Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 37) "Doa Yang Konyol"


__ADS_3

Pukk...


Luna menoleh saat merasakan tepukan pada bahunya. Bibir ranumnya mengukir senyum tipis melihat siapa yang berdiri dihadapannya. "Zian," panggilnya lirih.


Zian mengambil tempat di samping Luna. Pemuda itu menoleh dan menatap gadis disampingnya itu dengan pandangan sendu. Hatinya seperti terkoyak melihat wajah sendu Luna yang tampak sembab.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Zian memastikan.


Luna menggeleng. "Maaf, Zian. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa dengan menolak ajakanmu. Hanya saja aku belum siap untuk bertemu dengan ibu tirimu. Karna sebenarnya ibu tirimu adalah ibu kandungku, wanita yang sudah menelantarkanku saat aku masih kecil." Ujar Luna panjang lebar.


Gadis itu menundukkan wajahnya. Bulir-bulir air mata mulai bercucuran dari netra indahnya. Zian melihat kesedihan dari sorot mata Luna. "Seharusnya aku yang minta maaf, aku sungguh-sungguh tidak tau. Bukan, tapi karna aku tidak bisa mengingat apapun." Kemudian Zian menarik Luna ke dalam pelukkannya.


Luna menggeleng. "Tidak, Zian. Kau tidak perlu minta maaf. Lagipula aku baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin sekali bersahabat dengan masalaluku, tapi rasanya sangat sulit. Teramat sulit malah. Apalagi masalaluku selalu penuh dengan duka dan air mata," ujar Luna panjang lebar.


Zian menutup mata kanannya. Jari-jarinya mengusap helaian rambut panjang Luna dengan gerakkan naik turun. "Aku bisa memahami betul apa yang kau rasaka, Luna. Tapi masalalu tetaplah masalalu, dan ada saatnya kau harus belajar untuk berdamai dengan masalalumu meskipun itu sangat menyakitkam," tutur Zian.


Luna melonggarkan pelukannya. Wajahnya terlihat sembab dan kedua matanya sedikit memerah. "Gomawo, Zian. Karnamu, sekarang aku merasa lebih baik,"


"Sama-sama,"


Luna beranjak dan meninggalkan Zian beberapa langkah di belakangnya. "Cuaca hari ini sangat mendukung, sepertinya pergi ke pantai adalah pilihan yang sangat tepat." Gadis itu menoleh dan menatap Zian yang masih bertahan dalam posisi yang sama.


"Kau ingin pergi ke pantai?" Luna mengangguk. "Aku rasa bukan ide buruk. Baiklah, aku akan menemanimu." Zian menghampiri Luna yang tengah menatapnya tak percaya


"Jinja? Tapi, bukankah kau sangat membenci pantai? Mungkin kau memang tidak mengingatnya, tapi-"


"Kaja." Zian menyela ucapan Luna sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Luna tidak memberikan jawaban apa-apa, dan sebagai gantinya gadis itu mengangguk.


.


.


.


Mereka berjalan beriringan di tepi pantai. Sejuknya angin yang berhembus cukup kencang membuat rambut panjang Luna yang terurai terus berterbangan karna terjangan angin nakal.


Sesekali gadis itu merapikan rambutnya dengan jari-jarinya, raut wajahnya begitu sumringah sangat berbanding balik dengan Zian yang sejak tadi hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi, stoic.


"Apa kau menyukai laut?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Zian mengakhiri keheningan di antara mereka berdua.


Luna mengangguk. "Aku sering sekali menghabiskan waktuku di tempat ini. Ketika aku merasa sedih dan kosong, aku selalu datang ke sini. Aku membenci keramaian dan tidak menyukai kebisingan, itulah kenapa aku memilih pantai. Karna di sini aku bisa menemukan sebuah ketenangan, dan perasaanku menjadi lebih baik setelah kembali dari sini." Ujarnya panjang lebar.


Zian terdiam untuk beberapa saat, pemuda itu merasa bingung dan ragu. Ia ingin bertanya satu hal pada Luna yang bersikap pribadi tapi dia takut akan menyinggung perasaan gadis itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu? Tapi ini sedikit bersikap pribadi." Luna menatap mata kanan Zian kemudian mengangguk.


"Tentu, aku adalah orang yang terbuka, Zian. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan dan ragu jika ingin bertanya padaku." Jawabnya tersenyum.


"Apa alasan Ibumu mrnrlantarkanmu pada saat itu? Apakah itu karna papaku?" tanya Zian penasaran.


Luna menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, karna ibu tak mengatakan apapun padaku saat itu. Yang aku tau, karier ibu sebagai aktris dan model papan atas hancur setelah dia terlibat sebuah scabdal besar dengan CEO dari Agensi yang menangunginya,"


"Apakah mungkin orang itu adalah papaku?"


"Aku rasa bukan. Karna seingatku mama menjalin banyak hubungan terlarang dengan beberapa CEO dari Agensi yang berbeda-beda. Tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan baik karna pada saat itu usiaku masih sangat belia."


"Luna," panggil Zian dengan suara lirih.


"Hm, ada apa?"


Zian menggeleng. "Tidak apa-apa, lupakan saja,"


Lelah berjalan, Zian memutuskan untuk duduk di atas pasir pantai yang berwarna putih di ikuti Luna yang kemudian duduk disampingnya. Mereka sama-sama menatap ombak lautan yang sesekali bertabrakan dengan batu karang.

__ADS_1


Dan untuk sesaat keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Luna maupun Zian.


Luna menutup matanya dan membiarkan hembusan angin pantai yang serasa sejuk membelai wajahnya melalui sentuhannya. Bibir ranumnya mengulum sebuah senyum tipis yang begitu lembut, memancarkan sebuah pesona yang mampu membuat siapapun akan terdiam ketika melihatnya, tak terkecuali sosok tampan disampingnya.


"Cabtik," satu kata namun penuh dengan jutaan makna terlontar begitu saja dari bibir Zian.


Luna mengangguk. "Kau benar, langit senja memang sangat cantik," ujar Luna menyahuti. Sepertinya Luna benar-benar tidak sadar jika yang dimaksud cantik oleh Zian bukanlah langit senja, melainkan dirinya.


"Bukan langit senja, bodoh. Dasar tidak peka," geram Zian sedikit kesak.


"Hah," Luna tampak cengo dan menatap Zian penuh selidik.


"Lupakan, anggap saja aku hanya asal bicara." Zian melepaskan blazenya dan meletakkan di samping dia duduk. Menyisahkan singlet putih yang melekat pas di tubuh kekarnya.


Glukk!!


Susah payah Luna menelan salivanya ketika matanya berhadapan dengan lengan berotot Zian. Tidak terlalu besar namun terlihat kuat, dan untuk sesaat Luna melupakan bagaimana caranya bernafas saat melihat tribal yang menghiasi lengan kiri pemuda itu. Memang, ini bukan pertama kalinya bagi Luna melihat Zian memakai pakaian tanpa lengan, tapi entah mengapa saat ini rasanya begitu berbeda.


Ingin rasanya Luna menyentuh tribal itu tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan seperti ada sesuatu dihatinya yang menahan dirinya untuk melakukannya.


Melihat Zian yang begitu panas membuat wajah Luna memerah padam. Tak ingin terlalu lama mengalami sport jantung karna pemuda tersebut, gadis itu memutuskan untuk beranjak dari samping Zian.


"Aku akan bermain sebentar di sana." Tunjuknya pada bibir pantai, Zian tidak memberikan jawaban, sebagai gantinya pemuda itu mengangguk.


Zian terlihat mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya dan menyulutnya satu. Dari tempatnya berada, ia bisa melihat dengan jelas Luna yang sedang berlarian di bibir pantai. Zian terus memperhatikan setiap pergerakkan Luna dari tempatnya berada.


Sesekali gadis itu berteriak, tak jarang pula dia tersenyum riang ketika pasir pantai yang bercampir air serasa menggelitit telapak kakinya.


Iris berlensa abu-abu itu tidak jemu menatap pada pemandangan yang jauh lebih indah dari pemandangan pantai dan langit senja. Sosok dara jelita berparas barbie yang tengah bermain dengan ombak adalah objek yang sedari tadi menarik semua atensi Zian.


"Kau memang sangat berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah aku temui di luaran saja, Luna. Kau memang selalu apa adanya, itulah yang membuatku begitu menyukai sosokmu." Ujarnya tanpa mengaluhkan fokusnya.


Zian ingin sekali bisa segera mengingat semuanya. Terutama yang berhubungan dengan Luna. Zian merasa jila dirinya memiliki sebuah janji pada gadis itu yang belum bisa penihi hingga saat ini.


.


.


Saat ini keduanya sedang berada di pinggiran sungai Han, karna lokasinya tidak terlalu jauh dari restoran yang mereka datangi. Keduanya sepakat untuk berjalan kaki dan meninggalkan mobil Zian di restoran.


Suasana canggung terkadang masih kental terasa. Tak jarang mereka saling diam dan bungkam, Luna yang biasanya sangat bawel kehilangan tak jarang sampai kehilangan kata-katanya ketika bersama Zian. Dia tidak tau harus dari mana memulai percakapan dengan pemuda dingin itu, Zian memang terlalu dingin dan kaku, tidak seperti teman-temannya terutama Simon, yang tingkat kebawelannya tidak bisa di ukur lagi. Dan bersama mereka Luna tidak pernah kehabisan topik untuk di bahas.


Tapi masalahnya yang bersamanya saat ini bukanlah salah satu dari mereka melainkan Zian, pemuda tampan namun dingin seperti kutub utara.


Lelah berjalan Luna menghentikan langkahnya kemudian duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang. Udara malam yang semakin dingin membuat tubuh Luna sedikit menggigil.


Beberapa kali terlihat gadis itu mengusap lengannya yang hanya tertutup kain tipis dressnya. Zian yang menyadari hal itu segera melepaskan blazernya dan menyampirkan di atas pundak Luna, menyisahkan singlet putih yang mengikuti lekuk tubuhnya 'Pukk' Gadis itu tersentak merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya, sedetik kemudian seulas senyum menghiasi bibir merah mudanya


"Seharusnya mau membawa kemana pun mantel hangatmu, mengingat jika udara saat ini sangat tidak menentuh," ujar Zian yang hanya di sikapi dengan cengiran tanpa dosa oleh Luna.


Luna melingkarkan kedua tangannya pada lengan Zian kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu. "Zian, ketika ingatanmu sudah kembali. Aku ingin supaya kau bisa menepati janjimu padaku," Luna mengangkat wajahnya membuat lensa berbeda warna milik mereka saling bersiborok.


"Memangnya janji apa yang aku miliki padamu?" Zian mekicingkan mata kanannya dan menatap Luna penasaran.


"Kau akan mengetahuinya setelah kau ingat semuanya. Karna jika aku mengatakannya sekarang ibu malah akan menjadi beban untukmu."


Zian tak lantas menjawab dan malah menatap Luna semakin dalam, dan hal itu membuat Luna menjadi sedikit gelagapan dan gugup setengah mati. "Huaa! Kenapa di sini tiba-tiba menjadi sangat panas? Zian, tunggu sebentar, aku akan pergi membeli minum dulu,"


Perlu aku temani?"


Buru-buru Luna menggeleng. "Tidak perlu, biar aku pergi sendiri saja," Luna menjawab cepat. "Tunggu sebentar, aku tidak akan lama,"


Zian menggulirkan pandangannya ke arah Luna pergi dan menatap punggung mungil itu yang semakin menjauh. Ada getaran aneh di dalam dadanya saat menatap mata coklatnga, getaran yang sudah sangat lama tak pernah Zian rasakan pada siapa pun dan wanita manapun kecuali mantan kekasihnya yang pergi meninggalkan tujuh tahun yang lalu.

__ADS_1


Mungkinkah yang Zian rasakan adalah cinta? Karna selama ini Zian hanya kehilangan ingatannya bukan hatinya.


Dan tidak sampai sepuluh menit siluet gadis Luna terlihat berjalan tergesa-gesa ke arah Zian, dia terlihat beberapa kali hampir terjatuh karna hils yang membalut kakinya. Mata kanan Zian memicing melihat langkah gadis itu terhenti, mulutnya terus berkomat-kamit saat melepaskan sepatunya dan membuangnya begitu saja.


Pemuda itu mendengus geli "Benar-benar gadis yang unik."


"Maaf, aku terlalu lama," ucapnya penuh sesal.


"Lalu kenapa kau bisa telanjang kaki?" tanya Zian penasaran.


Luna menurunkan pandangannya dan terkekeh geli melihat kakinya tidak terbalut apapun. "Aku membuangnya karna hils itu membuatku sedikit kerepotan." Ujarnya memaparkan.


Zian menggelengkan kepalanya, selain penuh kejutan, Luna memang gadis yang unik. Diam-diam Zian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman setipis kertas.


Sreggg!!!


Zian memasang baik-baik pendengarannya dan menajamkan pandangannya saat mendengar pergerakakkan mencurigakan dari balik semak-semak. Zian menemukan sedikitnya dua orang tengah bersembunyi di balik semak-semak itu dan dia sangat yakin bila mereka memiliki niat buruk entah pada dirinya atau Luna.


"Zian, ada apa? Semua baik-baik saja bukan?" Bingung Luna melihat gerak-gerik pemuda itu.


"Ada yang mengintai kita, sebaiknya tetap bersikap biasa saja dan seolah tidak mengetahui apa-apa." Ujarnya tanpa menatap lawan bicaranya, Zian terus mengamati kedua orang itu melalui ekor matanya.


Luna hendak menoleh kebelakang namun segera di tahan oleh Zian. "Jangan menenggok dan tetap menatap ke depan."


"Tapi, Zian. Aku hanya pena...!"


"Ck. Keras kepala sekali sih kau ini!! Percayalah padaku. Tidak akan ada hal buruk yang akan menimpamu. Aku menjamin itu."


Zian beranjak dari duduknya dan hendak pergi dari sana namun segera di hentikan oleh Luna. Zian menoleh dan menatap pergelangan tangannya yang dalam genggaman jari-jari lentik Luna kemudian beralih pada wajah gadis itu


"Jangan cemas, aku pasti akan melindungimu. Aku akan membereskan mereka dengan cepat, tetaplah di sini dan jangan cemaskan apapun. Dan pegang pistol ini, gunakan saat kau dalam keadaan terdesak." Zian memberikan pistolnya pada Luna dan pergi begitu saja.


"Dasar bodoh. Begini-begini aku ini mahir dalam beladiri," Luna mencerutkan bibirnya. "Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan biarkan aku mati muda, aku ini belum menikah apalagi merasakan nikmatnya malam pertama. Tuhan jebal, kabulkan doaku," tapi sebuah doa konyol terlontar begitu saja dari bibir Luna.


Tanpa kedua orang itu sadari, seorang yang memakai singlet putihnya berdiri di belakangnya dengan tatapan membunuh.


"Apa yang harus kita tunggu, mumpung gadis itu sedang sendiri sebaiknya segera kita habisi dia atau nona Kim tidak akan memberikan sisa bayaran kita."


"Tapi bagaimana kalau laki-laki itu sampai kembali dan memergoki aksi kita? Aku tidak ingin mati mengenaskan ditangannya seperti rekan-rekanku terdahulu,"


"Tidak mungkin, aku berani menjaminnya."


"Memangnya jaminan apa yang akan kau berikan? Apakah kepalamu?"


Mata salah satu dari kedua orang itu membelalak mendengar suara dingin terlewat datar itu berkaur di dalam telinganya. Sontak saja dia menoleh dan mendapati Zian berdiri di belakangnya dengan tatapan mematikan.


'GLUKK!!'


Susah payah laki-laki itu menelan salivanya, meskipun hanya memalaui mata kanannya. Tapi tatapan Zian mampu membuat jantungnya berhenti berdetak detik itu juga. Laki-laki itu mundur beberapa langkah kebelakang melihat Zian menghampirinya dengan tenang. Bahkan dia tidak menghiraukan meskipun sebuah senjata mengacung padanya.


Dengan kasar Zian merebut pistol di tangan orang itu dan mengacungkan balik padanya. "Jika kalian masih menyayangi nyawa kalian sebaiknya segera pergi dan tinggalkan tempat ini sebelum aku kehilangan kesabaranku dan meledakkan kepala kalian berdua. Dan katakan pada orang yang mengirim kalian agar jangan mengganggunya lagi atau dia akan menanggung akibatnya."


Keduanya langsung mengangkat tangan ke atas. "Tuan, kami menyerah dan kami masih ingin hidup. Baiklah kami akan segera pergi."


Zian mendesah panjang, lalu menggulirkan pandangannya pada Luna dan gadis itu masih berada di tempat yang sama. Sebelum menghampiri Luna, Zian terlebih dulu membuang pistol itu kedalam sungai agar tidak ada lagi yang menggunakannya untuk sesuatu yang akan merugikan orang lain.


"Sudah larut malam sebaiknya aku antar kau pulang." Ucap Zian yang entah sejak kapan berada di hadapan Luna.


Gadis itu mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan area Sungai Han. Tak lupa Luna mengembalikkan pistol itu pada Zian.


-


Bersambung.

__ADS_1


...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...


__ADS_2