Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 39 "Jati Diri Viona"


__ADS_3

"Bagaimana jika aku menolak untuk menerima kalian untuk menjadi bagian dari Phoenix?"


Nathan menatap keempat pria dihadapannya secara bergantian. Sorot matanya begitu dingin dan tatapannya tajam penuh intimidasi membuat salah satu dari keempat pria itu sampai menelan ludah hingga dia berfikir apakah pria dihadapannya itu manusia atau Iblis. Dia fikir nonanya adalah satu-satunya orang yang paling mengerikan yang pernah dia temui dalam hidupnya, tapi siapa yang menyangka jika pria dihadapannya ini justru 1000 kali lebih mengerikan dari nonanya.


"Tolong fikirkan baik-baik, Tuan. Kami berempat akan mendapatkan masalah besar dari Nona jika Anda sampai menolaknya!!" jawab Alex mewakili ketiga rekannya.


"Katakan saja pada Nonamu itu jika aku tidak tertarik. Dan lagi pula orang-orang yang aku miliki sekarang lebih dari cukup dan aku tidak berniat untuk merekrut orang lagi. Viona, kita pergi!!"


"Apa yang harus kami lakukan supaya Anda mau menerima kami, Tuan!! Apapun akan kami lakukan untuk membuktikan jika kami memang layak untuk Anda pertimbangkan!!"


Nathan menghentikan langkahnya setelah mendengar seruan keras Alex. Nathan melepaskan genggamannya pada tangan Viona lalu menghampiri mereka bertiga. Tatapannya tetap datar dengan sorot mata yang dingin dan tajam. Nathan melemparkan sebuah pistol pada Alex. "Tempat dirimu sendiri maka aku akan mempertimbangkan kalian!!" Nathan menarik sudut bibirnya dan menyeringai tipis.


"Baiklah, Tuan. Jika itu bisa membuktikan, maka akan saya lakukan. Saya rela mati dihadapan Anda detik ini juga,"


"Alex!! Jangan," teriak Viona melihat Alex mengangkat senjata ditangannya dan mengarahkan pada kepalanya sendiri. "Aku perintahkan cepat turunkan senjata itu sekarang juga!!" teriak Viona sekali lagi.


Awalnya Viona ingin merahasiakan jati dirinya dari Nathan, tapi melihat apa yang Nathan lakukan pada mereka berempat membuat Viona tidak memiliki pilihan.


"Nona,"


"Nathan Lu, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau melakukan hal ini pada orangku!!" tegas Viona dengan wajah penuh air mata.


Meskipun hanya satu detik, keterkejutan tampak jelas pada raut wajah Nathan yang sekarang kembali datar. "Orangmu? Apa maksudmu?" tanya Nathan meminta penjelasan.


Viona menghampiri Nathan seraya menyibak rambut panjangnya hingga terpihat tatto mawar berwarna hitam di bahu kirinya. Lalu Viona menarik lengan Alex dan menunjukkan tatto yang sama pada pergelangan lengan kirinya. "Nona yang dia maksud adalah aku. Aku adalah orang yang meminta mereka untuk bekerja padamu,"


"Apa maksudmu?" tanya Nathan meminta penjelasan.


Viona menarik nafas panjang dan menghelanya. "Aku adalah putri dari pendiri organisasi Black Rose. Sejak Ayahku meninggal, kekuasaan Black Rose diambil alih oleh Derry Ardinata. Dia menarik semua anggota Black Rose untuk berdiri dipihaknya dengan iming-iming uang yang sangat besar. Kemudian nama Black Rose di ubah, begitu pula dengan aturannya. Derry menjadi sangat berkuasa pada saat itu. Dia menjadi pemimpin yang paling di segani dan cukup ditakuti, dia menjalankan bisnis ilegal dengan memperjual-belikan manusia. Mereka menculik anak-anak jalanan untuk dirawat sampai mereka cukup umur untuk di ambil organ dalamnya lalu diperjualbelikan di pasar gelap." Viona mengambil jeda sejenak.


Wanita itu menutup matanya yang mulai memanas. "Sejak kecil aku mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari Derry Ardinata. Saat tidak ada orang dia selalu menyiksaku dan memperlakukan diriku dengan buruk. Menjadikan tubuhku sebagai samsak untuk pelampiasan amarahnya. Pada saat itu usiaku masih 15 tahun. Jangankan untuk melawan, untuk menatap matanya saja aku tidak berani. Dua tahun kemudian mereka berempat datang dan membawaku pergi dari kediaman Ardinata, sedikitnya 50 anak buah Derry Ardinata yang berhasil mereka habisi. Dan sejak saat itu aku mendengar jika Ardinata mulai kehilangan taringnya di dunia mafia, apalagi sejak munculnya organisasi baru yang menurut orang pemimpinnya adalah pria muda namun berbahaya." Viona menyeka air matanya yang tumpah dan membasahi wajah cantiknya.


Viona menerawang, mencoba untuk kembali ke beberapa tahun yang lalu. "Selama tiga tahun mereka berempatlah yang menggembleng diriku dengan keras. Mengubah sosok Viona yang lemah menjadi sosok Viona yang lebih kuat dan lebih pemberani. Dan berkat mereka aku bisa mewujudkan cita-citaku menjadi seorang Dokter bedah. Rumah yang aku tinggali selama ini adalah satu-satunya peninggalan milik Ayah yang berhasil mereka selamatkan."


"Dan mengenai perjodohan itu?"


Viona berbalik, posisinya dan Nathan saling berhadap. "Dia datang dengan sebuah surat lengkap dengan tanda tangan Ayah. Dalam surat itu disebutkan jika aku harus menikahi Leo Ardinata, dan itu sebagai permintaan terakhir mereka. Dalam surat itu Ayah mengatakan jika telah menitipkan aku pada keluarga Ardinata, dan satu-satunya orang yang pantas bersanding denganku adalah Leo. Aku ingin sekali menolaknya, tapi isi dalam surat wasiat itulah yang membuatku di lemah. Dan aku tidak memiliki pilihan lain selain menerima dia sebagai calon suamiku!!"


Nathan maju dua langkah ke depan dan merengkuh Viona ke dalam pelukkannya. Menjadikan kepala coklatnya sebagai tumpuan dagunya. Nathan merasakan kedua netranya memanas, dia tidak tau jika wanita dalam pelukkannya ini mengalami hidup yang begitu sulit. Dan ternyata di balik sifat hangatnya dan kebaikkan hatinya tersimpan luka yang begitu dalam serta bersemayam sosok lain yang tidak pernah diketahui orang lain termasuk dirinya, sebelum hari ini.


Nathan membuka kembali kedua matanya, sorot matanya berubah tajam dan terlihat berbahaya. Tangannya terkepal kuat, dan Nathan bersumpah akan menghancurkan Derry sehancur-hancurnya. Nathan akan membuat dia merasakan nerakanya dunia. Dia akan membalas setiap luka dan setiap tetes air mata yang jatuh dari pelupuk mata Viona, Nathan tidak akan pernah melepaskannya.


"Sekarang aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menolak kalian berempat. Bukan aku yang harus kalian lindungi, tapi Nona kalian ini. Dan mulai sekarang kalian adalah bagian dari Phoenix!!"


"Terimakasih, Tuan."


"Tolong, siapa pun tolong. Istriku akan segera melahirkan,"

__ADS_1


Perhatian mereka berenam teralihkan oleh teriakkan seorang pria yang terdengar begitu panik. Tanpa menghiraukan Nathan dan yang lain, Viona langsung menghampiri meja pria itu. Di sana ada seorang wanita yang sedang hamil besar dan sepertinya wanita itu akan segera melahirkan.


"Air ketubannya sudah pecah, sudah tidak ada waktu lagi untuk membawanya ke rumah sakit. Nyonya ini akan segera melahirkan, kepala bayinya juga sudah terlihat,"


"Bagaimana Anda bisa tau, Nona?" tanya suami si ibu hamil.


Viona mengangkat wajahnya. "Karna saya adalah Dokter!" jawabnya.


Seorang pria dan wanita terlihat menghampiri si ibu hamil dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. "Ini bukan rumah sakit apalagi panti sosial, jika Anda ingin melahirkan sebaiknya jangan di sini. Pergilah dari restoran ini, aku tidak ingin restoran ini dikotori oleh darah wanita seperti Anda. Jadi pergilah!!!" pinta angkuh seorang wanita yang diketahui sebagai Manager restoran.


Sontak saja Viona mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu dengan pandangan tak percaya. "Apa Anda sadar dengan apa yang Anda katakan, Nyonya? Wanita ini hampir melahirkan dan kau malah mengusirnya? Di mana hati nuranimu sebagai seorang wanita?"


"Terserah apa kata Anda. Sebaiknya pergi sekarang sebelum saya memanggil keamanan!!"


"Nyonya, saya mohon biarkan istri saya melahirkan di sini. Bayi kami hampir saja keluar, akan sangat beresiko jika kami membawanya pergi sekarang," mohon suami si Ibu hamil.


"Tidak!! Sekali tidak tetap tidak!! Jadi pergilah sekarang, dan bawa wanita ini pergi dari sini!!:


"Mereka tidak akan kemana-mana," sahut seseorang dari arah belakang.


Mata wanita itu membelalak. "Tu-Tuan Lu?"


"Oppa," seru Viona.


"Lakukan persalinannya sekarang juga!! Ibu dan bayinya harus sama-sama selamat," Viona mengangguk.


"Kami siap membantu Dokter,"


Viona tersenyum lembut. "Baiklah, terimakasih,"


-


Ooeee... Ooeee....


Dan setelah proses panjang yang dramatis, akhirnya si jabang bayi pun lahir. Bukan hanya satu bayi saja, tapi sepasang bayi kembar. Viona menyeka peluh dari keningnya dan menghela nafas lega. Wanita itu bangkit dari posisinya dan menghampiri Nathan. Sedangkan Ibu dan bayinya langsung di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.


"Kerja bagus, Sayang," ucap Nathan, satu kecupan mendarat pada keningnya. Kemudian Nathan membawa Viona ke dalam pelukkannya.


"Terimakasih, Oppa," wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan suaminya. "Aku sangat lelah, bisakah kita kembali sekarang?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan wajah memelas.


Nathan mengangguk. "Baiklah,"


-


"BOCAH SETAN!!! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI KALIAN,"


Leo tidak dapat mengontrol dirinya dan mengendalikan kemarahannya. Baru saja dia dipermalukan didepan semua rekan bisnisnya oleh Rio, Satya dan Frans. Rasanya Leo tidak memiliki muka lagi di depan mereka semua. Bagaimana tidak? Bahan yang telah dia siapkan untuk meeting hari ini sejak beberapa hari lalu ditukar oleh ketiga pemuda itu. Leo tidak memiliki kecurigaan apa pun karna warna, bentuk dan bahan mapnya sama dengan miliknya yang asli.

__ADS_1


Di sisi lain, Derry hampir saja terkena serangan jantung dadakan setelah mengetahui data-data penting perusahaannya kembali dicuri oleh seorang Hacker misterius, alhasil saham perusahaannya mengalami penurunan hingga 38% dan hal itu masih beelanjut.


Derry telah mengerahkan seluruh tehnisi terbaik yang di miliki perusahaannya namun tetap tidak bisa mengatasi virus yang masuk. Derry tidak tau sehebat dan secerdas apa Hacker yang menyerangnya hingga keberadaannya dan identitas dirinya sangat sulit terlacak. Jerry benar-benar putus asa menghadapi masalah yang terjadi dan menyerangnya secara bertubi-tubi.


Sementara itu. Satya, Frans dan Rio langsung muncul diruangan Leo membuat laki-laki bermarga Ardinata tersebut terkejut setengah mati.


"Yakkk!! Kalian bertiga..."


"Kenapa, Paman? Bukankah kau yang memanggil kami?" ucap Rio dengan polosnya.


"Apa kau begitu merundukan kami, Hyung? Sampai-sampai kau memanggil kami padahal baru beberapa jam kita tidak bertemu dan satu lagi, kami sangat menyukai panggilanmu itu 'Bocah Setan' aku anggap itu sebagai panggilan kesayangan untuk kami."


"Kaliaaaaannnn...!!"


Huuppp!!


Rio segera membungkam mulut Leo dengan sepotong makanan yang dia beli dipinggir jalanan saat dalam perjalanan kekantor Leo tadi. "Paman, jangan marah-marah terus. Kau bisa kekurangan tenaga, jadi lebih baik makan dulu ne." ujarnya.


"I-ini, sa-ngat pedas. Yaaakkkk, apa kalian ingin membuatku sakit per..... huuupp." kali ini Satya yang membungkam mulut Leo sebelum laki-laki itu semakin banyak bicara. "Yaaakkk."


"Tidak baik bicara saat makan, hyung. Apa lagi berteriak seperti itu, jadi makan dulu saja dengan tenang. Bukankah kami selalu baik padamu meskipun kau selalu kejam pada kami." Satya mengedipkan sebelah matanya pada Leo.


Wajah Leo memerah dan nafasnya naik turun tidak beraturan, hidungnya kembang kempis dan matanya menatap tajam ketiga pemuda itu. "KALIAAANNN... KELUAR DARI RUANGANKU, SEKARANG!!" kemarahan Leo benar-benar memuncak dan tidak terkendalikan lagi.


Alih-alih pergi, ketiganya malah mengangkat tubuh Leo dan membawanya menuju sofa. "Yaaakkk!! Kalian, apa yang kalian lakukan? Turunkan akuuuu." teriaknya menuntut.


Brakkk!!!


"Aaahhhh... pantatku. Kalian, setaaannnnn..."


"Ups, Maaf Paman. Lagi pula bukankah kau sendiri yang meninta pada kami untuk menurunkanmu." Rio mentap Leo polos.


"Tapi bukan dengan cara dijatuhkan, bodoh. Ahhh pantat dan pinggangku sakit," mata Leo membelalak melihat guci giok kesayangannya dan satu-satunya miliknya yang tersisa berada ditangan Rio. "Yakkk!! Bocah letakkan kembali guci itu."


"Omo!!!"


Praakkk!!!


Guci itu jatuh dan hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Rio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu bukan salahku, Paman. Kau yang mengejutkanku." ujarnya tanpa dosa.


Leo menggepalkan tangannya dan kemarahan berkobar di matanya. "TUHAN!!! APA SALAHKU? SAMPAI-SAMPAI KAU MENGIRIMKAN TIGA SETAN INI, HUAAAAA... CABUT SAJA NYAWAKU DARI PADA KAU MEMBERIKANKU UJIAN SEBERAT INI." teriak Leo begitu frustasi.


Bukannya merasa bersalah. Ketiga pemuda itu malah merasa senang karna telah membuat Leo menjadi semakin stres dan ini bukanlah akhir. Penderitaan Leo akan terus berlanjut sampai dia merasa tidak sanggup lagi dan menyadari karna telah mencari masalah serta berurusan dengan orang yang salah.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2