Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 42 "Aksi Bima dan Kai"


__ADS_3


Baca juga ya new novel author yang ini. Like koment juga ya.


-


"Oppa, sebenarnya kita mau kemana? Sepertinya bukan arah pantai?"


Viona tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya. Wanita itu dan menatap Nathan yang tengah fokus menyetir di sampingnya. Laki-laki itu menoleh, matanya bersiborok dengan sepasang mutiara hazel milik Viona. "Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba di sana. Perjalanan kita masih jauh, sebaiknya kau tidur saja dan aku akan membangunkanmu setelah kita sampai," Nathan mengusap pipi Viona sebelum pandangannya kembali fokus pada jalanan didepannya.


Viona mendengus seraya menggembungkan pipinya kesal karna jawaban Nathan yang tidak memuaskan rasa ingin taunya.


"Menyebalkan, selalu saja main rahasia.. Tidak adil,"


"Menyebalkan, selalu saja main rahasia.. Tidak adil!!"


Ckitttt!!!


Nathan menepikan mobilnya saat merasakan kepalanya seperti dihantam batu besar saat sekelebat bayangan kembali melintas dipikirannya setelah mendengar kalimat Viona, lagi-lagi Nathan merasa dejavu.


Sementara itu, Viona yang panik langsung melepaskan sabuk pengamannya untuk memastikan keadaan Nathan. "O-op-oppa, kau kenapa?" tanya Viona seraya menatap Nathan, cemas. Laki-laki itu menggeleng dan meyakinkan pada Viona jika dia baik-baik saja. "Oppa, tunggu sebentar. Disebrang jalan ada apotek, aku akan membeli obat untukmu." namun cengkraman pada lengannya mengurungkan niat Viona.


"Tidak usah, sungguh aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Oppa, wajahmu pucat dan kau berkeringat, aku tidak akan lama kok. Tunggu ne."


"AKU BILANG TIDAK USAH!! APA KAU TULI?"


Deeegg!!


Viona tersentak mendengar bentakkan Nathan. Dan sepanjang dia mengenal Nathan, ini adalah pertama kalinya laki-laki itu membentaknya. Tampak kedua matanya berkaca-kaca, segera Viona menyeka air matanya saat merasakan ada liquid yang mengalir di pipi kanannya. "Tiba-tiba aku haus, aku akan keluar sebentar untuk membeli minuman." Viona membuka pintu disamping kanannya dan hendak beranjak sebelum tangan Nathan menarik lengannya hingga wajahnya berbenturan dengan dada bidang yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya


"Maaf, sudah membentakmu ... aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf, Sayang." Bisik Nathan penuh penyesalan, berkali-kali Nathan meminta maaf pada Viona karna sudah membentaknya.


Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, Oppa. Aku bisa mengerti, aku hanya terkejut saja karna ini pertama kalinya kau berbicara dengan nada setinggi itu padaku."


"Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Aku sungguh-sungguh minta maaf." Viona melonggarkan pelukan Nathan kemudian menakup wajah suaminya, mutiara hazelnya menatap manik mata Nathan yang juga menatapnya.


Sudut bibirnya tertarik keatas. "Cukup ,Oppa. Jangan meminta maaf lagi, sungguh.... aku baik-baik saja." ujarnya kemudian mencium singkat bibir Nathan.


Sungguh beruntung Nathan memiliki istri seperti Viona yang selalu bisa mengerti keadaannya. Nathan benar-benar menyesal karna telah membentaknya dan sampai membuat wanita itu menitihkan air mata. Nathan lepas kendali dan tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Nathan menarik tengkuk Viona dan melum** singkat bibirnya, ciuman itu adalah bentuk permintaan maaf Nathan pada Viona. Ciuman yang begitu lembut dan penuh perasaan. "Mau melihat sesuatu yang luar biasa?" tanya Nathan sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya. Viona mengangguk antusias. Nathan tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya.


Tiga puluh menit kemudian mobil Nathan berhenti disebuah tempat yang dipenuhi bunga canola. Bunga kuning cantik itu langsung menyita seluruh perhatian Viona. Wanita itu berbinar-binar melihat hamparan kuning indah berada tepat didepan matanya


"Kkkkyyyyaaaaa...!! Bunga canola." tanpa menghiraukan Nathan. Viona segera turun dari mobil mewah itu dan berlari menuju hamparan kuning bunga canola yang begitu memikat matanya.


Wanita itu berputar-putar sambil merentangkan kedua tangannya. Nathan yang masih berada didalam mobilnya memutuskan untuk segera turun dan menghampiri sang Istri


"Oppa, kemarilah." Viona melambaikan tangannya pada Nathan.


Nathan melangkahkan kakinya dengan tenang menghampiri Viona yang sedang berdiri ditengah-tengah hamparan canola. Dan setibanya Nathan di sana, Viona langsung menarik tangan Nathan dan membawanya berlari ditengah lautan bunga cantik itu sambil sesekali menoleh kebelakang. Senyum dibibirnya terkembang lebar. Nathan mendesah berat, tapi dia tidak bisa menolak keinginan Viona.

__ADS_1


Tepat ditengah ladang yang luas itu, tiba-tiba Viona menghentikan langkahnya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Wanita itu sedikit berjinjit untuk mencapai bibir kemerahan milik sang suami. Dan unntuk beberapa saat saja, Nathan membiarkan bibirnya di invasi oleh Viona sebelum dia menganbil alih ciuman itu.


Nathan menarik pinggang Viona untuk lebih dekat lagi. Sedangkan tangan lain menekan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya. Nathan tidak hanya mencium bibir itu namun juga mengobrak-abrik dalam mulutnya. Mengabsen deretan gigi putihnya dan membawa lidah wanita itu menari bersama, bukan dansa dengan iringan musik lembut melainkan tarian panas dengan iringan musik keras yang memikat. Puas bermain-main dengan lidah Viona. Nathan kembali melum** bibir tipis itu..


kedua tangannya menakup wajah Viona, mata mereka sama-sama tertutup rapat. Viona meremas rambut Nathan saat laki-laki itu menurunkan ciumannya menuju leher jenjangnya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Disadari atau tidak, posisi mereka tidak lagi berdiri melainkan berbaring ditengah bunga cantik itu dengan Nathan menindih tubuh Viona.


Lengkungan panjang meluncur bebas dari bibir Viona saat salah satu tangan Nathan menekan area sensiti**nya.


Wanita itu begitu menikmati permainan suaminya yang semakin lama semakin memanas, dan yang terjadi selanjutnya bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu namun juga tubuh serta jiwa mereka. Gila memang, karna mereka melakukannya ditempat yang tidak seharusnya, namun siapa yang peduli toh mereka tidak bisa ditangkap karna hal ini.


Mereka bukanlah pasangan remaja melainkan sepasang suami-istri yang telah sah dimata hukum maupun agama. Mereka saling mereguk cinta dan memberikan kepuasan satu sama lain.


.


Cakrawala senja menampilkan pesonanya. Dengan mata berbinar, Viona menatap indahnya pesona senja dengan sudut bibir sedikit terangkat. Semilir angin membuat tatanan rambut coklat panjangnya sedikit berantakan. Dengan lembut, jari-jari lentiknya menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga.


Angin bersemilir damai menerbangkan daun daun kering yang berjatuhan. Bunyi gesekan antar daun kering dan rumput benar-benar bisa membawa perasaan tenang bagi siapapun.


Seperti seorang wanita cantik dengan mata hazelnya. Dia hanya sedang duduk menikmati keindahan senja di bawah pohon sakura yang terus berguguran. Sesekali kelopak matanya tertutup, menyembunyikan sepasang mutiara hazelnya di balik kelopaknya. Dengan juntaian bulu lentik yang terlihat seperti sebuah mahakaryal


Dan kelopak mata itu perlahan terbuka saat dia merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. "Oppa, kau sudah bangun? Dan bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" tanya si wanita sambil melirik pria dibelakangnya.


"Karna hati kita selalu terhubung," jawabnya kemudian mencium singkat bibir ranum istrinya.


Wanita itu 'Viona' melepaskan pelukkan Nathan kemudian berbalik badan, posisi mereka saling berhadapan. Viona mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Nathan. Sepasang mutiara hazelnya menatap iris coklat dingin itu. "Apakah hari ini benar-benar hari terakhir kita di pulau ini?" tanya Viona memastikan.


"Kenapa? Apa kau masih belum ingin kembali?" tanya Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


Nathan menarik tengkuk Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Baiklah, kita akan tetap di sini. Tapi jangan muram lagi, karna aku lebih suka melihatmu tersenyum," Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Nathan. Viona tau jika Nathan tidak mungkin bisa menolak keinginan kecilnya. Wanita itu menutup matanya saat merasakan pelukkan Nathan yang semakin erat.


"Oppa, aku lapar. Bisakan kita pergi sekarang?" renggek Viona memohon. Wanita itu memasang wajah polosnya, membuat Nathan tidak tahan untuk tidak menjitak kepala coklatnya.


"Dasar perut karet, bukannya baru beberapa jam lalu kita makan, tapi kenapa kau sudah lapar lagi!! Memangnya kau ingin makan di mana?"


Tampak Viona berfikir. "Aku juga tidak tau. Oppa, apa kau memiliki rekomendasi cafe atau restoran terbaik di sekitar sini?" tanya Viona sambil menatap Nathan dengan penuh harap.


"Tentu saja ada,"


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, atau kau memang ingin istri cantikmu ini sampai kelaparan?"


"Astaga, kenapa kau tidak sabaran sekali?" Baiklah, kita pergi sekarang."


"Yeee...!! Oppa, kau memang yang terbaik," seru Viona. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus geli seraya menggelengkan kepala melihat tingkah Viona.


-


Di tengah malam yang dingin dan gelap. Terlihat dua orang pria yang sekujur tubuhnya terbalut pakaian serba hitam termasuk topi dan maskernya. Mereka berdua memasuki sebuah gedung perusahaan yang memiliki puluhan lantai. Langkah mereka mulus tanpa hambatan setelah dua satpam yang berjaga di luar berhasil mereka lumpuhkan. Dengan tenang, salah satu dari kedua laki-laki misterius itu menekan beberapa angka pada pengaman yang terpasang di sisi kiri pintu, seringainya mengembang lebar saat pintu itu berhasil terbuka. Ternyata tidak sulit juga, pikir keduanya.


Keduanya bergegas memasuki ruangan itu dan mematikan semua sistem keamanan perusahaan serta menghapus rekaman CCTV yang merekam pergerakan mereka berdua untuk menghilangkan semua bukti, keberadaan mereka tidak boleh diketahui oleh siapa pun terutama pemilik perusahaan tersebut.


Ruangan berikutnya yang menjadi target mereka berdua adalah ruangan CEO utama.


Sama halnya dengan ruangan CCTV, ruangan itu juga dipasang pengaman pada pintunya, untungnya keduanya membawa perlengkapan yang akan memudahkan dan melancarkan aksinya malam ini. Setelah berusaha selama kurang lebih 60 detik, pintu itu pun berhasil terbuka. Keduanya memasuki ruangan yang gelap itu. Pria berkulit tan itu menghentikan langkahnya kemudian mengeluarkan beberapa kamera kecil dari dalam tas ranselnya, sedangkan laki-laki jangkung yang datang bersamanya malah merebahkan tubuhnya pada sofa empuk super nyaman yang berada ditengah ruangan.

__ADS_1


"Huaaaa!! Nyamannya." serunya.


"Yakk!! Bima Hyung, kenapa kau malah enak-enakkan di sana? Sebaiknya bantu aku memasang kamera-kamera ini sebelum kedua satpam sialan itu sadar." omel Kai melihat Bima yang malah asik rebahan di sofa.


"Ck, berisik sekali kau ini. Diamlah Kamjong. Aku ingin istirahat sebentar saja."


"Yakk!! Hyung, berhentilah memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Aku tidak suka kau memanggilku, Kamjong!!" protes Kai yang tidak suka dengan panggilan Bima untuknya.


Bima bangun dari posisi berbaringnya dan menatap Kai dengan penuh keheranan. "Hey kenapa? Nama itu sangat bagus dan cocok untukmu, Kamjong!!" Anggap saja itu panggilan kesayanganku untukmu."


"Cih. Dasar menyebalkan!!" Kai mendecih dan menatap Bima dengan sebal.


Kai beranjak dari posisinya dan menghampiri Bima sambil membawa beberapa kamera kecil dalam genggamannya. Wajahnya berubah serius "Sebaiknya bangun dan bantu aku memasang kamera-kamera ini, atau aku adukan pada tuan Nathan."


"Apa?" Mendengar nama Nathan membuat Bima terjerambat dan langsung bangun dari posisi berbaringnya. "Memangnya di sisi mana saja kita akan memasang kamera-kamera itu?"


Bima merebut kamera itu dari tangan Kai dan langsung memasang kamera-kamera itu setelah mendapatkan arahan dari Kai. Melihat Bima yang begitu panik setelah mendengar nama Nathan membuat Kai terkekeh geli, padahal bukan Nathan yang memerintahkan mereka berdua melainkan Henry. Henry hanya ingin meringankan beban adiknya dengan melakukan sesuatu yang cukup berguna.


Kai tidak tau apa yang membuat Bima begitu takut pada Nathan. Dan bukan hanya Bima, sebenarnya ia sendiri juga takut pada bungsu Lu itu. Selain sikapnya yang tegas dan tidak suka berbasa-basi, sosoknya memang begitu disegani. "Hahahah! Ternyata begini saja, jika hanya pekerjaan kecil seperti ini saja aku sih ahlinya." ucap Bima setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Sayangnya pekerjaan kita masih belum selesai, hyung. Masih ada tiga puluh kamera yang harus kita pasang pada enam ruangan berbeda." ujar Kai membuat mata Bima membelalak saking kagetnya.


"Kecil, jika hanya tiga puluh kamera sa..... APA? TIGA PULUH KAMERA!!"


-


Nathan menyibak selimut dari tubuhnya seraya bamgkit dari posisi berbaringnya. Pandangannya kemudian bergulir pada sosok jelita yang sedang terlelap di samping kirinya. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas. Dengan lembut jari-jarinya mengusap helaian coklat yang terurai itu penuh sayang. Wajahnya terlihat begitu damai dan polos, seperti bayi yang baru saja dilahirkan.


"J*i***ka kau berhasil mendapatkan kembali ingatan masalalumu. Apakah kau akan mencari gadis itu lalu kembali padanya dan mencampakkanku?"


Nathan menutup matanya. Kata-kata Viona begitu menohok perasaannya. Dia tidak pernah berfikir bila Viona akan bertanya seperti itu padanya. Dan bagaimana mungkin wanita itu bisa berfikir bila dirinya akan meninggalkannya hanya demi sesuatu yang tidak pasti. Karna bisa saja gadis itu sudah melupakan dirinya dan menikah dengan orang lain.


Pria itu lantas beranjak dan berjalan ke balkon. Tiba-tiba Nathan terbangun dan sulit untuk tidur lagi.


Di atas sana, paduan cahaya jingga-kuning saling berpendar. Kelap-kelip seperti ribuan bintang di langit malam terlihat seperti kunang-kunang yang berterbangan. Alunan musik tradisional terdengar sayup-sayup. Angin malam meredam pecah nadanya hingga terdengar sampai ketelinga Nathan meskipun jaraknya tidak bisa dikatakan dekat.


Asap rokok mengepul. Meliuk hanyut ke atas kemudian menghilang tertelan hembusan angih malam. Batangnya masih terapit di antara dua bibir, ujungnya berwarna abu-abu pekat, jatuh menjadi partikel yang lebih kecil. Nathan kembali menghisap rokoknya, cahaya jingga menyala semakin terang, lalu redup, digantikan asap yang kembali melayang.


"Benda itu tidak baik untuk tubuhmu, Oppa,"


Suara wanita yang menggema dalam heningnya suasana masuk ke dalam ruang dengarnya. Bibirnya bergerak kaku sekaku kaki-kaki tentara melangkah. Mimiknya tak terbaca. Jembatan alis tidak bergerak.


Nathan menghela nafas, dengan enggan ia melepaskan rokoknya. Benda itu jatuh ditarik gravitasi mencapai tanah, dasar sendal menginjak hingga pipih. Baranya redup seketika. Ia mengambil napas panjang, mengembuskannya lewat mulut. Pandangannya kemudian bergulir pada sosok wanita yang berjalan menghampirinya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa tidak tidur?"


Wanita itu mendecih. "Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidak tidur dan malah berdiri di sini?" Viona balik bertanya. Nathan menarik lengan putihnya kemudian menempatkan wanita itu di depannya, kedua tangannya memeluk perut ratanya. Sedangkan Viona menyandarkan kepala belakangnya pada dada bidang yang tersembunyi di balik kaos putih lengan terbuka suaminya.


"Aku tidak bisa tidur, dan jika kau tidak bisa tidur lagi. Maukah kau menemaniku di sini sebentar menikmati malam?" tawar Nathan lalu mengecup leher jenjang Viona.


Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. "Tentu, dengan senang hati,"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2