Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 59 "Bukan Barang Yang Harus dibagi-bagi"


__ADS_3

Senna dan Herny memicingkan matanya melihat wajah muram Rio, Satya dan Frans. Sejak semalam ketiga pemuda itu terus saja diam. Senna yang penasaran langsung menanyakan langsung pada mereka bertiga "Sebenarnya ada apa dengan kalian? Kenapa dari semalam kalian terus murung seperti ini?" tanyanya penuh keheranan.


"Ibu, kami tidak memiliki mainan lagi. Karna paman Nathan sudah membunuh mainan kami kemarin, dan rasanya hidup kami sudah tidak menyenangkan lagi." ujar Rio sambil mencerutkan bibirnya.


Senna memicingkan matanya. "Mainan? Dibunuh Nathan? Apa maksudmu?" tanyanya bingung.


Satya mendesah berat. "Leo Ardinara, padahal dia mainan favorite kami, rasanya ada yang kurang dalam hidup ini tanpa menjahilinya." Sahut Satya menimpali.


Senna dan Henry saling bertukar pandang dan menepuk jidatnya masing-masing. "Aku fikir ada apa, jadi karna hal itu. Bukankah masih banyak orang yang bisa kalian kerjadi kecuali aku dan Ibumu, mungkin Nathan bisa jadi target kenakalan kalian yang selanjutnya." Ucap Henry memberi usul. Mereka bertiga pun langsung menggeleng dengan kompak.


"Tidak mau, mengerjai Nathan hyung sama saja dengan bunuh diri. Jangankan mengerjainya, melihat tatapannya saja sudah membuat kami merinding." Ujar Frans menimpali. "Kami tidak ingin membangunkan seekor Singa yang sedang kelaparan," imbuhnya.


"BWAHAHAHHA." Tawa Henry pun pecah seketika. "Aku hanya bercanda, tapi kenapa kalian menanggapinya begitu serius? Dan lagi pula siapa yang berani bermain-main dengan Iblis berwajah malaikat seperti dia." Ujarnya "Sudah tidak perlu permasalahkan hal itu, sebaiknya kalian segera bersiap untuk kulian dan sekolah jika tidak ingin mendapatkan masalah dari paman kalian."


Dengn lemas ketiga pemuda itu berjalan lunglai menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Kuliah dan sekolah adalah sesuatu yang paling mereka benci, mereka lebih suka bermain dari pada harus menguras otaknya hanya untuk belajar. Karna tisak ingin mendapatkan masalah dari Nathan, jadinya mereka tidak memiliki pilihan. Senna mendesah seraya menggelengkan kepalanya. "Kapan mereka bertiga bisa bersikap dewasa." Ucapnya


"Ry, kau tidak berencana untuk pergi ke kantor hari ini? Kenapa masih bersantai di rumah?"


"Aku akan menemani Tiffany untuk Fitting gaun pengantin. Lalu bagaimana dengan kau sendiri, Kak? Apa kau tidak pergi bekerja?" tanya Henry seraya menutup koran paginya.


Senna meletakkan secangkir kopi di depan Henry. "Kakak ada operasi siang ini, sebenarnya itu adalah tugas Viona tapi Kakak mengambil alihnya karna keadaan Nathan saat ini." Henry mengangguk paham. "Kakak mau siap-siap dulu." ucapnya dan berlalu begitu saja.


-


Suara burung berbunyi nyaring menyambut datangnya sang mentari di pagi yang cerah ini, berusaha untuk membangunkan setiap insan manusia yang masih nyaman terlelap di atas ranjang empuknya supaya tidak melewatkan momen terindah yang tercetak jelas pada saat pagi hari seperti ini.


Jam dinding baru menunjukkan pukul 5 pagi tapi Viona sudah bangun dari tidurnya, lama ia duduk di tempat tidurnya membayangkan kembali kejadian mengerikan yang menimpa suaminya. Perut Viona terasa ngilu saat membayangkan ketika mata kiri Nathan di tusuk dengan sebuah belati oleh Derry. Viona tidak tau bagaimana kesakitannya Nathan pada saat itu.


Kemudian Viona menggulirkan pandangannya pada sosok yang sedang berbaring di samping kanannya. Mata kirinya tertutup perban, dan noda merah pada perban itu menandakan jika lukanya masih baru.


Kedua mata Viona tiba-tiba memanas, hatinya terasa perih melihat keadaan suaminya yang jauh dari kata baik-baik saja. Dan memangnya istri mana yang akan baik-baik saja ketika melihat suaminya terluka.


Viona mendesah berat, wanita itu beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Dokter cantik itu hendak menyiapkan sarapan untuk dirinya juga Nathan.


Wajah Viona terlihat lebih fress meskipun sembab pada wajahnya akibat terlalu lama menangis semalam masih belum hilang. Dan setibanya di luar, Viona mendapati Nathan sudah bangun dan sedang bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Oppa, kau sudah bangun?" Viona menghampiri Nathan kemudian duduk disampingnya. "Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita," ucap Viona kemudian bangkit dari duduknya.


Viona hendak pergi tapi cengkraman Nathan pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Kau tidak usah masak, kita sarapan dengan roti saja. Kau terlihat lelah, aku tidak ingin jika kau sampai jatuh sakit." Ujar Nathan.


"Kau yakin mau sarapan dengan roti saja?" Nathan mengangguk.


"Baiklah kalau begitu."


"Sebaiknya kita tidur lagi saja. Ini masih terlalu pagi untuk melakukan aktifitas," Nathan menuntun Viona untuk kembali berbaring.

__ADS_1


Dan Viona yang dasarnya tidak bisa tidur setelah bangun tak kunjung bisa menutup matanya meskipun tubunnya berada dalam dekapan Nathan. Nathan terlihat menutup mata kanannya, hanya sekedar menutup mata saja. Sebenarnya Nathan juga tidak bisa tidur lagi.


Viona mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nathan. "Oppa, apa kau benar-benar sudah tidur?" tanya Viona memastikan. Nathan tidak menjawab dan sebagai gantinya pria itu membuka mata kanannya. "Perbannya basah oleh darah dan keringat, sebaiknya di ganti saja." Saran Viona memberi usul.


"Hn, terserah dirimu. Bagaimana baiknya saja,"


"Aku akan mengambil perlengkapannya dulu," ucap Viona, Nathan mengangguk.


Tak sampai lima menit wanita itu kembali dengan sebuah kotak obat ditangannya. Viona hendak mengganti perban pada mata kiri Nathan, tulang pipi serta lengannya. Perban itu sudah lebih dari 6 jam dan memang sudah waktunya di ganti.


Viona terpaku setelah perban itu di buka. Air matanya jatuh perlahan dan membasahi wajah cantiknya. Hatinya rasanya seperti di remas-remas melihat kondisi mata kiri Nathan sekarang. Bola matanya diangkat dan dua kelopaknya di jahit menyatu, ada bekas luka pada kelopak atasnya yang sudah di jahit juga.


Viona tak menyangka jika keadaan mata kiri Nathan ternyata separah itu. Yang artinya memang sudah tidak ada harapan mata itu untuk sembuh, mata kiri Nathan cacat permanent. Dan sepanjang hidupnya Nathan harus terbiasa dengan satu mata saja yang berfungsi.


"Apa yang kau tangisi?" ucap Nathan seraya menghapus air mata dari pipi Viona. Wanita itu menggeleng samar.


"Tidak apa-apa, hanya saja kedua mataku tiba-tiba kelilipan angin makanya sampai keluar air mata." Dustanya, dan Viona tetap memaksakan diri untuk tetap tersenyum meskipun hatinya dalam keadaan hancur. "Aku akan menyelesaikannya sekarang juga,"


"Hari ini kau tidak pergi kerumah sakit? Aku akan mengantarkanmu," ucap Nathan yang kemudian di balas gelengan oleh Viona.


"Aku mengambil cuti sampai beberapa minggu ke depan, aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, dan kak Senna juga menyarankan agar aku fokus padamu saja," jawab Viona menuturkan.


"Hn, apakah sudah selesai?" Viona mengangguk. "Kalau begitu tutup kembali mata sialan ini dengan perban," perintah Nathan yang kemuduan di balas anggukan oleh Viona. "Oya, Vi. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, sebaiknya kita cari ART saja, aku tidak tega jika semua pekerjaan rumah harus kau kerjakan sendiri. Dan aku tidak ingin mendengar kata tidak! Aku akan meminta bantuan Senna nunna untuk mencarikan ART, dia lebih berpengalaman dalam hal ini," tutur Nathan.


"Akhirnya kau mengerti juga. Buatkan aku kopi, aku akan segera turun setelah ini," Viona mengangguk kemudian beranjak dan melenggang pergi meninggalkan.


.


.


.


BRAKKK...


Dobrakkan keras pada pintu mengejutkan Viona yang sedang membut kopi di dapur. Wanita itu beranjak dan mendapati Cherly berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tapi sayangnya Viona tak membiarkannya.


"Mau kemana kau?" Viona menahan pergelangan tangan Cherly dan membuat langkahnya terhenti.


Cherly menyentak tangan Viona dan menatapnya tajam. "Bukan urusanmu, sebaiknya kau tidak ikut campur karna aku datang untuk bertemu Nathan oppa,"


"Tapi aku tidak akan membiarkannya!! Aku tidak akan mengijinkan wanita lain menemui suamiku kecuali Senna eonni, apalagi orang itu adalah mahluk tak tau malu sepertimu!!"


"KAU!!"


Plakk...!!

__ADS_1


Viona menahan lengan Cherly saat wanita itu mengangkat tangannya dan hendak menamparnya. Viona menghempaskan tangan Cherly kemudian balik menamparnya dengan keras. Saking kerasnya tamparan itu sampai membuat wajah Cherly menoleh ke samping.


"Aahhh," Cherly menjerit karna tarikkan Viona pada rambutnya serta cekikkan pada lehernya. "A-apa yang kau lakukan? Le-lepaskan aku jala**," pinta Cherly menuntut.


"Ini hanya peringatan kecil untukmu. Jangan coba-coba untuk mengganggu dan mendekati suamiku lagi jika kau tidak ingin nyawamu berakhir secara mengenaskan ditanganku," ucap Viona memperingatkan.


Cherly mendorong Viona hingga wanita itu terhuyung kebelakang. "Siapa kau berani memerintahku? Aku adalah kekasih Nathan oppa sebelum dirimu, jadi siapa sekarang yang posisinya sebagai perebut kekasih orang?" tanya Cherly meremehkan.


"Benarkah? Bukankah kebersamaan kalian karna sebuah kesalahan ya? Tanpa kau menjebaknya terlebih dulu, apakah kau dan dia bisa menjadi pasangan kekasih? Aku rasa tidak!! Dan yang namanya jala** , tetap saja jala**. Menggelikan," sinis Viona meremehkan.


"Tutup mulutmu itu jika kau tidak ingin aku sampai merobeknya!!" amuk Cherly dengan suara meninggi.


"Cherly Park, cukup!!" tegas sebuah suara dari arah tangga. Sontak saja Cherly menoleh dan mendapati Nathan berjalan menuruni tangga.


Buru-buru Cherly membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat sebuah perban berukuran lebar dan lumayan tebal menutup mata kiri Nathan. Mengabaikan Viona, Cherly menghampiri Nathan. "O-oppa, matamu?" lirih Cherly. Wanita itu menakup wajah Nathan dan menatap luka tertutup perban itu sedikit berlama-lama.


"Apa yang kau lakukan? Jauhkan tanganmu dari wajah suamiku," amuk Viona memudian menarik Cherly dan menghempaskannya hingga wanita itu terjerambat di lantai. "Berhentilah menjadi wanita murahan, Park Cherly. Bukankah Nathan Oppa sendiri yang sudah membuangmu, tapi kenapa kau malah bersikeras untuk tetap mendekatinya? Apakah urat malumu sebagai seorang wanita sudah putus?" lanjutnya.


"DIAM KAU,JALA**!!" teriak Cherly penuh emosi.


Diam-diam Cherly mengeluarkan sebuah belati dari dalam tasnya lalu membawanya pada Viona. Saat ini posisi Viona memunggungi Cherly sehingga dia tidak tau jika wanita itu hendak mencelakainya. Mata kanan Nathan membelalak melihat Cherly mengangkat belati ditangannya dan...


JLEB...


"OPPA!" jerit Viona saat menyadari Nathan tertusuk belati yang akan Cherly gunakan untuk melukai dirinya. Akibatnya bahu Nathan lah yang terluka. Nathan menukar posisinya dengan Viona untuk melindunginya. "Kau," geram Viona sembari menatap Cherly marah.


Cherly yang panik langsung membuang belatinya kemudjan melarikan diri. Viona hendak mengejarnya tapi dihentikan oleh Nathan. "Sudah biarkan saja, tidak perlu di kejar."


"Oppa, kau terluka. Sebaiknya kita obati dulu saja lukanya. Aku takut jika lukanya sampai parah," Nathan tidak memberikan jawaban apa-apa. Dan sebagai gantinya dia menganggukan kepala.


.


.


Viona bisa menghela nafas lega karna ternyata lukanya tidak terlalu parah juga tidak dalam. Yang itu artinya Viona tidak perlu menjahitnya. "Bisa tolong ambilkan kemeja untukku? Yang lengan terbuka saja," Viona mengangguk.


"Aku benar-benar tidak habis fikir dengan wanita itu. Bagaimana bisa dia sampai bertindak sejauh itu hanya karna sesuatu yang jelas-jelas tabuh. Memang benar kata orang, jika cinta itu bisa membuat orang menjadi buta dan tolol, Cherly contohnya. Apa dia fikir di dunia ini sudah tidak ada pria lain apa? Kenapa harus suami orang coba? Bukankah itu sangat menjengkelkan?" ujar Viona panjang lebar.


Viona benar-benar di buat kesal setengah mati oleh Cherly. Dan dia bersumpah akan membotaki kepalanya jika sekali lagi Cherly berani menggoda suaminya. Viona akan memastikan jika wanita itu akan menyesal seumur hidupnya karna sudah berani mencari maslah dengannya.


Viona tidak akan membiarkan wanita mana pun mendekati suaminya, terutama orang itu adalah Chery. Karna Nathan adalah miliknya, hanya miliknya. Dan sebenarnya Viona bukanlah tipe wanita yang pelit dan perhitungan apalagi tidak suka membagi miliknya dengan orang asing. Tapi saat ini lain lagi ceritanya. Lagi pula suaminya bukanlah barang yang harus di bagi-bagi.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2