan? Uhh, dia memang yang terbaik," ujar Viona sambil mengusap perutnya.


"Hn, Apa sekarang kau merasa puas?" tanya Nathan seraya menarik Viona ke dalam pelukkannya. Sebelah tangannya melingkari pinggang Viona sedangkan tangan satu lagi membelai wajah cantiknya. Mata kanan Nathan mengunci sepasang mutiara hazel milik Viona yang juga menatap padanya.

__ADS_1


"Oh, astaga Oppa. Berhentilah memandangku seperti itu. Rasanya aku seperti ditelanja** karna tatapanmu itu." Keluh Viona dengan rona merah muncul diwajah cantiknya


"Benarkah?" Nathan mengangkat dagu Viona dan mencium singkat bibir ranum tipisnya. "Kenapa aku merasa jika kau semakin cantik dari hari ke hari, hm."


"Mungkin itu karna, emmmpphh-"


Kalimat Viona terpotong saat Nathan mencium bibirnya dan melum**nya dengan ganas. Tidak ada penolakkan dan Viona menerima ciuman itu dengan baik. Kedua tangannya mengalung pada leher Nathan. Pagutan dan hisapan bibir Nathan pada bibirnya membuat Viona terlena sampai-sampai dia tidak sadar jika posisinya tidak lagi berdiri. Nathan merebahkan tubuh Viona dan mengungkungnya. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Nathan memagut bibir Viona dan terus melum**nya. Membuat desahan dan erangan berkali-kali lolos dari sela-sela bibir tipianya. Dan Nathan baru mengakhiri ciumannya saat merasakan pukulan ringan pada dadanya.


"Hosh.. Hosh..." nafas Viona memburu tak beraturan karna karna ulah Nathan. Pria itu terkekeh.


"Kau masih saja payah, Sayang. Padahal aku sudah berkali- kali mengajarimu,"


Viona mencerutkan bibirnya. "Jangan meledekku, Oppa. Karna aku memang tidak memiliki pengalaman sebelumnya." Ujar Viona membela diri.


"Temani aku makan sekarang,"


"Tapi gendong aku sampai bawah," renggek Viona sambil merentangkan tangannya.


Nathan mendengus geli. "Aish, kenapa semakin hari kau semakin maja saja," keluhnya seraya mengendong Viona bridal style. Meskipun sebenarnya tubuhnya sangat lelah, tapi Nathan tetap melakukannya karna dia tidak ingin membuat Viona menjadi kecewa.


-


"Tuan, ini Informasi yang Anda minta kemarin. Persis seperti dugaan Anda jika Sandora Lim telah melakukan pengglapan dana dan mangkir dari pajak selama bertahun-tahun,"


Nathan tersenyum puas. "Bagus Kai, semua informasi yang kau dapatkan ini bisa menjadi senjata ampuh untuk kita menghancurkan betina itu. Kerja bagus, Kai, dan ini bonus untukmu." Nathan melemparkan sebuah amplop berisi uang pada Kai.


Itu adalah bonus untuk keberhasilannya. Nathan tidak salah memilih anak buah, dan Kai memang layak menjadi tangan kanannya karna dia selalu bisa diandalkan dalam segala makan situasi dan unggul dalam berbagai hal.


"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," Kai membungkuk dan segera meninggalkan ruangan Nathan.


Saat di depan pintu. Kai berpapasan dengan seorang wanita cantik namun angkuh. Wanita berambut pendek itu tak membalas meskipun Kai menyapanya dengan sopan. Dan melihat sikap angkuhnya itu membuat Kai ingin sekali membunuhnya dan menggantungnya hidup-hidup.


Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit mengalihkan perhtian Nathan dari tumpukan dokumennya. Raut wajahnya tetap terlihat datar dengan sorot mata tajam dan menusuk.


"Shion,"


"Lama tidak bertemu. Nathan Lu, aku sangat merindukanmu," ucap Shion sambil mengeratkan pelukkannya yang segera di lepas paksa oleh Nathan.


"Apa kau sudah tidak memiliki harga diri lagi sebagai seorang wanita? Tidak seharuanya kau sembarangan memeluk pria yang bukan pasanganmu, Nona,"


Shion menatap Nathan tak percaya. "Jadi beginikah tanggapanmu setelah kita lama tidak bertemu? Nathan, aku sangat-sangat merindukanmu," Shion menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.


"Hentikan drama murahanmu itu, Shion Choi. Jika kau tidak memiliki kepentingan di sini. Sebaiknya kau pergi saja, karna keberadaanmu disini hanya mengganggu pekerjaanku,"


"Nathan, kau benar-benar sudah berubah. Bagaimana bisa kau berbicara sekasar itu padaku?" Lirih Shion dengan berurai air mata. Pura-pura bersedih lebih tepatnya.


"Oh jadi ini, wanita terhormat dan berpendidikan tinggi tapi tak tau malu itu!!"


"Viona,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2