
Tepat pukul satu dini hari Viona terbangun dan tidak mendapati Nathan berbaring di sampingnya. Viona berusaha mencari dan memanggilnya namun tidak ada sahutan sampai dia melihat selembar kertas yang tergeletak di atas meja. Dalam kertas itu, Nathan mengatakan jika dia akan melakukan sebuah misi penting bersama sahabatnya yang bernama Bima Park. Nathan meminta agar Viona tidak merasa cemas apalagi khawatir dan Nathan berjanji akan kembali sebelum fajar tiba.
Sementara itu. Di tempat dan lokasi berbeda. Dua laki-laki misterius baru saja memasuki sebuah gedung perkantoran yang berada di pusat kota Seoul. Mereka dapat masuk dengan leluasa setelah melumpuhkan beberapa satpam yang berjaga di sana.
Saat ini, kedua laki-laki yang wajahnya tertutup masker dan topi hitamnya sudah berhasil masuk kedalam salah satu ruangan paling tertutup dalam gedung bertingkat itu setelah berhasil memecahkan sandi rumit pada pintu. Salah satu dari kedua laki-laki itu duduk berhadapan dengan layar komputer yang menyala terang. Laki-laki itu membuka sebuah sistem yang akan menjadi portal utamanya untuk mencapai titik keberhasilan dalam misinya kali ini.
Bibir tipis yang tersembunyi di balik masker hitamnya melukis sebuah senyum kecil lalu berkata. "Inilah saatnya untuk party, kawan." dan hanya dengan satu kali sentuhan. Virus buatan laki-laki itu berhasil mengacaukan seluruh sistem komputer dan CCTV gedung perusahaan ini yang pastinya akan menimbulkan sebuah kegaduhan dan kepanikan saat matahari sudah merangkak naik menuju singgasananya.
Sementara pria bertubuh jangkung itu tidak bisa melakukan apapun selain membuka mulut selebar-lebarnya melihat sebuah aksi singkat yang berada jauh dari jangkauan kepalanya. "Hei, ini sangat konyol. Nathan, bagaimana kau bisa memindahkan virus dengan waktu sesingkat itu? Bukankah biasanya memindahkan virus butuh waktu dan langkah-langkah tertentu? Sementara kau...?" laki-laki jangkung itu menolehkan kepalanya pada rekan yang duduk disampingnya.
Laki-laki itu hanya tersenyum licik di balik masker hitamnya dengan mata masih mengawasi layar laptop didepannya "Haruskah aku ulangi lagi, Bima Park? Bukankah aku datang dengan sebuah perbekalan. Yang artinya bukan hanya terdiri dari laptop dan virus saja. Kenapa kau tidak paham juga." ujar laki-laki bermasker hitam itu yang pastinya adalah Nathan. "Bagaimana? Kau mulai memahaminya?"
"Aku tidak tau, terbuat dari apa otakmu itu.. Nathan Lu. Kau benar-benar laki-laki yang luar biasa. Kau sangatkah jenius." ujarnya, mata Bimq menatap Nathan tidak berkedip sedikitpun.
"Memangnya apa sulitnya membuat hal semacam ini? Hal yang paling kita perlukan adalah Imaginasi, kegeniusan dan otak. Itulah kunci utamanya." ucap Nathan dengan nada sedikit sombong. Bima hanya manggut-manggut saja, padahal dia masih belum paham dan mengerti apa yang Nathan ucapkan "Kenapa malah diam?" tanya Nathan keheranan.
Bima menggeleng. "Tidak, hanya saja aku berfikir. Kenapa Tuhan tidak bisa bersikap sedikit adil padaku? Kau di beri otak segenius itu tapi kenapa aku malah di beri otak yang biasa-biasa saja? Padahal soal ketampanan aku ini jauh lebih unggul darimu. Dan kadang-kadang aku suka tenggelam dalam fikiranku jika kau adalah manusia genius di antara yang paling genius. Aku bingung, harus merasa bangga memiliki sahabat sehebat dirimu atau justru malah merasa minder?"
Mendengan kalimat panjang lebar yang keluar dari bibir Bima membuat sudut bibir Nathan tertarik keatas. Nathan menghampiri Bima dan menepuk bahu kekarnya "Terimakasih kawan, tapi kau termasuk orang yang genius. Karna tanpa dirimu yang selalu setia dan siap membantuku kapanpun aku membutuhkanmu. Mungkin semua ini tidak akan berhasil dan kita tidak sampai di titik ini." puji Nathan dengan senyum tulusnya.
Bima menjadi malu di puji seperti itu oleh Nathan. "Oya. Benda dalam kotak kecil yang kau tunjukkan padaku itu sebebarnya apa? Jika dilihat-lihat. Benda itu mirip seperti kamera, lalu dari mana kau mendapatkannya? Tunggu.. jangan bilang jika kau menciptakannya sendiri?" tebak Bima 100% benar.
"Bingo. Seratus untukmu , Bima Park. Kamera kecil itu memang hasil buatan tanganku. Dan kamera kecil inilah alasan kita berada di perusahaan ini. Aku tau apa yang ingin kau tanyakan kawan, namun yang jelas ini adalah kamera pertama yang aku ciptakan dan aku sudah mengujinya.. dan hasilnya lebih dari kata memuaskan."
"Wow. Benarkah? Selain genius kau juga sangat hebat , kawan. Aku akan memberikan nilai sempurna untukmu."
Dengan cekatan Nathan merebut kotak kamera yang berada di tangan Bima lalu menggenggamnya. "Sudahlah, kita beraksi sekarang. Kau ingin segera pulang dan tidur di kasur empukmu itu bukan?"
"Tapi, sobat. Sebenarnya untuk apa kamera-kamera itu?" tanya Bima penasaran.
"Kita akan meletakkan semua kamera ini pada semua CCTV yang ada pada perusahaan ini."
"APA?"
__ADS_1
"Ck," Nathan berdecak seraya memutar matanya bosan mendengar reaksi Bima yang sangat berlebihan.
Nathan ingin segera menyelesaikan misinya dan bisa pulang secepatnya. Bukan karna Nathan takut akan kehabisan waktu dan terjebak di tempat ini sampai esok hari, namun ada seseorang yang saat ini sudah menunggu kepulangannya. "Apa kau benar-benar yakin jika kamera-kamera ini akan berfungsi dengan baik? Lalu untuk apa sarung tangan itu?"
"Aku akan menjawabnya satu persatu. Tentu saja , karna aku sudah memastikannya sendiri dan jangan pernah meragukan diriku, kawan. Sarung tangan ini untuk menghindari kontak langsung dengan lensa kamera ini, dengan kata lain kita tidak boleh sampai meninggalkan sidik jari di tempat ini terutama saat memasang kamera ini." ujar Nathan memberikan penjelasan.
Lagi-lagi Bima menyikapinya dengan anggukan kecil "Cepat pakai sarung tanganmu, kau ingin pulang cepat bukan." kata Nathan sambil melewati Bima begitu saja.
Nathan dan Bima pun memulai aksinya. Tanpa mengulur lebih banyak waktu lagi. Nathan memasang satu persatu kamera hasil buatan tangannya pada setiap CCTV yang terpasang di perusahaan ini.
Tidak semua, hanya titik-titik tertentu saja yang menurut Nathan adalah titik terpenting pada perusahaan tersebut. Bima sering kali di buat kwalahan oleh tindakan Nathan. Dibandingkan dengan kata nekat, Nathan lebih pantas disebut gila karna aksi-aksinya. Tidak lupa Nathan mematikan semua CCTV yang menyala supaya aksinya dan Bima tidak terekam.
Dan setelah hampir dua jam, akhirnya Nathan dan Bima dapat menyelesaikan semua pekerjaannya. Saat ini kedua laki-laki tampan itu berjalan menuju mobil Nathan yang terparkir tidak jauh dari lokasi.
Di tengah langkahnya, mereka melepaskan semua penyamaran yang melekat di tubuh dan wajah mereka. Mulai dari mantel hitam sepanjang lutut, sampai masker dan topi yang kemudian mereka letakkan pada jok belakang. Dengan kamera-kamera itu, Nathan bisa mengawasi mereka dengan lebih leluasa termasuk detik-detik kebangkrutan Derry Ardinata dan putranya Leo Ardinata.
-
Pukk!!
Viona terlonjak kaget merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya. Sontak saja Viona menoleh dan mendapati Nathan berdiri di belakangnya dengan tatapan datarnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah hampir pagi, Sayang,"
"Oppa kau sudah pulang?" alih-alih menjawab, Viona malah balik bertanya.
"Masuklah, kau bisa sakit berdiri terlalu lama di sini. Udaranya sangat dingin." ucapnya masih dengan nada yang sama, datar.
"Jika aku kedinginan bukankah ada kau yang akan menghangatkanku." jawabnya tersenyum. Viona maju satu langkah dan berhenti tepat didepan Nathan.
Sepasang mutiara hazelnya bergulir pada dada bidang Nathan yang tertutup kemeja hitamnya. Viona meraba sensual dada bidang berotot milik suaminya lalu mengangkat wajahnya. "Semuanya sangat sempurna..." gumamnya sambil menatap sepasang mutiara coklat terang milik Nathan. Viona menakup wajah Nathan dan mencium singkat bibir kemerahannya "Apakah semua ini hanya milikku?"
Nathan mencium daun telinga Viona intim. "Ya, semua ini milikmu Sayang . Apapun dan semua yang ada pada diriku adalah milikmu, hanya milikmu begitupun sebaliknya." bisiknya seduktif.
Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan menyeringai misterius. "Lalu, adalah hal special yang akan aku dapatkan?" Ucap Viona dengan senyum terbaiknya.
__ADS_1
"Tentu, tapi tidak malam ini Sayang. Aku tau kau masih belum siap, aku masih akan menunggu sampai kau benar-benar siap." ucapnya kemudian mengangkat tubuh Viona bridal style. "Aku tidak ingin mendengar penolakan lagi, sekarang kita tidur." Lanjutnya tidak ingin dibantah.
Seolah-olah ucapanya adalah hal yang mutlak. Viona mencerutkan bibirnya. Gadis itu tidak memiliki pilihan selain menuruti ucapan Nathan. "Huft, baiklah."
-
"Kkkkyyyyaaa!!!!"
Jeritan yang berasal dari lantai dua membuat suasana yang semula tenang menjadi gaduh. Dua orang pemuda terlihat menuruni tangga sambil sesekali berteriak, memekik membuat dengusan panjang keluar dari bibir orang-orang yang berada di lanta satu "PAMAN BERHENTI, KEMBALIKAN ITU PADAKU." dengan susah payah Rio mengejar Satya dan Frans yang berlari sambil membawa boxer pink Panda kesayangannya
"PAMAN... BERHENTI, KEMBALIKAN BOXER ITU PADAKU."
"Hahahahhah!!! Hyung, Nunna.. lihatlah, ternyata bocah ini masih suka memakai boxer warna pink bermotif panda dan hello kitty." seru Satya sambil menghampiri Henry dan Senna.
"Mama, ambilkan boxer itu dari tangan paman cadel." teriak Rio memohon.
"Hahahha!! Ambil saja sendiri jika kau memang ingin boxer ini kembali." balas Satya menimpali.
Di saat Satya dan Rio bermain kejar-kejaran. Frans justru sibuk mengotak-atik ponsel milik Rio yang ternyata isinya adalah hal-hal berbau mesum semua. Mata Frans terbelalak saat melihat video yang cukup untuk membuat tubuhnya panas dingin tersimpan di dalam ponsel itu "YA TUHAN!!" Rio memekik kencang, matanya terbelalak lebar.
Mengabaikan Satya yang masih memegang boxernya, Rio berlari dan merebut ponselnya yang masih berada di tangan Frans.
"YAKKK!!" Membuat pemuda berwajah cantik itu terkejut karna ulah Rio.
"Paman, kalian tidak boleh menyentuh area terlarangku." seru Rio lalu menyimpan ponselnya kedalam saku celana jeansnya.
Melihat Satya yang lengah, hal itu segera Rio manfaatkan untuk mengambil kembali boxernya. "Dan ini milikku." Senna dan Henry hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka bertiga. Dari kedua angkatnya, pandangan Senna bergulir pada Rio. Melihat senyum ceria putranya membuat hati Senna menghangat.
Senna tidak akan membiarkan mantan suaminya mendapatkan putranya. Karna bagaimanapun juga Rio adalah putranya, putra yang pernah hidup dan bersemayam selama sembilan bulan di dalam rahimnya. Dan Senna akan melindungi putranya dan memastikan dia selalu berada di sisinya, selamanya. Karna Senna adalah harta yang paling berharga yang Senna miliki di dunia ini.
-
Bersambung.
__ADS_1