
BRAKK...
Kecelakaan beruntun menimpa lima van hitam yang mengikuti mobil Nathan. Bukan karna jalanan licin dan sebagainya. Tapi van-van tetsebut mengalami kecelakaan karna kemunculan empat hantu jadi-jadian yang pastinya adalah trio kadal + Daniel.
Tubuh Satya dan Rio melayang-layang, sedangkan Frans ngesot di aspal. Daniel menjadi tuyul lengkap dengan bedak dan kulit kepala palsu yang membuatnya terlihat seperti anak botak. Tak ketinggalan popok kain yang menjadi satu-satunya yang melekat pada tubuhnya.
"KKYYYAAA!!! SETAN!!"
Orang-orang di dalam van itu berhamburan keluar dan berlari tunggang-langgang meninggalkan kendaraan mereka.
Lolos dari para hantu jadi-jadi bukan berarti mereka sudah aman, karna sebuah kejutan sudah menunggu kedatangan mereka di depan sana. Ya, Theo dan anak buahnya sudah bersiap dan menunggu kedarangan mereka semua.
Puluhan senjata mengarah pada pria-pria itu, mereka terkepung. Tak ada satu incipun celah untuk mereka bisa melarikan diri sekarang. Mereka benar-benar sudah terkepung.
"Sial, rupanya ini jebakkan," umpat salah seorang dari kedua puluh pria itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi mereka."
"Apa kau yakin? Kita kalah jumlah, melawan mereka sama saja dengan bunuh diri, apalagi mereka semua bersenjata!"
"Lalu kita harus bagaimana? Menyerah dan mengaku kalah dari mereka? Tidak.. tidak.. tidak.. Karna itu sama saja dengan melemparkan kotoran ayam di wajah boss kita. Lebih baik mati dari pada harus mengakuh kalah dari mereka,"
"Kalau begitu kau saja Joni Hyung, karna kami masih ingin hidup!!"
"Kalian!! Brengsek kalian semua, dasar penghianat!!" amuk pria bertindik itu pada anak buahnya. "Apa yang kalian tunggu?Kalian ingin bertarung bukan? Kalau begitu maju dan hadapi aku!" teriak pria itu menantang.
Tiba-tiba muncul tiga manusia dua alam yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja sudah ada di hadapan pria tersebut.
"Tidak baik ribut-ribut, bagaimana kalau kau bermain saja bersama kami bertiga? Selain cantik dan bertubuh molek, kami juga sangat lihat di atas ranjang. Bagaimana?"
Ria, Franda dan Sania...
Semua mata kini memandang mereka, semua mata tertuju pada ketiganya. Apakah karena mereka terkenal? Tidak juga. Apa karena mereka cantik? Boleh juga. Apa karena mereka seksi? Emm...seksi sih iya, tapi di rasa juga bukan.
Tanpa diduga, tiada angin, tiada petir, tiada guntur, tiada hujan, Rio memeluknya dari belakang. Joni, pria itu yang terkejut hanya dapat memegang tangan yang memeluknya tadi.
Namun ada yang aneh, dada yang seharusnya menonjol ini mengapa datar sekali? Jangan-jangan yang memeluknya ini adalah...
"Iih, kamu ganteng deh. Brewokan pula, tipe ike nih," kata orang yang memeluk Joni tadi, dengan nada khas penunggu daerah Taman Lawang Seoul ini.
...Banci!
Sontak Joni berontak, berusaha melepaskan diri dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, pelukan itu sangat erat. Wajar sih, yang memeluknya kan laki-laki.
__ADS_1
Kini Joni dapat merasakan hembusan napas makhluk itu menyapu tengkuknya. Ia pun mulai berdoa. Semoga apa yang ia pikirkan ini takkan terjadi.
Namun kelihatannya, wanita dua alam ini beruntung. Ia dapat melakukannya. Mencium pipi Joni. Oh tidak, MENCIUM saudara-saudara. Meninggalkan bekas merah disana.
Joni pun tepar kehabisan darah. Bukan karena terkena gigitan drakula dan sejenisnya seperti yang biasa dia nonton dalam drama. Tapi karena Joni muntah darah. Joni, Hari itu tewas dipelukan Rio.
Sungguh akhir cerita yang romantis, bukan... tapi sangat tragis. Rio menoleh dan menatap anak buah Joni satu persatu. "Kalian juga ingin aku cium?" semua pria itu menggeleng dengan kompak.
"TIDAK!!! KABURRR... BANCI!!!"
"Bwahahaha..." tawa semua orang di sana pun pecah.
Sedangkan Theo hanya bisa menggelengkan kepala, dia sungguh tak habis fikir dengan ketiga pemuda itu. Setelah menjadi setan, lima menit kemudian mereka menjelma menjelma menjadi mahluk dua alam. Sungguh bakat yang sangat luar biasa.
Theo memang harus berterimakasih pada mereka bertiga yang selalu meniliki 1001 cara untuk menumbangkan lawan-lawannya tanpa harus menggunakan kekerasan. Theo segera menghubungi Nathan.
"Tuan, sudah aman terkendali. Mereka sudah berhasil di atasi,"
'Hn, bagus. Kalian bisa pergi sekarang,'
"Baik Tuan,"
-
Cuaca musim semi di Seoul menandai berakhirnya musim dingin tahun ini, yang penuh makna bagi seorang Viona Anggela, karna di tahun ini dia mendapatkan sepasang malailat kecil yang kemudian diberi nama Xi Laurent dan Xi Lucas.
"Oppa, apel atau jeruk?"
Viona menunjukkan dua buah ditangannya pada Nathan yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Wanita itu berdiri di depan rak yang penuh dengan buah-buahan segar dan disamping rak buah terdapat rak sayur hijau.
Nathan melipat kedua tangannya sambil memperhatikan dua buah yang ada ditangan Viona, dan wanita itu masih setia menunggu jawaban dari suami tampannya terssbut.
"Aku rasa keduanya tidak buruk!!" jawab Nathan pada akhirnya. Viona tersenyum lalu memasukkan kedua buah itu kedalam plastik.
"Bisa membantuku memilihnya?" kemudian Nathan beranjak dari tempatnya dan menghampiri Viona.
Pria itu berdiri disamping Viona, membantu sang istri memilih buah yang masih segar dan manis. Selain jeruk dan apel. Viona juga memasukkan anggur hijau dan anggur merah, pisang serta semangka kedalam troli belanjanya. Tak ketinggalan sayur mayur seperti tomat, wortel, kol, buncis dan jamur.
Mereka berdua sedang berada dipusat perbelanjaan saat ini. Viona membutuhkan bahan makanan dan buah-buahan untuk mengisi kulkas yang hampir kosong. Viona memang tidak sempat berbelanja selama satu bulan terakhir ini.
Tidak hanya sayur dan buah-buahan saja. Viona juga memasukkan telor dan daging kedalam daftar belanjanya. Tak ketinggalan bumbu-bumbu, kecap manis, saus tomat dan saus pedas, serta minyak sayur.
Disaat Viona masih sibuk memilih cemilan yang akan dia beli. Nathan berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa kaleng soda yang kemudian ia masukkan kedalam troli belanja. Dan setelah berkeliling hampir 2 jam, akhirnya mereka mendapatkan semua yang dibutuhkan.
Dua kantong besar kini berada digenggaman Nathan, awalnya Viona hendak membantu suaminya itu untuk membawa belanjaan itu namun ditolak tegas oleh pria berdarah China tersebut. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran.
__ADS_1
Nathan sengaja tidak membawa mobil biasanya hari ini, tujuannya adalah agar lebih mudah menyimpan semua belanjaan Viona. "Setelah ini kau ingin kemana lagi?" tanya Nathan.
Saat ini keduanya berada di dalam mobil. Tampak Vioba berfikir, namun detik berikutnya wanita itu menggeleng. "Aku rasa langsung pulang saja, sudah terlalu lama kita menitipkan mereka di rumah Cherly," ujar Viona.
Tanpa banyak berfikir, Nathan segera menyalahkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik. Mobil mewah milik Nathan melesat jauh meninggalkan area parkiran mall.
Tiba-tiba Viona merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Nathan sebagai bantalan kepalanya. Nathan mendengus geli melihat kelakuan sang istri yang terkadang suka kekanakkan tersebut.
Dan bukan hal baru bila Viona akan semanja itu padanya. "Aku akan tidur sebentar, jika sudah sampai bangunkan ne!!" pinta Viona. Nathan mengangguk, menjawab ucapan Viona.
Tidak sampai 10 menit, Viona lun sudah terlelap dalam mimpinya. Wanita itu terlihat lelah, Nathan menepikan mobilnya dan membetulkan posisi Viona agar wanita itu merasa nyaman. Nathan tersenyum tipis, dipandanginya wajah Viona mulai dari mata kemudian hidung dan terakhir bibir ranumnya.
Diusapnya bibir itu, bibir yang terasa begitu manis dan menjadi candu untuk Nathan. Dibelainya wajah cantik sang istri, dan betapa beruntungnya Nathan karna memiliki istri secantik dan sehebat Viona.
Tak ingin mengusik tidur sang istri, Nathan menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik, mobil itu melesat jauh, membelah jalanan meninggalkan keramaian kota.
-
Nathan dan Viona tengah disibukkan dengan tangisan kedua bayi kembarnya. Semuanya menangis disaat yang bersamaan, membuat keduanya cukup kewalahan.
Bahkan untuk sarapan pagi pun mereka tak sempat, mengingat kedua bayi itu tak memberikan mereka cukup waktu. Seperti saat ini, mereka berdua haus disaat yang bersamaan.
"Bagaimana ini Oppa? Mereka semua tak mau diam?" seru Viona.
"Sabar, Ssyang. Tapi bukankah ini sangat luar biasa? Jadi kita nikmati saja, oke,"
"Eh, Oppa! Kau lihat mereka berdua?" tunjuk Viona pada Lucas dan Laurent.
Nathan menoleh sebentar melihat kedua bayinya itu. "Kenapa?" Tanya Natjan bergumam.
"Mereka mulai berhenti menangis, bahkan mereka terus tersenyum saat matanya tertutup," ungkap Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Hm, kau benar,"
.
.
Berselang satu jam, kini Nathan dan Viona bisa bernafas lega. Kedua bayi mereka sudah tenang dan tertidur pulas. Menyisakan mereka yang beristirahat, membiarkan beberapa butiran peluh menetes di wajah keduanya.
"Oppa, sepertinya betul kata Appa. Kita harus segera mencari jasa Baby Sitter! Jika seperti ini, kita bisa mati mendadak!" ucap Viona pada Nathan yang tengah berbaring di sampingnya.
"Terserah kau saja! Apapun yang menurutmu baik pasti baik. Aku sangat lelah sekali! Aku akan tidur sebentar, sebaiknya kau juga tidur, jangan sampai kau sakit karna kelelahan," ucap Nathan membelai rambut Viona.
Nathan menutup kedua matanya begitu pula dengan Viona. Sebenarnya bukan hanya Nathan saja yang merasa lelah, tapi Viona juga.
__ADS_1
-
Bersambung.