
"Hatiku gembira, riang tak terkira,
karena akhirnya bisa pergi piknik juga.
Oh, senangnya,"
Suasana di dalam bus itu tak pernah hening apalagi dengan tingkah kocak trio kadal yang selalu menghangatkan suasana. Rio, Frans dan Satya terus bernyanyi sepanjang jalan menuju bukit angin.
Nathan dan Viona sepakat untuk menyewa sebuah bus pariwisata lengkap dengan fasilitas mewahnya. Alasan Nathan dan Viona adalah kebersamaan, selain itu mereka tidak perlu menggunakan mobil terpisah.
"Rio, Frans, Satya, kalian sangat berisik!!" omel Bima kesel. Bima sedang kesal setengah mati karna lagi-lagi dirinya menjadi koban kejahilan trio kadal, dan sekarang ditambah tingkah autis mereka yang membuatnya semakin naik darah.
"Yeee.. Suka-suka kami lah, kalau Paman tiang tidak suka, ya jangan di dengar lah," sinis Rio menimpali. "Paman, ayo kita bernyanyi lagi..."
"AYOO!!"
"Pergi piknik bersuka cita, hati bahagia tak terkira, burung-burung pun ikut merasakannya. Oh, bahagianya... Yeee.."
"Paman, aku lapar. Tau begitu aku tadi sarapan dulu seharusnya! Karna terlalu bersemangat aku jadi mengabaikan perutku," celetuk Rio sambil mengusap perutnya. Tiba-tiba dia merasa kelaparan.
"Sama, aku juga!" timpal Satya dengan bunyi perut keroncongannya.
"Kalian bertiga mau makan?" tawar Luna sambil menunjukkab cake coklat miliknya, yang kenudian disambut dengan tetesan-tetesan liur dari trio kadal.
"Sikat!" teriak ketiganya dengan sangat kompak. Mereka pun langsung menyerbu kue-kue tersebut dengan ganas. Sedangkan Luna hanya bisa mendengus melihat tingkah mereka bertiga.
Nathan dan Zian yang duduk bersebelahan terlihat seperti pria kembar. Wajah mereka yang bak pinang di belah dua membuat keduanya sulit untuk di bedakan, mana yang Nathan dan mana yang Zian bagi mereka yang tidak mengenal mereka dengan baik.
Semirip apapun mereka berdua. Tentu masih ada perbedaannya yang mencolok. Nathan tidak memiliki tahi lalat di wajahnya, sedangkan Zian punya, tahi lalat Zian di kening sebelah kanannya. Meskipun ukurannya sangat kecil, tapi tahi lalat tersebut tetap bisa terlihat dari jarak dekat.
Awalnya Zian tidak percaya saat Luna mengatakan jika dia sangat mirip dengan kakak iparnya. Zian fikir gadis barbar itu hanya asal bicara. Tapi setelah bertemu langsung dengan Nathan malam itu, ia baru percaya jika Luna mengatakan yang sebenarnya. Dia benar-benar mirip dengan Nathan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Luna? Apa kalian berdua berkencan?" tanya Nathan memecah keheningan.
Zian menggeleng. "Tidak, kami berdua hanya berteman," jawabnya.
"Kalian terlihat serasi, kenapa tidak mencoba memulai hubungan saja?" ucap Nathan.
Zian menoleh. Membuat dua pasang mutiara berbeda warna itu saling bersiborok, kemudian pandangan Zian bergulir pada Luna yang sedang bergurau dengan Laurent.
"Sebuah hubungan di mulai atas dasar cinta sama cinta, seperti kau dan Viona nunna. Kalian membuat komitmen karna kalian saling mecintai, sedangkan antara aku dan Luna... hubungan kami tidaklah serekat itu. Ada dinding tak kasat mata yang menjadi pembatas antara aku dan dia. Sudah ada orang lain di hati Luna," ujar Zian.
Zian menggulirkan pandangannya pada jendela kaca disamping kanannya. Raut wajahnya berubah sendu, memang tidak seharusnya dia mengharapkan lebih. Zian sadar diri jika dirinya bukanlah pria yang baik untuk Luna, apalagi dia memiliki masa lalu yang sangat kelam.
"Dari mana kau bisa tau jika di hati Luna sudah ada orang lain?" tanya Nathan memicingkan mata.
"Aku pernah secara tidak sengaja membaca diary, Luna. Luna mencintai kakak tirinya, dia adalah cinta pertama Luna dan mungkin akan menjadi cinta terakhirnya. Apalagi Dean dan Miranda tidak jadi menikah, dan hal itu bukankah semakin membuka lebar kesempatan Luna untuk mendapatkan cintanya Dean?" Zian menatap Nathan yang juga menatap padanya.
Nathan menggeleng. "Aku tidak setuju denganmu. Perasaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Begitu pula dengan perasaan Luna. Dan jika kau memang mencintainya, seharusnya kau berjuang untuk mendapatkan hatinya, bukannya menyerah sebelum kau memperjuangkannya!!"
"Baiklah, akan ku coba," Zian tersenyum.
Luna datang mengintrupsi perbincangan kedua pria itu. Setelah meminta ijin pada Nathan. Luna menarik Zian untuk duduk di kuris depan.
Perjalanan panjang mereka membuat Luna merasa lelah dan mengantuk, dan dia membutuhkan bahu Zian sebagai sandarannya. Sedangkan Nathan kembali pada Viona yang sedang memangku Laurent yang sedang tertidur.
"Apa dia sudah tidur?" Viona mengangguk.
"Dia baru saja tidur,"
"Berikan padaku, biar aku saja yang memangkunya," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
Viona memindahkan Laurent yang sedang tertidur pulas dalam dekapannya ke pangkuan Nathan. Sedangkan Lucas sedang tertidur pulas di pangkuan Henry.
Sementara itu. Trio kadal yang sudah kenyang setelah menghabiskan cake milik Luna langsung melanjutkan aksi gilanya, mereka bertiga lanjut menyanyi di bangku paling belakang, ditambah aksi brutal sambil joget-joget tidak jelas di atas bangku.
Dan tingkah konyol mereka tentu saja membuat yang lain hanya bisa mendengus sambil menggelengkan kepala. Bukannya kesal apalagi marah, mereka justru merasa terhibur dengan aksi kocah ketiganya.
CKITTT...
Kedua mata ketiga pemuda itu lantas membelalak saat sang supir tiba-tiba mengerem mendadak. Endingnya mereka bertiga pun pada ambruk semua, nyusruk ke depan. Beruntung mereka langsung melindungi wajah tampannya sehingga wajah tampan mereka aman terkendali.
"Ada apa?" tanya Nathan seraya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sepertinya kita menabrak sesuatu di depan sana," ucap sang sopir.
"Aku akan memeriksanya," ucap Nathan yang kemudian turun di susul Zian, Bima, Henry dan juga trio kadal. Sedangkan Luna, Viona dan si kembar tetap berada di dalam bus.
Di depan sana seorang pria terkapar dengan posisi terlentang. Tapi tak ada luka apalagi darah pada tubuhnya. Nathan mendengus berat. "Bangunlah, aku tidak akan tertipu dengan trik murahan seperti itu," ucap Nathan dengan nada sinis.
Pria itu pun langaung bangun, pria itu terlihat baik-baik saja bahkan dapat berdiri dengan tegap. Dan dia segera memanggil teman-temannya dengan bersiul, memberi kode pada mereka. Sedikitnya tiga puluh pria bersenjata keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sudah ku duga," Nathan menyeringai sinis.
"Serahkan bus itu pada kami jika kalian ingin tetap hidup!!"
"Jika kita menolak bagaimana?" sahut Zian dingin.
Nathan melirik Zian yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Nathan merasakan aura Zian menggelap karna diliputi amarah, Nathan menyeringai. Sepertinya laki-laki disampingnya ini sama-sama berbahayanya dengan dirinya. "Kau sudah siap?" Zian mengangguk.
Dan perkelahian pun tak dapat terhindarkan lagi. Mereka yang hanya bertujuh harus menghadapi lawan yang jumlahnya sekitar 30 orang. Nathan melirik pada Rio, Satya dan Frans. "Kalian kembalilah ke dalam bus dan jangan melibatkan diri dalam perkelahian ini," pinta Nathan yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.
"Baik Hyung//Paman," jawab keduanya dengan kompak.
Clappp.m
Suara berdesing yang ternyata ditimbulkan sebuah pisau lempar itu dielakkan Zian. Senjata itu tidak mengenai sasaran, dan menancap pada sebatang pohon yang berada di sebelah kiri. Belum lagi mereka dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba beberapa dari mereka tersungkur akibat tertancap pisau lempar pada batang leher.
"Sialan! Berani sekali kau membunuh anak buahku!!" teriak salah seorang dari pria-pria itu yang kemungkinan besar adalah pemimpinnya. "Apa yang kalian tunggu? Kenapa kalian diam saja, maju dan habisi mereka semua!!"
"Sebaiknya jangan bermimpi terlalu tinggi, Bung!!", Zian tertawa mengejek. Sementara, kakinya terus melangkah mendekati pria itu berada.
"Bangsat! Tidak semudah itu kalian bisa mengalahkan kami, kalian hanya berempat saja. Dan sebelum menghabisi anak buahku. Langkahi dulu mayatku!" bentak pria itu 'Loki' sambil melompat menghadang langkah Zian.
Dan tanpa banyak bicara lagi, langsung saka digerakkan senjatanya seraya menerjang Zian yang memang sudah siap dalam posisi bertahan.
Sesaat kemudian, mereka pun segera terlibat dalam pertarungan berat sebelah. Karna empat lawan riga puluh. Meskipun mereka hanya berjumlah empat orang saja, tapi kemampuan mereka dalam berkelahi tentu tidak bisa diragukan lagi
Dan meskipun para perampok itu ternyata rata-rata memiliki kemampuan beladiri cukup tinggi. Tapi yang dihadapi adalah Nathan dan teman-temannya, dalam beberapa waktu saja, lebih dari sepuluh orang itu tewas di tangan mereka.
"Brengsek!"
Dorr!
"Sial! Siapkan senjata kalian, aku yakin ia tidak mampu mengelakan berondongan dari senjata kita" perintah Loki, ia sendiri telah mencabut senjata apinya yang terselip dipinggangnya.
Nathan yang berdiri ditempatnya, segera bergerak, gerakannnya sangat cepat ketika berondongan peluru kearahnya. Ia bergerak secara zig-zag, membuat para penembak itu kesusahan membidik sasaran. Sehingga mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk dapat mengimbangi permainan lawan.
"Sial, tembak terus!" teriak Loki memberi perintah.
Loki semakin kaget, ketika beberapa kawan penembak disampingnya itu roboh satu persatu dengan pisau yang menancap di leher dan kepalam
Dorr! Dorr!
Pimpinan perampok itu pun semakin kaget dengan kecepatan lawan-lawannya. Seperti pisau yang dilempar itu sampai Sasaran, yang lain sudah tumbang dengan peluru pistol.
Belum habis rasa kaget Loki, Bima dan Henry tiba tiba sudah berada diantara mereka. Ayunan belati yang dipegang oleh Zian mulai menelan korban lagi
Gerakan yang dilakukan Zian sangat cepat, sehingga banyak dari para perampok itu tidak sempat berbuat apa-apa. Mereka semua tewas hanya dalam waktu yang singkat.
Yang tersisa kini adalah Loki dan beberapa anak buahnya. Dan ia tampak gemetaran melihat bagaimana Nathan dan yang lain ketika beraksi. Selama ini ia hanya mendengar tentang seorang yang bisa membantai puluhan nyawa hanya dalam hitungab detik saja. Tapi kini ia menyaksikan langsung kengerian itu.
Cress!
Loki memberanikan diri untuk menyerang, tapi belum sempat bertindak, lehernya telah robek oleh belati Zian.
Nathan memeriksa beberapa orang yang tewas. "Cih, ternyata para tikus ini hanya kumpulan manusia-manusia tak berotak." Nathan geram dan segera kembali ke dalam bus di susul yang lainnya. Bus itu pun kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karna insiden tersebut.
…
Setelah perjalanan panjang mereka. Akhirnya bus yang Nathan, Viona dan yang lainnya tumpangi tiba di bukit angin. Trio kadal plus Bima sudah turun duluan dan berlari meninggalkan yang lain.
"KYYYAAA!!! AKHIRNYA KITA TIBA JUGA," seru Bima histeris.
Lucas yang melihat tingkah keempat orang dewasa itu hanya memutar matanya jengah. "Cih, dasar norak," bocah laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya lalu melenggang menghampiri Henry yang sedang berbincang dengan Zian.
"Paman Zian, temani aku saja. Aku malas jika hanya sendiri saja. Papa lengket dengan Mama, Laurent bergurau dengan bibi Luna. Sedangkan paman Henry terlalu membosankan. Paman, kau tidak keberatan bukan?" Lucas menatap Zian penuh harap.
__ADS_1
"Tentu, ayo kita jalan-jalan," bocah empat tahun itu menerima uluran tangan Zian dan keduanya berjalan beriringan menuju pohon sakura yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berkumpul.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah satu bulan Nathan dan Viona bisa menjalani hidupnya dengan tenang tanpa ada gangguan, bahkan sekarang banyak waktu yang Nathan miliki untuk kedua buah hati dan istri tercintanya.
Sejak kepergian Doris Lu satu bulan yang lalu di tambah penangkapan Dora karna terbukti melakukan penggelapan dana dan berbagai kejahatan yang dia lakukan selama ini.
Laurent dan Lucas sendiri begitu bahagia dengan banyaknya waktu yang Nathan miliki untuk mereka berdua. Laurent juga begitu manja pada Nathan, tak jarang gadis kecil itu meminta Nathan untuk menggendongnya ketika mau tidur.
Nathan pun tidak merasa keberatan ataupun terbebani dengan permintaan gadis kecil itu. Dengan senang hati Ia melakukannya. Saat ini keluarga kecil itu sedang piknik di sebuah bukit yang sering di sebut oleh orang-orang sebagai 'bukit kincir angin'.
Dan konon jika ada sepasang sejoli berciuman di bukit itu, maka cinta mereka akan abadi.
Tidak hanya keluarga kecil Nathan saja yang berpiknik di bukit itu, ada juga Luna, Zian, Henry, Bima dan trio kadal yang turut ikut berpiknik bersama keluarga kecik nan bahagia tersebut.
Saat ini Laurent tengah bermain kejar-kejaran bersama ketiga pamannya, sedangkan Nathan dan Viona memilih duduk di bawah pohon sambil melihat keceriaan yang terpatri jelas di wajah putri kecil mereka. Lain halnya dengan Laurent, Lucas terlihat asik dengan Zian dan Luna.
Rasanya sudah lama Viona tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Viona tidak mampu lagi menjelaskan dan menggambarkan kebahagiaannya dengan kata-kata. Ia terlalu bahagia.
"Lihatlah, Oppa. Senyum cerita putri kita, aku tidak pernah melihat dia tertawa selepas itu. Dia seperti tidak memiliki beban," ujar Viona memaparkan.
Nathan menoleh, memandang wajah wanita yang duduk di sampingnya, senyum lembut tercetak di wajah tampannya. Nathan melingkarkan tangannya pada pinggang Viona, dan wanita itu menyandarkan kepalanya di atas bahu tegap suaminya.
"Kau benar, melihatnya ceria membuat hatiku menghangat." Viona tersenyum dan kembali memfokuskan pandangannya pada si kecil Laurent dan Lucas secara bergantian.
Viona sedikit membulatkan matanya ketika melihat Laurent berlari kearahnya dengan trio kadal yang mengejar di belakangnya. Viona membuka lebar kedua lengannya, ketika Laurent semakin mendekat.
"Ma, Pa selamatkan Laurent dari tiga raksasa ini. Hahaha,"
"Princess jangan lari, kau harus bermain lagi dengan kami!"
"KYYYYYAAAA,"
Laurent menubruk Viona hingga keduanya terjengkang kebelakang, bukannya menangis. Laurent malah tertawa terbahak-bahak, begitu pula dengan Viona.
Viona menggulingkan tubuh kecil putrinya kemudian menggelitik perutnya. Gadis kecil itu tertawa semakin keras, berguling kesamping dan bersembunyi di dalam pelukan Nathan.
"Pa, selamatkan Laurent dari Mama dan ketiga paman aneh itu. Mereka ingin membuat Laurent ngompol lagi di celana!" jerit Laurent dan berhambur kedalam pelukan ayahnya.
Rio, Satya dan Frans menjatuhkan tubuhnya di samping Viona. Ketiganya sama-sama tidur terlentang dengan wajah menghadap langit. Wajah mereka terlindungi oleh pohon rindang yang menjadi tempat perteduhan.
Tiba-tiba Zian darang sambil membawa sebuah camera yang memang telah Ia siapkan sebelum pergi ke bukit ini.
Laki-laki itu berjalan menghampiri seorang pengunjung lain dan meminta tolong untuk mengambil gambar.
Setelah berbincang singkat. Zian menghampiri yang lain dan meminta mereka untuk berjajar dan bersiap untuk berfoto.
"Ayo semua berkumpul, kita foto bersama!" serunya lantang.
Laurent adalah orang paling semangat ketika mendengar teriakan Zian, sangat berbeda dengan Lucas yang tampak santai-santai saja. Segera Ia menarik ayah dan Ibunya untuk berdiri.
Nathan mengangkat tubuh mungil putranya dan mendudukkan di atas punggung Satya yang merunduk. Sedangkan Laurent duduk dipanggul oleh Henry.
Bocah kecil itu di tempatkan di antara Rio dan Frans. Zian berdiri di samping Nathan, Luna di samping Zian. Intinya kedua pria tampan itu diapit oleh pasangan masing-masing. Sedangkan Bima dan Henry di samping Frans dan Rio.
Mereka semua tersenyum lebar, dalam senyum dan tawa itu hanya terlihat sebuah kebahagiaan yang tidak terukur oleh apa pun. Sayangnya ada duka yang terselip di tengah kebahagiaan itu, kakek Xi tidak ada di antara mereka karna dia memutuskan untuk kembali ke China dan menghabiskan masa tuanya di sana.
Mereka banyak mengabadikan moment itu dan menyimpannya dalam album memory. Semua berakhir dengan indah, begitu pula dengan keluarga kecil Viona. Wanita itu menyeka air mata yang mengalir dari sudut matanya, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah.
Bukan air mata kesedihan lagi yang Ia teteskan hari ini, melain air mata kebahagiaan.
Wanita itu menyeka air matanya ketika melihat putri kecilnya melambai padanya. Segera Ia bergabung bersama yang lainnya. Bermain bersama mereka, dan sebelum pergi menghampiri mereka.
Tak lupa.Viona meletakkan buku hariannya di atas bangku yang semula Ia duduki, ada setangkai mawar merah di atasnya. Semua kisahnya tertulis rapi dalam buku harian itu, kisah awal yang akhirnya menghantarkan Viona pada kebahagiaan abadi.
Dalam hatinya, Vionala tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Tuhan karna memberikan ending yang indah pada hidupnya. Kisah penuh liku-liku dan deraian air mata, semua terbayar lunas oleh kebahagiaan dan suka cita.
Kita memang tidak pernah tau dengan semua rencana Tuhan, karna tidak selamanya hidup yang kita jalani memiliki ending yang menyakitkan. Selama kita percaya miracle itu ada, maka kebahagiaanlah yang akan kita raih dalam hidup ini.
THE END.
Akhirnya kisah Nathan-Viona kelar juga. Dan mulai bab 147, Author mulai ngangkat kisah Luna-Zian. Mulai dari awal pertemuan mereka, kematian Jacksoon sampai gagalnya pernikahan Dean sama Miranda.
Semua di flashback, dan author jamin kisahnya sama serunya dengan kisah Nathan-Viona. Apalagi Zian punya masa lalu yang kelam yang akan Author kuak nantinya. Cinta segitiga, perjuangan, pertarungan, penghianatan dan air mata akan mewarnai kisah Luna-Zian.
__ADS_1