Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 94 "Cinta Luar Biasa"


__ADS_3

Matahari telah kembali ke peraduannya. Cakrawala yang sebelumnya berwarna jingga keemasan perlahan berubah menjadi gelap gulita. Bulan menampakkan diri di tengah gelapnya kegelapan malam bersama dengan gemintang yang entah berapa juta jumlahnya, menggantikan tugas sang surya. Hiruk pikuk Seoul perlahan memudar menjadi sunyi.


Saat matahari menghilang seluruhnya di balik batas bumi dan langit. Lampu-lampu telah dinyalakan, tampak seperti butiran intan di tengah warna-warna yang mulai gelap.


Dua insan anak manusia itu berjalan dalam heningnya suasana. Tangan mereka saling bertaut mesra. Berjalan beriringan menapaki hamparan butiran-butiran pasir putih yang membentang luas.


Tak ada yang berbicara. Samar-samar hanya terdengar gemuruh ombak yang berdebur berbenturan dengan batu karang, juga langkah kaki keduanya yang bergesekan dengan pasir.


Aroma laut yang begitu khas terendus oleh indera penciuman, menyatakan bahwa bentangan air luas itu telah di depan mata.


Kedua mata Viona akhirnya berhasil membiasakan diri dengan kegelapan yang mulai menyelimuti kota. Kini dengan leluasa ia bisa mengamati keadaan di sekitarnya.


Indah. Inikah tempat yang dimaksud Nathan? Kalau benar... ia seratus persen yakin bahwa matahari terbenam akan terlihat sangat indah di sini.


"Sebentar lagi kita akan sampai." Suara Nathan yang dalam memecah perhatian Viona. Ia menoleh pada pria yang berjalan di sisinya, kemudian kembali memandang lurus ke depan.


Hatinya terasa bahagia. Bila ini semua mimpi, maka ia tidak akan rela untuk bangun dari tidurnya. Jika bisa, Viona ingin terus memimpikan hal ini. Tak peduli pada realita—bila dia bisa memiliki semuanya di dunia khayalan, untuk apa ia hidup pada kenyataan?


Langkah kakinya berhenti ketika Nathan berhenti melangkah. Mereka berdiri berdampingan sambil bergandengan tangan.


"Lihat disana." Kedua matanya mengikuti arah telunjuk Nathan.


Dan kembali, kedua matanya terbelalak. Sebuah perahu dayung. "Oppa, apa kita akan menaiki perahu itu?" Viona bertanya dengan ragu. Well, hari sudah gelap, dan mereka akan berperahu di tengah perairan Seoul?


"Hn." Pria itu mengangguk. "Kau akan menyesal bila kau tidak mau naik." Kata Nathan pada wanita disampingnya.


Viona tidak mau menyesali apa pun. Semua ini terlalu sempurna. Ya, dan dia tak mau menyesali sesuatu yang akan menodai segala keping kesempurnaan ini.


Dengan bantuan Nathan, Viona naik ke atas perahu kemudian duduk di salah satu bangkunya. Pria berambut coklat terang itu duduk di seberangnya.Mereka duduk saling berhadapan.


Perahu mulai bergerak. Dan Viona sedikit tersentak ketika perahu berjalan lambat menyusuri tepian pantai, semakin lama semakin menuju ke tengah.


Nathan terkekeh.


"Sayang, lihat ke sana," Kembali, pria itu menunjuk ke satu arah, kali ini dengan dagunya karena ia tidak bisa melepaskan dayung yang digenggamnya.


Dan Viona pun berpaling ke arah yang ditunjuk oleh suaminya.


Gedung-gedung pencakar langit di Seoul tampak dihiasi oleh butir-butir cahaya aneka warna. Pada dua kaki besar yang menopang jembatan, gradasi warna pelangi memancar dengan eloknya, diikuti rangkaian panjang lampu-lampu bulat. Keseluruhan cahaya itu memantul pada permukaan Teluk yang sedikit berombak. Hanya satu frase yang melintas di otak Viona.


Luar biasa.


Langit seolah menjadi latar warna yang berhasil mengombinasikan seluruh cahaya aneka warna itu, membaurkannya menjadi lukisan nyata yang artistik. Sekilas, seperti bagian dari tumpukan permata. Begitu indah dan memukau.


Ia berpaling dari jutaan cahaya itu, memandang wajah tampan pria di hadapannya. Entah sejak kapan Nathan berhenti mendayung perahu. Mata kanan miliknya menatap pada Viona dengan intens.


"Terima kasih," Viona memutar lehernya, ia berkata.


"Untuk?" Sebelah alis itu terangkat, dia dapat melihatnya dari pendaran sinar lampu.


"Untuk segalanya. Karna sudah mencintaiku dengan tulus. Aku merasa beruntung karna memilikimu di sisiku. Dan terimakasih juga sudah mau menungguku, dan menerima keadaanku yang sekarang, meskipun aku bukanlah Viona yang dulu kau kenal," Viona berujar.


Nathan meraih bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya. "Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, terimakasih karna masih hidup hingga detik ini. Aku sudah membuat sebuah kesalahan besar dengan membuatmu lepas dari pelukkanku, dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Apapun dan bagaimana pun dirimu sekarang, aku akan tetap menerimamu karna aku teramat sangat mencintaimu,"

__ADS_1


Dan detik berikutnya yang Viona rasakan adalah sebuah sentuhan lembut nan basah pada bibirnya. Wanita itu menutup matanya saat merasakan ciuman Nathan yang semakin dalam dan menuntut. Ciuman yabg semula lembut dan penuh perasaan berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Dan di bawah bintang yang gemerlap, dua sosok yang saling melepas rindu itu terlarut dalam suasana, sampai tidak sadar di mana kini mereka berada. Dan Nathan baru melepaskan ciumannya saat merasakan pukulan pada dada bidangnya.


"Lima bulan tidak berciuman kau semakin payah saja, Sayang," cibir Nathan sambil mengusap liur di bibir Viona.


"Berhentilah mencibirku, Oppa. Itu tidak lucu," Viona mencerutkan bibirnya.


Nathan terkekeh. "Aku hanya bercanda, Sayang,"


Dan selanjutnya tak ada suara apa-apa terdengar. Hanya hempasan gelombang pada dinding perahu yang sampai pada gendang telinga mereka berdua.


Tiba-tiba, Viona kembali merasakan hembusan napas hangat mengenai kulit kepalanya. Ketika ia mendongak, ia menemukan wajah Nathan sudah berada dekat dengan wajahnya, radius kurang dari dua puluh sentimeter.


Ada yang lain dalam tatapan mata pria itu. Ada rasa bahagia berkecamuk di sana. Nathan tersenyum pada gadis di hadapannya. Ia menatap mata wanitanya dalam-dalam, menyelami dasar dari kedua hazel yang bersinar indah itu.


Andaikata ini adalah sebuah mimpi, maka Viona rela meskipun terus berada dalam alam bawah sadarnya. Tetapi sayangnya, ini realita. Kenyataan yang sangat manis dan indah.


Ungkapan-ungkapan yang menambah debar kebahagiaannya hari ini, karena perasaannya dan Nathan selalu sama-sama sejalan. Karena ia dan Nathan sama-sama menganggap diri mereka satu sama lain sebagai orang yang spesial.


Adakah yang bisa lebih indah dari itu?


Satu hal yang ia tahu dengan jelas, jika cinta memang luar biasa.


-


Hari ini mungkin menjadi hari tersial bagi Shion dan Jordy. Entah mimpi buruk seperti apa yang mereka alami sampai-sampai mereka harus berurusan dengan trio ajaib yang tidak bisa diukur lagi tingkat kejahilan dan kenakalannya. Saat ini mereka sedang berada di caffe yang berada di pusat kota. Satya, Frans dan Rio sedang menjalankan aksinya.


"Pelayan, kemari kau," seru Shion pada seorang pelayan wanita berambut warna mencolok ikat dua. Ada tompel besar tepat ditengah-tengah hidungnya.


"Iya Nyonya, kalian ingin memesan apa?"


"Baik Nyonya, Tuan, silahkan ditunggu,"


Tak berselang lama pesanan mereka pun tiba. Pelayan berambut nyentrik itu menghindangkan sambil sesekali menatap Shion dan Jordy bergantian. "Apa kalian pasangan? Kalian terlihat sangat cocok,"


Sontak Shion mengangkat wajahnya dan menatap tajam pelayan didepannya. "Apa kau terkena katarak sampai-sampai mengatakan jika aku dan pria bodoh seperti dia terlihat cocok," ujar Shion.


"Cih, berhenti menyebutku bodoh Shion Choi. Sementara dirimu sendiri idiot," sinis Jordy tak mau kalah. Jordy mengangkat wajahnya dan menatap pelayan dihadapannya dengan dahi menyernyit. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau baru di sini?"


Pelayan itu mengangguk. "Ahh, benar sekali Tuan. Saya baru satu minggu ini bekerja di sini. Saya adalah janda tiga kali dan anak saya enam dari bapak yang berbeda. Suami pertama saya meninggal tercebur parit. Kemudian suami kedua saya meninggal karna sakit komplikasi, yakni sakit panu dan koreng. Sedangkan suami ketiga saya meninggal karna diinjak gajah.


Anak saya masih kecil-kecil dan semua masih membutuhkan susu, jika saya tidak bekerja bagaimana saya bisa mendapatkan uang untuk membeli susu mereka berenam. Satu minggu ini mereka hanya minum air tajin (air godokan beras) karna tidak kuat untuk membeli susu. Hiks, hidup saya sangat menderita dan penuh cobaan." Ujar pelayan itu menceritakan kisah hidupnya.


"Oh astaga, kenapa kau memiliki hidup yang begitu rumit? Pasti tidak mudah menjalaninya. Ini ada sedikit uang untukmu, gunakan untuk membeli susu anak-anakmu," Jordy terlihat membetikan sejumlah uang pada pelayan berambut nyentrik itu.


"Tapi Tuan, bukan maksud saya mau menolaknya. Tapi jika hanya segini tidak akan cukup, susu anak-anak saya harganya mahal. Dengan harga segini hanya dapat setengah ons saja susunya,"


"Yakk!! Pelayan tak tau diri!! Sudah dikasih hati malah minta jantung. Bagus dia masih mau memberimu uang! Dan lagi pula sudah miskin tapi berlaga seperti orang kaya,"


"Nyonya, memangnya apa masalah Anda dengan saya? Saya tidak mengenal Anda, tapi Anda malah bersikap kasar pada saya. Saya tau jika saya ini adalah orang miskin dan tidak punya apa-apa. Tapi setidaknya saya masih memiliki harga diri, tidak seperti Anda. Anda jahat!!"


"Sudah-sudah, tidak perlu berdebat lagi. Aku inikan orang kaya dan baik hati. Baiklah, aku akan memberikan lagi untukmu. Berapa banyak uang yang kau butuhkan?" tanya Jordy pada pelayan berambut nyentrik tersebut.


"Tidak banyak. Hanya secukupnya untuk membeli susu, popok dan peralatan bayi saja. Tuan baik hati yang duduk di sudut sana memberi saya lima puluh juta won. Dia bilang untuk anak-anak saya. Dia begitu baik hati dan orang kaya sejati,"

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan memberimu tujuh puluh lima juta won!!" ucap Jordy dan membuat kedua mata Shion membelalak.


"Apa sudah gila? Tujuh puluh lima juta won itu tidak sedikit, aku tidak setuju. Kau itu ditipu, lagi pula orang gila mana yang memberinya memberinya sebanyak lima puluh juta won secara cuma-cuma?" tegas Shion.


"Sudahlah, kau diam saja. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur!! Ini cek yang sudah aku tandatangani, kau bisa langsung mencairkannya nanti. Salam untuk anak-anakmu ya, dari Tuan baik hati dan tidak sombong,"


"Baik Tuan, pasti akan saya sampaikan. Sekali lagi terimakasih,"


"Sama-sama. Hahaha, orang baik,"


"Saya permisi dulu,"


Seorang pria tua dengan sebuah tongkat terlihat berjalan sambil membawa sebuah minuman ditangannya. Kakek tua itu berjalan sedikit tergopoh-gopoh menuju meja kosong yang letaknya bersebelahan dengan meja Shion dan Jordy.


"Ahhh,,"


Kakek itu tidak sengaja tersandung dan minuman itu tumpah tepat di atas kepala Shion dan membuat wanita itu memekik kencang. "YAKK!!!" dan si kakek yang merasa bersalah segera membersihkan tumpahan minuman itu dari wajah dan kepala Shion.


"Ma-maaf, Nak. Kakek tidak sengaja. Si-sini biar kakek bersihkan," ucap si kakek.


"Hoek... Yakk!! Sebenarnya kain apa yang kau gunakan untuk membersihkan muka dan rambutku? Kenapa bau sekali?"


"Ini? Ini adalah sapu tangan, dan kebetulan belum pernah di cuci selama lebih dari tujuh bulan. Kata dukun jika dicuci maka khasiat magisnya akan hilang, kakek tidak bisa memikat wanita cantik lagi jadinya. Jangan berfikir yang tidak-tidak, saputangan itu hanya Kakek gunakan untuk mengelap keringat dan ketiak, jadi masih aman,"


"What!! Kau benar-benar gila ya? Dasar tua bangka sialan," Shion bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.Wanita itu hendak pergi ke toilet untuk membersihkan rambut dan mencuci mukanya.


P.E.M.B.U.N.U.H!!!


Deggg!!


Shion tersentak kaget saat tiba ditoilet dan menemukan sebuah tulisan di cermin. Tulisan itu begitu besar dan jelas tertulis di sana dengan darah. "Aaahhh," Shion memekik histeris melihat sosok wanita berlumur darah tiba-tiba muncuk di cermin dan wanita itu berdiri tepat dibelakangnya. Wajahnya mirip dengan Viona. Sontak Shion menoleh, namun sosok itu tidak ada lagi di sana.


"Aaahhhh..."


Shion kembali histeris ketika sosok menyeramkan itu kembali muncul di cermin namun hilang lagi saat Shion menoleh kebelakang. "Kkkyyaaa...!!" Shion berlari tunggang-langgang meninggalkan toilet, wajahnya pucat pasi dan jantungnya berdegup kencang.


Viona tersenyum puas ketika melihat wajah pucat Shion saat ketakutan. "Nunna, kau berhasil membuatnya kalang kabut," Frans dan Satya menghampiri Viona ditoilet.


"Kenapa hanya berdua? Di mana Rio?"


"Dia sedang mau memulai aksinya," jawab Satya.


"Memangnya apa yang direncanakan oleh bocah itu? Dan cek apa yang kau bawah?" tunjuk Viona pada cek putih di tangan Frans.


"Hahaha. Aku berhasil merampok Jordy babi itu. Aku mengatakan padanya jika Nathan hyung memberiku lima puluh juta won, kemudian dia memberiku tujuh puluh lima juta won karna tidak ingin disebut kismin, hahaha,"


"Dasar kalian ini. Lalu di mana Nathan oppa sekarang?"


"Dia baru saja pergi. Nathan hyung bilang ada pertemuan penting. Nunna, ayo. Jangan sampai kita melewatkan pertunjukkan dari bocah iblis itu," Satya dan Frans menarik lengan Viona dan membawanya keluar toilet. Tentu setelah Viona membenahi penampilannya.


"Yakk!! Pelan-pelan bocah,


"Jangan sampai terlambat Nunna, sayabg kalau sampai melewatkan pertunjukkan yang bocah itu mainkan."


"Huft, baiklah,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2