
Keheningan menyelimuti kebersamaan Luna dan Zian. Selama lebih dari dua puluh menit tak sepatah kata pun keluar dari bibir Luna maupun Zian, keduanya sama-sama diam dalam keheningan.
Sesekali Zian melirik pada gadis yang sedang bersandar pada bahunya. Zian meletakkan dagunya pada kepala Luna, sebelah tangannya melingkari punggungnya.
Luna menyeka sisa air matanya seraya menjauhkan kepalanya dari bahu Zian."Sudah malam, sebaiknya aku antar kau pulang," ucap Zian kemudian bangkit dari duduknya.
"Zian, apakah di sekitar sini ada penginapan? Malam ini aku tidak ingin pulang, aku tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari kakakku jika aku pulang dalam keadaan seperti ini," ujar Luna.
"Ada, mau aku antarkan ke sana?" tawar Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Tunggu di sini, aku ambil motorku dulu," kemudian Zian pergi begitu saja.
.
.
Zian menghentikan motor sportnya di halaman luas sebuah bangunan mewah yang memiliki dua lantai. Bangunan itu bergaya Eropa modern dan memiliki halaman yang sangat luas.
Muncul perempat siku-siku di kening Luna. Bukankah dia menanyakan sebuah penginapan, lalu kenapa Zian malah membawanya ke sebuah mansion mewah yang Luna sendiri tidak tau siapa pemiliknya.
"Ayo masuk,"
"Tapi, Zian,"
"Ck, tapi apa lagi, Leonil Luna? Sudahlah, ayo masuk,"
Zian membuka pintu rumah itu dan mempersilahkan Luna untuk masuk. Meskipun awalnya ragu, tapi akhirnya dia tetap masuk ke dalam rumah itu. Luna menyapukan pandangannya. Rumah itu tidak hanya terlihat mewah di luar, tapi juga di dalam.
Rumah itu memiliki beberapa pilar yang sangat kokoh, lantainya terbuat dari marmer dengan kualitas terbaik. Dan ada beberapa lampu kristal yang tergantung di langit-langit rumah. Tak ketinggalan guci berukuran raksasa yang memiliki nilai fanfastis, juga barang-barang mewah lainnya.
"Malam ini kau boleh bermalam di sini, ada banyak kamar kosong yang bisa kau tempati. Kau boleh memilih kamar mana pun yang kau sukai, ada tiga kamar di lantai dua yang salah satunya adalah kamarku, dan enam kamar di lantai dasar. Terserah kau mau menggunakan kamar yang mana, dan tidak perlu merasa sungkan, anggap saja seperti rumah sendiri,"
"Tapi, Zian. Ngomong-ngomong ini rumah siapa? Apa tidak apa-apa jika aku menginap di sini? Bagaimana jika pemiliknya sampai marah karna ada orang asing yang sudah sembarangan masuk kemari. Aku pergi saja ya, aku akan menumpang di rumah Lia atau mungkin aku bisa menginap di hotel saja," ujar Luna panjang lebar.
Zian terkekeh geli. "Kau terlihat sangat mengemaskan ketika sedang panik, Nona. Dan tenanglah, ini adalah rumahku. Jadi kau akan baik-baik saja di sini, tidak akan ada yang memarahimu apalagi mengusirmu,"
Sontak Luna mengangkat wajahnya."Apa? Jadi ini adalah rumahmu?" pekik Luna tak percaya.
"Kenapa? Kau merasa ragu jika brandalan tanpa masa depan sepertiku bisa memiliki rumah semewah ini? Ini adalah rumah masa depanku, warisan dari mendiang kakekku. Dan ini adalah rumah yang kelak akan kutempati bersama keluarga kecilku. Istriku dan juga anak-anak kami. Dan asal kau tau saja, ini adalah pertama kalinya aku membawa seseorang ke rumah ini." Ujar Zian panjang lebar.
"Zian, apakah kau serius? Maksudku, apa sungguh aku adalah orang pertama yang kau ajak datang kerumah ini?" Luna menatap Zian tak percaya.
"Kenapa? Dan apakah aku terlihat bercanda?" Luna menggeleng. "Baiklah. Aku akan mandi dulu, sebaiknya kau istirahat. Kau terlihat sangat lelah. Kau bisa menempati kamar di lantai dua. Dan jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan, panggil saja aku," Zian menepuk kepala Luna dan pergi begitu saja. Meninggalkan gadis itu sendiri.
__ADS_1
Luna sengaja tidak pulang ke rumah Nathan karna tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari Viona jika dia melihat keadaannya yang begitu berantakkan. Selain itu, Luna juga ingin menenangkan dirinya untuk beberapa waktu.
Luna berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, dan memasuki sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar Zian. Kamar itu begitu luas dan penih dengan prabotan mewah yang Luna yakini tak murah harganya.
Gadis itu menyibak tirai di samping kanan tempat tidur, hal pertama yang tertangkap oleh netra coklatnya adalah sebuah taman yang di tumbuhi puluhan bunga mawar dengan berbagai jenis dan warna. Aromanya yang semerbak terbawa angin dan masuk ke dalam organ pernapasannya. Menghantarkan rasa nyaman yang menenangkan.
Semilir angin malam yang berhembus lirih menyapa Luna melalui sentuhannya. Dan mengibarkan helaian rambut panjangnya yang terurai. Gadis itu menutup matanya, menikmati belaian sang bayu.
Cklekk..
Decitan pada pintu mengalihkan perhatian Luna. Gadis itu lantas menoleh dan mendapati Zian berjalan menghampirinya dengan sebuah selimut di tangannya.
Dan untuk sesaat. Luna melupakan bagaimana caranya bernapas melihat bagaimana panasnya Zian malam ini. Sebuah jenas panjang hitam dan singlet berwarna hitam pula yang melekat pas di tubuh kekarnya. Rambunya sedikit berantakkan dengan poni menyamping dan hampir menyentuh mata kirinya.
Tak ingin terlihat konyol di depan pemuda itu karna wajahnya memerah. Buru-buru Luna berbalik badan dan memunggungi Zian.
"A-aku fikir kau sudah tidur," ucap Luna tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku membawakan selimut untukmu, udara malam ini lumayan dingin. Dan ini baju ganti untukmu. Semoga ulurannya pas, gaun ini adalah milik mendiang nenekku, maaf kalau modelnya tidak sesuai dengan seleramu. Karna hanya gaun ini yang tersimpan di rumah ini,"
Luna menatap takjub pada gaun itu."Zian, bukankah ini hanfu(baju tradisional China). Boleh tidak jika untukku saja?" Luna menatap Zian penuh harap.
"Apa kau menyukainya?" Luna mengangguk. "Ya, aku sangat menyukainya. Apa lagi sudah lama sekali aku ingin memiliki hanfu model lama seperti ini," ucapnya antusias.
"Sungguh?" Zian mengangguk.
"Kkkyyaaa!! Gomawo,"
Tubuh Zian membeku karna pelukkan Luna yang begitu tiba-tiba. Membuat perasaan asing yang sangat lama tak dia rasakan seketika memyelimuti hatinya. Dengan ragu Zian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Luna.
"Sama-sama,"
Luna melepaskan pelukkannya. Wajahnya tetap berseri-seri dan senyum dibibirnya bahkan tak luntur sedikit pun. "Baiklah, aku akan mandi dan mengganti pakaianku dengan hanfu ini. Tapi, Zian. Ada air hangatnya tidak? Aku, takut kedinginan,"
Zian mendengus geli. "Tentu saja ada, cepat mandi sana. Kau bisa sakit jika terlalu lama memakai pakaian basah,"
"Iya-iya, dasar cerewet," kemudian Luna berbalik dan pergi begitu saja. Sedangkan Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis bermarga asli William tersebut.
Detik berikutnya sudut bibir Zian tertarik keatas. "Gadis yang unik,"
-
__ADS_1
Dean menatap gamang tangan kanannya yang kemarin dia gunakan untuk menampar dan mencekik Luna. Dia sangat menyesali apa yang telah dia lakukan kemarin pada Luna, tak seharusnya dia menampar Luna, bahkan Dean juga nyaris membunuhnya.
Dean mengangkat wajahnya saat mendengar suara decitan pada pintu. Sosok Miranda yang berlinang air matalah yang pertama tertangkap oleh netra Dean.
Miranda menghampiri Dean dan langsung memeluknya. Tangis Miranda langsung pecah. "Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Dean penuh kebingungan.
Miranda mengangkat wajahnya. "Ini semua karna adikmu yang tak tau diri itu. Semalam dia datang dan melabrakku. Tidak hanya memakiku, dia juga menampar dan mencakar wajahku, bahkan dia memaksaku untuk meminum racun. Hiks, aku sangat takut Oppa. Aku benar-benar takut,"
"Apa? Luna melakukan itu?" Miranda mengangguk. "Tidak mungkin,"
"Aku memiliki buktinya," Miranda menyela cepat. "Ini adalah anting milik adikmu itu 'kan? Anting ini terjatuh dan aku temukan di teras. Bukan hanya itu saja, ini adalah bukti lain yang aku miliki. Dia men-Chatku semalam, ini bukti Chat-nya."
Dean mengambil ponsel Miranda dan matanya membelalak setelah membaca isi percakapan itu. Dean mengenali betul nomor itu, itu adalah nomor Luna dan gaya bahasa serta tulisannya juga sama.
Brak...
Dean menggebrak meja yang ada di depannya. Matanya berkilat tajam dan penuh dengan emosi. "Oppa, ini adalah bukti dari penganiayaan yang aku alami semalam." Miranda membuka eyepatch putih yang menutup mata kirinya serta perban yang membalut pipi kanannya. Ada lingkaran hitam pada mata kiri Miranda dan bekas cakaran pada pipi kanannya.
"Leonil Luna, kau benar-benar sudah keterlaluan. Aku pasti akan membunuhmu!!"
Miranda menyeringai tajam. Wanita itu tersenyum puas karna rencananya berjalan dengan lancar. "Leonil Luna, kau akan hancur kali ini," dan lagi-lagi Dean terkena tipu muslihatnya.
-
Luna membuka matanya ketika aroma lezat makanan masuk dan berkaur di dalam hidungnya. Setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Luna segera turun dan mendapati Zian sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Pemuda itu terlihat begitu cekatan, bahkan dia terlihat sangat ahli.
Luna menghampiri Zian yang sepertinya sudah menyadari kedatangannya. "Pagi," sapa Luna dengan senyum terbaiknya. Kemudian dia berdiri di samping Zian, pemuda itu masih memakai pakaian yang sama seperti yang dia pakai semalam.
Zian melirik Luna dari ekor matanya. "Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Zian seraya melirik gadis disampingnya.
"Sangat nyenyak. Oya, Zian. Boleh tidak aku meminjam ponselmu? Ponselku hilang dan aku harus menghubungi kakakku,"
"Tentu, ponselku ada di atas meja ruang keluarga. Kau bisa memakainya." Luna tersenyum.
"Terimakasih, Zian. Sungguh, kau memang dewa penolongku. Dan aku banyak berhutang padamu,"
"Kau terlalu berlebihan, Nona. Segera hubungi kakakmu sebelum dia semakin mencemaskanmu, setelah ini kita sarapan sama-sama," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Dengan senang hati,"
-
__ADS_1
Bersambung.