
Susana di kantor milik Bram yang semula tenang menjadi sangat gaduh karna kemunculan dua pria asing yang sedang menjajahkan dagangannya. Padahal satpam sudah mengusir mereka tapi mereka masih bisa masuk ke dalam kantor. Para karyawan yang seharusnya bekerja malah berkumpul untuk melihat dagangan mereka yang murah tapi berkualitas.
"Dipilih... dipilih ayo dipilih...."seru salah satu dari kedua pria itu.
"Barang murah... Barang murah, tapi kualitas bukan murahan!! Ayo dipilih-dipilih... Kakak cantik ada banyak BH dan CD yang bagus dan berkualitas untuk kalian, yang beli banyak akan dapat diskon besar."
Tidak hanya diamparkan di lantai saja. Tapi mereka juga menjejernya pada sebuah tali yang terpaku di tembok, dan parahnya lagi itu adalah dalam** wanita semua.
"Apa-apaan ini? Siapa kalian dan kenapa kalian malah berjualan di tempat ini? Apa kalian fikir kantorku adalah pasar pindah?"
"Eo, Tuan kemarilah. Kami memiliki barang bagus untukmu dan sangat berkhasiat. Barang ini di import langsung dari luar negeri. Oles sedikit tapi bisa tahan hingga tujuh jam. Dan di jamin pasangan Anda akan sangat puas, Tuan!"
Bram menepis tangan pria itu dengan kasar seraya menatapnya tajam. "Aku tidak berminat pada barang murahan seperti itu, jadi pergilah sebelum alu memanggil satpam supaya menyeret kalian keluar. Jadi keluar sekarang juga!!!"
"Oh Tuan, jadi kau ingin mencobanya ya? Hahaha, tidak masalah. Karna kau merasa malu, baiklah kami akan membantumu,"
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!!!" teriak Bram marah. Dua pria asing itu membawa Bram masuk ke dalam sebuah ruangan untuk di olesi menyak mujarab supaya sosisnya membesar dan mengencang. "Yakkk!! Apa yang kalian lakukan!!"
"Waw, tidak di sangka ternyata milikmu sangat kecil Tuan, masa iya kalah dengan milikku yang 30cm!"
"Aaahhh, sebenarnya minyak apa itu? Kenapa rasanya jadi panas seperti terbakar?"
"Upss, sepertinya kami salah menggunakan minyaknya Tuan, harusnya yang ini. Dan bersiaplah untuk tersiksa selama beberapa hari ke depan, kami sungguh minta maaf,"
"KALIAN!!! Arrrkkhhh panas,,,,,"
"Tuan, sekali lagi kami minta maaf. Dan sebaiknya kau segera periksakan ke dokter. Dan terima saja sarannya kalau Dokter mengatakan supaya sosismu di amputasi. Dalam waktu 5 jam, mungkin ujungnya akan mengalami pembengkakan dan kau juga akan kesulitan untuk buang air kecil. Begini saja, kami akan membayar biaya rumah sakitnya sebagai tanda ganti rugi. Kalau begitu tolong tandatangani cek kosong ini supaya lebih mudah dan Anda bisa cepat sembuh."
"Se..sebenarnya minyak apa yang kalian oleskan tadi? Kenapa bisa jadi seperti ini??"
Kedua pria itu yang pastinya adalah Frans dan Satya pura-pura memasang muka bersalahnya. "Ano, sebenarnya itu adalah ramuan khusus untuk kesehatan hewan. Ada campuran cabai, merica dan jahe. Karna botolnya hampir sama makanya kami salah ambil. Sekali lagi kami minta maaf," Frans membungkuk dan pura-pura menyesal.
"Kaliaaannn!!!" geram Bram marah. "Ini ceknya, aku sudah menandatanganinya. Cepat bawa aku kerumah sakit dan tanggung semua biayanya atau aku akan menuntut kalian!!"
"Jangan menakut-nakuti kami, Tuan. Kalau kami di pejara siapa yang akan menghidupi anak istri saya? Istri saya ada 5 dan anak saya ada 10, dan semua kembar. Apa Tuan mau menghidupi mereka??"
"Aku tidak sudi!!"
"Baiklah Tuan, kami akan segera mengurus pengobatan Anda. Sebaiknya Anda tunggu sebentar karna Ambulan akan segera tiba di sini."
"Ya sudah cepat pergi sana!!"
Sepertinya Bram masih belum sadar jika dirinya baru saja dikibuli oleh Frans dan Satya. Bisa-bisanya dia menandatangani cek kosong yang mereka berikan padanya. Dan kedua mata Bram.sontak membelalak saat dia menyadari sesuatu.
"Tunggu, cek itu? AKU DI TIPU!!!"
__ADS_1
.
.
Di dalam mobil Frans dan Satya bersorak bahagia, bagaimana tidak?? Mereka berdua baru saja mendapatkan 500 juta won secara cuma-cuma dengan jumlah nominal yang lumayan besar.
"Aku berani bersumpah jika bandot tua itu sedang meraung karna kehilangan banyak uangnya."
"Hahaha...Bukankah kita sangat jenius?"
"Kau benar, sudahlah sebaiknya kita pergi menyusul Rio, mingkin saja bocah itu sedang membutuhkan bantuan kita."
"Benar juga," Satya segera menghidupkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik mobil sport keluaran terbaru itu meninggalkan area perkantoran milik Bram.
-
Setumpuk dokumen baru saja Nathan lempar ke tengah-tengah meja rapat. Tatapannya yang tajam bak iblis, mengabsen semua orang yang hadir di sana satu per satu.
Nathan ingin memukul sesuatu karena dengan marah-marah saja tidak cukup untuk meredakan letupan-letupan amarah tak jelas di dalam dadanya saat ini. Bahkan masalah sepele seperti keberadaan debu di atas meja kerjanya saja membuat pria itu mengamuk pada pihak OB.
Sial! apa hari ini aku harus kembali ke rumah sakit untuk meminta obat penurun tensi darah? Pikir Nathan emosi.
"Aku tidak tau apa saja yang kalian kerjakan selama beberapa hari ini. Jangan berani-berani untuk muncul dihadapanku sebelum kalian memperbaiki kinerja kalian yang sangat buruk ini!!" setelahnya Nathan pun langsung melenggang pergi meninggalkan ruang rapat yang terlihat mencekam karena temperamen buruknya.
Biar saja, memangnya mereka dibayar untuk apa? Makan gaji buta? Oh, jangan harap! Nathan akan terus memantau para karyawannya dan dia tak akab segan untuk mendepak mereka yang selalu bermalas-malasan, dan yang selalu terlambat datang, tentu saja.
Debuman pintu yang baru saja Nathan banting membuat beberapa karyawannya sampai terlonjak kaget. Dan tak sedikit pun penyesalan meskipub telah melakukan itu. Bukan... bukan merasa bersalah pada orang-orang malas di luar sana, tapi pada sosok wanita yang sedang tertidur nyaman di atas sofa di dalam ruangannya.
"Viona," panggil Nathan. Dia tidak tau sejak kapan wanitanya ada diruangannya karna Viona tak memberitaunya jika dia akan datang.
Nathan hendak membangunkannya, namun kemudian ia urungkan saat melihat guratan lelah di wajah manis istri kecilnya itu. Tatapan Nathan yang sebelumnya dingin dan tajam kini beralih pada kotak makanan siap saji yang dibawa oleh Viona, ada note di sana.
Nathan mendrah berat. Bahkan Viona masih memikirkan dirinya di saat dia sendiri masih berada dalam jam kerja. Beruntung Viona kerja di rumah sakit milik kakak sulungnya sehingga wanita itu bisa sedikit bebas tanpa takut akan mendapatkan masalah. Lagi pula Nathan juga tidak akan memaafkan Senna jika dia sampai berani mempersulit Viona.
Nathan melepas jasnya kemudian menakupkan pada tubuh Viona. Pria itu segera memgganti kemeja lengan panjangnya dengan kemeja lengan terbuka sebelum Viona bangun.
Karna akan sangat runyam masalahnya jika Viona melihatnya memakai kemeja lengan panjang. Bisa-bisa dia merajuk lagi dan mengancam akan mogok makan. Jika sudah begitu akan sangat sulit untuk membujuknya. Itulah kenapa Nathan lebih memilih mengalah.
Viona benar-benar mood booster bagi Nathan. Bagaimana bisa hanya dengan melihat wajah cantiknya saja sudah membuat seluruh panas di hati Nathan menguap begitu saja. Nathan menghela napas kemudian mulai memandangi wajah lelah Viona sekali lagi.
Suara pintu dibuka dari luar mengalihkan perhatian Nathan. Terlihat Bima memasuki ruangannya lalu berjalan menghampirinya. "Wow, apa tidak salah memakai pakaian lengan terbuka saat bekerja?" komentar Bima yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Nathan.
"Kecilkan suaramu bodoh!! Kau bisa membangunkannya," omel Nathan pada sahabat jangkungnya. Bima menggaruk tengkuknya seraya minta maaf. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Hanya untuk melihat keadaanmu, aku takut kau terkena tekanan darah tinggi setelah marah-marah. Sekretarismu yang memberitauku katanya kau mengamuk di ruang rapat. Memangnya ada apa?Kau tidak sedang datang bulan bukan?"
__ADS_1
Nathan mendecih. "Kau fikir aku pria tidak normal!!"
"Aku hanya berasumsi saja." Bima mengangkat bahunya. "Ngomong-ngomong apa yang mrmbuatmu sampai semarah itu? Apakah ada masalah? Ya Tuhan Nathan, kau sudah mau menjadi Ayah tapi kenapa tempramentmu tetap saja seburuk dulu,"
"Berisik kau, Park Bima!! Keluar sana, keberadaanmu di sini hanya membuat moodku semakin buruk saja!!"
"YAKK!!" pekik Bima tertahan.
"Ck, kau membangunkannya bodoh. Keluar sana," usir Nathan sekali lagi.
Bima mengusap dadanya. "Ya Tuhan kuatkan hati hambamu ini dalam menghadapi sahabat yang seperti Iblis kutub,"
Dan lagi-lagi Nathan hanya mendengus melihat tingkah sahabatnya itu. Ruangan kembali legang setelah kepergian Bima.
Nathan menghampiri Viona. "Astaga, aku ketiduran. Oppa, kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Kau terlihat lelah jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu." Ujar Nathan, Viona merubah posisinya kemudian duduk berhadapan dengan Nathan. "Hn, kenapa kau menatapku sepertiku?" heran Nathan melihat tatapan Viona.
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa senang karna kau masih memakai kemeja dan vest itu. Benar 'kan apa kataku, tidak akan ada masalah meskipun kau bekerja dengan kemeja lengan terbuka,"
Nathan mendengus geli. Untung saja dia langsung mengganti kemejanya saat Viona masih tidur. Karna jika tidak pasti akan berbeda ceritanya. "Hn," reapon Nathan.
"Oppa, aku membawakanmu makan siang. Bagaimana kalau sekarang kita makan siang sama-sama?" usul Viona.
"Tapi setelah aku mendapatkan makanan pembukaku," balas Nathan kemudian mencium bibir Viona.
Viona menutup matanya saat merasakan sentuhan lembut pada bibir ranumnya. Kedua tangannya mengalung pada leher Nathan. Sebelah tangan Nathan memeluk pinggang ramping Viona sedangkan tangan satu lagi menekan tengkuknya supaya ciumannya tidak mudah terlepas.
Bibir mereka masih saling berpagut mesra. Saling mengecup, saling memagut dalam kehangatan dengan begitu agresif, membuat saliva mereka menetes sedikit demi sedikit dari bibir masing-masing.
Seolah tidak merasa puas untuk terus menerus merasakan kenikmatan bibir ranum milik istrinya. Nathan mengalihkan tangannya dan memeluk pinggang Viona lebih erat lagi, dalam sekejap Nathan berhasil merubah posisi mereka dengan menempatkan Viona dengan wanita itu berada di atas pangkuannya
Bibir Nathan terus memagut bibir Viona tanpa ampun. Bahkan Ia tak menghiraukan pukulan Viona pada dadanya, wanita itu benar-benar sudah tidak sanggup untuk terus melanjutkannya. Viona kehabisan nafasnya.
Dan akhirnya Nathan memutuskan untuk mengalah dan mengakhiri ciuman itu melihat wajah Viona yang semakin memerah, mereka saling berebut oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang telah kosong. Nafas mereka tak beraturan seperti habis lari maraton.
Viona memukul dada suaminya. "Kau benar-benar gila Oppa, karna dirimu aku hampir mati kehabisan nafas." Keluh Viona seraya melirik Nathan menggunakan ekor matanya. Nathan terkekeh geli, apalagi saat melihat wajah cemberut Viona.
Nathan menarik lengan Viona dan membuat wanita itu kembali jatuh di atas dada bidangnya. "Jika saatnya sudah tepat dan kandunganmu sudah kuat, aku akan melakukan yang lebih gila dari ini seperti keinginanmu." Jawabnya dan kembali mencium Viona, tapi ciuman kali ini jauh lebih singkat dari sebelumnya.
"Kau tidak usah kembali ke rumah sakit. Tetaplah di sini dan tunggu aku, kita akan pulang sama-sama." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
"Baiklah Oppa,"
Rencana Tuhan memang sulit di tebak. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas penolong dan orang yang ditolong, tapi dalam sekejap mereka telah menjadi sepasang suami-istri yang saling mencintai.
__ADS_1
-
Bersambung.