Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 42) "Rencana Shea Untuk Amanda"


__ADS_3


Baca juga ya new novel author yang judulnya Terpaksa Menikahi Mafia Kejam. Like koment selalu di tunggu ya 🙏🙏🤗🤗


-


Suara kicauan burung yang saling bersahutan di luar jendela kamar membangunkan Zian dari tidurnya. Zian bangkit dari posisi tidurnya untuk melihat pukul berapa saat ini, tapi yang didapatnya adalah sakit kepala yang hebat saat posisinya telah duduk di atas ranjangnya.


Zian memegangi kepalanya, sedikit menekan ujung jari-jarinya mencoba mengurangi rasa sakit disekitar kepalanya. Beberapa kali mencoba menekan bagian di kepalanya yang sakit, pikirannya mulai kembali pada kejadian tadi malam yang menyebabkan rasa sakit di kepalanya.


"Sial, sepertinya karna aku terlalu banyak minum semalam," geram Zian membatin.


Masih sambil meringis kecil, Zian mencoba berdiri. Ia berpikir mungkin obat sakit kepala akan membantunya menghilangkan rasa sakit di kepalanya.


Zian mengambil sebuah kotak obat yang sengaja dia letakkan di atas nakas kecil samping tempat tidurnya. Tapi sialnya Zian malah tak menemukannya, dia yakin tak lupa meletakkan dan kotak obat itu selalu dia letakkan di tempat yang sama.


"Sial, di mana aku meletakkan kotak obat itu,"


"Kau mencari ini?" sebuah suara datang dari belakang punggungnya. Sontak Zian menoleh dan mendapati Luna berjalan menghampirinya. "Kau tidak mungkin menemukannya, karna ini bukan kamarmu,"


Kemudian Zian mengedarkan pandangannya dan mendesah berat. Efek alkohol yang belum juga hilang membuatnya tak sadar jika saat ini ia berada di rumah Nathan.


"Hn, bagaimana aku bisa tidak sadar,"


"Mungkin karna efek alkohol yang kau minum semalam. Dan apakah aku mengekutkanmu? Aku datang dan membawakan ini untukmu, Zian. Aku tau kau pasti membutuhkannya setelah mabuk berat semalam," ujar Luna.


Luna memberikan beberapa butir obat sakit kepala dan segelas air pada Zian, yang kemudian Zian mengambilnya lalu meminumnya.


"Sebaiknya kau segera mandi, setelah ini kita sarapan sama-sama. Oya, aku meminjam kemeja dari Nathan oppa, kau bisa memakainya dan dia bilang kau tidak perlu mengembalikannya. Satu catatan penting, kemeja ini masih baru." Luna menggerlingkan matanya dan pergi begitu saja.


Tak sampai sepuluh menit Zian datang dengan wajah yang terlihat lebih fress dari sebelumnya setelah mandi. Tubuh kekarnya dalam balutan kemeja hitam milik Nathan. Kemeja itu pas di tubuh Zian karna mereka berdua memiliki ukuran yang sama.


Zian menghampiri Luna yang duduk sendirian di meja makan. "Kenapa hanya kau sendiri? Di mana yang lain?" kemudian Zian menarik kursi disamping Luna, mereka duduk bersebelahan dengan gadis itu.


"Semua orang sudah pergi. Nathan oppa dan Viona eonni serta si kembar pergi ke Macau untuk menghadiri sebuah acara penting. Sedangkan trio aneh itu sudah pergi sejak pagi. Aku sendiri tidak tau apa yang sedang mereka bertiga rencanakan kali ini. Maaf, hanya ini sarapan yang bisa aku siapkan,"


Zian mengamati makanan yang ada di atas meja. Hanya ada roti tawar dan tiga selai dengan rasa berbeda. "Hn, tidak masalah."


"Oya, Zian. Aku berencana untuk menemui ibu hari ini. Kau tidak sedang sibuk bukan? Bisa tidak kau temani aku menemuinya?"


"Tapi setelah aku bertemu dengan para Kolegaku. Meeting akan dimulai sekitar satu jam lagi. Saat jam makan siang aku akan menjemputmu."


"Baiklah, dengan senang hati,"


Dan selanjutnya sarapan mereka lewati dengan tenang. Tak ada perbincangan di antara mereka berdua. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berdentingan.


-


Kedatangan Amanda dirumahnya menjadi mimpi buruk bagi Shea dan Jordan. Bagaimana tidak, karna semenjak Dahlia mengijinkannya untuk tinggal dirumahnya, perempuan itu menjadi begitu sombong dan arogan.


Amanda selalu berlagak sebagai nona besar di rumah itu. Dan tak jarang dia bersikap kurang ajar pada Shea dan Jordan selaku nona dan tuan muda di sana. Bukannya menegur, Dahlia malah membiarkannya.


Dan pagi ini menjadi pagi yang sangat buruk bagi Shea. Dia harus menyiapkan sarapan untuk perempuan itu dan melayaninya.


Dahlia ingin agar Amanda diperlakukan dengan sangat istimewa. Shea dan Jordan tidak tau racun apa yang telah Amanda gunakan untuk meracuni pikiran ibunya.


"Shea, bubuk apa itu? Kenapa kau malah memasukkan bubuk aneh itu ke dalam makanan Amanda? Bagaimana kalau mama sampai tau? Kita bisa mendapatkan masalah besar!!"


"Kenapa, Oppa? Apa kau merasa takut. Sebaiknya kau tunggu dan lihat saja, karna bukan hanya di dalam makanan Amanda. Tapi aku juga menaruh bubuk obat tidur ini di dalam makanan mama,"


"Jadi itu hanya obat tidur dan bukan racun?"


Shea mengangguk. "Sebaiknya kau diam dan ikuti saja permainanku. Kita akan memberi wanita itu sebuah pelajaran dan membuat dia pergi sejauh mungkin dari hidup kita. Aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya. Dia membuatku sangat muak!!"


Kemudian Shea membawa makanan-makanan itu pada Amanda dan ibunya yang sudah ada di meja makan menunggu makanan datang. Shea meletakan semangkuk sup di depan Amanda dan Ibunya. Itu adalah sup special yang memang Shea siapkan khusus untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian bisa makan setelah kami," ucap Amanda pada Shea dan Jordan.


"Tidak masalah, jadi nikmati saja sarapan kalian berdua," Shea bersidekap dada dan pergi begitu saja.


Shea dan Jordan memperhatikan mereka dari kejauhan. "Oppa, apa kau sudah menyiapkan yang aku minta?"


"Sudah. Tapi Shea, sebenarnya untuk apa pakaian-pakaian bekas itu? Lalu gunting ini?"


"Kau akan mengetahuinya nanti. Jadi sebaiknya kau diam saja!! Bersiaplah, obat tidur itu mulai bekerja," seru Shea melihat Amanda dan ibunya yang mulai hilang kesadaran setelah meminum sup yang telah Shea siapkan. "Angkat dan bawa mama kekamarnya. Jangan lupa bawakan aku perhiasan-perhiasannya,".


"Perhiasan mama?" Shea mengangguk."Tapi untuk apa?"


"Sudah bawakan saja dan kau akan segera mengetahuinya, Oppa." jawab Shea.


Dengan bantuan beberapa pelayan. Shea mulai melancarkan rencananya untuk memberikan pelajaran pada Amanda.


Perempuan itu melucuti pakaian mahal yang melekat pada tubuh Amanda kemudian menggantikannya dengan pakaian bekas yang telah dia siapkan sebelumnya. Pakaian itu sudah tak layak pakai karna penuh robekan.


Shea tak hanya mengganti pakaiannya saja. Tapi dia juga mencukur rambut panjang Amanda sangat pendek, tujuannya agar perempuan itu tak mudah di kenali. Shea juga mengambil semua barang berharga milik Amanda seperti dompet, ponsel sampai perhiasan mahal yang dia pakai.


"Angkat dia dan masukkan ke dalam mobil yang telah aku siapkan," perintah Shea pada beberapa pelayan yang membantunya.


"Baik, Nona."


Shea tersenyum lebar. Dia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi dan takutnya Amanda nanti ketika dia sadar dan mendapati dirinya berada di tengah hutan belantara. Shea sangat menantikan kehancuran perempuan itu tiba.


"Amanda Roberto. Inilah awal dari kehancuranmu!! Nikmati saja hari-hari terburukmu ini!!"


-


Bukan rahasia umum bila di dunia ini banyak perusahaan-perusahaan besar yang berkembang. Salah satunya adalah di Korea.


Mereka saling bersaing dan berlomba demi membuktikan pada dunia bila perusahaan yang mereka kelola memang pantas di sandang sebagai perusahaan besar yang membawa pengaruh pada perdagangan dunia.


SK Group sendiri adalah perusahaan yang bergerak dibidang garment dan property. Tidak sedikit perusahaan lokal maupun asing yang ingin bekerja sama dengan perusahaan tersebut.


Belum genap dua tahun bangkit dari kebangkrutan. SK Group sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa wilah dan negara, cabang-cabang itu di kelolah oleh orang-orang pilihan yang di tunjuk langsung oleh CEO utama perusahaan induk 'Zian Qin'.


Selain nama perusahaannya yang terkenal di dunia bisnis. CEO muda dan tampan namun penuh keangkuhan yang memimpin perusahaan pun cukup terkenal dengan sikap angkuh dan berdarah dingin.


Zian Qin, pria lajang yang banyak di bicarakan para koleganya dan di gadang-gadang sebagai pria paling ideal untuk menjadi menantu mereka.


Tapi sepertinya Zian tidak memiliki ketertarikkan apapun dengan mereka apalagi untuk menciptakan sebuah hubungan yang rekat. Padahal tidak sedikit wanita yang mengincarnya, karna di bandingkan harus membicarakan soal wanita, Zian lebih tertarik untuk membicarakan bisnis


Zian yang dalam balutan pakaian formalnya, berjalan angkuh dikoridor perusahaannya. Di belakangnya seorang wanita bertubuh mungil dan berambut sebahu yang diketahui sebagai sekretarisnya itu berjalan mengekor dibelakang pria tampan berambut blonde tersebut.


Zian masuk ke ruangannya begitu pula dengan wanita itu. "Sunny Kim, kosongkan semua jadwalku untuk hari ini. Aku sangat lelah dan tidak ingin melakukan pertemuan penting apapun lagi." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh wanita itu 'Sunny'


"Baik, Sajang-nim."


Zian melonggarkan dasinya dan membuka jasnya lalu meletakkan begitu saja di atas meja kerjanya. Sunny segera mengambil jas tersebut dan meletakkan pada manequin yang ada di samping kiri meja kerja Zian, wanita itu menoleh dan mendapati atasannya tersebut tengah menutup mata kanannya dengan lengan menutupi sebagian wajahnya.


Dia tau jika atasannya itu sangat kelelahan karna sudah bekerja keras selama ini demi memajukan perusahaannya.


Drett!! Drettt!! Drett!!


Dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Sunny. Wanita itu nyaris saja berteriak saking kagetnya. Merasa tidak enak dengan Zian, Sunny pun segera mengangkat panggilan itu dan berjalan menjauh.


Tak berselang lama wanita itu kembali dan menghampiri Zian. "Sajang-nim, bolehkah saya keluar sebentar. Teman saya ada di sini dan ingin bertemu dengan saya."


"Hm."


Zian menjawab dengan deheman. Dia tidak melarang Sunny untuk pergi, lagi pula ini sudah hampir memasuki jam makan siang. Dan selepas kepergian Sunny, di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Zian sendiri. Laki-laki itu bengkit dari berbaringnya saat mendengar ponselnya berbunyi.


Zian menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja kerjanya dan pergi begitu saja. "Hm, tunggu lima belas menit lagi aku akan tiba di sana." Zian memutus telfonnya dan berjalan tenang menuju parkiran.

__ADS_1


-


Saat ini Luna dan Zian sedang dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Qin, keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka, Zian dan Luna sama-sama diam dalam keheningan dan larut dalam kesibukkan masing-masing. Seperti Zian yang fokus mengemudi, sementara Luna asik membaca novel di samping Zian.


Zian menoleh, mata kanannya menatap sisi wajah Luna. "Kau ingin membeli sesuatu untuk ibumu?" tanya Zian mengakhiri keheningan di antara mereka,


Sontak saja Luna menoleh dan membuat iris mereka saling bersiborok. "Kita bisa berhenti sebentar untuk membeli buah tangan." Zian melanjutkan ucapannya.


"Sepertinya bukan ide buruk." Luna menjawab cepat.


"Tapi, Zian, aku sendiri bingung harus membeli apa untuk diberikan pada Ibu. Perhiasan? Sepertinya terlalu mewah, pakaian, sepatu atau mungkin tas? Tapi ini bukan acara ulang tahun. Aku benar-benar bingung, apa kau memiliki ide?" Luna menatap Zian penuh harap.


"Mungkin kue?" Usulnya. Luna tersenyum sumringah, kenapa tidak terfikirkan oleh dirinya jika kue adalah pilihan yang tepat.


Zian menghentikan mobilnya di depan toko kue langganan kakaknya. Shea sering sekali membeli kue di toko tersebut.


Luna dan Zian berjalan beriringan memasuki toko kue tersebut. Sebuah etalase yang dipenuhi kue-kue lezat dengan berbagai jenis dan ukuran yang mengiurkan langsung menyambut keduanya.


"Zian, kau tau tidak kue apa yang ibuku sukai?"


"Cheese cake." Zian menjawab cepat.


Luna tersenyum. Ternyata Kalina dan dirinya memiliki kesukaan yang sama pada cheese cake.


Setelah membayar kue tersebut, keduanya meninggalkan toko dan melanjutkan perjalanan. Suasana di dalam mobil tidaklah sedingin sebelumnya, karna penyakit bawel Luna sedang kambuh.


"Oya, Zian, apakah paman Qin akan menerimaku? Aku sangat gugup, bagaimana jika dia sampai.."


"...Itu tidak mungkin, aku sangat mengenal papaku dengan sangat baik. Justru dia yang mengharapkanmu untuk datang." Zian menatap Luna sejenak dan kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Begitukah?" Zian mengangguk.


Jantung Luna rasanya ingin keluar dari tempatnya saat Zian menghentikan mobil sport mewahnya di halaman rumah megah yang memiliki tiga lantai. Ia melihat Kalina dan seorang pria paruh baya yang Luna yakini sebagai suami kedua ibunya dan ayah Zian.


Melihat wajah tegas pria itu membuat Luna semaki gugup, namun hal itu tertutupi saat melihat senyum dan pelukkan hangat Kalina.


"Kami sudah menunggumu dari tadi, Kak. Selamat datang, Leonil Luna." Sambut tuan Qin pada putri tirinya tersebut.


Luna tersenyum kikuk, gadis itu membungkuk pada paruh baya didepannya. "Hahahha! Tidak perlu seformal itu, Nak." Tuan Qin tertawa renyah sambil mengusap punggung Luna dengan gerakan naik turun.


"Luna, ayo kita masuk. Tidak perlu sungkan dan anggap rumah sendiri." Kalina merangkul bahu putrinya dan keduanya berjalan beriringan dengan Zian dan tuan Qin yang mengekor dibelakang mereka berdua.


Dering pada ponselnya menghentikan langkah Zian. Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk masuk. Zian mengerutkan dahinya melihat satu nama yang tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


"Ada apa, Ren?" Zian menerima panggilan itu dan suara dinginnya menyapu indera pendengaran Reno.


Reno sedikit meringis, tapi dia tidak lagi merasa terkejut karna sudah terlalu biasa menghadapi sikap dingin Zian yang mirip kutub utara.


"Zian, aku memiliki sebuah informasi yang sangat penting untukmu."


"Katakan." Zian menyela cepat.


'Adrian hyung berhasil menarik perusahaan itu menarik untuk bergabung dengan SK Group dan membatalkan kerja samanya dengan perusahaan milik pesaing terbesarmu.'


"Bagus, memang ini yang aku harapkan. Nanti aku hubungi lagi."


Zian memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan ponsel itu kembali ke dalam saku celananya. Senyum miring tercetak, menghiasi wajah tampannya


Sementara itu. Suasana canggung antara Luna dan tuan Qun tidak lagi terlihat. Sikap tuan Qun yang hangat membuat Luna merasa nyaman, ternyata suami kedua Ibunya tidak seburuk apa yang dia fikirkan, bahkan mereka berdua langsung akrab apalagi dengan tangan terbuka tuan Qin mau menerima kehadirannya untuk menjadi bagian dari keluarga Qin.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2