
"Oppa,"
Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karna pelukkan Viona yang begitu tiba-tiba. Dan tanpa berkata apa-apa Viona langsung menangis dalam pelukkan Nathan. Nathan membalas pelukkan gadis itu dan menggunakan kepala coklatnya sebagai tumpuan dagunya. Nathan tidak tau apa yang terjadi pada gadisnya ini, dia tidak mengatakan apa-apa dalam pesannya dan hanya memintanya untuk datang.
Nathan melonggarkan pelukkannya dan menatap Viona dengan tatapan bertanya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di wajah gadis itu. "Sekarang katakan padaku, kenapa kau menangis? Apa seseorang menyakitimu?" Viona menggeleng. "Lantas?" Gadis itu tetap diam dan hanya memandang wajah tampan Nathan dengan tatapan sendunya.
"Aku hanya merasa takut. Aku takut jika kita tidak berjodoh, aku sangat-sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu. Jika boleh memilih, aku hanya ingin hidup bersamamu!!"
Nathan tersenyum tipis. Menarik bahu Viona dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. "Tenanglah, kita tidak akan berpisah dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Karna kita berdua dilahirkan untuk saling mencintai dan memiliki. Aku pasti akan memperjuangkanmu dan merebutmu darinya. Itu adalah janjiku padmu,"
"Tapi, Oppa. Bagaimana jika dia melakukan hal buruk padamu? Bagaimana jika dia sampai menyakitimu, aku mengenalnya dan dia adalah orang yang sangat berbahaya,"
"Tapi aku jauh lebih berbahaya," Nathan menyela cepat.
Dan seketika ingatan Viona membawanya pada insiden yang terjadi beberapa hari lalu, di mana ketika dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Nathan membunuh orang-orang yang mengacau di markas besarnya. Seketika bulu kuduk Viona berdiri, dan benar apa kata Nathan, jika dia memang lebih berbahaya dari Leo.
"Kenapa diam? Apa yang sedang kau fikirkan?" Viona menggeleng. "Gadis nakal, ini sudah malam sebaiknya kau segera tidur," Nathan mengangkat tubuh Viona dan membawanya masuk ke dalam.
.
Jam di dinding sudah menunjuk angka 01.30 dini hari tapi Viona masih tetap terjaga. Gadis itu sudah berkali-kali mencoba menutup matanya tapi tidak bisa. Menyibak selimut dari tubuhnya, kemudian Viona turun dan melenggang keluar meninggalkan kamarnya.
Lampu ruang keluarga masih menyala dan Viona mendapati Nathan tengah duduk di sana sambil memangku laptopnya. Mantel hitamnya telah di tanggalkan dari tubuhnya dan hanya menyisahkan keme hitam lengan terbuka yang memperlihatkan lengan berototnya. Viona tidak tau apa yang sedang dikerjakan oleh Nathan saat ini, tapi dia begitu serius.
"Oppa, kenapa belum tidur?" Nathan mengangkat wajahnya dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. "Memangnya apa yang sedang kau kerjakan?" Viona mengambil tempat disamping Nathan.
Dahinya menyernyit melihat tulisan-tulisan kecil berwarna merah memenuhi layar laptop Nathan, saking kecil dan banyaknya tulisan tersebut sampai-sampai membuat kepala Viona menjadi sangat pusing. "Oppa, memangnya kau bisa membacanya?" tanya Viona memastikan.
"Hm,"
"Kau keren sekali, aku saja langsung pusing melihat tulisan sebayak dan seketil itu. Astaga betapa payahnya diriku," Viona memijit pelipisnya dan tersenyum kaku.
"Siapa yang mengatakan jika kau ini payah? Malahan kau adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal dalam hidupku setelah Mama dan kakak perempuanku. Kau itu sama istimewanya dengan mereka berdua, kalian bertiga adalah wanita-wanita terhebat dan paling penting dalam hidupku." Tutur Nathan. "Kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, dan Oppa sendiri kenapa juga belum tidur?"
"Hn, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sebaiknya kau kembali kekamarmu dan segera tidur, bukankah besok kau harus bekerja?" Viona mengangguk. "Aku juga akan segera tidur," kemudian Nathan menarik tengkuk Viona dan mencium singkat bibir tipisnya. "Goodnigh sweet heart, mimpi indah,"
Seolah tak puas dengan ciuman singkat tersebut. Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan balik menciumnya. Namun ciumannya hanya berlalung beberapa detik saja. "Aku pasti akan mimpi indah. Good night, Oppa"
-
Pagi-pagi sekali Nathan sudah pergi dari rumah Viona. Rencananya Nathan akan mengantarkan gadis itu ketempat kerjanya namun tiba-tiba dia mendapatkan telfon dari Henry yang memintanya untuk segera pulang. Setibanya di mansion, Nathan melihat keadaan dimsana sedikit kacau dan berantakan seperti baru saja terjadi keributan. Beberapa anak buahnya terluka termasuk Tao. "Apa yang terjadi di sini? Kenapa rumah bisa berantakan seperti ini?" tanya Nathan to the poin.
"Ini adalah kerjaan bajing** tak tau diri itu, Nat. Dia datang untuk mengambil Rio dari Kakak. Dia tidak hanya membuat keributan tapi juga mengancam akan menghabisi kita semua jika Kak Senna tidak mau memberikan Rio padanya." ujar Henry memaparkan.
__ADS_1
Gyuttt:
Nathan mengepalkan tangannya mendengar penuturan Henry, sorot matanya berubah tajam dan terlihat berbahaya.. aura membunuh dalam diri Nathan begitu terasa hingga membuat bulu kuduk orang-orang disekelilingnya berdiri, bahkan Henry sampai meneguk ludah merasakan aura membunuh yang keluar dari diri adiknya.
Sepertinya laki-laki itu tidak tau dengan siapa dia berhadapan, Nathan bukanlah Henry yang bisa selalu bersikap sabar. Nathan bisa jauh lebih berbahaya dan lebih mengerikan dari dewa maut sekalipun jika ada yang berani mengusik ketenangan serta keselamatan keluarganya.. dan Nathan bersumpah akan menghabisi mereka yang berani membuat masalah dengannya apalagi sampai membahayakan keselamatan orang-orang yang dia sayangi.
"Lalu dimana Rio dan kak Senna?" tanya Nathan.
"Aku langsung mengirim mereka ke luar negeri untuk sementara waktu, Satya dan Frans ikut bersama mereka. Aku juga meminta Jack dan Daibara untuk ikut bersama mereka." tutur Henry.
"Sebaiknya segera obati luka-lukamu. Kau terlihat cukup buruk dengan babak belur diwajahmu itu." ucapnya dan berlalu begitu saja, Nathan pergi kekamarnya yang super megah yang berada dilantai dua.
Cklekk!!
Decitan pintu terbuka menggema diruangan besar bernuansa putih gold itu. Mata Nathan memicing melihat keadaan kamarnya yang cukup gelap. Laki-laki itu melangkah untuk menyalahkan penerangan dalam ruangan itu namun tiba-tiba.....
"Surprise." lampu kamar tiba-tiba menyala terang dan wajah ceria Cherly-lah yang pertama tertangkap oleh iris matanya.
Cherly langsung berhambur memeluk Nathan. "Oppa, aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." lirihnya.
Nathan melepaskan pelukan Cherly dan menatapnya datar.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?" tanya Nathan dingin. Dia paling tidak suka jika area pribadinya di masuki sembarang orang. "Apa kau sudah tidak memiliki sopan santun lagi , kau adalah wanita terpelajar Park Cherly, tapi kenapa tingkahmu begitu rendahan." Cherly mundur dua langkah dan menatap Nathan kecewa
"Jaga batasanmu, Park Cherly. Aku masih memandangmu sebagai adik sahabatku, jika bukan karna Bima adalah kakak laki-lakimu.. aku sudah membuangmu sejak lama. Kau semakin membuatku muak, keluarlah sekarang sebelum aku menyeretmu keluar." pinta Nathan sambil menunjuk pintu. Alih-alih menuruti, Cherly malah kembali memeluk Nathan. Nathan yang masih terbakar emosi karna peristiwa yang baru saja menimpa keluarganya langsung mendorong Cherly dan membentaknyal
"KELUAR."
Cherly terlonjak kaget. Air mata langsung berjatuhan dari sudut matanya. "Kau jahat oppa. Aku kecewa padamu." Sambil menyusut air matanya, Cherly berlari meninggalkan kamar Nathan termasuk laki-laki itu.
Laki-laki itu mendesah berat. Nathan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua. Dan mungkin air segar bisa sedikit menjernihkan pikirannya yang agal kacau karna insiden pagi ini.
-
Hanya dengan melihatnya saja, pasti semua orang tau jika jas putih yang Viona pakai adalah jas kedokteran.
Parasnya luar biasa cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran seorang dokter. Saat tidak memakai jas putihnya, sering kali ada yang menganggap jika gadis itu adalah seorang artis atau seorang turis asing yang sedang berkunjung karna parasnya yang mirip boneka dengan rambut panjang berwarna coklat terang.
Selain parasnya yang cantik. Viona memiliki sepasang bola mata berwarna hazel dengan juntaian bulu mata lentik, hidung mancung yang mungil dan bibir kissable membuat siapa pun tidak akan bisa memalingkan wajahnya dari paras cantik itu... gadis berdarah America-Korea itu memang memiliki pesona yang luar biasa. Dan diusianya yang ke 21 tahun, Viona sudah menjadi dokter bedah yang sangat hebat. Bukankah itu sangat luar biasa.
Viona melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki sebuah rumah sakit yang memiliki dua puluh lantai. Senyum ramah tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya, Viona selalu membalas sapaan setiap orang yang berpapasan dengannya.
Tidak sedikit orang yang berlalu lalang menoleh dan tidak menyinyiakan kesempatan untuk melihat paras cantik salah satu dokter bedah terbaik yang dimiliki rumah sakit itu. Viona memakai jas dokter sedikit berbeda dari dokter pada umumnya. Jas yang Viona pakai tidak melebihi lututnya dan jas itu mengikuti lekuk tubuh rampingnya. Jas itu Viona dapatkan dari Senna sebagai hadiah diulang tahunnya yang ke 21 beberapa bulan lalu.
"Dokter Viona," langkah kaki Viona terhenti karna teguran seseorang yang memanggilnya. Dokter cantik itu menoleh dan mendapati Ami menghampirinya.
__ADS_1
"Tuan Ardinata datang dan menunggu diruangan Anda, Dokter." lanjutnya.
"Kau boleh pergi, aku akan menemuinya."
"Baik Dokter."
Vona menghampiri Leo yang sedang menunggunya, laki-laki itu duduk dalam posisi memunggunginya. Hingga yang terlihat hanya punggungnya yang tertutup jas hitamnya "Oppa kau disini?"
"Dari mana saja, kau? Apa kau tau berapa lama aku menunggumu disini?" Leo bangkit dari duduknya kemudian berbalik dan posisinya dan Viona kini saling berhadapan. "Apa saja yang kau lakukan selama beherapa hari ini sampai-sampai tidak bisa dihubungi? Kenapa setelah panggilan terakhirku kau tidak bisa kuhubungi lagi? Apa pekerjaanmu ini lebih penting dari pada diriku, calon suamimu?"
"Aku-"
Drett Drett Drett!!
Viona tidak melanjutkan ucapannya merasakan getaran pada ponsel yang ada dalam genggamannya. Viona melihat pada ponselnya dan mendapati nama Nathan tertera di sana. Viona ingin sekali menerima panggilan itu namun tidak mungkin karna ada Leo bersamanya, mungkin Nathan perlu mendengarnya sendiri suara laki-laki itu agar dia tau alasan kenapa dia tidak bisa bicara padanya.
"AKU BERTANYA PADAMU, VIONA ANGGEELLA" bentak Leo sedikit emosi dan bentakan keras Leo sampai pada telinga Nathan. "Jangan pernah menguji kesabaranku, Bona. Jika kau tidak ingin aku sampai berbuat kasar padamu."
"Leo, Lepaskan! Ini sakitttttttt." jeritan kesakitan Viona membuat darah dalam tubuh Nathan semakin bergejolak, emosinya karna ulah mantan kakak iparnya dan Chorong belum hilang.. sekarang malah ditambah dengan Leo yang berbuat kasar pada Viona.
"Leo, aku bilang sakittttt." Viona menyentak tangan Leo dari lengannya yang tampak membiru karna kuatnya cengkraman Leo.
Sementara itu, Nathan yang masih belum mengakhiri sambungan telfonnya tengah mengepalkan tangannya diseberang sana. Nathan tidak akan pernah memaafkan Leo atas apa dia lakukan pada Viona. "Aku mulai muak denganmu, Leo Ardinata. Selama ini kau tidak pernah memperlakukanku layaknya tunanganmu, kau selalu berbuat seenaknya padaku. Jika kau tidak bisa menghargai lagi diriku sebagai seorang wanita. Kita akhiri saja hubungan ini, percuma saja jika dilanjutkan."
"Vi..Viona, bukan begitu. Aku... hanya emosi, sungguh. Aku benar-benar mencintaimu, Viona. Aku mencintaimu." Ucap laki-laki itu meyakinkan.
Viona menepis tangan Leo yang hendak menghapus air matanya. Selama ini Viona memang tidak pernah mencintai Leo tapi dia selalu bersikap layaknya seorang tunangan pada umumnya meskipun Leo tak satu kali dua kali berbuat kasar dan sering kali membentaknya.
"Sudah cukup, lebih baik kita akhiri saja semua ini."
"Maksudmu apa?" tanya Leo memastikan.
Viona meraih melepas jas putihnya kemudian mengambil tasnya. "Kita batalkan saja pertunangan ini. Aku tidak ingin menikah dan hidup dengan laki-laki kasar sepertimu. Mulai sekarang, kita jalani saja hidup kita masing-masing."
Leo berdiri menggenggam tangan Viona. "Aku tidak akan bisa hidup tanpamu, Sayang. Sekali lagi, berikan kesempatan untukku." Leo meyakinkan Viona jika ia sangat menyesal karna kehilangan gadis itu sama saja dengan kehilangan harta karun.
"Maaf, Tuan Ardinata. Aku tidak bisa."
Viona melangkahkan kakinya menjauh dari Leo yang sedang mengepalkan kedua tangannya memandang punggungnya yang semakin menjauh. Semua sudah berakhir, apakah ini akhir semuanya? Apakah ia akan kehilangan tambang emasnya?? Tidak, Leo tidak akan membiarkan Viona pergi begitu saja dan menghancurkan keinginannya untuk menguasai seluruh harta milik gadis itu yang ditinggalkan oleh orang tuanya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1